49. Dia tidak akan pulang

Setelah puas berguling-guling, Gu Yu segera bangkit dari tempat tidur.

Karena khawatir Shangyuan tidak senang ketika melihat seprainya kusut, Gu Yu segera merapikan seperti semula.

Sama seperti pakaian di lemari Shangyuan, tidak ada bekas kusut.

Setelah selesai, Gu Yu beranjak keluar kamar.

Ini adalah kamar Shangyuan yang berarti kamar tidur tuan rumah, dia hanya tamu yang singgah satu malam, bagaimana bisa tidur di kamar tidur tuan rumah. Entah alasan etika ataupun lainnya, itu tidak tepat.

Tentu saja, ini hanya pemikiran Gu Yu.

Selain itu, Gu Yu merasa bahwa dengan karakter Shangyuan, dia mungkin tidak suka orang lain tidur di tempat tidurnya.

Oleh karena itu, Gu Yu beranjak keluar.

Pola denah komunitas mereka umumnya ada dua kamar tidur, satu ruang tamu.

Hal yang sama berlaku untuk rumah Gu.

Satu kamar ditempati Gu Yu, dan satunya kamar kedua orangtuanya, lalu ruang tamu yang relatif besar.

Untuk alasan ini, tentu saja Gu Yu berpikir bahwa masih ada kamar di sebelah kamar tidur Shangyuan. Namun, ketika dia membuka pintunya, dia seketika terkejut melihat bahwa itu bukan kamar tidur, melainkan ruang belajar.

Banyak buku di ruangan itu. Buku-buku dengan berbagai bahasa dan warna berbeda ditumpuk di rak buku, membuat yang melihat merasa pusing.

Ketinggian rak buku bahkan sangat tinggi menjulang mencapai langit-langit.

Ini ruang belajar, tetapi lebih seperti perpustakaan kecil.

Karena empat sisi dinding di ruangan itu adalah rak buku, bukan hanya itu, tetapi bahkan bagian tengah ruangan, ada rak buku kecil.

Sekilas, bisa dibilang ada ribuan buku.

Tapi ini bukan intinya.

Intinya adalah ... Di mana dia tidur?

Gu Yu berdiri di kamar, tidak, seharusnya di ruang belajar, diam untuk waktu yang lama.

Gu Yu melihat rak buku dengan pandangan kosong, terdiam.

Apa dia tidur dengan Shangyuan? Namun, Gu Yu merasa bahwa sesuai dengan temperamen Bo Shangyuan, dia tidak akan setuju. Selain itu, Gu Yu khawatir dia tidur dengan tidak baik dan akan merepotkan Shangyuan ditengah malam.

Tapi tidak ada kamar lain untuk tidur...

Gu Yu berpikir, tempat yang bisa dia tidur, sepertinya hanya sofa di ruang tamu.

Gu Yu pun keluar dari ruang belajar, lalu pergi ke ruang tamu, duduk di ujung kanan sofa, menunggu Shangyuan selesai mandi.

Dia tidak tahu di mana selimut cadangan, jadi dia hanya bisa menunggu Shangyuan dan kemudian bertanya.

Shangyuan yang sudah selesai mandi, berjalan keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kering, dan berjalan ke arah kamar tidur.

Entah karena efek habis mandi, wajah Shangyuan yang selalu dingin tampak sedikit melembut. Apalagi sisi wajahnya dari samping jauh lebih tampan dibanding siang hari.

Shangyuan menggosok rambutnya dengan santai, belum sampai ke kamar tidur, sudut matanya menangkap sesuatu membuat kakinya tiba-tiba berhenti.

Shangyuan mengerutkan kening melihat Gu Yu yang tidak tinggal di kamar tidur, tetapi duduk di sofa di ruang tamu.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Gu Yu bertanya, "Di mana selimut cadangan?"

"Hmm?"

"Mau aku gunakan untuk tidur di sofa ..."

Melihat ekspresi wajah Shangyuan yang merosot, Gu Yu tanpa sadar mengatakan itu dengan suara yang semakin mengecil.

Shangyuan bertanya retorik. "Bukankah ada tempat tidur?"

Gu Yu berbisik, "Tapi bukankah itu kamarmu?"

"Terus?"

"Tamu yang tidur di kamar tuan rumah itu tidak pantas ..."

Shangyuan hanya mengawasinya dalam, tanpa kata-kata.

Gu Yu menambahkan, "Dan mungkin tidurku tidak baik ..."

"Terus?"

"Jadi aku lebih baik tidur di sofa ..."

Ekspresi Shangyuan dingin, "Aku tidak mengizinkan orang lain tidur di sofaku."

Gu Yu mendengarkan dan ragu-ragu, "Kalau begitu ... apa aku tidur lantai?"

Shangyuan pada akhirnya paham.

"... Apa kau mengabaikanku?"

Gu Yu segera membantah. "Tidak."

Shangyuan sudah sangat baik padanya, mana mungkin Gu Yu berani mengabaikannya.

Tetapi Shangyuan menganggap begitu. Dia kemudian tidak bisa menahan diri untuk berkata, "Tidur di kamar."

"... oh."

Gu Yu berdiri dari sofa dan berjalan ke kamar.

Dia membuka sudut selimut dan dengan hati-hati berbaring di tempat tidur.

Shangyuan di belakangnya, tanpa ekspresi.

Dia mematikan lampu, lalu berbaring di tempat tidur bersama.

Gu Yu takut akan menyentuh Shangyuan, jadi dia menggeser tubuhnya ke tepi ke tempat tidur.

Shangyuan yang melihat tindakan Gu Yu, tidak mengatakan apa-apa.

Shangyuan perlahan menutup matanya dan mulai tertidur.

Gu Yu juga menutup matanya dan memaksa dirinya untuk tertidur.

Namun ... dia belum bisa tertidur.

Tempat tidurnya lembut dan hangat, tetapi Gu Yu bukannya mengantuk, malah semakin terjaga.

Ini adalah pertama kalinya dia tidur di tempat tidur dengan orang lain, jadi dia sangat tidak terbiasa.

Mata Gu Yu tetap terbuka dan tidak bisa tidur sama sekali.

Gu Yu ingin bangun dan mengambil ponsel untuk menghabiskan waktu, tetapi melihat Shangyuan yang sudah tertidur, dia khawatir akan membangunkannya jadi dia segera menepis ide ini.

Gu Yu tetap berbaring, tidak berani bergerak, dan tidak bisa tidur, jadi dia hanya menatap langit-langit.

Karena terlalu gelap, dia tidak bisa melihat apa-apa.

Gu Yu hanya menatap kosong.

"... tidak bisa tidur?"

Gu Yu terhenyak, seketika menoleh ke arah samping.

Shangyuan yang entah sejak kapan sudah membuka matanya, menatap Gu Yu dengan mata yang dalam.

Gu Yu berbisik, "Apa aku membangunkanmu?"

Gu Yu menekan suaranya dan tidak berani berbicara dengan keras. Tampaknya sangat memalukan.

Shangyuan tanpa ekspresi dan suaranya seperti biasa tanpa intonasi, "Tidak."

Gu Yu bergumam dan menghela nafas lega.

Shangyuan bangun dari posisi tidur dan menyalakan lampu samping tempat tidur, lalu menatapnya. Di bawah cahaya redup, ekspresi dingin yang konsisten pada Shangyuan kini jauh lebih lembut.

"Apa kau ingin mendengar cerita?"

Shangyuan mengatakan itu sambil mengeluarkan buku tebal dari nakas tempat tidur. Buku itu sangat tebal, dan halaman buku itu seperti bahasa Rusia. Gu Yu tidak bisa memahaminya sama sekali.

Gu Yu menjadi penasaran. "Dengar."

Namun, entah apakah itu ilusinya, kenapa menurutnya sampul buku ini ... agak aneh? Kenapa warnanya hitam? Dan pola di sampulnya, juga agak aneh.

Shangyuan disisi lain sudah membuka halaman, dan membacanya tanpa kesulitan. "Lanster mendapati dirinya bermimpi. Dia bermimpi bahwa dia berdiri di sebuah desa kecil yang sepi. Di dalam desa kecil itu kosong, ditutupi dengan jaring laba-laba, dan tanah ditutupi dengan lapisan abu tebal dan daun-daun yang jatuh. Tampaknya sudah lama tidak ada yang tinggal di sini. Namun, Lanster merasa bahwa seseorang sedang mengawasi di belakang punggungnya."

"..."

Shangyuan masih terus membaca dengan lambat. "Lanster bermimpi bahwa dia perlahan-lahan menoleh ke belakang. Begitu berbalik, hantu perempuan dengan kepala putus berdiri tidak jauh disana."

"..."

"Lanster tiba-tiba terbangun, tetapi ketika dia bangun, dia menemukan dirinya di sebuah desa yang sepi. Adegan desa kecil persis sama dengan adegan yang baru saja dia impikan ..."

"..."

Wajah Gu Yu kaku, masih terdiam.

Menurut akal sehat, umumnya membacakan cerita pengantar tidur, biasanya cerita mitos, atau fiksi ilmiah, atau cerita dongeng yang disukai anak-anak. Shangyuan malah kebalikannya, dan menceritakan kisah hantu.

Orang yang penakut tidak akan pernah bisa tidur ketika mendengarkan cerita seperti ini.

Gu Yu bertahan dan bertahan, dan akhirnya tidak tahan cerita hantu itu mengganggu pemikirannya.

"Berhenti."

Suara Shangyuan berhenti dan menatapnya.

"Aku mengantuk."

Setelah itu, dia menutup mata dalam sekejap.

Shangyuan menatap Gu Yu sejenak, mengangkat alisnya, lalu mematikan lampu.

Gu Yu akhirnya tertidur.

Di tengah malam, Shangyuan tiba-tiba membuka matanya.

Dia mengulurkan tangan dan meletakkan Gu Yu yang sedang tidur ke dalam pelukannya, dan kemudian menutup matanya lagi.
.
.

Keesokkan harinya.

Gu Yu tidak pulang dalam semalam.

Ayah Gu sudah pergi mencari ke sekitar tadi malam, namun tidak menemukannya. Ditelepon pun tidak ada jawaban. Kali ini, Ayah Gu dan Ibu Gu sedang duduk di sofa dan siap meneleponnya lagi.

Ayah Gu bertanya pada Ibu Gu. "Sebenarnya apa yang kau katakan kemarin?"

Ayah Gu selalu lembut, dan dia tidak pernah peduli dengan watak ibu Gu. Kalipun ibu Gu selalu mengoceh di rumah setiap hari, dia tetap bertahan.

Lagi pula, dia sudah semakin tua, dia tidak punya energi untuk peduli tentang ini.

Meskipun sikap ibu Gu membuatnya hancur lebur, bagaimanapun mereka sudah hidup selama bertahun-tahun, dia tidak bisa mengatakan perceraian.

Ibu Gu merespon, "Aku tidak mengatakan apa-apa. Hanya menyuruhnya meminta maaf pada bibi yang datang ke rumah kita kemarin. Dia menolak. Aku sangat marah jadi aku menamparnya ..."

Ayah Gu mengernyitkan alisnya, "Minta maaf? Minta maaf untuk apa?"

Ibu Gu menelan ludah, "Wanita yang mengaku sebagai bibi Bo datang ke rumah kita untuk menjadi tamu. Gaunnya sangat mewah. Aku menyuruh Gu Yu untuk menyapanya, tetapi Gu Yu menolak dan mengatakan ... dia adalah wanita simpanan. Wanita itu berkata bahwa anak kita tidak sopan dan suka memfitnah jadi aku menyuruhnya meminta maaf ..."

Ayah Gu bertanya, "Apakah itu fitnah?"

Ibu Gu terdiam.

Ayah Gu paham. Dia menghela nafas dan berkata, "Dia bukan bibinya kan? Apa salahnya tidak menyapanya. Dia orang luar, bagaimana kau lebih percaya pada kata-kata orang lain dari pada ucapan anakmu sendiri?"

Ibu Gu terhenyak. "Sekarang tidak ada gunanya mengatakan itu, lebih baik lanjut mencari tahu di mana Gu Yu."

Ayah Gu tak berdaya, angkat ponsel dan terus menelepon.

Ayah Gu berpikir bahwa kali ini akan seperti tadi malam, Gu Yu tidak akan mengangkatnya, tapi tanpa disangka-sangka, kali ini panggilan dijawab.

Ayah Gu terkejut. "Halo, kau bisa menjawab telepon -"

Di sisi lain ibu Gu langsung memotong dengan ocehan. "Kau ¹sayap keras, tidak pulang satu hari ..."

¹menggambarkan orang yang awalnya bergantung pada orang lain, dan kemudian setelah bisa hidup sendiri, lupa jasa orang lain dan tidak tahu berterima kasih.

Tanpa menunggu Ibu Gu selesai, Shangyuan yang memegang ponsel Gu Yu tanpa ekspresi langsung mematikan panggilan.

Tadinya Shangyuan masih memikirkannya. Jika pihak lain berniat mengaku salah, dia akan mengobrol baik dengan pihak lain. Namun, saat mendengar suara Ibu Gu, lupakan saja.

Ayah Gu mendengarkan sambungan terputus langsung menatap Ibu Gu marah. "Kau mengoceh setiap hari, bisakah kau tutup mulut! Bukannya bertanya Gu Yu sudah makan atau belum dan dia tidur dimana, kau malah mulai memarahinya, apa kau ini ibu tiri?!"

Ibu Gu tidak yakin. "Aku memasak dan mencuci untuknya setiap hari, bagaimana aku bisa menjadi ibu tiri? Jika aku ibu tiri, bisakah dia masih tinggal di rumah? Dia tidak makan, tidak ada tempat tidur, mengeluh tentang aku, siapa suruh dia tidak pulang?"

Ayah Gu melambaikan tangannya dan merasa lelah.

"Lupakan saja, aku tidak ingin berbicara denganmu. Berpikir saja sesukamu."

Setelah itu, dia lanjut menelepon Gu Yu.

Namun, berapa kali pun mencoba, hanya akan ada satu kalimat: Maaf, panggilan yang Anda buat telah dimatikan, harap hubungi lagi nanti.

Ayah Gu akhirnya menyerah. Dia duduk di sofa ruang tamu, tampak lebih tua dua puluh tahun.

Ibu Gu akhirnya merasa dia harus pergi mencari Gu Yu, jadi dia berdiri dari sofa dan berkata, "Aku akan keluar mencarinya lagi. Mungkin dia bersembunyi disekitar sini ... Dia tidak punya teman, tidak mungkin pergi jauh."

Ayah Gu tidak berbicara, dan tidak memandang ibu Gu, seolah dia tidak mendengarnya.

Ibu Gu mengenakan sepatu dan akan keluar. Pada saat ini, pintu tiba-tiba diketuk.

Ibu Gu tertegun dan membuka pintu dengan bingung. Begitu mendongak, tampak Shangyuan berdiri di luar pintu tanpa ekspresi.
  
Sejak pindah dirumah sebelah, ini pertama kalinya Shangyuan mengetuk pintu.

Ibu Gu memandangi Shangyuan dengan bingung. "Shangyuan, kau datang ke sini..."

Shangyuan dengan suara dingin memotong, "Bisakah aku masuk?"

Ibu Gu tertegun, dia bergeser memberi ruang untuk Shangyuan masuk ke dalam rumah.

Shangyuan tanpa ekspresi berjalan masuk dan ketika melihat ayah Gu yang sedang duduk di ruang tamu, dia berkata dengan sangat sopan, "Halo, paman."

Shangyuan yang datang bertamu ke rumah mereka, ayah Gu secara alami bahagia, tetapi sekarang, pikiran ayah Gu penuh dengan urusan Gu Yu, jadi dia tidak berniat memperhatikan hal-hal lain.

Ayah Gu mencoba semangat dan berkata, "Shangyuan, kemarilah, duduk di sini. Ngomong-ngomong, kau datang karena hal kemarin kan?"

Shangyuan duduk di arah yang ditunjukkan oleh ayah Gu, dan kemudian merespon. "Ya."

Ibu Gu mendengar ini dan segera meminta maaf, "Bibi tidak tahu situasinya kemarin, jadi membiarkannya datang ke rumah kami. Jika ini menyusahkanmu. Bibi meminta maaf..."

Shangyuan merespon. "Kenapa bibi harus meminta maaf padaku? Bukankah lebih tepat ... Bibi seharusnya minta maaf pada Gu Yu?"

Ayah Gu mendengarkan ini dan berkata, "Aku tahu kau berteman baik dengan Gu Yu, tapi ini urusan keluarga kami ..."

Shangyuan langsung memotong. "Dia ada di rumahku."

Suara ayah Gu tiba-tiba berhenti.

Ayah Gu takut keliru. "Apa dia di rumahmu kemarin?"

"Ya."

Ayah Gu menghela nafas lega. "Itu bagus ..."

Ayah Gu khawatir sepanjang hari, akhirnya bisa merasa lega.

Ibu Gu bersuara. "Kami sangat khawatir, dia bahkan tidak menjawab telepon, kami takut hal buruk terjadi padanya, ternyata dia ada di rumahmu! Aku ingin memarahinya!"

Ibu Gu berjalan keluar rumah.

Tapi sebelum keluar, Shangyuan menghentikannya. "Pintunya tertutup, bibi tidak bisa membukanya. Dan dia masih tidur, lebih baik bibi tidak mengganggunya."

Langkah kaki ibu Gu tiba-tiba berhenti.

Shangyuan melanjutkan. "Oh ya, aku ingat bukankah kemarin bibi bilang padanya tidak usah pulang selamanya?"

Ibu Gu tersenyum kaku, "Bibi mengatakan itu saat marah, kenapa kau masih menganggapnya serius?"

Ayah Gu menoleh dan memandang ibu Gu. Dia mengerutkan alisnya dan wajahnya tampak jelek. "Apa kau bilang seperti itu kemarin?"

Ibu Gu membela diri. "Aku bilang dia tidak usah pulang selamanya. Itu semua hanya momen kemarahan, siapa yang tahu dia benar-benar tidak pulang tadi malam!"

"Kau!"

Ibu Gu melanjutkan. "Lagipula dia sekarang ada dirumah Shangyuan jadi tidak perlu khawatir lagi. Begitu dia bangun, suruh dia pulang kerumah."

Tanpa diduga, Shangyuan merespon. "Dia tidak akan pulang."

Kedua orangtua itu membeku.

Shangyuan tanpa ekspresi perlahan bangkit dari duduknya. "Aku datang ke sini untuk mengambil buku tugasnya."

Jika bukan karena PR, Shangyuan tidak akan datang dan mengetuk pintu.

Ibu Gu memandang Shangyuan masih tidak tahu apa yang terjadi di depannya. "Shangyuan ini.... Apa maksudmu? Bibi tidak mengerti."

Shangyuan menjawab samar. "Seperti yang bibi harapkan, dia tidak usah pulang selamanya ... Jadi dia akan tinggal di rumahku dan tidak pulang."

Ekspresi ibu Gu menjadi kaku.

"Bibi tidak bermaksud. Bibi hanya mengatakan itu karena marah ..."

Shangyuan merespon dingin. "Bibi, justru mengatakan itu disaat marah, orang yang mendengarkan akan menganggapnya serius."

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments