6. Sesuatu yang disukai sangat mudah diingat

Guo Zhi berjalan menuju bangkunya dibelakang dengan buku sejarah ditangannya. Ia bersandar didinding, "Aku menghafal sejarah dan sekarang sudah lupa."

Wang Linlin memegang kepalanya dan menguap. "Kau masih lebih baik. Aku menghafal satu kalimat saja dan sudah lupa kata awalnya."

Guo Zhi melirik stiker idola yang ditempel Wang Linlin dibukunya. "Tapi kau ingat ulang tahun, golongan darah dan hobi idolamu dengan detil."

"Kau tahu, ini karena aku menyukainya. Aku melakukannya dengan suka rela, orang primitif sepertimu tak bisa menghentikanku. Jika aku tak tahu judul film terbaru Andy Lau, aku merasa seperti orang kuno."

"Aku merasa baik. Dengan belajar giat, dimasa depan aku akan sukses dan dengan kekuasaan ditanganku, aku akan bisa mengundang idola manapun, apa mereka masih berani menolakku?"

"Idemu terlalu sulit dicapai."

Guo Zhi melipat tangannya, "Setidaknya aku punya ide ini, kau hanya akan melihat mereka dari jauh sambil meneteskan liurmu."

.
.
.
.

Pelajaran kedua adalah kelas mandiri di malam hari. Guo Zhi melihat banyak tas sekolah yang letakkan di atas meja, menjadi bantal untuk teman kelasnya yang mengantuk. Ia mendongak untuk melihat langit langit, suara teman sekelasnya yang lain terus-menerus berusaha menghapal mata pelajaran masuk ke telinganya. Setelah 36 detik, Guo Zhi tiba-tiba berdiri dan pergi keluar.

Suasana diluar sangat sunyi, angin sepoi, sinar bulan yang remang, ia berjalan kedalam taman kecil, dan duduk. Ia mengistirahatkan kepalanya. Taman kecil ini dekat dengan danau. Ada cahaya samar disana. Guo Zhi tidak tahan untuk melihat.

Disana, Shi Xi berada ditepi danau, duduk tegak dan menyilang kakinya dengan laptop dipangkuan.

Guo Zhi memperhatikan Shi Xi, tak ingin mengganggu ataupun mendekat. Ia tak peduli jarak mereka, ia hanya peduli pada apa yang ada dipandangannya.

Sampai akhirnya Shi Xi menutup laptop, Guo Zhi berteriak diseberang danau, "Shi Xi~"

Shi Xi tak merespon, namun sinar senter kepala sekolah yang meresponnya. Cahaya terang itu jatuh tepat diwajah Guo Zhi. Ia menghalang cahaya yang menyilaukan dengan tangan. Begitu menyadari ia ketahuan, Guo Zhi syok dan buru-buru masuk ke semak belukar untuk bersembunyi. Kepala sekolah mengerut bingung, yakin jika ada seseorang disana, bagaimana bisa menghilang dalam sekejap? Kepala sekolah menyenter ke sekitar sejenak lalu pergi tanpa curiga.

Guo Zhi keluar dari persembunyiannya seperti ninja. Ia tertegun melihat penampilannya lalu membersihkan dedaunan dikepala dan pakaiannya.

Guo Zhi melihat Shi Xi berjalan ke arah kanan, ia berjalan kearah kiri agar bisa bertemu Shi Xi.

"Shi Xi~" Kali ini volume suara Ia kecilkan.

Saat mendengar namanya dipanggil, Shi Xi tiba-tiba berbalik kearah kiri, menjauh. Guo Zhi menggigit bibirnya, dan berjalan kearah kanan.

Jadi, jarak keduanya dipisah oleh danau. Guo Zhi merasa seperti mereka syuting drama romantis: Memutar kekiri dan kekanan.

Guo Zhi menggertakkan giginya, "Kau tak mau bertemu denganku, lupakan saja. Aku tak peduli." Ia berbalik dan pergi.
.
.
.

Saat Shi Xi berjalan kembali kedalam gedung sekolah dan melewati semak belukar ditaman kecil, Guo Zhi tiba-tiba melompat dari dalam semak dengan dedaunan yang menempel banyak ditubuhnya, seperti primitif dibuku sejarah, ia menangkap baju Shi Xi, "Tangkap."

Mendengar ada suara lagi, kepala sekolah kembali menyenter kearah keduanya. "Kalian ketahuan! Sekarang tidak ada kelas, apa yang kalian lakukan disini?"

"Aku, kami..." Guo Zhi ingin melompat kembali kedalam semak belukar namun Shi Xi menahan kerah bajunya. "Dia ini anak prematur, selalu sakit-sakitan dan berulang kali pingsan di semak-semak. Guru memintaku untuk membawanya ke rumah sakit. Ini surat ijinnya." Shi Xi mengeluarkan surat ijin palsu dan menyerahkannya pada kepala sekolah.

Kepala sekolah merasa tak percaya lalu melihat Guo Zhi yang dipenuhi dedaunan kemudian mengambil surat ijin palsu itu dan memeriksanya. Ia berkata lembut, "Baiklah. Karena sudah begini, pergilah cepat. Kesehatan itu penting."

Setelah mereka menjauh beberapa langkah, Guo Zhi dengan segan bertanya, "Kau punya surat ijin. Apa kau sering sakit?" Ia memperhatikan Shi Xi atas bawah.

"Surat ijin ini bukan apa-apa, bisa diperbanyak." Setelah mendengar itu, Guo Zhi terganggu dan bereaksi, ia melihat saku Shi Xi ada banyak kertas disana. Ia mengeluarkan satu surat ijin palsu, lalu dua, dan tak terhitung jumlahnya.

Guo Zhi mengerti, yang disebut surat ijin itu ternyata palsu buatan Shi Xi. Rasa segan dimatanya semakin kuat. Surat ijin palsu setara dengan dekrit kekaisaran. Ini harus dimiliki siswa SMA.
.
.
.
.

Hua Guyu turun dari kamarnya untuk membeli minuman. Ketika ia melihat Guo Zhi dan Shi Xi, ia tahu apa yang akan dipanggil lelaki itu, "Hua er!"

"Apa? Kau kenal dengan orang aneh ini?"

Guo Zhi tak senang, "Dia tidak aneh. Hua er, jika kau melihat wajahnya, itu akan merontokkan kelopak bungamu."

Hua Guyu mengangkat bahu, "Pada akhirnya kau tak harus iri pada penampilanku. Tak semua orang bisa tumbuh seperti ini." Hibur Hua Guyu seraya membuka sedikit topi Shi Xi untuk melihat wajahnya. Tak lama setelahnya, ia tiba-tiba pucat, menggeleng syok dan mundur beberapa langkah. "Tidak mungkin. kau tidak mungkin setampan itu. kau tidak mungkin setampan itu. Tidak ada seorangpun didunia ini yang lebih tampan dariku. Aku membencimu, aku membencimu!!" Hua Guyu tak tahan untuk meledak dan berlari pergi.

Mengenai keabnormalan Hua Guyu ini, Guo Zhi tak lagi terkejut. Shi Xi dengan acuh bersuara, "Disekolah ini banyak orang gila."

"Ya." Guo Zhi setuju.

Saat Hua Guyu menyebut Shi Xi aneh, ia tak senang. Tetapi begitu Shi Xi menyebut Hua Guyu gila, Guo Zhi merasa itu tak apa.

Seekor kunang-kunang terbang melintas didepan keduanya. Guo Zhi mencoba menangkapnya dan melihat cahaya dari tubuh serangga itu, "Lihat! Itu bersinar."

"Itu hanya serangga yang bokongnya mengeluarkan cahaya. Ada banyak di acara TV dan animasi."

"Mengenai itu, aku sering menyaksikan kunang-kunang dalam jumlah banyak muncul didepan pemeran utama pria dan wanita didrama TV. Walaupun itu hanya efek palsu, tetapi mereka tetap saja merasa romantis."

"Dibanding melihat kenyataan, manusia lebih memilih sesuatu yang ilusi."

"Bukan begitu. Itu antara rasa cemburu dan keberuntungan." Guo Zhi berusaha menangkap kunang-kunang lalu melanjutkan, "Walaupun mereka tidak seindah didrama, mereka bisa bersinar walaupun lemah, itu terasa hangat." Ia mengulurkan tangan dan menyentuh dada Shi Xi seenaknya, tepat diposisi detak jantung, merasa sedikit hangat menguar dari sana. "Seperti disini." Mungkin tidak sedikit, itu seperti membakar jemari Guo Zhi. Ia langsung menarik tangannya dengan wajah memerah. Ia menyekanya dicelana namun tidak bisa menghilangkan perasaan itu.

Shi Xi tidak mempedulikan tingkah aneh Guo Zhi. Ia hanya memperhatikan kunang-kunang, serangga itu terbang dengan lambat didepan mereka. Cahaya terang yang bersinar dari belakangnya tidak menyinari apapun, tetapi dipupil Shi Xi, itu berkelap kelip.

Masih dibawah sinar rembulan, dihembusan angin sepoi, Namun malam ini tidak akan membuat sesak napas dan kesepian. Itu nafasnya, dan ia ada di sekitarnya.

Dia membaca buku, tetapi tidak melihat cinta; ia menonton DVD, tetapi hanya melihat kartun dan horor; ia menulis novel, tetapi hanya menulis rasa sakit; dia memiliki banyak hal yang tidak perlu; dia sebenarnya memiliki nilai bagus; dia terlihat baik; dia tersembunyi di dunia untuk mengamati dan menggambarkan dunia dengan cara yang tenang; dia akan dipisahkan dari dunia ketika dia menulis; dia adalah Shi Xi.

Inilah yang Guo Zhi ketahui sejauh ini.

Segala sesuatu tentang Shi Xi lebih mudah diingat daripada sejarah, matematika, dan semua buku teks.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments