58. Kenapa ini sangat menyakitkan ( 3 )

Pukul 11:59 malam, satu menit lagi adalah hari kelahiran Shi Xi. Gambar imajiner menjadi hal yang paling ironis, kue yang dipesan terlebih dahulu sudah dikirim ke kamar tidur Guo Zhi, dan bertengger kesepian diatas meja. Ke Junjie bermain game sepanjang malam di kafe internet, dan hanya Guo Zhi sendirian di kamar. Ia sedang berbaring di tempat tidur, telepon dibawah bantal bergetar, itu alarm yang diatur beberapa hari yang lalu. Guo Zhi ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun pada Shi Xi. Sekarang ingatan itu seperti ironi berulang-ulang. Untuk waktu yang lama, dia mematikan alarm, bangkit dari ranjang dan membuka kotak kue.

Dengan lembut meletakkan lilin diatasnya kemudian membakar sumbunya. Seketika cahaya hangat menerangi di kamar, tapi itu tidak cukup hangat untuk orang di kamar itu. Nyala api tercermin di matanya. Guo Zhi memandang kedepan. "Shi Xi, selamat ulang tahun, buat permohonan."

"Apa kau suka dompet yang kuberikan? Atau kau suka yang lain?"

"Shi Xi, apa keinginanmu? Bisa kau beritahu aku? Atau jangan mengatakannya, karena aku dengar kalau diberitahukan pada orang lain, itu tidak akan terkabul."

Didepannya kosong. Adegan ini hanyalah imajinasinya. Sekarang ia terlihat seperti orang gila yang bicara sendiri.

"Tiup lilinnya, kau tidak suka krim manis, makan saja kue dibawahnya." Begitu satu-satunya cahaya di kamar itu padam, lilinnya dicabut, dan ia mengambil sendok, menggali kue lalu memasukkannya kemulut.

"Enak! Shi Xi, kenapa kau tidak makan?" Guo Zhi menelan, walau mata kirinya sakit, Ia masih menangis dengan mata kanannya, air mata mengalir dan menyelinap ke mulut, bercampur dengan krim, terasa asin. Dia terus makan sampai mual.

Seharusnya tidak pernah mengenal satu sama lain. Haruskah ia mendengarkan kata-kata Shi Xi? Itu terlalu sulit. Perasaan tidak semudah itu untuk dilupakan. Ia tidak pernah berpikir untuk berpisah, tetapi pasangan yang jatuh cinta dan berpisah, dari kekasih menjadi musuh atau orang asing, selalu terulang seperti ini. Jika ia menjadi orang asing bagi Shi Xi, seperti apa kehidupannya nanti.

Guo Zhi merasa tidak nyaman, dia mengambil ponsel, membuka kontak Shi Xi, lalu meletakkan ponselnya, bergumam pada dirinya sendiri. "Jangan bertengkar, mengucapkan kata-kata yang menyakitkan atau kau akan sakit mendengarnya." Dia naik kembali ke tempat tidur, melihat lagi kontak Shi Xi kemudian meletakkan ponsel di bawah bantal. Jarinya tanpa sengaja menekan tombol panggil.

Dia menyusutkan tubuhnya berbaring, menutup mata, bulu matanya sedikit basah, dan tangannya mencengkeram selimut. "Shi Xi, aku ingin menjadi seolah-olah aku tidak mengenalmu tetapi aku tidak bisa melakukannya."
.
.

Di luar kamar apartemennya, Shi Xi memakai penyumbat telinga, menonton kampus di malam hari dipagar. Ponselnya bergetar. Dia meletakkan ponsel di telinganya, dan suara diseberang sangat samar dan tidak bisa didengar. Shi Xi mendongak, cahaya bulan jatuh di wajahnya yang tampan, dan malam menjadi terpesona. Rasa sakitnya meningkat di sekitar Guo Zhi dan kesepiannya mereda di sekitar Guo Zhi.

Jika dulu tidak mengenal Guo Zhi, maka dia tidak akan tahu Guo Zhi yang penuh dengan kesedihan, dia ditusuk tanpa tindakan pencegahan. Perasaan sakit yang sebenarnya tidak dapat diungkapkan dan kamera tidak dapat memotretnya. Shi Xi menutup telepon, melangkah turun kedalam kegelapan malam.

Belum lama tertidur, Guo Zhi bangun karena Hua Guyu menyelinap masuk kekamarnya. "Guo Zhi, kau tahu apa yang paling dibenci Shi Xi? Aku ingin memberikan padanya."

"Aku tidak tahu." Ketika mendengar nama Shi Xi, ia terpaku sesaat kemudian lanjut mengumpul pakaiannya.

"Kenapa matamu?"

"Cedera saat main basket."

"Benarkah? Lalu hadiah apa yang kau kasih ke Shi Xi?"

"Dompet." Guo Zhi pura-pura seakan tidak terjadi apa-apa, ia tidak ingin memberi tahu Hua Guyu, ia mungkin sedikit egois, tetapi ia juga ingin mempertahankan hubungannya dengan Shi Xi, tidak mau mengakui kenyataan.

"Dompet yang mana? Seseorang sudah yang memberikan itu. Terlalu banyak orang yang memberikan hadiah pada Shi Xi kemarin. Itu semua ditumpuk di laci. Dia bahkan memberikannya padaku tanpa melihatnya. Dompet itu dicuri oleh seorang pria di kelas mereka."

"Dia tidak melihat?"

"Ya."

"Dia tidak tahu siapa yang mengirimnya?"

"Kemampuan berpikirmu sangat buruk! Begitu banyak orang yang memberikan hadiah, siapa yang tahu siapa pengirimnya."

Jadi Shi Xi tidak sengaja? Mengetahui satu hal, Guo Zhi tidak bisa melepaskannya. Masalah sebenarnya antara keduanya bukan pihak ketiga. Ini adalah inferioritas yang dirasakan dan kesenjangan yang tidak dapat disepakati pada hal yang sama. Guo Zhi tidak ingin hanya diam disampingnya, ingin menjadi satu-satunya orang yang dibutuhkan. Terobsesi dengan ide ini agak konyol, ia ingin memberikan segalanya pada Shi Xi, tetapi ia tidak memiliki apa pun kecuali dirinya sendiri, ia membenci dirinya sendiri.
.
.

Ketika Guo Zhi kembali, Hua Guyu sudah menghilang. Ia membungkus pakaian yang sudah dicuci dan meletakkannya di baskom untuk dijemur di balkon. Dia melihat wajahnya melalui kaca. Mata kiri semakin bengkak. Rasanya ia ingin membuka matanya dengan paksa. Seketika pintu kamar ditendang, suara tendangan itu terdengar menakutkan. Pintu terbuka, Shi Xi berdiri disana, kekecewaannya kontras dengan glasir Shi Xi. Bagaimana dia melakukannya, dan tidak ada yang bisa mengguncangnya? Guo Zhi mencoba tenang dan bertindak kejam, ia bergegas dan berusaha menutup pintu namun ditahan Shi Xi.

"Watakmu tidak kecil."

Shi Xi melangkah maju dibalik pintu, Guo Zhi mendorongnya keluar, Shi Xi masih bergerak maju, dan Guo Zhi terus mendorong. "Kau!" kata-katanya diinterupsi Shi Xi. "Aku kesini tidak untuk bertengkar."

Shi Xi mendudukkan Guo Zhi di bangku dan mengeluarkan salep. "Tutup matamu." Guo Zhi tidak menutup mata dan hanya melihat Shi Xi, ia benar-benar tidak bisa melihat hatinya, Shi Xi menampakkan wajah yang sama ketika membuang bukunya, menyulutnya dengan wajah yang sama, mendorongnya dengan wajah yang sama, dan sekarang ia menggunakan wajah yang sama untuk menyeka salep untuknya.

"Shi Xi, aku benar-benar tidak mengerti dirimu."

Shi Xi hanya menyeka salep, dia tidak bicara, dan keduanya terdiam. Akhirnya, dia meletakkan salep di atas meja, berbalik dan hendak pergi. Guo Zhi menunduk. "Bukankah ini bodoh¹?" Dia masih tidak berbicara, Guo Zhi menahan celananya. "Kau bicaralah! Katakan sesuatu, apa pun itu, aku ingin mendengar." Terlalu bodoh, ingin berbicara dengannya, walaupun itu menyakitkan.

¹Dalam artian ignorant.

"Tidak ada yang perlu dikatakan, ah, aku tidak berubah pikiran, kau melarikan diri dari jurang maut." Shi Xi terdengar dingin, Guo Zhi mengangkat kepala. Apakah ini kelembutannya yang terakhir, membiarkannya pergi? Jangan bercanda, jangan membuka lelucon semacam ini. Shi Xi pergi, dan Guo Zhi tidak menahannya. Shi Xi benar-benar ingin pergi. Apa itu rendah diri, apa itu ketidaknyamanan, dan apa itu harga diri seketika menjadi tidak berarti dibandingkan dengan kepergiannya. Guo Zhi berlari dan meraih ujung baju Shi Xi. "Bagaimana dengan aku secara sukarela jatuh ke dalam jurang maut karena ada kamlu disana?!"

Shi Xi, aku lebih suka dibelenggu dengan rasa kejammu, aku tidak ingin dipisahkan oleh kelembutanmu.

Apa yang akan kau lakukan, tetap pergi atau berbalik?

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments

Post a Comment