61. Kenapa kau menghapus riwayat obrolanku?

Shangyuan tidak lagi bicara.

Dia menyalin link video yang 'tidak sedap dipandang' itu lalu keluar dari browser dan kemudian membuka WeChat.

Tepat saat dia siap mengirim tautan ke WeChat-nya, dia tiba-tiba melihat sesuatu.

Dia melihat nama Shen Teng yang berada di kolom pertama halaman WeChat.

Namun sebenarnya, fokus yang lain benar-benar bukan nama Shen Teng.

Itu adalah waktu ketika pesan terakhir Gu Yu dan Shen Teng dijawab sebelum dimulainya kelas sebelumnya.

Pelajaran terakhir ...

Dia mengerutkan kening sejenak lalu menyadari satu hal.

Dia kemudian membuka catatan obrolan, membaca isi pesan selama lima detik. Karena dia sudah hampir menebak tujuh atau delapan dari isi chat dua orang itu jadi dia tidak terkejut.

Shangyuan menghapus catatan obrolan dari dua orang itu lalu memalingkan matanya kembali ke Gu Yu dan bertanya, "... Apa menulis 800 kata adalah pemikiran Shen Teng?"

Gu Yu tertegun, reaksi pertama adalah bagaimana Shangyuan bisa tahu.

Dia bergumam jujur, "Hm."

Shangyuan tidak lagi bertanya apa pun.

Setelah mengirim tautan ke WeChatnya, dia kemudian membuka kontak info, menemukan nomor Shen Teng, dan setelah menyalinnya, dia mengirimkan ke WeChatnya.

Setelah melakukan semua ini, dia menghapus riwayat pesan dan kemudian tampak seperti tidak ada yang terjadi, mengembalikan ponsel Gu Yu.

Gu Yu mengambilnya dengan sedikit bingung.

Dia berpikir bahwa setelah Shangyuan mengetahui siapa yang ada di balik ide itu, dia akan mengatakan sesuatu ...

Gu Yu tidak menyangka Shangyuan tidak mengatakan apa pun.

Pada saat bersamaan.

Shen Teng di ruang kelas di lantai pertama tiba-tiba bergidik.

Dia menyentuh lengannya, merasakan angin dingin yang tiba-tiba bertiup di belakangnya.

Aneh, kenapa tiba-tiba dia merasa kedinginan ...

Gu Yu berbisik, "Sebentar lagi masuk, aku harus kembali ke kelas."

"Hm."

Gu Yu menggosok bibirnya dan bertahan sebentar.

Dia menahan kesabaran dan akhirnya tidak menahan diri.

Gu Yu mendongak dan melihat Shangyuan yang masih mengurungnya di lengannya. Dia berkata perlahan, "Kalau begitu ... bisa tidak kau lepaskan aku?"

Shangyuan menatapnya, semua emosinya terselubung.

Jemarinya bergerak menyentuh kepala Gu Yu, dan kemudian secara alami mencubit wajahnya.

Ujung jari yang dingin menyentuh kulit yang hangat dan lembut, membuat merinding.

Sentuhan dingin meluncur dari wajahnya ke leher dan dibelai dengan lembut.

Gerakan ambigu itu tampak seperti adegan merayu diatas ranjang.

Tetapi Gu Yu tidak mempermasalahkannya.

Mungkin karena Shangyuan biasa suka mencubit wajahnya dan memeluknya juga saat tidur malam dia selalu memeluk pinggangnya. Oleh karena itu, untuk tindakan ini, Gu Yu tidak ambil hati.

Satu-satunya emosi Gu Yu hanya merasa tertekan.

Setelah selesai menyentuhnya, Shangyuan dengan tenang kembali menarik tangannya.

Gu Yu mengusap wajah merahnya, ekspresi penuh emosi.

Mata Gu Yu memelototi wajah Shangyuan yang berdiri di depannya dan berkata, "Kenapa kau suka mencubit wajahku ..."

Dia menggerutu dan mengeluh, tetapi karena tingginya, di mata Shangyuan hanya terkesan lucu.

Shangyuan menatapnya tanpa berkedip, seolah-olah dia ingin menempatkan Gu Yu di matanya.

Bahkan, jika itu benar-benar mungkin, Shangyuan benar-benar akan menyimpan Gu Yu ke sakunya, membawanya ke sisinya setiap hari, dan kemudian mencubit dan memeluknya setiap saat.

Setelah menggerutu Gu Yu berjalan pergi ke kelasnya. Namun Shangyuan ternyata malah mengekorinya di belakang.

Gu Yu berhenti, menoleh, "Kenapa kau mengikutiku?"

Shangyuan merespon tenang, "Mengantarmu ke kelas."

"?" Wajahnya penuh tanda tanya, "Aku bukan anak umur tiga tahun ..."

"Dimataku, ya."

"... oh."

Gu Yu menutup mulutnya dalam sekejap dan tidak lagi bicara.

Setelah tiba dikelas E, Shangyuan berbalik dan pergi.

Namun, sebelum pergi, Shangyuan mendelik tajam ke arah Shen Teng.

Yang ditatap hanya kebingungan dan bergidik ngeri.

Begitu Shangyuan berjalan pergi, Shen Teng segera berbalik dan bertanya kepada Gu Yu, "Apa yang kau katakan pada Bo Shangyuan? Dia tadi sempat mendelik padaku."

Gu Yu mengenang, "Tidak ada ..."

Meskipun Bo Shangyuan tahu ide itu diusulkan oleh Shen Teng, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa.

"Mungkin hanya perasaanmu saja."

Shen Teng menyentuh lengannya yang bergidik, dia merasa ngeri.

"Lagi pula, entah kenapa aku merasa tidak nyaman sekarang ..."

Sepertinya ada sesuatu yang buruk akan terjadi.

Setelah tiga menit, bel kelas berbunyi.

Pelajaran kedua adalah pelajaran bahasa.

Sama seperti guru matematika di kelas pertama, begitu kelas dimulai, guru bahasa mulai memuji Gu Yu.

Yin Caihua berdiri di podium dan tersenyum.

Dia membesar-besarkan, "Skor Gu Yu telah meningkat kali ini, 5 poin lebih tinggi dari yang terakhir, sangat bagus. Harus terus mempertahankan momentum ini, jika kau dapat tetap berpegang pada semester bulan depan, aku percaya pada tahun kedua, kau pasti akan bisa pergi ke Kelas B. Dan untuk yang lain, kalian harus belajar darinya. Kerja keras semacam ini, jika berbaur di masyarakat di masa depan, pasti menjadi pilar negara ..."

Gu Yu yang mendengar lebih banyak pujian, tidak tahan untuk semakin merendahkan kepalanya.

Dia tidak giat belajar tetapi Shangyuan yang memaksanya untuk belajar

Hal terakhir yang dia suka adalah belajar.

Yin Caihua berdiri di podium dan memujinya beberapa saat sebelum akhirnya memulai kelas secara formal.

Dia mengambil kapur, "Semuanya buka halaman 121 dari buku teks ..."
.
.

Empat pelajaran di pagi hari segera berakhir, dan sudah waktunya untuk pulang.

Shen Teng berdiri dan mengemasi barang-barang di atas meja dengan perasaan antusias.

Memikirkan saat tiba dirumah, wajah Shangyuan berubah kaku begitu melihat film dewasa membuatnya senang.

Dia melirik Gu Yu, "Saat Shangyuan melihat filmnya, kau ingat untuk memotret wajahnya dan mengirimkannya padaku."

Mendengar itu Gu Yu mulai bertanya-tanya lagi tentang isi pesan Shen Teng tadi.

"Apa maksudmu dengan hardcore?"

Shen Teng merespon ambigu, "Itu agak berat ... Kau akan mengerti ketika melihat ekspresi Bo Shangyuan."

Gu Yu mengerutkan alisnya dan masih belum paham.

Tetapi itu juga normal.

Gu Yu belum pernah m*st*rb*si jadi dia tidak bisa membayangkan apa itu hardcore dalam film dewasa.

Di sisi lain, ketika Shen Teng selesai berbicara, ponselnya tiba-tiba berdering. Ini adalah nada prompt dari pesan teks.

Dia membaca isi pesan dan kemudian tertegun.

Shen Teng membuka mulutnya dan wajahnya tidak bisa percaya.

"WTF!"

"?"

Shen Teng menunjuk ke isi pesan teks dan tergagap, "Xiao Yu Yu, kau ... kau tahu ... Ini, ini ..."

"Apa yang terjadi?"

Shen Teng teringat sesuatu, suaranya seketika berhenti.

Dia berdehem sejenak, dan membuat penasaran, "Aku akan memberitahumu nanti sore."

Gu Yu bingung.

Shen Teng takut bahwa dia salah melihat isi pesan jadi dia kembali membacanya tanpa berkedip.

Setelah membacanya dengan yakin, dia dengan gembira mengemasi buku-buku di atas meja, dan kemudian merapikan pakaiannya. Setelah memastikan bahwa dia tidak akan meninggalkan kesan buruk pada pihak lain, dia meninggalkan ruang kelas dengan antusias. Lalu pergi ke tempat yang ditunjukkan dalam pesan teks.

Shen Teng sangat senang, dan wajahnya penuh musim semi.

Hei, ada gadis yang mau menyatakan cinta padanya!

Isi pesan teks seperti ini:

[ Shen Teng Gege, aku ... Aku ingin mengatakan sesuatu padamu (# ^. ^ #), Sepulang sekolah, bisa tidak kau datang ke bukit di belakang gedung sekolah? Ingatlah untuk datang sendiri! aku menunggu, aku tidak sabar bertemu denganmu (* ^ ▽ ^ *) ]

Kakak Shen Teng ...

Aku ... / isi pesan nulis aku pakai renjia /

Dan emotikon imut ini ...

Pasti gadis yang imut!

Shen Teng berpikir dengan sangat gembira, dan kemudian datang ke lokasi yang ditujukan dalam pesan teks.

Mulut Shen Teng melengkung, tidak sabar untuk melihat.

Dia tidak tahu gadis ini dari kelas mana ...

Apa dia menerimanya, atau ingin menolaknya?

Menolak pengakuan seorang gadis tampaknya tidak terlalu baik. Bagaimana jika dia membuatnya menangis?

Tapi dia bukan anak lelaki kasual ...

Dia juga bisa mencobanya, mungkin saja gadis itu jodohnya?

Pikiran Shen Teng berandai tanpa batas, berpikir tentang bagaimana harus saling menanggapi dan berpikir tentang apa itu gadis yang cantik.

Dan ketika Shen Teng memikirkan hal ini, akhirnya seseorang tiba.

Seorang anak laki-laki yang tingginya jauh dari Shen Teng berdiri di depannya.

Orang itu tinggi dan tegap, kulitnya gelap, alisnya tebal, dan sekilas itu bukan orang yang baik.

Shen Teng tahu orang ini.

Dia adalah siswa kelas E, bernama Ma Cheng, siswa berandal dari kelas E, cukup terkenal.

Dikatakan bahwa orang ini tidak takut apapun, dan dia juga mengenal banyak orang dari luar masyarakat. Jika ada yang berani memprovokasinya ... itu akan menyedihkan.

Shen Teng membeku sejenak. "Aku sedang menunggu seseorang ..."

"Aku tahu."

"Ah? Kau tahu?"

"Aku yang mengirim pesan teks itu."

Shen Teng tampak bodoh.

Ma Chen selalu suka jalan lurus, tidak suka berbelok.

Ma Cheng langsung menangkap kerah Shen Teng dan berkata, "Terima atau tolak, cepat, jangan bengong."

Shen Teng kesusahan, "Tunggu ... Bukan dari seorang gadis yang mengirim pesan teks?"

Kenapa tiba-tiba menjadi pria yang kuat!!!!!!!

Ketika Ma Cheng mendengarnya, ekspresinya berubah aneh.

"Kapan aku bilang aku seorang gadis."

Shen Teng mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengarahkan pesan teks pada ponselnya ke pihak lain.

Ekspresi Shen Teng tidak dapat dipercaya, "Gege ... Renjia ... dan emotikon ini, bukankah seharusnya dari seorang gadis?"

"Memangnya laki-laki tidak menggunakan renjia? Apa laki-laki juga tidak bisa menggunakan emotikon lucu? Juga, aku memeriksa ulang tahunmu. Kau dua bulan lebih tua dariku, apa salahnya aku memanggilmu Gege?"

Shen Teng sekarat dan berjuang, "Tidak ... Aku tidak bermaksud ini ... Maksudku, aku pikir itu perempuan ..."

Ekspresi Shen Teng mulai putus asa.

"Dalao, bisakah kau melepasku dulu? Mari kita bahas baik-baik ..."

"Tidak."

Shen Teng akan menangis, "Dalao, aku tidak suka laki-laki..."

Kali ini Ma Cheng mengubah suaranya, "Kata Bo Shangyuan kau adalah gay."

Shen Teng membeku.

"Bo Shangyuan bilang begitu?"

Ma Cheng mengangkat alisnya, "Ya, dia juga memberiku nomormu dan bilang kau adalah tipeku."

Setelah melihatnya, Ma Cheng menemukan bahwa Shen Teng benar-benar tipenya.

Otak Shen Teng kosong.

Bagaimana Bo Shangyuan memiliki nomornya?

Tunggu, jangan bilang ketika selesai pelajaran pertama saat Xiao Yu Yu pergi menemuinya...

Pada saat ini, Shen Teng akhirnya mengerti arti mata Bo Shangyuan.

Bo Shangyuan benar-benar jahat.

Jahat dan kejam.

Tidak heran semua orang berkata, jangan memprovokasinya.

Kali ini Shen Teng akhirnya paham.

Ma Cheng tidak punya kesabaran. Dia tidak ingin terus terjerat dalam topik yang tidak berarti ini. Jadi dia mendesak lagi, "Cepat, tolak atau terima.

Shen Teng berbisik lemah, "Bisakah aku menolak?"

Ma Cheng merespon tanpa berpikir, "Tidak."

Shen Teng benar-benar ingin menangis kali ini.

"Tapi aku tidak suka laki-laki."

Ma Cheng jelas tidak peduli tentang ini.

Lengannya yang kuat merangkul bahu Shen Teng dengan paksa dan berkata, "Kau akan menyukaiku nanti."

Shen Teng benar-benar menangis kali ini.

"Huhuhuhuhuhuhuhuhuhu ..."
.
.
Disisi lain, Gu Yu mengemas PR-nya dan menunggu Shangyuan.

Dia baru saja bertanya, Kelas A belum selesai, jadi dia belum meninggalkan kelas.

Gu Yu duduk di posisi dan menunggu, sedikit membosankan.

Dia memikirkan link tadi, jadi dia mengeluarkan ponsel.

Ngomong-ngomong, tidak ada lagi seorang pun di kelas, hanya dia sendiri jadi tidak ada yang akan melihatnya ...

Gu Yu berpikir begitu, ketika dia mengeluarkan ponselnya dan membuka WeChat, semua catatan obrolan telah dikosongkan.

Tautan tidak ditemukan.

Jika tidak salah menebak, itu pasti kelakuan Bo Shangyuan saat dia pergi ke lantai dua tadi.

Tapi kenapa dia menghapus riwayat obrolannya?

Gu Yu terdiam merenung, tidak bisa memikirkan jawaban.

Setelah lama tidak berhasil, Gu Yu menyerah.

Dia akan meminta Shen Teng mengirimkannya lagi.

Gu Yu baru akan mengetik di ponsel, suara Shangyuan tiba-tiba terdengar.

"Keluar, ayo pulang."

Gu Yu kaget, lalu berdiri dan menyimpan ponselnya kembali.

Dia melirik Shangyuan di luar jendela, lalu bergumam patuh.

Keduanya meninggalkan ruang kelas untuk pulang, tidak jauh, Duan Lun yang melihat keduanya pulang bersama mengerutkan kening, ekspresinya kusut.

Pergi bersama? Pulang bersama?
.
.

Setelah tiba di rumah pada siang hari, seperti biasa, Shangyuan yang memasak.

Gu Yu ada di belakangnya dan ingin membantu, tetapi ia diusir dengan kejam.

Gu Yu merasa tertekan dan memilih duduk di sofa, memainkan ponselnya.

Dia membuka WeChat dan tiba-tiba teringat satu hal.

Dia penasaran dan bertanya, "Kenapa kau menghapus riwayat obrolanku?"

Gu Yu sudah lama mencari, dan tidak bisa menemukan tautan yang dikirim Shen Teng.

Gu Yu mengirim pesan ke Shen Teng, dan ingin membiarkan Shen Teng mengirimnya lagi, tetapi tidak tahu mengapa, Shen Teng tidak membalas.

"Tidak ada alasan."

Gu Yu agak marah, "Kalau begitu aku akan menghapus milikmu juga."

Gu Yu awalnya berniat membuat Shangyuan merasa sedikit cemas, tetapi dia mendengarnya berkata, "Ponsel ada di atas meja."

Gu Yu diam.

Bo Shangyuan ... benar-benar menyebalkan.

Sama seperti biasanya.

Setelah makan siang, setelah tidur siang di tempat tidur, Gu Yu datang ke sekolah.

Ketika dia tiba di kelas, Gu Yu ingin bertanya pada Shen Teng mengapa dia tidak membalas pesannya, tetapi belum sempat bertanya, Shen Teng sudah menatapnya dengan kepahitan tersembunyi.

Gu Yu merasa ada yang aneh. "Apa yang terjadi?"

Shen Teng memalingkan kepalanya dan lanjut berbaring di atas meja, terus menangis.

"Huhuhuhuhuhu ..."

"?"

Apa yang terjadi dengan Shen Teng?


🌼🌼🌼


Next chapter sampai tamat terkunci ya!

Donasi per judul, cek disini untuk info lengkapnya!


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments

  1. Nasibmu kkkπŸ˜‚πŸ€£πŸ˜‚πŸ€£πŸ˜‚πŸ€£ terimakasih atas kerja keras nya πŸ˜‡πŸ™πŸ‘

    ReplyDelete

Post a Comment