59. Konsensus

Diam, diam, tidak ada lagi suara. Berapa lama untuk mengakhiri ini?

Dua orang, selalu ada satu untuk mengambil langkah pertama. Shi Xi datang kesini, berdiri depannya, ini adalah langkah Shi Xi. Sekarang giliran Guo Zhi untuk mengambil langkah.

"Aku pernah bilang aku tidak suka berbohong, dan aku tidak suka berbohong padamu. Aku pernah bilang, menangis untuk orang lain, dan senyum untukmu. Sebagai hasilnya, aku pembohong. Biarkan aku menariknya kembali. Jika dulu aku tidak mengenalmu maka kebohongan terbesar dalam hidupku adalah bagaimana melepaskanmu." Tangannya tetap melekat, tidak mau melepaskan. "Aku peduli dengan studiku, alasan peduliku terlalu kecil, kecil hingga tidak berani memberi tahumu. Aku hanya berpikir, jika aku belajar dengan baik, maka, maka ayah akan memiliki lebih sedikit alasan untuk menolakmu, sehingga dia tidak akan bisa menjanjikan kita dengan lebih mudah. "

Sekali lagi, dia begitu naif.

Memegang semua harapan, tidak akan melepaskan satupun. 

"Tapi aku merasa seperti sia-sia, aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan baik, aku ingin melakukan sesuatu untukmu, aku ingin melakukan sesuatu untuk hubungan ini."

"Kau tahu, kenapa aku ingin berubah?” Akhirnya dia berbicara.

"Kenapa?"
  
Satu detik, dua detik, Guo Zhi masih menunggu jawaban. Dia hanya bisa melihat busur indah leher belakang Shi Xi. Setelah tiga detik, suara Shi Xi sangat pelan tetapi itu tidak mempengaruhi suaranya. "Aku tidak cukup baik, apa yang harus digunakan untuk melindungimu? Sia-sia kau mengandalkan orang bodoh tidak penting sepertiku." Guo Zhi telah salah sejak saya awal. Ini adalah kesalahan besar, ia tidak rumit, dan perubahan serta evolusi Shi Xi bukan tidak berarti. Jarak antara depan dan belakang juga salah. Shi Xi berjalan didepan tidak untuk meninggalkan Guo Zhi, tetapi dia ingin membawanya dipunggung².
 
²melindungi Guo Zhi

/maniiiss 🙂/

Guo Zhi memiliki banyak ide optimis, tetapi bagi Shi Xi, itu adalah satu-satunya optimisme.

Guo Zhi tidak perlu khawatir tentang apa yang ingin ia rasakan dari ekspresi Shixi. Mata Guo Zhi pada saat ini tidak begitu jernih, namun ia dapat melihat perasaan Shi Xi. Hatinya bersorak, inilah Shi Xi yang sangat disukainya, bukan hanya sedikit.

"Kenapa kau harus mengatakan hal jelek itu? Apanya yang sia-sia, bodoh, aku senang dan juga marah." Wajah Shi Xi tidak bahagia.
   
"Itu lebih jelek."

Guo Zhi mengulurkan tangan. "Salaman. ayo rekonsiliasi saja." Shi Xi acuh tak acuh, Guo Zhi bergegas namun didorong Shi Xi seakan menjauh dariku.

"Setelah bertengkar, jika kau tidak berbaikan, itu tidak baik untuk kesehatan fisik dan mentalmu. Maka kau akan memberiku penyakit."

"Kau punya terlalu banyak kata di mulutmu!" Shi Xi akan berbalik, dan Guo Zhi buru-buru bertanya, "Kau mau kemana?" 

"Kembali."  

"Tapi mataku sakit." Guo Zhi memegang matanya, Shi Xi menatapnya dingin. "Mata kananmu tidak buta."

"Tetap saja menyakitkan." Guo Zhi meletakkan bangku di sebelah Shi Xi, "Kau duduk dulu."

Shi Xi tidak menanggapi, dia duduk dan Guo Zhi mengambil lilin yang sudah dibuang ke tempat sampah saat ia nyalakan tadi. "Shi Xi, selamat ulang tahun, buat permohonan."
    
"Jangan berikan aku set ini."

"Hadiah apa yang kau suka? Aku bisa mengirimkannya."

"Tidak perlu."

"Shi Xi, apa keinginanmu? Bisakah kau memberitahuku? Atau jangan mengatakannya, karena aku dengar jika kau ingin memberi tahu orang lain, itu tidak akan terkabul."
   
"Kau terlalu banyak omong kosong."

"Tiup lilinnya, kuenya nanti aku belikan."

"Aku tidak tertarik pada hal-hal manis."

"Kau hanya perlu makan kue dibawah, aku akan makan krimnya."

"Selamat tinggal."

Guo Zhi yang berpikir Shi Xi ingin pergi, segera meregangkan tangannya ingin menghalangi namun tangannya tiba-tiba ditarik Shi Xi membuatnya terduduk di paha Shi Xi, jarak mereka begitu dekat membuat Guo Zhi berdebar.

"Apa matamu masih sakit?" Shi Xi meniup mata Guo Zhi.

"Yah. Tidak ada akan sakit lagi kalau kau menceritakan sebuah kisah, seperti ketika aku pergi ke dokter gigi di sekolah menengah."

Kali ini, Shi Xi tidak menolak. Dia menceritakan dongeng. Kata demi kata didengar Guo Zhi sampai dihatinya. Benar saja, suara Shi Xi bisa membuatnya melupakan rasa sakit.

Entah sejak kapan, Guo Zhi sudah jatuh tertidur dipelukan Shi Xi, dan ia pasti memiliki mimpi yang sangat bagus, jika tidak, mengapa mulutnya tersenyum begitu manis. Suara Shi Xi berhenti, dan dia memandang Guo Zhi, mengulurkan tangan dan mengelus jarinya ke wajah Guo Zhi.
.
.

Guo Zhi lebih serius dari sebelumnya. Tidak rumit untuk melihat hal-hal dari sudut lain. Lebih baik mengandalkan upayanya sendiri untuk mencapainya sepanjang hari. Jika nilai akhir baik, mungkin Ayah bisa setuju untuk bersenang-senang selama liburan musim panas, maka ia bisa pergi dengan Shi Xi. Dia menggambar pola langkah-langkah di atas kertas, setiap langkah mewakili tujuan.

[ Tujuan pertama: pergi bersama Shi Xi untuk bermain di liburan musim panas.

Tujuan kedua: tidak bertengkar dengan Shi Xi sampai tiga bulan.

Tujuan ketiga: untuk mencapai 5.000 setoran tahun ini.

Tujuan keempat: untuk melihat senyum Shi Xi.

Tujuan kelima: memiliki novel yang penulisnya adalah Shi Xi.

Tujuan kelima: membuat orang tua Shi Xi menyukai dirinya.

Tujuan keenam: membuat orang tuanya membiarkannya bersama Shi Xi.

Dia mengerutkan kening, menggigit pena, mengurutkan sesuai dengan kesulitan target, memikirkan apa dia telah menulis atau melewatkannya. Untuk waktu yang lama, dia menulis tujuan akhirnya.
    
Tujuan ketujuh: tidak lagi dipengaruhi oleh mata, pikiran, dan kritik dari orang lain. Dengan cara ini, baik untuk bersama Shi Xi. ]

Setelah menulis, ia melipat kertas itu ke dalam tas, tidak masalah, perlahan, katanya dalam hati.

Berada bersama Shi Xi adalah keinginan untuk Guo Zhi.

Bersama dengan Guo Zhi adalah suatu keharusan bagi Shi Xi.

Setidaknya pada titik ini, keduanya mencapai konsensus³.
    
³Kesepakatan

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments