49. Biaya

Pada hari-hari terakhir bulan April, suhu berangsur-angsur naik, seperti halnya perasaan Guo Zhi. Dia lebih aktif dari biasanya, ketika dia beristirahat, dia mengambil pena dan kertas dan pergi ke belakang stadion untuk menemui Shi Xi. Sekarang dia berdiri di sebelah Shi Xi, menatap Shi Xi, sementara Shi Xi yang sedang membaca mulai merasa tak nyaman tatapan menyala Guo Zhi.

Shi Xi berbalik dan menatap Guo Zhi. "Apa kau kehabisan tinta pena? Atau butuh kertas tambahan?" Guo Zhi lebih dulu membuka suara.

"Kau sedikit abnormal belakang ini." Shi Xi menatapnya curiga. Guo Zhi tidak menyembunyikan rasa gugupnya. "Hey, aku tidak berbeda dari orang normal!"

"Apa kau selingkuh?"

"Kalau aku melakukan hal semacam itu, pantatku akan membusuk. Sangat buruk untuk kesehatan mental."

Shi Xi tidak berbicara lagi, dia terus membaca buku, dan merasa tatapan yang menyala itu muncul lagi. Shi Xi membalik satu halaman buku, suaranya terdengar membosankan, "Kau sedang ingin memuaskanku ?" Mendengar itu, Guo Zhi membeku dua detik sebelum merespon salah tingkah dengan wajah memerah. "Aku tidak begitu lapar. Di Hari Buruh¹ yang akan datang nanti, aku ingin kita..."

¹Atau disebut Mayday, hari buruh, liburan nasional tiga hari.

"Kerja diranjang."

"Kau semakin tidak serius! Maksudku, apa kita tidak pergi keluar dan bermain?” Guo Zhi bertanya dengan serius.

"Kau bisa pergi tanpaku." Shi Xi sangat serius.

Guo Zhi rasanya ingin menjambak rambutnya sendiri dan ingin membentur kepalanya di dinding. Dia berpikir bahwa ketika dia mengajukan permintaan ini, Shi Xi akan dengan senang hati berjanji, dan kemudian membawanya ke gunung untuk bermain dengan air, dan mengembara menelusuri dunia. Dia telah memegang semua jenis pikiran optimis dalam benaknya hari ini, tetapi dia tidak pernah berpikir kalau Shi Xi akan menolaknya karena dia adalah yang terbaik dan paling baik di mata dan di dalam hatinya.

"Kau tidak ingin pergi?" Guo Zhi menegaskan lagi.

"Tidak ingin."

“Kalau begitu aku tidak mau berdiri di sini!” Guo Zhi meratakan bibirnya datar dan pergi. Dia menoleh kebelakang, dia berpikir Shi Xi akan menghentikannya dan berkata: Jangan pergi, jangan marah, selama kau tidak pergi meninggalkanku sendiri disini, aku akan menemanimu. Akibatnya, pikiran optimisnya sekali lagi terpukul. Dia sudah berjalan jauh, dan Shi Xi tidak mencegahnya, melihatpun tidak.
.
.

Ketika Hua Guyu melihat wajah Guo Zhi yang marah, dia tahu itu pasti terkait dengan Shi Xi. "Keburukan apa yang Shi Xi lakukan?" Dia dengan bersemangat bertanya, hanya itu yang menarik perhatiannya.

"Tidak, dia tidak mau pergi keluar dan bermain di Hari Buruh."
    
"Aku akan terkejut kalau dia mau, tidak apa-apa, kemari dan lihat wajahku yang tampan ini akan bisa membuatmu merasa lebih baik.” Sungguh muka tebal mengucapkan kata-kata seperti itu.    
 
Guo Zhi menggerakkan mata pada Hua Guyu dan berkata dengan serius, "Kau pasti memiliki IQ tinggi dibalik penampilan yang tampan. Apa kau punya cara untuk membuat Shi Xi berjanji?" Pujian Guo Zhi itu ditukar dengan kepuasan Hua Guyu. Dia tersenyum bangga dan menata rambutnya. "Karena kau sudah mengatakan ini, aku akan membantumu dengan senang hati." Hua Guyu mulai berbisik, dan Guo Zhi mendengarkan, sesekali mengangguk.
.
.

Di kantin, Shi Xi sudah duduk lebih dulu dan tak lama Guo Zhi dan Hua Guyu ikut duduk sambil membawa makanan masing - masing. Guo Zhi tak duduk disebelah Shi Xi, ia duduk disamping Hua Guyu berhadapan dengan Shi Xi.

Tangan Hua Guyu bergerak menempel disandaran bangku tepat dipunggung Guo Zhi, "Katakan, apa kau ingin pergi keluar dan bermain?"

"Hm, tapi Shi Xi tidak ingin pergi."

Shi Xi memandangi tangan Hua Guyu di bagian belakang kursi, dan kemudian memandang Hua Guyu dengan mata dingin. Hua Guyu tidak menghindarinya. Dia menatap Shui Xi, "Hei, apa kau tidak ada uang untuk bermain? Apa ingin aku pinjamkan? "Hua Guyu ingin menjatuhkan harga diri Shi Xi.
    
"Aku ingin 1 juta," kata Shi Xi tanpa harga diri.

"Memangnya kau akan keliling dunia?"
    
"Hua er, kau, apa kau benar-benar ingin meminjamkan kami uang?" Seketika, Guo Zhi memihak Shi Xi membuat Hua Guyu terkejut dan berusaha mengingatkannya pada situasi saat ini. Dia berdeham dan menggeser topik pembicaraan. "Hey, pria pelit ini apa kau masih ingin bersamanya? Lebih baik pergi denganku. Katakan, kau ingin kemana? Bagaimana kalau kita pergi ke pemandian air panas? Kita bisa saling membantu menggosok punggung."
    
"Ide bagus." Sebenarnya ini adalah konspirasi keduanya untuk membuat Shi Xi cemburu dan merasa menyesal karena menolak Guo Zhi tetapi begitu melihat wajah Shi Xi yang tanpa ekspresi, membuat Guo Zhi merasa sedikit terancam, seakan Shi Xi mengatakan: Coba saja kalau kau berani! Guo Zhi langsung meralat ucapannya, "Em, tidak bagus. Aku tidak ingin pergi denganmu." Hua Guyu menggertakkan giginya, rekan satu timnya ini terlalu mengecewakan. Dia meletakkan tangannya di bahu Guo Zhi. "Kita sesama pria. Jangan malu-malu. Kau harus mengambil berkat seumur hidup untuk memiliki kesempatan untuk melihat tubuhku yang indah."

Seketika sumpit di tangan Shi Xi menusuk punggung tangan Hua Guyu, Hua Guyu dengan susah payah menarik tangannya. Shi Xi bersuara, "Jaga sikapmu." Dia menunjuk sumpit ke arlojinya, "Ini adalah milikku, kau tidak bisa memakainya, aku akan memukul tanganmu." Kemudian dia menunjuk sumpit ke pakaiannya, "Ini milikku, kau tidak bisa memakainya, aku akan memukulmu." Lalu terakhir, dia menunjuk sumpit ke arah Guo Zhi. "Ini juga milikku, kau tidak bisa menyentuhnya."

"Bagaimana kalau aku menyentuhnya?” Hua Guyu berkata seakan dia tidak takut mati.

"Aku akan membuat wajahmu lebih jelek dari sekarang."

Hua Guyu tercengang. "Guo Zhi, dia bilang aku jelek, dia bilang aku jelek!"  
    
"Kau tidak jelek, kau jauh lebih tampan dariku." Guo Zhi menghibur Hua Guyu, tetapi Shi Xi mengerutkan kening, dia sedikit tidak nyaman dengan hiburan Guo Zhi. "Shi Xi, kau membuatnya hancur. Biarkan aku duduk disebelahmu."

"Jangan pergi, Guo Zhi, putus darinya dan tinggalkan iblis itu!"

"Shi Xi bukan iblis, dia adalah malaikat." Mendengar itu Hua Guyu seperti mendapat tamparan diwajah, Shi Xi langsung mengangkat dagunya tinggi, memandang rendah Hua Guyu. "Sudah dengar?" Tindakannya berbeda dari biasanya, dan tampak naif.

/dibelain ayang bebeb jadi begitu, lol/

"Apa kau buta? Dia? Malaikat? Bagian mana darinya yang seperti malaikat?" Hua Guyu jatuh ke dalam amarah dan tenggelam dalam rencananya yang hancur.
.
.

Dalam beberapa hari berikutnya, Guo Zhi telah kehabisan semua metode, apakah itu ancaman atau menyanjung, dan itu tidak berpengaruh bagi Shi Xi. Dan sampai akhirnya, akhirnya ...

Shi Xi bangkit dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya, Guo Zhi membungkus tubuhnya yang telanjang dengan selimut. Wajahnya terkubur di bantal dan dia berkata dengan suara teredam, "Apa kita bisa keluar untuk bermain besok?"

"Kau sudah seharusnya gunakan cara ini dari awal untuk membujukku."

Dia benar-benar meninggalkan kalimat seperti itu! Setelahnya Guo Zhi dengan kesal membentur kepalanya di bantal, dia menendang selimut dengan gila-gilaan. Dia tidak pernah memikirkannya sebelumnya, untuk mengajak Shi Xi pergi bermain, dia harus mengorbankan tubuhnya.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments

Post a Comment