53. Berbohong untukmu

Asrama siswa diselimuti langit malam, diterangi dengan lampu yang menyala tidak rata. Ada beberapa orang yang bersandar di pagar, ada juga orang berlalu lalang pergi kamar tidur, sesekali ada jeritan dan umpatan dari mereka yang sedang bermain game. Shi Xi berdiri di lantai bawah, Guo Zhi ada di sampingnya, berjongkok dan memainkan tali sepatunya sendiri.

Shi Xi memasukkan tangan ke dalam saku celana, langit malam tak bisa menutupi wajah tampannya. Dia menyenggol punggung Guo Zhi dengan lututnya. "Jangan begitu, berdiri!"

Guo Zhi semakin membenamkan kepalanya. "Nilaiku menurun dan tugas rumahku banyak yang salah."

"Kalau tidak ada yang penting, aku akan pergi." Shi Xi tidak peduli, dia sulit memiliki emosi untuk apa pun, dan sulit untuk memikirkan hal baik atau buruk. Baginya, ini adalah sesuatu yang tidak penting sama sekali. Pernyataan ini kejam. Dia tidak bisa berpura-pura khawatir tentang masalah seperti itu dan dia tidak bisa khawatir pada Guo Zhi. Bahkan jika dia seorang kekasih, Shi Xi tetap Shi Xi. Sulit untuk mengubah kepolosan Guo Zhi dan juga sulit untuk mengubah ketidakpedulian Shi Xi.

Guo Zhi hanya tersenyum dan tertawa, menganggap angin lalu tanggapan acuh Shi Xi terhadap masalah prestasinya. Shi Xi juga punya urusan sendiri. Ketika dia tidak bisa menulis novel, dia tidak berdaya. Maka dari itu, nilai Guo Zhi yang semakin buruk itu karena dia memang tidak berusaha keras. Sikap Shi Xi seperti itu diterimanya begitu saja. Kepolosan Guo Zhi adalah perut yang kuat, dan bisa menyerap¹ ketidakpedulian Shi Xi kapan saja.

¹mengabsorbsi - ibaratnya kek kerja usus, lol

"Hua er bilang nilaimu selalu yang terbaik. Bagaimana kau melakukannya, tidak terpengaruh oleh efek negatif dari cinta? Aku sering terganggu sekarang karena selalu memikirkanmu."

"Kau benar-benar bisa berbicara tentang meat²."

²bagian paling vital dari suatu pemikiran

"Jangan mengalihkan topik pembicaraan."

"Lebih baik kembali kekamarmu dan baca buku sekarang."

"Benar juga. Kalau begitu aku naik dulu." Guo Zhi berdiri, meregang kakinya sejenak kemudian kembali kekamarnya.
.
.

Tiga hari kemudian setelah kelas berakhir, Hua Guyu muncul di kelas Guo Zhi dan mengatakan ingin meminjam semua buku teks Guo Zhi dan langsung memasukkan ke dalam tasnya.

"Apa yang kau lakukan Hua er? Aku harus menggunakannya di kelas berikutnya." Guo Zhi dengan tidak senang mengulurkan tangannya berusaha meraih tas namun ditepis Hua Guyu.

"Apa hanya ini buku teksmu?"

"Masih ada yang lain dikamar, apa yang akan kau lakukan dengan bukuku?"

"Aku mau ke toilet, berikan kunci kamarmu." Hua Guyu menengadahkan tangan, Guo Zhi mengambil tisu toilet dari laci dan menaruhnya ditangan Hua Guyu. "Ketika kau pergi ke toilet, gunakan tisu ini. Kalau sampai kau gunakan buku teks ku, aku akan menggaruk bokongmu."

"Berikan kuncinya." Hua Guyu meremas tisu toilet itu dan melemparnya ke atas meja. Guo Zhi menatapnya yang terlihat marah, ia lalu menyerahkan kunci kamarnya. "Apa kau terkena wasir?"

"Bocah ini! Jangan main-main denganku sekarang. Aku pinjam semua bukumu." Tanpa menunggu jawaban Guo Zhi, Hua Guyu beranjak pergi keluar kelas.
.
.

Sudah beberapa hari ini ia tidak menemukan Shi Xi. Dia tidak membalas pesan juga tidak ada belakang stadion. Guo Zhi meremas ponselnya dan memutuskan untuk pergi ke kelas Shi Xi. Guo Zhi melihatnya dari jendela di luar ruang kelas. Dia bersandar di sandaran kursi, kakinya di atas meja, satu tangan memegang buku dan tangan yang lain memegang pena. Suara berisik di sekitarnya terabaikan olehnya. Dia diam dan acuh tak acuh, fokus menulis sesuatu di buku dengan pena.

Hanya ada Shi Xi dimata Guo Zhi tetapi tidak ada Guo Zhi dipandangan Shi Xi.

Guo Zhi harus berhenti, kepanikan yang belum pernah ia alami sebelumnya kini menyeruak dalam tubuhnya. Dia mengalihkan pandangannya tidak berani lagi melihat Shi Xi dan bergegas pergi. Sebelumnya, diabaikan, nilai buruk, olahraga buruk, tidak ada tujuan, tidak ada jiwa, dan mati rasa. Sekarang, Shi Xi semakin dekat dengan kesempurnaan, dan dia tertinggal.

Dia mendongak dan menatap langit, benang merah yang diregangkan pada dua orang yang sedang jatuh cinta, jarak antara bagian depan dan belakang membuat benang merah itu sangat ketat, akankah tiba-tiba putus?

Apa yang ada dipikirannya membuat suasana hati tidak bisa ditenangkan.

Ia belum pernah mengalami masalah cinta, dan masih banyak hal yang membingungkan.
.
.

Pada sore hari, langit yang berada dalam suasana hati yang buruk tak tahan untuk menangis, dan tetesan air mata itu jatuh di dedaunan, jendela, dan atap membuat suara renyah. Guo Zhi tidak membawa payung, tetapi dengan nekat ia berlari dibawah hujan. Ia akhirnya sampai di asrama dalam keadaan basah kuyup. Berjalan menuju kamar, Guo Zhi menyentuh saku celana panjangnya dan ingat bahwa terakhir kali Hua Guyu belum mengembalikan kunci kamarnya. Lagipula akhir-akhir ini, Ke Junjie kembali ke kamar lebih awal darinya dan kemudian pergi lagi jadi sering tidak mengunci pintu.

Melihat pintu kamar yang sedikit terbuka, Guo Zhi mendorongnya hingga terbuka lebar, seketika berpikir hanya ilusi. Shi Xi sedang duduk di bangku, memegang kamera di tangannya, ia fokus melihat foto-foto di dalamnya.

"Shi Xi?"

Orang yang duduk disana tidak menjawab, Guo Zhi perlahan mendekat dan menusuk bahu Shi Xi dengan jarinya untuk memastikan tubuh itu nyata kemudian menjerit. "Shi Xi! Bagaimana kau bisa kesini?"

"Aku tidak boleh datang?" Shi Xi menoleh dan melihat penampilan Guo Zhi yang basah kuyup. Dia berdiri dan berjalan ke tempat tidur Ke Junjie, mengambil selimutnya dan melemparkannya ke atas kepala Guo Zhi dan kemudian mengusap dengan kekuatan. Guo Zhi terguncang ke kiri dan kanan oleh kekuatan ini. Ia mendorong lengan Shi Xi. "Jika ada handuk, kenapa menggunakan selimut orang lain?"

"Penyerapan airnya lebih bagus."

"Apa menurutmu ini tidak jadi masalah?!" Guo Zhi masih ingin memarahinya namun Shi Xi menyeka wajahnya sehingga ia tidak bisa bicara. Kemudian, Shi Xi membungkus tubuh Guo Zhi dengan selimut. "Buka celanamu." Guo Zhi dengan patuh menggeliat di selimut dan melepas celananya.

"Sepatu juga. Apa kau anak SD yang masih harus diperintah?" Shi Xi mengencangkan selimut.

"Baik." Guo Zhi menendang sepatu dikakinya hingga terlepas.

Shi Xi membuka lemari, mengambil satu set pakaian dan melemparnya ke arah Guo Zhi yang dengan susah payah menjangkau. "Melempar barang adalah perilaku yang sangat kasar."

"Omong kosong! Cepat pakai!"

Guo Zhi mendatarkan mulutnya dan mulai mengenakan pakaian. Ia melihat selimut Ke Junjie. "Bagaimana dengan selimutnya?"

"Tutup mulutmu. Tak akan ada yang akan tahu." Shi Xi membuka botol air mineral dan minum.

Guo Zhi menatapnya tak percaya. "Kau menyuruhku berbohong? Aku bukan tipe orang seperti itu! Aku akan memberitahunya itu ulahmu."

Shi Xi mengangkat bahu acuh dan membuka pintu kamar untuk pergi. Ancaman seperti itu tidak menyakitkan. Ini sangat santai, dan sangat santai. Bagaimana bisa Shi Xi tiba-tiba datang menemuinya? Ia duduk dibangku bekas duduk Shi Xi dan mengambil botol air yang baru saja diminum Shi Xi, menempelkannya secara tidak sadar dibibirnya dan meneguk lalu tersadar dan mendorong botol air itu. "Bukankah ini perilaku mesum?" Tiba-tiba ekor matanya tertuju pada buku teks di sudut meja. Kuncinya ditempatkan di buku teks. Guo Zhi mengambilnya, menggigit bibir bawahnya. Dadanya bergemuruh.

Didalam buku teks telah dibuat sketsa, dan beberapa tempat memiliki komentar, bahkan lebih rinci dan dapat dimengerti daripada penjelasan dosen. Tulisan tangan yang seperti coretan itu milik Shi Xi dan itu jauh lebih indah dibanding orang lain. Kadang-kadang dicampur dengan kata-katanya sendiri dan sindiran. Kenapa ia ingin lebih banyak tertawa? Guo Zhi mengangkat buku itu dengan kedua tangan, kepalanya dimiringkan ke belakang, memandang buku ditangannya sebentar, sikunya sedikit menekuk, dan kemudian menempelkan buku itu di bibirnya.

Masih terus mencium buku itu dengan mulut penuh, ia tak sadar Shi Xi bersandar kusen pintu sambil melipat tangannya. "Apa yang kau lakukan?"

/lol keciduk/

"Tidak melakukan apapun." Guo Zhi buru - buru melemparkan buku itu ke atas meja, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. "Bagaimana mungkin kau kembali?" Shi Xi maju, dia mengeluarkan sebuah buku dari bawah tumpukan buku teks. "Aku lupa mengambil bukuku." Jelas Shi Xi sambil memberikan tatapan penuh arti, lalu berjalan ke arah pintu.

"Guo Zhi."

"Ah?"

"Setidaknya tutup pintu dulu sebelum melakukan hobi tidak normalmu." Setelah mengatakan itu Shi Xi menutup pintu dan pergi.

Guo Zhi kehilangan wajahnya! Ingin mati saja! Ia menendang kaki meja dengan frustasi.
.
.

Tiba waktu tidur malam, Ke Junjie masuk ke dalam selimutnya, tiba-tiba kembali duduk. "Aneh, bagaimana selimutku basah?" Guo Zhi berbalik menatap Ke Junjie, tubuhnya kaku, dan setelah beberapa detik dia menjadi tenang. "Mungkin karena hari ini hujan sehingga kelembaban di kamar tidur terasa berat."

Hey, ia hanya berbohong untuk Shi Xi. Guo Zhi menutup wajahnya dengan buku.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments