50. Jangan mengejekku

Guo Zhi berbaring di tempat tidur cukup lama sebelum matanya tertuju pada lemari, dan tiba-tiba ia membuka selimut. Dengan bertelanjang kaki di lantai dan membuka lemari. Jemarinya menyelinap di atas pakaian Shi Xi, matanya menjeling ke belakang, memastikan Shi Xi tidak melihatnya. Setelah itu, ia ambil sepotong pakaian dan mengenakannya, lalu melirik sebentar ke arah Shi Xi lagi, kemudian mengambil celana panjang dan memakainya, lalu duduk di sofa dan menyalakan TV seakan tidak ada yang terjadi.

Dia mematikan volume TV dan tidak ingin membuat suara. Perlahan-lahan, langit dan kamar menjadi gelap karena kegelapan. Jemari Shi Xi pernah meninggalkan keyboard, Guo Zhi duduk sendirian di sudut sofa dan menonton layar TV yang sunyi. Meski begitu, bahkan jika Shi Xi membelakanginya, bahkan jika keduanya tidak berbicara, tetapi selama Shi Xi disekitar bahkan dengan jarak 1 meter, jarak 100 meter, jarak 1000 meter, ia tidak akan merasa sepi.

Shi Xi menekan kontak lampu, cahaya seketika memenuhi ruangan. Di layar laptop, novelnya baru setengah ditulis. Dia melirik Guo Zhi yang duduk disofa, kemudian berbalik, meletakkan tangannya di keyboard, dan lanjut mengetik. Satu kata, Shi Xi berhenti. Dia meraih buku catatan, duduk di samping Guo Zhi, mengambil remote tv, dan menaikkan volumenya. 

Di TV, drama Korea sedang diputar. Shi Xi menunjukkan ekspresi menjijikkan. "Kau menonton hal yang tidak bisa dicerna seperti ini?" Mengatakan itu tapi dia tidak mengubah saluran tv dan kembali melemparkan remote ke tangan Guo Zhi.
    
"Hei, terkadang orang perlu hal-hal ini untuk menstimulasi diri mereka sendiri. Meskipun itu semua palsu, mereka tetap merasa kehangatan. Terlebih lagi, aku pikir aktor itu sangat tampan."

"Tampan? Itu karena operasi plastik." Shi Xi semakin jijik. Guo Zhi melihat wajah aktor di tv kemudian melihat wajah Shi Xi, ia langsung memeluk lengannya dengan manja. "Tentu saja tidak setampan kau."
    
Shi Xi melepaskan diri, "Diam."
.
.

Di TV, plot kuno dimulai lagi, ibu-ibu generasi kedua yang kaya dengan tegas menentang mereka, membuat cara untuk bertarung menggunakan teman si pemeran utama untuk melawannya, dan menggunakan temanya untuk memaksa menghancurkan hubungan si wanita pemeran utama dengan anaknya. Wanita pemeran utama itu menangis.

"Menyedihkan."

"Jadi jangan berteman, dan jauhi mereka."

"Kenapa kau hanya memikirkan ini? Apa kau ingin kebaikan dan belas kasihan orang lain? Jika orang tuaku memberimu banyak uang untuk membuatmu meninggalkanku, kau tidak akan ragu untuk mengambil uang itu dan pergi, kan? Kau memang orang seperti itu." Setelah mengkritik Shi Xi, ia tiba-tiba tertawa. "Untungnya, keluargaku tidak punya uang sebanyak itu."

Shi Xi mendorong kepala Guo Zhi. "Idiot."

Guo Zhu bangkit dari sofa dan menarik keatas celana longgar yang dikenakan. "Ayo kita pergi makan." Begitu akan pergi, Shi Xi memegang pergelangan tangannya dan menyeretnya ke lemari, Guo Zhi dengan satu tangan memegang erat-erat celana, mengamati ekspresi Shi Xi. Apa Shi Xi sadar ia mengenakan pakaiannya? Dia pernah memperingatkan Hua Guyu tidak bisa memindahkan barang-barangnya. 

Guo Zhi berkata dengan hati - hati. "Apa kau marah?" 

Shi Xi tidak menjawab, ia mengambil ikat pinggang dari lemari, menundukkan kepalanya, dan melewati ikat pinggang melalui pinggang celana jeans. Ketika ia menatap wajah Shi Xi, Guo Zhi tidak bisa bergerak dan menahan napas, detak jantungnya lemah dan lemah.

"Kau bisa pakai pakaianku, kau bisa nonton TV dan mengatur volume, kamu bisa melakukan banyak hal, jadi di sampingku, tidak perlu sungkan." Suara Shi Xi tidak lembut, matanya masih di ikat pinggang, namun tetap membuat hati Guo Zhi berdetak kuat.
.
.

Restoran itu sangat sepi. Hanya Guo Zhi dan Shi Xi, dua pelanggan disitu, Guo Zhi menatap daftar menu hidangan yang terlihat enak lalu melihat sekeliling. "Aneh, belum larut tapi kenapa tidak ada orang?"

“Aku sudah menyewa restoran ini." Kata Shi Xi ringan.

"Benarkah? Kenapa kau begitu boros?" Wajah tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut.
    
"Kenapa kau masih saja bodoh bisa percaya perkataan seperti ini?"

"Lalu kenapa tidak ada orang?"

"Itu karena bisnisnya sedang tidak baik."  

"Lalu kenapa kau mengatakan itu?" Guo Zhi tak tahan untuk meledak. Shi Xi hanya mengangkat bahu mengabaikan tampang orang bodoh yang emosi didepannya.
 
Tidak perlu waktu lama, makanan disajikan diatas meja. Rasanya benar-benar tidak enak, tetapi karena terlalu lapar, Guo Zhi tidak bisa untuk tidak memakannya. Guo Zhi mengambil sumpit dan memasukkan nasi ke mulutnya terus melahapnya.
    
"Hei, ada sesuatu disudut bibirmu."

Guo Zhi seketika mengangkat wajahnya. "Apa?"
    
Shi Xi mengulurkan tangannya ke wajah Guo Zhi, Guo Zhi tidak bisa terpaku, tak bergerak. Siapa sangkat tangan Shi Xi berubah arah dan mendorong dahi Guo Zhi. "Kau pikir aku akan membantumu menyingkirkannya? Bersihkan sendiri."

"Kalau begitu, kau seharusnya tidak melakukan tindakan yang salah paham!" Guo Zhi menyeka mulutnya dengan tisu dan menunduk fokus makan lagi, namun tiba-tiba ia kembali mendongak dan menatap Shi Xi dengan curiga. "Apa kau sengaja melakukan sesuatu yang akan membuatku salah paham seperti ini, dan kemudian mengejekku?"

"Ya." Guo Zhi tidak menyangka Shi Xi mengakuinya dengan mudah. ​​Shi Xi diam sejenak untuk beberapa saat sebelum dia perlahan berkata. "Tidak ada banyak waktu untuk mengejekmu." Sumpit Guo Zhi jatuh di atas meja, dan membuka mulutnya dengan terkejut. "Apa artinya ini?"

Shi Xi tampaknya tidak siap untuk menjawab, Guo Zhi meraih lengan Shi Xi dan dengan bersemangat bertanya lagi. "Kenapa kau tidak menjawab? Apa artinya itu?"

"Aku tidak punya banyak waktu."
   
"Aku tidak mengerti."

"Aku akan meninggalkan dunia."

Guo Zhi rasanya ingin menggigit lengan Shi Xi. "Jangan menggodaku!"

“Kau seharusnya benar-benar memiliki kecerdasan di dalam benakmu." Pada mulanya, hanya kalimat biasa, namjn reaksi Guo Zhi ingin membuat Shi Xi selalu ingin menggodanya.

"Memangnya kau pikir kepercayaanku padamu seperti apa?!" Guo Zhi menggunakan lengan baju Shi Xi untuk menyeka mulut, Shi Xi menarik lengannya menjauh, "Kau ini."
.
.

Ditengah malam, Guo Zhi membereskan perlengkapan Shi Xi, ia naik ke ranjang dan Shi Xi menarik kerah bajunya "Kotor, lepaskan!" Guo Zhi tidak ingin melepas pakaian milik Shi Xi tubuhnya. Ia juga tak mau melepas ikat pingggang yang Shi Xi pakaikan. Ia menepuk baju dan celananya dengan tangan. "Tidak kotor." Setelah mengatakan itu, ia membungkus tubuhnya dengan selimut.
    
"Aku rasa kau menjadi semakin tidak patuh ."

"Aku belajar darimu."

"Kau bahkan masih membalasku." Shi Xi mengulurkan tangannya dan meraih selimut menutup setengah wajah Guo Zhi.

Sesekali marah, sesekali emosi, sesekali bereaksi, hal-hal yang tidak sering muncul dalam karakternya, orang lain tidak dapat melihat, karena mereka adalah orang lain, tetapi dia dapat melihat, karena dia adalah Shi Xi.

Di ruangan yang remang-remang, hanya layar TV yang berkedip-kedip. Kelopak mata Guo Zhi terasa berat. Tiba-tiba dia membalikkan punggungnya menghadap Shi Xi dan bergumam, "Jika kau bisa menyelam waktu, kau ingin ke era apa?" Shi Xi melihat tangan dibelakang kepala, menatap langit-langit, dan tidak mau menjawab pertanyaan ini.
  
Guo Zhi melanjutkan. "Apa ada era yang tidak akan menolak perasaan kita? Itu tidak mungkin dimasa lalu, tetapi bisa di masa depan. Jika kita menemukan bahwa masa depan masih menolak perasaan ini, itu tidak akan lebih menyedihkan. Apa lebih baik untuk tetap di masa sekarang, bahkan jika kau mengatakan kalau beberapa hal sulit untuk diubah, tetapi tak sabar dan masih ingin menantikan masa depan." Untuk waktu yang lama, tidak ada gerakan, hanya suara televisi.

Gou Zhi ingin berkata lagi namun Shi Xi memeluknya dari belakang, bibirnya dekat ditelinga Guo Zhi, "Ssh!"

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments