54. Shi Xi ( Part 3 )

Di kelas, dosen mengambil buku teks dan sambil mondar-mandir mulai memberi kuliah diatas podium. Para siswa di bawahnya sebagian besar ada yang menyimak dengan menahan kantuk juga bermain ponsel. Shi Xi yang duduk disudut menyender pundak ke dinding, santai dan malas.

Dosen itu menulis beberapa baris di papan tulis, dan suaranya menekankan. "Ini adalah titik kunci, kalian harus mengingatnya." Mendengar itu para siswa bergegas untuk membuat catatan, hanya Shi Xi yang tidak bergerak, matanya tertuju di papan tulis beberapa detik kemudian ia mengalihkan pandangan.

“Kau tidak mencatatnya?" Pria di sebelah Shi Xi bertanya, tanpa jawaban, dan sikap Shi Xi tidak membuatnya sangat tidak puas. Pria itu adalah anggota kelas di kelas itu, yang disebut Kong Hao, yang selalu menjadi siswa terbaik di kelas itu, siswa favorit dosen. Pada awal kuliah dia tidak pernah memperhatikan bahkan nama Shi Xi pun tidak bisa diingat. Suatu hari, Shi Xi melepas topinya. Meskipun Kong Hao melihat ekspresi di bawah topi itu, ia masih memperlakukan Shi Xi sebagai vas. Sampai beberapa saat yang lalu, semua aspek studi Shi Xi terus meningkat dalam semalam, bahkan melampaui dirinya. Dia yang merasa terancam memutuskan untuk terus duduk disebelah Shi Xi sambil mengawasinya.

Yang membuat Kong Hao bingung adalah sebagian besar waktu Shi Xi tidak membaca buku teks. Yang dilakukannya kalau tidak tidur, melihat keluar jendela, atau menulis sesuatu yang tidak dapat dijelaskan. Nilai Shi Xi lebih baik dari dirinya. Sedangkan dia belajar keras setiap hari. Ketika orang lain belajar, dia belajar. Ketika orang lain bermain, dia tetap belajar. Dia selalu percaya bahwa jenius adalah 1% bakat +  99% upaya. Tanpa diduga, ada pria yang bernama Shi Xi mematahkan keyakinan yang mutlak baginya.
    
Semakin dia ingin kurang meyakininya, hal itu semakin sulit. "Aku tidak tahu metode apa yang kau gunakan, bahkan jika kau lebih pintar daripada yang lain, bisakah kau tidak memandang rendah orang-orang yang belajar dengan keras?"

Shi Xi menoleh dan menatap Kong Hao. Pupil matanya kosong. Kong Hao rasanya ingin pingsan, dia bertanya. "Apa belajar itu sangat penting?" Kong Hao tidak menyangka Shi Xi menjawabnya, "Hey, hal-hal yang tidak penting bagimu bukan berarti itu tidak penting bagi orang lain. Aku selalu menjadi kebanggaan keluarga. Orang tuaku memiliki harapan yang tinggi padaku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka, dan aku tidak ingin kecewa dengan diriku sendiri. Kau tahu, Berapa banyak aku berusaha keras dalam setahun? Kelakuan santai apa itu yang kau perlihatkan untuk memamerkan kau lebih baik dariku?" Kong Hao mengencangkan alisnya, kulitnya putih, bibirnya merah dan sekarang amarahnya sebenarnya agak imut. Meskipun Shi Xi memandang Kong Hao, dia mengingat Guo Zhi dan apa yang pria itu keluhkan tadi malam.

Guo Zhi menundukkan kepalanya, memainkan tali sepatu dengan tangannya sambil mengeluh tentang nilainya yang menurun. Pada saat itu, Shi Xi mengendus perasaan tidak enak dari nada bicara Guo Zhi tetapi mengabaikannya. Tak acuh menanggapinya namun Guo Zhi tersenyum, jelas tersenyum dan menertawakan dirinya sendiri, benar-benar bodoh.
    
Ketika bel berdering, Shi Xi bangkit dan melewati Kong Hao untuk pergi ke luar kelas dan masuk ke kelas sebelah, menemui Hua Guyu yang sedang melihat cermin, menata gaya rambutnya.

"Hei, pergi ke kelasnya dan ambil semua buku teksnya."

"Kenapa kau tidak pergi sendiri?" Wajah Hua Guyu terkesan tidak mau.

"Aku tidak mau pergi."

"Memangnya aku terlihat seperti ingin pergi? Kau tidak mau memikirkannya? Membiarkan aku, pria tampan ini membantu melakukan urusanmu. Bagaimana jika aku keluar dan secara tidak sengaja memikat gadis-gadis?"
    
"Pergi!" Shi Xi menghela nafas ringan, dia tahu Hua Guyu adalah orang bodoh yang mudah dibodohi. Hua Guyu mengambil dua langkah. Dia berbalik dan melotot. "Kenapa aku harus pergi, aneh! Kenapa aku berdiri? Aku tidak ingin pergi, aku tidak mau sampai mati."

"Pergi!" Itu hanya pengulangan mekanis. Hua Guyu sudah berjalan ke pintu ruang kelas. Dia tahu bahwa semuanya tidak dapat diperbaiki. Dia menatap Shi Xi dengan penuh kebencian. "Aku benci kau, aku benar-benar membencimu!" Dia berlagak seperti orang yang baru saja difitnah.

Setelah beberapa saat, Hua Guyu kembali, masuk ke kelas Shi Xi dan melemparkan setumpuk buku dan kunci di atas meja kemudian pergi dengan amarah. Ketika Shi Xi mengambil buku teks milik Guo Zhi itu, Kong Hao sedikit terkejut melihatnya membaca buku. Dia berpikir bahwa Shi Xi memikirkan kehangatan dalam hatinya karena kata-kata yang dia ucapkan. Shi Xi tidak hanya melihat buku teks dari fakultas ekonomi, tetapi juga pergi ke perpustakaan untuk memeriksa informasi selama istirahat makan siang.
.
.

Jarum jam di dinding telah mencapai pukul 12 malam, ruangan masih diterangi cahaya, musik terdengar dari ponsel, laptop di atas meja ditutup, tempat tidur penuh buku, dan matanya dialihkan lalu membuang pena di tangan kemudian berguling dan terbaring di tempat tidur, lampu di langit-langit agak menyilaukan.

Apa yang dia lakukan? Nilai yang baik atau buruk adalah urusan Guo Zhi dan dia tidak mendapatkan manfaat apa pun. Itu adalah perilaku yang tidak dewasa dan naif. Dia bukan orang yang bodoh. Shi Xi bangkit dari tempat tidur, pergi ke kamar mandi dan mandi, kemudian kembali duduk ditempat tidur dan menggosok kepalanya, melihat buku-buku yang berserakan, aksinya berhenti sebentar, melepas handuk di kepala dan melemparkannya ke atas meja. Lanjut membolak-balik buku teks.
    
/dia bantuin Guo Zhi 😢 padahal beda fakultas. Pengen satu yang kek gini, lol/
.
.

Beberapa hari berlalu, Shi Xi saat ini sedang duduk di ruang kelas dan bersandar di sandaran kursi, kakinya di atas meja, satu tangan memegang buku, dan tangan lainnya membalikkan pena. Dia merasa ada yang memperhatikan dari luar kelas, dan dia tidak menemukan sosok ketika dia mendongak. Setelah beberapa hari tidak menghubungi Guo Zhi, dia menyentuh ponsel, isinya penuh dengan pesan yang dikirim orang itu. Setelah menatap selama beberapa menit, dia kembali meletakkan ponsel di sebelahnya dan lanjut membalik beberapa halaman terakhir buku teks.
 
Ketika bel kelas berdering, Shi Xi membawa buku teks itu dan berjalan keluar dari ruang kelas, langit tampak kelabu, membuat seluruh kampus terlihat mati. Dia membuka pintu kamar dengan kunci, disambut penerangan yang tidak terlalu bagus. Dia meletakkan buku itu di atas meja kemudian duduk dibangku. Ia membuka laci pertama di meja belajar, semua barang milik Guo Zhi bertumpuk berantakan. Lalu laci kedua, dan menemukan banyak hal di dalamnya, barang yang berkaitan dengan dirinya, ada kamera, kotak pena, kertas, topi aneh, dan amplop yang tertulis nama Shi Xi. Hanya ada satu tangkai bunga dan satu draf yang hampir dia buang ke tempat sampah.
    
Shi Xi mengeluarkan selembar kertas, menulis sesuatu di atasnya, dan meletakkan kertas itu di tumpukan draft setelah menulis.

Kamar tidur yang tenang diserang oleh hujan deras dengan tiba-tiba. Suara hujan ada di mana-mana. Gantungan di balkon diterbangkan bersama oleh angin membuat pakaian yang tergantung terguncang. Shi Xi dengan enggan berdiri. "Kenapa menjemur pakaian dicuaca seperti ini?" Dia pergi ke balkon, pakaian Ke Junjie terlepas dan jatuh di tangannya. Shi Xi hanya melihat sekilas lalu melepaskan tangannya dan pakaian putih itu jatuh ke lantai. Dia mengambil pakaian Guo Zhi dan memasukkannya ke dalam lemari dan kemudian duduk lagi. Dia benar-benar mengabaikan pakaian luntur¹ lainnya di balkon dan dengan bosan bermain dengan kamera, menggeser satu per satu foto didalamnya.

¹Luntur / weather-stained ~ berubah warna karena terpapar cuaca.

Shi Xi bisa saja meninggalkan buku itu dan kemudian langsung pergi. Novelnya perlu ditulis, dan ada film yang akan ditontonnya. Masih banyak hal lagi yang harus dilakukanmya. Kenapa dia tetap menunggu, tampaknya dia hanya ingin melihat Guo Zhi sebentar.
    
Sepuluh detik, jika dia tidak datang, pergi.

Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu.
    
Pintu didorong terbuka, dan Guo Zhi berdiri di luar pintu. Dia terpaku disana, bersuara dengan hati-hati tetapi sulit untuk menyembunyikan kebahagiaannya. "Shi Xi?" Ketika mendengar bisikan itu, senyuman samar terukir dibibirnya menyamarkan cahaya kelabu.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments