68. Dunianya telah ada disini

Ketika suasananya sedikit lembut, Shi Xi tidak ingin ini beralih mengharukan, ia menyentuh kamera di bawah bantal dan melempar bantal ke wajah Guo Zhi. “Telingamu tidak bisa mendengarkan orang?”

“Sakit! Bagaimana mungkin kebiasaan seseorang bisa diubah?”

“Cepat singkirkan.” Shi Xi berdiri dari ranjang.

“Kalau begitu bisakah kau mengubah kebiasaan menghapus setiap kali kau menyelesaikan kata?” Shi Xi sering menyelesaikan kalimat, menghapusnya tanpa arti, dan kemudian menulis kalimat yang sama. Tidak bisa memikirkan kata-kata selanjutnya, hanya bisa mengulang kalimatnya.

“Pria ini sangat arogan di rumahnya sendiri.”

“Apa tidak mungkin bagimu untuk memukulku dirumahku?”

Shi Xi mendekat dan mengulurkan tangan, Guo Zhi menutup matanya, dan tangan itu berhenti di udara, dengan lembut jatuh di kepala Guo Zhi, mengacak-acak rambutnya. Ketika ia membuka matanya, Shi Xi telah meninggalkan ruangan.

Zhou Hui tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan hidangan dan mengeluarkan kartu. “Aku tidak tahu bagaimana anak-anak muda bermain pada hari ulang tahun. Jika kalian merasa bosan, bisa bermain poker.”

Hua Guyu tersenyum dan menerima kartu itu. “Bibi benar-benar bijaksana.” Batinnya: ini sangat membosankan!

Guo Zhi mengocok kartu. “Ayo bermain sebentar.”

“Tidak tertarik.” Hua Guyu bermain dengan ponsel, dan Guo Ruojie sedang makan.

Guo Zhi mengeluarkan uang dari dalam tas. “Aku tidak tahu cara bermain.” Guo Ruojie yang mendengar Guo Zhi tidak bisa bermain, dengan kata lain, itu berarti ia memiliki kesempatan untuk menang uang. Guo Ruojie bergerak duduk disebelah Hua Guyu di meja. “Kau tidak bermain. Tidak masalah, cukup siapkan saja uangnya.” Shi Xi tidak tertarik untuk berpartisipasi. Dia pergi ke balkon.

Pada saat itu, pintu terbuka, dan Guo Yunyong masuk.

“Paman, senang bertemu denganmu.” Hua Guyu berdiri dan menyapa. Guo Yunyong mengangguk, dan berkata pada Zhou Hui. “Beli anggur?”

“Beli, aku menunggumu kembali dan baru saja selesai memasak.”

“Hm, aku akan pergi ke balkon dan merokok sebentar.” Setelahnya Guo Yunyong pergi ke balkon, Guo Zhi tidak punya apa-apa untuk dimainkan, jantungnya kencang, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyelinap ke balkon. Tangannya gemetar, dan Hua Guyu juga Guo Ruojie memperhatikan itu. Hua Guyu juga menjepit keringat dingin di hatinya, dia baru melihat ayah Guo Zhi dan terkejut oleh wajah serius itu.

Ketika Guo Yunyong berjalan ke balkon dengan rokok ditangannya, dia menemukan ada pria muda yang berdiri di sana, pria itu berbalik dan mata mereka saling menatap. Wajah Guo Yunyong yang tampak janggut samar dan alis menakutkan, ekspresinya serius dan matanya yang tajam memandang ke arah Shi Xi. Sebaliknya pemuda itu dengan berani menatap langsung padanya tanpa merasa ngeri atau segan. Guo Yunyong tidak bisa melihat apa pun dari mata itu, hanya ada kegelapan di dasarnya.

“Tidak apa-apa,” kata Guo Ruojie.

“Yah.” Guo Zhi sekali lagi menyipit ke arah balkon, dua pria penting dalam hidupnya berdiri di sana. Ia ingin tahu apa yang mereka katakan, dan ia ingin tahu apa yang Shi Xi pikirkan, tetapi juga ingin tahu apa ayahnya akan menyukai Shi Xi? Dia gugup dan gelisah.

Setelah beberapa saat, Guo Yunyong mematikan rokok dan kembali ke ruang tamu. Wajahnya masih sama, dan itu membuat Guo Zhi lega. Guo Yunyong belum mencapai titik di mana dia curiga ada pria lain didalam rumahnya, belum lagi mereka adalah teman Guo Ruojie, yang tidak ada hubungannya dengan Guo Zhi. Dia tidak akan memikirkan aspek lain.

Setelah beberapa saat, Zhou Hui meletakkan lauk terakhir di atas meja. “Makan, Guo Ruojie, kau panggil temanmu.”

“Aku tidak mau pergi, Guo Zhi kau bisa membantuku memanggil mereka.”

“Oke.”

Guo Zhi pergi ke balkon, Shi Xi masih disana dengan tangan yang diselipkan disaku celana panjang. Warna matahari terbenam jatuh pada rambut dan pakaiannya. Dia melihat ke luar dan tidak memiliki ekspresi. Guo Zhi ingin memeluknya dari belakang, tetapi dia hanya berdiri di belakangnya, “Apa yang kau katakan pada ayah?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Apakah begitu?”

Shi Xi berbalik, ekspresinya entah apakah itu juga ternodai oleh matahari terbenam, dan menjadi lembut. “Jangan khawatir, ayo pergi.”
.
.

Meja makan menjadi semarak, Zhou Hui tersenyum dan memberikan lauk dipiring Hua Guyu dan Shi Xi. “Aku tidak melihat perayaan ulang tahun Ruojie saat sekolah menengah dan membawa kembali teman-teman. Aku tidak menyangka dia membawa dua pria tampan kali ini. Tidak perlu sungkan, jangan ragu.” Dia juga menambahkan dengan godaan, “Yang mana pacarmu?”

“Bibi, hanya teman biasa.” Hua Guyu memimpin untuk menekankan.

Tidak peduli apa yang ditanyakan, Shi Xi hanya memberi jawaban yang singkat dan sopan. Mereka berdua makan dengan tenang, bahkan tidak saling melirik, mereka makan dan memainkan peran sebagai orang asing. Tetapi Guo Zhi menghargainya, menghargai setiap detik, kesempatan seperti itu, mungkin tidak akan ada lagi di masa depan.

Dia, Shi Xi, Ayah, dan Ibu duduk di meja yang sama, mengobrol dan makan. Seperti mimpi, meskipun ada yang disembunyikan dan juga kebohongan, itu masih mimpi terbaik dan terbaik.

Setelah makan, Hua Guyu dan Shi Xi tidak tinggal lama, Guo Ruojie mengirim mereka menuruni tangga. Guo Zhi membantu ibunya didapur, dia menundukkan kepala dan mengelap meja. Dia akhirnya tidak bisa menahan senyuman. Hari ini, agak tidak nyata, tetapi dia benar-benar bahagia. Dia mungkin akan terus tersenyum hingga tertidur, mungkin dia akan tetap tersenyum besok. Mungkin ia akan terus tersenyum sampai bertemu dengannya lagi.
.
.

Setelah selesai membereskan rumah, dan Guo Ruojie pergi, Zhou Hui menyediakan teh di depan Guo Yunyong dan duduk di sofa. “Kedua teman Ruojie baik, mereka adalah pria yang baik, bahkan membawa mereka dihari ulang tahunnya ke rumah kita, tampaknya gadis ini sudah siap menikah.”

“Dia belum sebesar itu untuk menikah.”

“Guo Ruojie sudah berusia 21 tahun, dia tidak lagi kecil.”

“Siswa masih didominasi oleh studi mereka.” Guo Yunyong menyalahkan opini wanita Zhou Hui, dia mengambil cangkir teh yang meneguk dengan perlahan berkata, “Anak bernama Shi Xi.” Dia tidak menyelesaikan kata-katanya, dan meneguk teh mulutnya lagi. Guo Zhi kaku, dia melihat TV dan berpura-pura tidak peduli untuk percakapan mereka.

“Ada apa?” ​​Tanya Zhou Hui.

“Bukan orang biasa, akan ada yang menarik di masa depan.”

“Aku dengar Guo Ruojie bilang dia salah satu yang terbaik dikampus.”

“Apakah begitu? Guo Zhi?”

Tiba-tiba menyebut dirinya, Guo Zhi menjadi takut, “Bagaimana, apa?”

“Melihat orang lain, kau juga harus bekerja keras,” kata Guo Yunyong, dia merasa bahwa dalam beberapa aspek kepribadian Guo Zhi masih terlalu lemah. Guo Yunyong tidak bisa melihat kepolosan dan kelembutan Shi Xi. Dia hampir tidak harus beradaptasi dengan tekanan dan kompleksitas masyarakat. Dia telah sepenuhnya terintegrasi ke dalamnya, dan dia bahkan tidak dapat mendeteksi emosi dan pikiran.

“Aku pasti akan bekerja keras!” Guo Zhi dapat menjamin karena mendengar ayahnya memuji Shi Xi membuatnya hampir melompat. Dia mencuci wajahnya lebih awal dan pergi tidur, dan ketika dia berbaring dibekas Shi Xi, efek psikologis membuatnya bisa merasakan Shi Xi. Pada usia 13, ia dipenuhi luka dan sangat menyakitkan dan kesepian di tempat tidur ini. Sekarang 13 tahun telah meninggalkannya, ingin mencintai, apakah dia laki-laki atau perempuan, ingin menggunakan semua kegilaan untuk mencintai.

Dunianya telah ada di sini.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments