70. WTF! Bo Shangyuan dicampakkan!

Setelah beberapa bulan, Gu Yu kini tidur sendiri membuatnya butuh waktu lama untuk tertidur.

Ketika tertidur, pikiran Gu Yu seakan dia masih tidur di ranjang Shangyuan yang nyaman.

Sedangkan Shangyuan, dia duduk diam di sofa dan terjaga sepanjang malam.

Keesokan harinya.

Pada pukul enam pagi, jam alarm belum berdering. Ayah Gu datang membangunkannya seperti yang sudah dikatakan tadi malam.

Ayah Gu berdiri di luar pintu, “Yu Yu, bangunlah!”

Gu Yu terbangun.

Setelah membuka mata, dia melihat pemandangan di depannya, loading.

Gu Yu sudah terbiasa dengan pemandangan di kamar tidur Shangyuan setiap kali bangun tidur dan begitu tiba-tiba menjadi kamar tidurnya, dia masih linglung.

Setelah beberapa saat, dia akhirnya ingat bahwa dia sudah kembali ke rumah.

Gu Yu bangkit dari tempat tidur dan melihat kamar tidur yang akrab, tetapi tidak tahu mengapa terasa asing. Moodnya agak rumit.

Gu Yu menoleh dan melihat ke arah samping.

… Sebelahnya kosong.

Jika dia masih di rumah Shangyuan sekarang, pemandangan saat ini harusnya menjadi adegan di mana Shangyuan masih tertidur.

Shangyuan tidak pernah suka bangun awal dan setiap kali Gu Yu bangun lebih dulu, dia harus mendesaknya untuk bangun.

Bukan hanya itu, tetapi Gu Yu juga harus mengambilkan pakaiannya dari lemari dan menyeretnya dari tempat tidur.

Sekarang dia sudah kembali ke rumah, tidak ada yang akan membangunkannya, tidak ada yang akan mengambilkan pakaiannya dari lemari, dan entah apakah dia bisa bangkit dari ranjang sendirian tanpa harus diseret.

Namun, Gu Yu seketika merasa bahwa dia terlalu banyak berpikir.

Bukankah sebelum dia tidak tinggal di rumahnya, Shangyuan tinggal sendirian, tidur sendirian, bangun sendiri, dan mengambil pakaian sendiri kan?

Setelah Gu Yu tinggal, itu hanya sedikit memudahkan Shangyuan.

Jadi saat ini dia tidak lagi tinggal disana, itu tidak ada pengaruhnya untuk Bo Shangyuan.

Gu Yu merenung sejenak.

Setelahnya dia mengeluarkan pakaian dari lemari dan mengenakannya.

Gu Yu merasa sedikit tergerak.

Ngomong-ngomong, dia sudah lama tidak mengenakan pakaian ‘normal’ seperti ini …

Ayah Gu yang berada di luar kamar, masih tidak melihat Gu Yu keluar, jadi dia berteriak, “Yu Yu, apa kau sudah bangun? kau akan terlambat jika tidak bergegas!”

Gu Yu berteriak balik, “Aku sudah siap!”

Dia berjalan keluar kamar. Ketika mendongak, dia tertegun.

Ada semangkuk bubur dan cahkwe di atas meja makan di ruang tamu, masih panas dan mengepul, baru saja matang.

Ayah Gu tersenyum dan berkata, “Ayah bangun awal dan tidak ada yang harus dilakukan, jadi membuat sarapan untukmu.”

Gu Yu menggosok bibirnya, tidak tahu harus berkata apa.

Dia telah terbiasa dengan suasana acuh selama 16 tahun, dan tiba-tiba dibanjiri kehangatan membuatnya sangat tidak nyaman.

Ayah Gu jelas melakukan ini untuk pertama kalinya, jadi wajahnya sedikit tidak wajar dan canggung.

“Kau makanlah lalu pergi ke sekolah.”

“Baik.”

Ayah Gu teringat sesuatu dan berkata, “Jangan lupa tanyakan harga pakaian yang Shangyuan belikan untukmu.”

Meskipun ayah Gu tidak sejahtera seperti keluarga Bo, tetapi dia punya prinsip, selama mereka tidak layak, mereka tidak menginginkan satu sen pun.

Gu Yu menundukkan kepalanya. “Baik. Aku akan memberi tahu ayah saat dia memberi tahuku.”

Ayah Gu merasa lega, tidak melanjutkan beberapa kata lagi. Dia memakai sepatu dan siap untuk pergi bekerja.

Tepat ketika ayah Gu membuka pintu dan hendak pergi, dia tiba-tiba teringat sesuatu.

“Itu, Yu Yu …”

Gu Yu yang duduk di meja makan sarapan, mendongak.

“?”

Ayah Gu dengan sedikit malu bertanya. “Apa kau ingin ayah mengirimmu ke sekolah hari ini?”

Ayah Gu tiba-tiba berpikir bahwa setengah semester pertama masa SMA Gu Yu hampir berakhir, dan dia belum mengirim Gu Yu sekalipun untuk pergi ke sekolah.

Ayah Gu berpikir bahwa dia ayah yang tidak sempurna, tetapi setidaknya itu berada dilevel standar minimum. Tetapi jika dipikirkan lagi, dia bahkan tidak mencapainya itu.

Gu Yu menggosok bibirnya dan berbisik, “Tidak perlu, ayah. Ada bus di bawah. Aku bisa naik bus sendiri.”

Ekspresi ayah Gu merosot sejenak, dia kemudian tersenyum dan berkata, “Kalau begitu ayah berangkat dulu. Kau cepat habiskan makanmu. Tidak usah cuci piring, taruh saja didapurmu, nanti ibumu bangun dan akan cuci. Pergi ke sekolah lebih awal, jangan terlambat.”

“Baik, ayah.”

Ayah Gu pun pergi.

Ruangan itu tiba-tiba menjadi jauh lebih tenang.

Sarapan Gu Yu hampir habis.

Permukaan porselen dingin dari meja makan mencerminkan wajah Gu Yu yang agak bingung.

Ketika Gu Yu berada dirumah Shangyuan, dia pernah berpikir tentang pemandangan seperti apa yang akan dia hadapi jika pulang ke rumahnya.

Apakah ayahnya merasa kesal padanya karena gagal memenuhi harapan dan tidak sabar untuk melihat peningkatan (idiom)?  Apakah ibunya mencari dia dan menunggu waktu untuk membalas dendam (idiom)?

Atau, lebih baik, semuanya berpura-pura tidak terjadi apa-apa, dan menjalani hari-hari seperti sebelumnya sama.

Gu Yu telah memikirkan banyak kemungkinan.

Dia tidak mengharapkan situasi saat ini.

Tapi … rasanya tidak buruk.

Gu Yu selesai sarapan, memakai sepatu, dan keluar.

Dia berdiri di pintu rumah dan menunggu Shangyuan keluar untuk ke sekolah bersama.

Tetapi menunggu beberapa saat, Shangyuan masih tidak muncul.

Gu Yu mengeluarkan ponsel dan melihat waktu.

– Masih terlalu dini.

Gu Yu membuka WeChat, berniat mengirim Shangyuan pesan untuk bangun. Tapi Gu Yu tiba-tiba ragu.

Lupakan saja, sepagi ini, biarkan Shangyuan tidur lebih lama.

Dia bisa pergi sendirian ke sekolah.

Setelah memikirkan itu, Gu Yu melihat pintu yang tertutup dan kemudian berbalik tanpa ragu-ragu.

Tapi yang tidak diketahui Gu Yu adalah … Sebenarnya, Shangyuan tidak tidur.

Sepanjang malam, duduk di sofa dengan wajah tanpa ekspresi seperti patung, tidak bergerak.

Hingga pukul enam, Shangyuan akhirnya bereaksi.

Karena saat ini tepat ketika Gu Yu bangun.

Shangyuan menatap waktu di dinding, dan kemudian menunggu.

Menunggu Gu Yu datang dan menemuinya.

Disisi lain Gu Yu tadinya berpikir begitu, tetapi karena mengira Shangyuan masih tidur di ranjang dan takut akan mengganggu jadi dia tidak mengetuk pintu.

Lalu … keduanya secara alami bertemu.

Shangyuan masih duduk di ruang tamu dan terus menunggu namun yang ditunggu tidak kunjung datang.

Dia tidak terkejut.

Sejak saat Gu Yu pulang kemarin, Bo Shangyuan sudah menduga hal ini akan terjadi.

Jarum jam dari jam dinding sudah menunjuk ke 6:55, dan hanya 5 menit tersisa sebelum waktu belajar mandiri.

Pada titik ini, Gu Yu benar-benar mustahil untuk datang.

Oh tidak, harus dikatakan bahwa pada saat ini, Gu Yu sudah tiba di sekolah, duduk dalam posisi stabil, menunggu dimulainya pembelajaran mandiri awal.

Shangyuan menutup mata sejenak dan akhirnya perlahan-lahan berdiri dari sofa.

Tentu saja, hari ini, dia terlambat.

Waktu untuk belajar mandiri adalah pukul 7, dan saat dia tiba di sekolah hampir 7:30.

Pada awal kelas belajar mandiri pagi, guru matematika dari Kelas A melihat bahwa bangku Bo Shangyuan kosong, Reaksi pertama adalah berpikir Shangyuan sakit. Karena paruh terakhir semester, dia tidak pernah terlambat, dan dia tidak pernah absen.

Guru matematika berencana untuk menunggu belajar mandiri awal berakhir dan menelepon Bo Shangyuan untuk menanyakan situasinya.

Namun disaat menjelang akhir belajar mandiri pagi, di bawah mata semua orang di kelas, Shangyuan dengan tanpa ekspresi berdiri di pintu kelas dan lapor untuk masuk kelas.

Guru matematika dengan kaget melihatnya. “Bagaimana siswa Bo baru datang? Apa terjadi sesuatu dirumah?”

Wajah Bo Shangyuan saat ini acuh tak acuh level ekstrem.

“Tidak ada yang terjadi.”

Guru matematika bingung, “… Kenapa baru datang sekarang?”

Shangyuan yang sedang bad mood tidak ada keinginan untuk bicara banyak.

“Tidak ada alasan.”

Guru matematika tertegun sejenak.

Karena gaya Shangyuan selalu seperti ini, dan tidak suka menjelaskan. Begitu bicara, bisa membunuh orang.

Jika nilainya biasa, guru matematika bisa mengatakan sesuatu lagi.

Tetapi karena Shangyuan peringkat satu, jangankan terlambat di belajar mandiri awal, bahkan jika sudah terlambat sampai kelas berakhirpun, guru matematika tidak dapat mengatakan apa-apa tentang hal itu.

Guru matematika melambaikan tangannya dan berkata dengan tak berdaya. “Masuklah. Lain kali perhatikan waktu.”

Shangyuan langsung masuk ke kelas tanpa ekspresi.

Dalam hal ini, siswa lain kelas A merasa iri.

Jika itu mereka, pasti sudah diusir dari ruang kelas untuk menulis buku ulasan.

Duan Lun juga sangat terkejut bahwa Bo Shangyuan datang terlambat hari ini.

Duan Lun tahu jelas Shangyuan seperti apa.

Meskipun tidak pernah datang awal, dia biasanya tidak terlambat.

Jadi sangat aneh dia bisa terlambat saat ini.

Duan Lun dengan santai mengetuk bagian belakang kursinya, “Kenapa kau terlambat hari ini? Aneh.”

Shangyuan tidak merespon, berbaring diatas meja dan tidur.

Duan Lun di belakang. “????”

Guru matematika melihat sekilas pemandangan itu terkejut karena Shangyuan tidak pernah tidur dikelas sebelumnya, tetapi sekarang ini bukan itu intinya.

Ini bulan Januari, musim dingin, dan cuacanya dingin. Tidur di kelas, bagaimana jika sampai sakit.

Guru matematika mengulurkan tangan dan menepuknya dengan lembut. “Siswa Bo, bangun.”

Guru matematika berniat ingin membiarkan Shangyuan pulang dan tidur dirumah.

Shangyuan mendongak, bertanya dengan dingin, “Ada apa.”

Guru matematika menatap wajah dinginnya yang tidak tersenyum, lupa untuk mengatakan apa.

Shangyuan kembali menutup mata dan tidur.

Guru matematika speechless.

Beberapa siswa lain di kelas melihat itu dan segera mengangkat tangan tinggi-tinggi.

“Guru, aku juga ingin tidur!”

“Guru, aku juga!”

“Guru, akuuu!”

Ketika mendengar itu, guru matematika langsung membekukan wajahnya, dan berkata dingin. “Kalian bisa tidur kalau peringkat satu, kalau tidak bisa, duduk dengan baik!”

Mereka mendesah pasrah dan kembali menurunkan tangan.

Shangyuan tertidur dari awal belajar mandiri hingga pelajaran pertama.

Siswa Kelas A penasaran, dan mereka berspekulasi bahwa Shangyuan sakit, atau bergadang karena bermain tadi malam, dan tidak tidur nyenyak.

Namun, lebih dari itu, para gadis di kelas mengambil ponsel mereka dan diam-diam memotretnya.

Penampilan Shangyuan saat tidur sangat langka jadi harus diabadikan.

Duan Lun tidak tahu seperti apa situasi Shangyuan jadi dia tidak berani terburu-buru untuk bertanya.

Hanya saja dari mata Duan Lun, dia jelas tahu suasana hati Bo Shangyuan tidak begitu baik hari ini.

Tapi Duan Lun sedikit ragu.

Bukankah dia sekarang tinggal dengan kurcaci kecil? Bagaimana bisa terlambat dan dalam suasana hati yang buruk?

Apa mungkin … Kurcaci kecil ketahuan selingkuh semalam, dan Shangyuan merasa dikhianati?

Duan Lun merenung sambil menyentuh dagunya.
.
.

Pelajaran kedua, Shangyuan masih tidur.

Seperti halnya guru matematika yang mengajar lebih awal, dan guru bahasa Inggris di kelas pertama, guru bahas cina juga terkejut ketika dia melihat bahwa Shangyuan tidur di kelas.

Dia mendekat dan berbisik, “Siswa Bo?”

Bo Shangyuan tidak merespon.

Guru bahasa cina hanya bisa mengerutkan kening.

Tepat ketika dia hendak meraih dan dengan lembut menepuknya, Shangyuan tanpa mengangkat wajah, melemparkan dua kata dengan dingin. “Menjauh dariku.”

Senyum diwajah guru tiba-tiba kaku.

Duan Lun yang duduk dibelakang tersenyum, dengan santai menjelaskan, “Aroma parfum guru terlalu kuat.”

Guru bahasa tanpa sadar mengendus aroma tubuhnya.

Ketika dia keluar, dia memang menyemprotkan parfum, tetapi aromanya sangat ringan.

Duan Lun melihat bahwa guru bahasa sepertinya tidak memahaminya dengan baik, jadi dia berkata. “Shangyuan paling benci bau parfum.”

Guru bahasa tertegun lalu reflek melangkah mundur.

Kemudian, dia bertanya khawatir. “Apa yang terjadi dengan siswa Bo? Aku juga dengar dia sudah tidur di kelas sejak tadi.”

Duan Lun berpikir sejenak dan memandang serius. “Kekasihnya minta putus, jadi dia sedang tidak mood.”

Tanpa diduga, inilah jawabannya. Ekspresi wajah guru bahasa cina itu kaku.

Tetapi pada saat yang sama, orang-orang lain di Kelas A mendengar jawabannya dan tiba-tiba membuka mulut mereka.

WTF! Kekasih Shangyuan yang tidak pernah terlihat, mencampakkannya!

Bo Shangyuan yang sangat tampan, punya uang, dan nilainya sangat bagus, dicampakan!!

Orang-orang di Kelas A terkejut. Ada yang segera memposting sebuah postingan di forum sekolah.

Mengejutkan! Bo Shangyuan dicampakkan!’

Berikut ini adalah konten posting:

Belajar mandiri awal hari ini, Shangyuan yang tidak pernah terlambat, datang terlambat.

Tapi ini bukan intinya.

Intinya adalah bahwa setelah tiba di kelas, Bo Shangyuan mulai tidur di atas meja. Dia masih tertidur dari awal belajar mandiri hingga saat ini. Ketiga guru bertanya dan semuanya diabaikan.

Awalnya, aku dan temanku masih menebak dia sakit atau mungkin begadang karena bermain tadi malam, dan siapa sangka …

Dia ternyata dicampakkan oleh kekasihnya!!!

Laozi terkejut!!!

Bo Shangyuan dicampakkan kekasihnya!!! ]

Komentar di bawah pos:

Oh my, benarkah? ]

Sulit dipercaya ada yang berani mencampakkannya. ]

Bohong, bagaimana mungkin Bo Shangyuan dicampakkan? Bahkan jika lelaki satu sekolah dicampakkan, Shangyuan tidak akan mungkin dicampakkan. ]

Aku di Kelas A. Aku bisa memastikan bahwa ini benar. Duan Lun yang mengatakannya langsung saat kelas bahasa. Jika aku berbohong, aku akan gadaikan sertifikat rumah. ]

Setelah komen ke 4, balasan dibawahnya mengumpat tidak percaya.

Posting ini secara alami diteruskan ke kelas E.

Seperti semua orang di Kelas A, semua orang di Kelas E terkejut luar biasa.

Terutama Jin Shilong.

Jin Shilong menatap pos itu, ekspresinya sangat kusut.

Jadi, kekasih Bo Shangyuan bukan Gu Yu?

Sejak mengetahui bahwa Gu Yu dan Bo Shangyuan telah hidup bersama, Jin Shilong pernah berpikir bahwa yang disebut kekasih Bo Shangyuan itu adalah Gu Yu.

Meskipun Gu Yu menyangkalnya, pikiran bawah sadar Jin Shilong masih merasa itu Gu Yu.

Karena Shangyuan sangat baik pada Gu Yu, dan alasan paling penting adalah karena tidak ada seorang pun di sekolah yang pernah melihat Shangyuan baik pada seorang gadis.

Apa … Kekasih Bo Shangyuan sebenarnya berada di sekolah lain, bukan di Chengnan?

Jin Shilong merenung.

Pada saat yang sama, ini sedikit mengecewakan.

Dari segi tampilan fisik, kemalangan, inferioritas dan kelembutan, Gu Yu lebih cocok untuk posisi tokoh utama perempuan … Apakah itu tinggi atau penampilan, sangat cocok dengan Bo Shangyuan sebagai tokoh utama pria!

Di sisi lain, Gu Yu bersin.

Gu Yu secara alami melihat posting ini.

Melihat isi pos, suasana hati Gu Yu agak rumit dan sulit dipahami.

Gu Yu selalu berpikir bahwa Bo Shangyuan tidak punya kekasih, meskipun ia digambarkan sebagai kekasihnya, tetapi hanya upaya untuk menipu orang lain … Gu Yu tidak menyangka Shangyuan ternyata punya kekasih.

Gu Yu sangat terkejut.

Karena dia tinggal bersama Bo Shangyuan selama beberapa bulan, dia tidak pernah melihatnya bertemu dengan seorang gadis.

Ah … tidak.

Meskipun tidak bertemu, mungkin mereka komunikasi setiap hari.

Ketika pergi tidur setiap malam, Shangyuan selalu memegang ponsel. Entah melihat apa.

Mungkin itu sebenarnya sedang chatting dengan kekasihnya.

Memikirkan hal ini, suasana hati Gu Yu agak aneh.

Agak asam, dan rasanya tidak enak.

Aneh bahwa Gu Yu tidak terlalu memahami suasana hatinya saat ini.

Mungkin … apakah itu karena Shangyuan dicampakkan kekasihnya?

Atau … karena sesuatu yang lain?

Gu Yu berpikir dalam hati, kembali meletakkan ponsel di laci.

Di sisi lain, Shen Teng  yang duduk di depan Gu Yu, memandang pos dengan senang, dan ekspresinya sangat gembira.

Shen Teng berbalik, dan bertanya pada Gu Yu. “Apa kau sudah melihat pos?”

Gu Yu dengan tenang berkata. “Hm.”

Shen Teng menyeringai. “Bo Shangyuan dicampakan! Haha! Sangat menyenangkan!”

Gu Yu diam, tanpa kata.

Berbicara tentang ini, Shen Teng penasaran. “Tapi siapa gadis itu?”

Gu Yu menggelengkan kepalanya. “… aku tidak tahu.”

Ekspresi Shen Teng aneh. “Dia tidak cerita padamu?”

“Tidak.”

Shen Teng tiba-tiba terjerat. “Kau sudah tinggal dengannya begitu lama, dan dia tidak memberitahumu?”

“… tidak.”

“Aku kira Bo Shangyuan sudah menganggapmu sebagai kerabat. Ternyata tidak … Tapi kenapa dia membiarkanmu tinggal di rumahnya, dan juga membeli pakaian dan makanan untukmu? Jangan bilang dia hanya berbaik hati.”

“… Aku tidak tahu.”

Shen Teng masih ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi bel kelas berbunyi.

Shen Teng harus tutup mulut dengan enggan dan kembali ke posisinya.

Mata Gu Yu rendah dan diam.

Mungkin … benar-benar hanya berbaik hati.
.
.

Shangyuan tidur selama kelas pagi.

Karena semua orang sudah tahu ‘alasannya’, jadi tidak ada yang berani menganggu.

Guru yang mengajarpun juga tidak menganggunya.

Shangyuan yang biasanya arogan dan sewenang-wenang, tidak menyerah untuk tetap pergi ke sekolah – itu sudah bagus.

Kelas pagi berakhir, Shangyuan akhirnya membuka mata.

Dia kembali duduk dan menunggu sebentar tanpa ekspresi.

Siswa yang lain bergegas untuk berkemas dan bersiap-siap untuk pergi, hanya Shangyuan yang duduk diam dan tidak bergerak.

Duan Lun menatapnya aneh, tetapi tidak bertanya apa-apa.

Hari ini, suasana hatinya sangat buruk, sebaiknya jangan menganggunya.

Duan Lun menutup mulut lalu berkemas dan pergi.

Shangyuan duduk dengan wajah dingin, seolah menunggu sesuatu.

Sepuluh menit kemudian.

Shangyuan beranjak keluar dari ruang kelas dan pergi ke lantai pertama.

Dia pergi ke kelas E hendak menuju ke jendela namun Gu Yu yang entah sudah berapa lama berdiri di pintu ruang kelas langsung berlari ke arahnya.

Melihat Gu Yu mendekat, langkah kaki Shangyuan berhenti.

Pada saat yang sama, suasana hatinya yang buruk seketika sedikit membaik.

Shangyuan tadi duduk lama dikelas untuk mengonfirmasi, setelah Gu Yu pulang ke rumah apa dia masih akan menunggunya untuk pulang sekolah bersama.

Meskipun tampaknya hanya masalah sepele, itu berarti hal yang berbeda untuk Bo Shangyuan.

Jika Gu Yu tidak berbeda seperti sebelumnya, maka Shangyuan akan menjalani ini dengan perlahan.

Jika tidak … Shangyuan akan mendesak.

Tapi oke.

Masih tidak berbeda dengan sebelumnya.

Gu Yu mendekat dan tanpa sadar bertanya, “Apa guru menambah jam kelas?”

Karena kali ini Shangyuan keluar lebih lambat dari biasanya.

Shangyuan berbohong. “Hm.”

“Oh.” Gumam Gu Yu, lalu mengamati wajah Shangyuan yang tampak kusut, dia bertanya. “Apa kau tidak tidur nyenyak tadi malam?”

“Hm.”

Karena Gu Yu sudah tahu alasannya mengapa jadi dia tidak bertanya lagi.

Sebenarnya, suasana hati Bo Shangyuan sedikit lebih baik tetapi kalimat Gu Yu berikutnya membuat ekspresinya tiba-tiba dingin.

“Oh ya, berapa harga semua pakaian yang kau belikan untukku?”

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments