69. Kau tidak keberatan, aku keberatan

Jam delapan malam.

Rumah keluarga Gu.

Ada TV di ruang tamu, tetapi tidak ada yang menonton.

Tiga orang itu duduk di meja, dan suasananya hidup dan ‘hangat’.

– Tampaknya memang demikian halnya di permukaan.

Gu Yu tidak pulang selama beberapa bulan, kali ini ia pulang untuk makan, dan ia sangat disambut oleh kedua orangtuanya.

Pada saat ini, ocehan dan juga keluhan telah menghilang tanpa jejak, hanya menyisakan suasana hangat.

Tapi Gu Yu tidak terbiasa dengan itu.

Dia makan dengan pengap, sedikit tidak terbiasa dengan suasana yang ‘hangat’.

Ibu Gu memberi hidangan di mangkuknya, dan terus bertanya mana yang ingin dia makan.

Adapun ayah Gu, tersenyum dan bertanya tentang situasinya di kelas, ketika berada di rumah Shangyuan, dan bagaimana hubungan keduanya.

Gu Yu bukan tipe yang banyak bicara dan tidak terbiasa dengan adegan ini, jadi ketika orangtuanya bicara, dia hanya menundukkan kepala dan makan dalam diam. Ketika ayah Gu bertanya sesuatu, dia akan menjawabnya singkat, dan saat ibu Gu memberinya sesuatu untuk dimakan, dia suka makan atau tidak suka makan, dia tetap dengan patuh memakannya, tidak banyak bicara.

Gu Yu duduk dengan tidak nyaman.

Ibu Gu selalu mengoceh di rumah selama 16 tahun, dan ayah Gu tidak banyak bicara selama beberapa belas tahun. Saat ini keduanya tiba-tiba mengubah sikap dan itu membuatnya sangat tidak terbiasa.

“Bagaimana sekolah dan teman sekelas?” Tanya ayah Gu.

“… semuanya sangat baik.”

“Kau tinggal dirumah Shangyuan, siapa yang biasanya memasak dan mencuci pakaian?”

“Dia yang memasak, aku mencuci pakaian.”

“Kau mencuci pakaian?”

Ayah Gu sedikit terkejut.

Gu Yu menunduk dan berkata, “Ada mesin cuci di rumah.”

Ayah Gu mengerti.

Ibu Gu yang penasaran membuka suara, “Bagaimana masakan Shangyuan? Apa itu enak?”

“Enak.”

Mendengar itu, ibu Gu tidak bisa menahan perasaan untuk memuji, “Nilainya bagus, tinggi dan tampan, dan bisa memasak …”

Belum selesai bicara, ayah Gu diam-diam melirik ibu Gu, dan ekspresinya sangat serius.

Ibu Gu melihat itu kemudian sadar dan segera menutup mulutnya.

– Bukan tidak memperhatikan, tetapi tidak bisa menahan diri.

Namun, itu normal. Ibu Gu biasanya cerewet selama 16 tahun. Tidak mudah untuk berubah sekaligus.

Entah apakah itu karena keadaan pikirannya, ketika mendengar ucapan ibu Gu tadi, suasana hatinya tidak lagi suram seperti sebelumnya.

Gu Yu tetap tenang seperti air, tidak beriak.

Dia bahkan berpikir bahwa ucapan ibu Gu memang masuk akal.

Ayah Gu mengubah topik pembicaraan.

“Bo Shangyuan sangat baik. Dia memasak untukmu juga memberikan pelajaran. Yu Yu bisa mendapatkan hasil yang baik berkat dia.”

Lalu ayah Gu lanjut bertanya, “Dia sangat membantumu. Apa kau sudah membelikannya hadiah untuk berterima kasih padanya?”

Gu Yu menggelengkan kepalanya perlahan.

Dia tidak tahu harus membeli apa.

Jika dia memberi tahu Bo Shangyuan bahwa ia ingin membeli hadiah untuknya, dia khawatir reaksi pertama Bo Shangyuan adalah tidak membiarkannya membelikan pakaian atau ornamen lucu, tetapi satu set wusan.

Tentu saja, bukan untuk Shangyuan sendiri, tetapi untuknya.

Namun, tentu saja ayah Gu yang tidak tahu itu berpikir Gu Yu tidak ada uang. “Apa uangmu sudah habis? Ayah akan memberikannya padamu.”

Gu Yu ingin membantah, tetapi ayahnya bicara lagi. “Pakaian di tubuhmu juga dibeli olehnya? Oh, walaupun dia kaya, tetapi menghabiskan banyak uang untuk orang lain seperti ini, tidak terlalu baik. Kau hitung uang yang dia berikan padamu dan ayah akan menggantinya, kau kembalikan. Keluarga kita memang tidak kaya, tetapi kita harus berprinsip. Tidak baik selalu menerima pemberian orang.”

Gu Yu menundukkan kepalanya.

Makanan di mangkuk hampir selesai, dan ibu Gu yang melihat itu ingin menambahkan hidangan lagi, tetapi dia menolak.

Dia tidak bisa makan lagi.

Gu Yu bersiap untuk kembali.

Ibu Gu melihatnya, membuka mulut dan ingin mengatakan sesuatu. Ketika dia berulang kali mencoba untuk bicara, dia akhirnya menutup mulut dan tidak mengatakan apa-apa.

Ayah Gu juga tahu bahwa Gu Yu akan pergi, jadi dia tidak terus bertanya apa-apa.

Juga tidak mempertahankan.

Ayah Gu berkata dengan sepenuh hati, “Ayah tahu kau tidak ingin pulang sekarang, jadi ayah tidak mengatakan apa pun untuk membujukmu pulang. Tapi sekarang kau tinggal dirumah orang lain dan makan disana kan? Jika ada yang bisa kau lakukan, kau harus melakukannya. Misalnya, memasak, jangan selalu merepotkan Shangyuan, kau juga harus belajar memasak. Juga belajar, jangan selalu mengharapkan dia, kau harus bekerja keras. Lalu membersihkan rumah, membeli makanan, kau sesekali harus melakukan itu, buat Shangyuan merasa sedikit lebih mudah …”

Gu Yu menunduk dan berkata, “Aku mengerti, Ayah.”

Ayah Gu bergumam lalu berkata, “Ketika kau kembali, kau hitung harga untuk pakaian itu, dan kemudian kirim pesan pada ayah, kau harus kembalikan uangnya. Kita tidak boleh terkesan mengambil banyak keuntungan.”

“Ya.” Gu Yu meletakkan sumpit. “Aku sudah selesai makan.”

Ayah Gu melambaikan tangannya, “Hm, kembalilah.”

Gu Yu membungkuk pada keduanya, berbalik dan pergi.

Melihat itu, ibu Gu tidak bisa menahan diri untuk melotot pada ayah Gu, “Apa yang baru saja kau katakan? Apa itu ‘Ayah tahu kau tidak ingin pulang sekarang, jadi ayah tidak mengatakan apa pun untuk membujukmu pulang.’? Jadi maksudmu Yu Yu tidak akan pulang selamanya?”

Ayah Gu tidak mengerti. “Yu Yu tidak ingin pulang sekarang, apa gunanya untuk membujuknya? Kau masih mau memaksanya pulang?”

“Oh, bahkan tidak bisa membujuk? Kalau kau bisa membujuknya mungkin dia mendengarkan?”

“Kau masih tidak tahu bagaimana watak Yu Yu? Kau pikir dengan aku membujuknya dia akan berubah pikiran?”

“Kau ini ayahnya kan? Bagaimana bisa kau tidak bisa membuatnya pulang …”

“Kenapa kau selalu membuat masalah tanpa alasan?”

“Bagaimana aku bisa membuat masalah tanpa alasan? Kau bisa tahu dengan jelas …”
.
.

Sisi lain.

Rumah Bo.

Gu Yu duduk diam di sofa ruang tamu, linglung.

Ya, dia mengambil terlalu banyak keuntungan pada Shangyuan.

Prestasi, pakaian, makan, makanan ringan … Shangyuan sangat baik padanya, dan Gu Yu belum melakukan apa pun untuknya.

Ketika memikirkan itu, Gu Yu tidak bisa menahan perasaan bahwa dia sangat tidak tahu malu.

Gu Yu menggigit bibirnya.

Untungnya, saat ini Shangyuan tidak ada.

Kalau tidak, dia benar-benar tidak punya muka untuk menghadapinya.

Gu Yu mengambil napas dalam-dalam, berdiri dan berjalan ke kamar tidur.

Gu Yu membuka lemari dan mengambil pakaian yang telah dibeli Shangyuan untuknya.

Kemudian mengeluarkan ponselnya dan bersiap untuk mengambil foto.

Namun, ketika menbuka ponselnya, ia melihat WeChat yang dikirim oleh Bo Shangyuan. Itu dikirim satu jam yang lalu, karena pada saat itu dia pulang untuk makan, jadi dia tidak melihat pesan.

… Tapi kali ini, pesan ini tidak lagi menjadi fokus.

Gu Yu mengambil pakaian di depannya dan mengambil foto, lalu mengirimnya pada Shangyuan.

[ Berapa harga pakaian ini? ]

Pada saat yang sama, Shangyuan yang tengah minum teh di lantai bawah bersama nenek Bo mendengar dering ponsel disakunya.

Dia mengerutkan alis.

Setelah melihat pesan WeChat yang dikirim oleh Gu Yu, sudut bibirnya secara sadar terangkat sedikit.

Namun begitu melihat isi pesan, senyum di bibirnya berangsur-angsur menghilang.

Kenapa kau bertanya ini? ]

[ Tanya saja… ]

[ Katakan yang sebenarnya. ]

[ …… ]

[ Kembalikan uangmu. ]

Shangyuan seketika mengerutkan alis.

Nenek Bo yang duduk disisi berlawanan melihat ekspresinya, “Ada masalah? Apa yang terjadi?”

Shangyuan mengangkat mata, suaranya tenang. “Tidak ada, nenek.”

Setelah itu, dia segera mengalihkan pandangannya kembali ke ponsel.

Uang apa? ]

[ Uang dari semua pakaian ini… ]

Terus. ]

[ Aku harus mengembalikannya padamu. ]

Aku tidak butuh. ]

[ Tapi aku tidak bisa menghabiskan uangmu dengan sia-sia. ]

Aku tidak keberatan. ]

[ Aku keberatan. ]

Shangyuan diam.

Kau dari mana? ]

[ ? ]

[ Rumah. ]

Rumah mana. ]

[ …? ]

[ Rumahku. ]

Shangyuan tiba-tiba berdiri dari sofa.

Nenek Bo terkejut dan bertanya, “Yuanyuan, kau mau pergi?”

Shangyuan merespon dengan wajah dingin. “Ada sesuatu di rumah.”

Nenek Bo melihat bahwa dia akan pergi, buru-buru menghentikan. “Apa yang begitu mendesak, bahkan Hari Tahun Baru kau bergegas kembali?”

Shangyuan tidak menoleh. “Maaf Nenek, aku akan datang lagi lain kali.”

Shangyuan keluar dari WeChat dan berbalik pergi. Gu Yu yang berada di ujung telepon, menunggu dan menunggu, tetapi tidak ada balasan.

Gu Yu ragu.

Apa Shangyuan sangat sibuk?

Setelah menunggu sebentar, Gu Yu pun kembali meletakkan ponsel dan pergi ke ruang tamu, kamar mandi dan dapur. Melihat-lihat apa saja yang dibeli Shangyuan untuknya.

Tidak ada apa-apa di ruang tamu, tetapi ada handuk, sikat gigi, tudung bebek dan beberapa gel shower di kamar mandi.

Ada lebih banyak di dapur, buah-buahan, makanan ringan, es krim …

Shangyuan jarang makan cemilan, jadi kebanyakan isi kulkas dibelikan untuknya.

Gu Yu menuliskan hal-hal ini satu per satu dan mulai mengingat harganya.

Dia ingat bahwa makanan ringan tidak mahal, satu bungkus hanya beberapa yuan …

Gu Yu mengurai ingatan harga di sofa ruang tamu. Pada saat ini, ayah Gu mengiriminya pesan.

Berapa banyak yang kau habiskan dari Shangyuan? Kalau sudah tahu, kirim nominalnya, ayah akan kirim ke akunmu. ]

Gu Yu meletakkan pena dan menjawab.

[ Belum. Aku tidak tahu berapa harga pakaiannya, jadi aku harus menunggu dia kembali dan bertanya. ]

Oh, begitu, jangan lupa. ]

[ Hm, aku mengerti Ayah. ]

Setelahnya, Gu Yu meletakkan ponsel.

Pintu depan terdengar dibuka, Gu Yu tertegun, dia langsung berlari ke arah gerbang.

Gu Yu berdiri di pintu masuk dan berkata pada Bo Shangyuan. “Kau sudah kembali.”

Shangyuan bergumam lalu dengan tenang memasuki ruangan.

Melihau raut Bo Shangyuan yang tidak benar. Gu Yu bertanya, “Apa yang terjadi?”

“Tidak ada.”

Gu Yu mengerjap dan matanya kosong.

Shangyuan benar-benar tidak memiliki kesabaran, dia langsung berkata ke inti saat keduanya masuk ke ruang tamu. “Kenapa tadi kau pulang?”

Gu Yu tidak banyak berpikir, dia menjawab. “Ibuku baru saja datang dan memintaku pulang untuk makan. Aku belum makan, jadi aku kesana untuk makan.”

Ketika mendengar ibu Gu, wajah Bo Shangyuan tanpa sadar dingin.

“Lalu.”

Ekspresi Gu Yu aneh, “Lalu pulanglah.”

Shangyuan merasa sedikit cemas, “Apa yang kalian bicarakan?”

Gu Yu berpikir sejenak, “Ayah bertanya bagaimana sekolahku, dan kemudian bertanya bagaimana aku di rumahmu …”

“Apa jawabanmu.”

Gu Yu tidak ingin berpikir. “Aku jawab sangat baik.”

Setelahnya Gu Yu merasa sedikit aneh.

Dia mendongak, “Kenapa kau bertanya ini?”

Wajah Shangyuan tampak dingin. “Tidak ada apa-apa.”

Gu Yu bertanya lagi. “Apa kau sudah makan malam?”

Karena buru-buru kembali, Shangyuan tentu saja belum makan.

Dia menekan dahinya. “Belum.”

Mata Gu Yu berbinar, “Kalau begitu aku akan memasak.”

“Kau mau memasak?”

Gu Yu mengangguk.

Dia berbisik, “… Kau selalu memasak, aku belum pernah melakukannya.”

Shangyuan berkata samar. “Kau tidak bisa.”

“Kalau kau mengajariku, aku pasti bisa.”

Shangyuan memberikan tatapan yang dalam pada Gu Yu sejenak.

“Kenapa tiba-tiba kau ingin memasak.”

Gu Yu menunduk dan menatap jari-jari kaki, tidak bicara.

Shangyuan mendesah rendah, ayah Gu dan Ibu Gu pasti mengatakan sesuatu padanya.

Shangyuan mengangkat wajah Gu Yu tegak untuk menatapnya.

“… kau tidak perlu melakukan apa-apa, tetaplah di sini. Tidak usah peduli apapun, serahkan semuanya padaku. Um?”

Suaranya rendah dan penuh perhatian.

Gu Yu menjilat bibirnya.

Dia masih ragu sebelumnya, namun saat ini dia mendapatkan jawaban.

Gu Yu menatap lurus ke arahnya. “Aku ingin pulang.”

Shangyuan membeku.

Untuk sesaat, Bo Shangyuan berpikir dia salah dengar.

Tapi dia tahu dengan jelas bahwa dia tidak akan pernah salah dengar.

Gu Yu dengan gelisah meremas sudut pakaiannya dan berkata perlahan, “Aku tahu kau tidak keberatan, tapi bagaimana aku bisa begitu saja mengambil banyak keuntungan darimu?”

Memang benar bahwa dia tidak keberatan, tetapi dia tidak bisa menahan.

Shangyuan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tertahan ketika melihat Gu Yu mengungkapkan senyuman.

Ini bukan senyum biasa. Seperti yang diketahui, Gu Yu tidak pernah tersenyum. Selama tiga tahun di sekolah menengah pertama, dia tidak juga pernah tersenyum.

Gu Yu berkata, “Aku benar-benar senang berada di sini, tapi aku harus kembali.”

Shangyuan terdiam, seakan sudah kehilangan semua suaranya.

Gu Yu tidak memperhatikan tatapan kaku Bo Shangyuan. Dia bergerak maju lalu memeluknya.

“Terima kasih atas perhatianmu selama ini, terima kasih banyak.”

“…”

“Aku akan mengembalikan uangmu.”

“…”

Tanpa menunggu jawaban dari Shangyuan, Gu Yu mengambil ponsel untuk menelepon ayah Gu.

“Ayah, aku akan pulang.”

Ayah Gu terkejut senang mendengarnya. “Oh benarkah? Apakah kau ingin Ayah datang dan bantu memindahkan barangmu?”

“Tidak perlu, tidak banyak.”

“Oh, kalau begitu ayah akan meminta ibumu merapikan kamarmu.”

“Iya.”

Gu Yu menutup telepon, membalikkan badan, dan mengemas PR-nya. Setelahnya dia sekali lagi memeluk Shangyuan, berkata terima kasih.

Karena pakaian dan makanan ringan dibelikan Shangyuan, jadi Gu Yu tidak membawa apa pun kecuali pekerjaan rumah.

Ketika Gu Yu menutup pintu dan pergi, tersisa satu orang di rumah itu.

Meskipun rumah baru telah ditemukan, tidak ada alasan lagi untuk pindah kesana.

Pulang ke rumah, Gu Yu disambut dengan hangat oleh ayah Gu dan ibu Gu.

“Kau sudah kembali.” Sambut ayah Gu.

“Jika kau kedinginan, katakan pada ibu, ibu akan memberimu selimut tambahan.”

“… Baik.”

“Tidurlah lebih awal, ayah akan membangunkanmu besok.”

“… Baik.”

“Belakangan ini cuaca sangat dingin, ingatlah untuk memakai pakaian tebal besok, jangan masuk angin. Beberapa hari yang lalu tetangga dilantai bawah …”

Bagaimanapun, ibu Gu sudah terbiasa banyak bicara selama 16 tahun.

Ketika berbicara, dia hampir tidak bisa menahannya.

Untungnya, ayah Gu dengan cepat menghentikannya lewat tatapan.

Saat mengirim Gu Yu ke kamar, ayah Gu masih tidak lupa mengucapkan selamat malam untuknya.

Gu Yu melihat pemandangan di kamar dengan tidak nyaman.

Lama pergi dari rumah lalu kembali lagi, tentu saja mungkin untuk merasa tidak nyaman.

Gu Yu berbaring di tempat tidur, entah itu karena kini dia tidur sendirian, dia tidak bisa tidur.

Gu Yu terus bolak-balik diatas ranjang.

Dia melihat langit-langit dan berpikir … apa yang sedang Shangyuan lakukan? Menurut waktu ini, dia seharusnya sudah tidur.

Saat ini.

Rumah Bo.

Shangyuan masih berdiri diruang tamu. Setelah kepergian Gu Yu, dia tidak bergerak sedikitpun.

Kelopak matanya terkulai, dan sisi wajah yang tampan kesepian dan acuh tak acuh.

Ketika Gu Yu pergi, penghuni rumah berkurang satu.

Rumah itu seketika menjadi dingin dan kosong.

Oh tidak, harus dikatakan …itu kembali seperti semula.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments

  1. baru juga di tinggal sehari sama suami udah kabur pulang kkk kamu hixhixhix kasihan kkkku

    ReplyDelete

Post a Comment