7. Taman Guo Zhi

Dengan semakin dekatnya ujian masuk universitas, semua beban dan tekanan menjadi semakin tinggi membuat kehidupan siswa seperti diambang kematian. Berusaha untuk menyimpan semua materi dikepala ataupun berdoa agar agar ujian masuk perguruan tinggi dapat menghasilkan nilai yang baik bagi diri mereka.
.
.

Wang Linlin tidak punya ambisi yang berbobot. Diterima di universitas berakreditas rendahpun sudah cukup untuknya. Ia tidak peduli dengan kualitas kampus. Ia hanya peduli pada seberapa banyak pria tampan disana. Sedangkan Guo Zhi tidak bisa bersantai. Ayahnya punya harapan tinggi. Ia tidak tega melihat wajah kecewa ayahnya, jadi ia akan berusaha keras.
.
.

Guo Zhi dan Cui Chenglong duduk di ranjang masing-masing untuk membaca buku. Cui Chenglong sudah mempersiapkan senter kecil untuk tetap fokus nanti ketika lampu asrama dipadamkan, lain halnya dengan Guo Zhi yang tidak terlalu memaksakan diri, ia hanya belajar disaat waktunya, dan akan istirahat ketika sudah waktunya untuk istirahat.

Ruang tidur mereka seketika gelap. Cui Chenglong menyalakan senternya, dan Guo Zhi mengakhiri sesi belajarnya kemudian berbaring.

"Apa yang menurutmu menjadi sesuatu paling berkesan di SMA?" Tanya Cui Chenglong tiba-tiba. Ia tidak bisa fokus membaca.

"Bokong semakin melebar karena sering duduk."

"Aku sungguh merasa tak berdaya dengan pemikiranmu itu! Aku berbicara tentang jatuh cinta."

"Jatuh cinta? Tetapi guru bilang jatuh cinta itu mengerikan, bisa mengganggu sekolah. Mempengaruhi masa depan."

"Bahkan mengerikan sekalipun tetapi jika kau menyukainya, apa kau akan takut?" Tanya Cui Chenglong. Hari ini ia menerima surat cinta dari seorang gadis dikelas sebelah membuat hatinya bahagia.

"Jika menyukainya?" Guo Zhi mengulang kalimat Chenglong, wajah Shi Xi secara kebetulan menerobos didalam kegelapannya. Guo Zhi menarik selimut dan menyeka kepalanya. Kebiasaan ini dilakukan setiap kali ingin menghapus sesuatu yang terlintas dipikiranya. Ia kemudian melanjutkan, "Aku tidak jatuh cinta, kata guru itu tidak baik. Aku akan menunggu sampai aku merasakannya dan memutuskan."

"Energi positif dalam ucapanmu begitu kuat. Aku harus lanjut membaca." Setelah mendengar pendapat Guo Zhi, Cui Chenglong memutuskan untuk mengesampingkan persoalan cinta pada waktu penting saat ini.

.
.
.

Keesokan harinya, Guo Zhi harus tetap belajar dikelas jadi ia pergi ke kantin dan mengambil makanan lalu kembali ke kelas untuk lanjut membaca. Ia masuk melalui pintu belakang dan matanya sengaja - tak sengaja tertuju ke kelas sebelah. Hanya ada beberapa murid didalam sana dan sebagian besar dari mereka tidur dengan kepala diatas meja. Melihat Shi Xi yang sedang membaca buku, Guo Zhi segera meletakkan kotak makannya dan beranjak ke kelas sebelah, duduk disamping Shi Xi.

"Kau tak belajar?" Tanya Guo Zhi setelah memperhatikan sampul buku yang dibaca Shi Xi.

"Mempelajari lebih banyak, apakah itu akan berguna dimasa depan?" Shi Xi tak mengalihkan matanya dari buku.

"Itu akan berguna ketika kau mendapat gelar sarjana."

"Apa sarjana banyak digunakan?"

"Ya, tapi aku ingin kau pergi ke universitas denganku."

"Apa gunanya pergi ke universitas denganmu?"

"Aku sangat berguna! Aku bisa membantumu mencari bahan, aku bisa membantumu menulis naskah, aku bisa menyediakan kertas dan pena ketika kau butuh, aku bisa membelikan beberapa buku online."

"Apa kita sedekat itu?" Shi Xi tidak punya perasaan apapun, baik pada dunia, orang lain ataupun pada Guo Zhi.

Meski begitu, tak tahu mengapa, Guo Zhi selalu merasakan kehangatan dari Shi Xi. Kehangatan itu menerpanya dan meningkatkan suhu tubuhnya sendiri. Dipagi yang dingin, hati Guo Zhi terasa hangat.

"Kita bisa menjadi akrab. Aku Guo Zhi (buah), jika kau meminumnya, kau akan bahagia."

"Aku tidak menyukai sesuatu yang manis."

"Aku bukan Guo Zhi yang manis." balasnya dengan muka tebal.

Ada buku lain diatas meja Shi Xi. Guo Zhi membuka lebar sampulnya dan menemukan setangkai bunga yang diawetkan.

"Indah sekali!" Apapun yang berkaitan dengan Shi Xi, selalu pantas untuk kagumi.

"Ambil dan pergilah! Jangan mengangguku." Ekspresi serius Shi Xi berbanding terbalik dengan Guo Zhi yang seperti menerima emas berharga, ia terbata, "K-kau memberikan bunga cantik ini padaku? Apa kau yakin memberikannya padaku? Apa kau benar-benar memberikannya padaku?" Guo Zhi terus bertanya dengan tak percaya.

Shi Xi menggertakkan giginya, "Ambil dan cepat menghilang dari pandanganku."

Guo Zhi berlari ke kelasnya mengambil bukunya lalu kembali lagi dan memindahkan bunga kering itu kedalam buku miliknya. Ia memeluk buku itu, "Ini sudah jadi milikku. Aku tidak akan menyerahkannya bahkan jika kau meminta kembali."

Shi Xi menatap kepergian Guo Zhi. Ketua kelas datang dan berpapasan dengan Guo Zhi lalu menghampiri Shi Xi, "Hei, guru memintaku untuk mengingatkanmu harus mengisi lembar persyaratan ujian masuk universitas."

"Tidak perlu, aku tidak kuliah."

Mendengar itu, Guo Zhi yang terkejut berbalik dan melihat Shi Xi.

Dia tidak kuliah? Kenapa dia tidak kuliah? Apa yang akan dia lakukan jika tidak masuk universitas? Dia akan pergi kemana? Banyak pertanyaan dan kekecewaan dibenak Guo Zhi. Jika Shi Xi tidak kuliah, bagaimana bisa ia merealisasikan idenya untuk membantu Shi Xi mencari bahan, menuliskan manuskrip, menyediakan kertas dan pena disaat dia butuh dan membelikan buku online? Ia baru saja mengenal Shi Xi dalam waktu singkat dan kemudian akan berpisah selamanya?

Tidak!

Guo Zhi menyetujui jawaban itu. Entah mengarah pada ingin membantu demi masa depan Shi Xi atau kepuasan dirinya sendiri.
.
.
.

Guo Zhi mencari alasan pasti untuk meyakinkan Shi Xi agar pergi ke universitas. Akhirnya hanya ada satu kesimpulan yang meyakinkan.

Hari minggu, Guo Zhi bergegas kembali kerumah. Ayahnya belum pulang, dan ibunya sedang keluar berbelanja. Ia diam-diam menyalakan komputer. Butuh keberanian yang besar untuk melakukan hal ini. Jantungnya berdegup kencang didada, dan telinganya fokus berjaga jika ada suara dari pintu depan.

Ketika orangtuanya kembali, Guo Zhi telah menyingkirkan bukti kejahatannya. Demi pencapaian membantu teman sekolah, ia merahasiakan hal ini.

Setelah makan malam, ia kembali ke sekolah, pergi ke kamar sewa Shi Xi dan mengetuk pintunya, namun tak ada jawaban. Ia memeriksanya dikelas, juga tak ada. Menyadari Shi Xi sedang pergi, Guo Zhi memutuskan untuk menunggunya didepan gerbang. Ia tidak perlu memperhatikan setiap orang yang lewat, karena penampilan unik Shi Xi sudah pasti diketahui walau hanya sekilas.

Tentu saja tak lama kemudian, Guo Zhi melihat kedatangan Shi Xi. Seperti yang ia katakan, ia berlari kedalam dunia Shi Xi. Ia mengeluarkan lembar profil universitas dari tasnya dan menunjukkan pada Shi Xi, "Lihat ini! Universitas terbaik."

"Tidak perlu." Shi Xi melewati Guo Zhi begitu saja.

Guo Zhi selalu memandang apapun dengan positif dan ia tidak ingin menyia-nyiakan hal ini. Ia menyusul Shi Xi, "Semua yang ada kampus ini sangat baik. Ada pasangan pria dan wanita, orang gila, dosen korup."

Guo Zhi masih terus berbicara panjang lebar mengikuti langkah kaki Shi Xi.

"Aku dengar, tahun lalu ada seorang gadis menjatuhkan dirinya ke sungai karena ditinggal kekasihnya, tetapi untung saja bisa diselamatkan."

"Aku dengar, kamar asrama disana sering didatangi pencuri."

"Aku dengar, dua pria saling berkelahi hingga babak belur dilapangan olahraga hanya untuk mendapatkan kekasih."

"Aku dengar, ada orang aneh yang sering berkeliling kampus tanpa alas kaki."

"Aku dengar, asrama wanita sering didatangi pencuri dan mengambil pakaian dalam."

"Shi Xi, masih banyak lagi hal menarik lainnya. Jika kau tak kuliah, kau akan melewatkannya."

Guo Zhi menyisipkan lembar profil kampus itu kedalam tas Shi Xi, "Maukah kau memikirkannya lagi?"

Guo Zhi, kau hanya mengumpulkan info buruk dan mengabaikan info baik dari kampus itu.

Shi Xi memperhatikan Guo Zhi yang sudah memasukkan lembar profil kampus itu kedalam tasnya dan kini mendongak menatapnya penuh dengan senyuman. Seakan-akan hanya ekspresi itu saja yang dimiliki Guo Zhi. Shi Xi tiba-tiba memegang wajah Guo Zhi, meremasnya dengan kekuatan ringan. Guo Zhi tertegun. "Bisakah wajah ini menangis?"

"Ya, tetapi air mataku disisakan untuk hal lain, dan hanya senyuman yang tersisa untukmu." Kalimat Guo Zhi terdengar samar karena mulutnya mengerucut. Ia memastikan memberikan senyuman terindahnya walaupun wajahnya terlihat berantakan dan jelek.

Sejenak, ada perasaan asing menyeruak didada Shi Xi. Perasaan yang tidak terkontrol.

Shi Xi melepas remasan tangannya di wajah Guo Zhi, mendorongnya, "Benar-benar idiot."

.
.
.

Ketika kelas dimulai, Shi Xi mengambil buku teks bahasanya dari dalam tas dan melihat lembar profil universitas yang terselip disana. Ia membuka lembaran itu.  Ekspresinya tak terbaca.

Disisi lain, Guo Zhi membuka buku teks bahasanya dan memperhatikan benda yang terselip didalamnya. Bunga kering pemberian Shi Xi. Satu-satunya bunga di taman dunianya.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments