48. Aku orang jahat

Mungkin Ke Junjie hanya tertidur, atau dia tidak mendengar apa yang dia katakan, jadi dia tidak bicara. Guo Zhi hanya bisa berpikir seperti ini. Dia tidak mau mengakuinya, dan dia tidak ingin mempertanyakan dirinya sendiri.

Dia keras kepala sampai putus asa.
.
.

Keesokan paginya, seolah-olah tidak ada yang terjadi, setelah Guo Zhi bangun, Ke Junjie perlahan turun dari tempat tidur, dia akan selalu lebih lambat daripada Guo Zhi.

Guo Zhi meremas pasta gigi pada sikat gigi. "Sudah bangun?"

Ke Junjie berhenti, terkejut sejenak sebelum menjawab, "Ya."

"Ini." Guo Zhi menyerahkan pasta gigi kepada Ke Junjie, Ke Junjie melihat Guo Zhi dan kemudian melihat pasta gigi itu, seolah-olah ada virus aneh di dalamnya, Guo Zhi ingin berpura-pura tidak melihat, tetapi ia tidak bisa berpura-pura dalam ekspresinya.

Ke Junjie mengambil pasta gigi. Kedua lelaki itu mulai menyikat gigi. Guo Zhi terus menyikat dan semakin banyak busa putih, dia bisa merasakan Ke Junjie sesekali meliriknya. Dia bahkan bisa merasakan aura ketakutan Ke Junjie padanya.

Setiap kali Guo Zhi sedikit lebih dekat dengannya, Ke Junjie akan mundur, dia berusaha untuk menahan diri, tetapi tubuhnya secara naluriah ingin melarikan diri. Guo Zhi mengemas bukunya dengan diam lalu berkata, "Apa kau pikir aku menjijikkan?"

"Tidak, tidak." Ke Junjie salah tingkah.

"Kau pasti berpikir aku tidak seharusnya menyukai laki-laki, kan? Kau pikir ini tidak benarkan ?" Guo Zhi berbalik menghadap Ke Junjie.

Ke Junjie tidak bisa menjawab. Dia terpaksa tidak mundur, "Aku ingin berpura-pura tidak mendengarnya. Kenapa kau ingin tahu pemikiranku yang sebenarnya? Baiklah, aku akan memberi tahumu sekarang, dua lelaki bersama berpegangan tangan, mencium satu sama lain, jatuh cinta, hal - hal seperti ini apa kau tidak merasa aneh dan canggung?"

"Aku tidak mau berpura-pura tidak mengatakannya." Guo Zhi tersenyum lemah.

Melihat ekspresi Guo Zhi seperti orang yang terluka, Ke Junjie tidak tahan. Dia berbisik, "Mungkin, mungkin kau hanya sakit, kau bisa menemui psikiater." Simpatinya lebih pahit daripada ketakutannya. 

Guo Zhi tertawa canggung, ia meremas buku ditangannya. "Aku suka pria, ini bukan penyakit, kau tidak bisa menerima perasaanku, tapi tolong jangan menodainya, Junjie." Guo Zhi keluar dari kamar, memegang buku di satu tangan dan perlahan-lahan menuruni tangga dengan tangan lainnya memegang pagar. Di sudut, dia melihat Shi Xi, menopang tangannya ke dinding, wajahnya yang tampan tanpa ekspresi, hanya melihat Guo Zhi. Tangan Guo Zhi memegang pagar, dia menggigit bibirnya. "Apa kau datang untuk melihatku malu? Kau benar, kau selalu benar, tidak semua orang bisa menerima perasaanku, bagaimana perasaanku? Ah, apa yang aku sukai dari laki-laki? Kenapa tidak hanya teman-temanku, bahkan keluargaku tidak bisa menerimaku? Shi Xi, apa kau bisa beritahu aku alasannya?" 

Guo Zhi berdiri di tangga, sementara Shi Xi berdiri di sudut peron, mendengar pertanyaannya yang menyedihkan. Ketika dia melihat ke Shi Xi, dia masih perlu bertanya. Dia mencari jawaban untuk pertanyaan ini karena dia menyukai Shi Xi, ia mencintai Shi Xi yang memiliki jenis kelamin yang sama dengan dirinya.   

"Apa yang kau ingin aku lakukan? Ubah pandangan semua orang tentang perasaan ini? Dengar, itu tidak mungkin. Entah kau tidak nyaman atau merasa sakit, apa mereka peduli?" Tangan Shi Xi menyentuh punggung tangan Guo Zhi yang memegang pagar. Pandangannya yang acuh tak acuh menembus kesedihan Guo Zhi. "Jangan memujiku, jangan berpikir betapa baiknya aku, itu tidak cukup diandalkan dalam hubungan ini! Jadi, apa kau masih ingin mencintaiku?" Shi Xi mencubit punggung tangan Guo Zhi.

Ada banyak hal dalam masyarakat yang tidak bisa dilakukan banyak orang.

Shi Xi bukanlah protagonis pria dalam novel, bukan protagonis pria yang dapat membalikkan dilema apa pun di anime, bukan karakter pria tampan dalam film yang akan memprovokasi mata protagonis pria untuk bersinar. Shi Xi adalah Shi Xi, dia ada dalam cerita ini, dia adalah kekasih Guo Zhi, tidak lebih.

"Ya! Aku takut pada pertentangan keluarga, tetapi aku bahkan lebih takut untuk berpura-pura tidak menyukai pria. Aku takut berpura-pura tidak mencintaimu." Tidak ada cara untuk memilih. Guo Zhi menyukai laki-laki tidak sejak dilahirkan, tetapi ia merasa menyukai Shi Xi tanpa logika, secara natural, ia sangat menyukainya.  
    
Ke Junjie baru saja melihat pemandangan itu ketika dia menuruni tangga. Dia terjebak di tempat yang sama. Dia tidak tahu apakah dia harus kembali, atau berpura-pura tidak melihat dan lewat. Shi Xi mengangkat kelopak matanya dan bertabrakan dengan garis pandang Ke Junjie, Ke Junjie mulai melewati keduanya dengan cepat. Guo Zhi sedang melihat ke bawah, ekor matanya bisa melihat Ke Junjie yang lewat dengan cepat. 

"Kadang, aku benar-benar tidak ingin melihat ekspresi orang lain. Aku menggunakan banyak kata untuk menghibur diriku sendiri, tetapi aku masih tidak bisa cukup kuat ke tingkat yang aku inginkan." Suara Guo Zhi sangat pelan. Shi Xi mengulurkan tangan dan jari telunjuk diletakkan di alis yang berkerut itu, "Kalau aku menciummu, maukah kau tertawa?" Cara menghiburnya tenang dan langsung, membuat Guo Zhi tak tahan untuk merona, "Aku tidak tahu, mungkin kalau tidak bisa satu kali, kau bisa mencobanya dua kali?"
    
Shi Xi tidak bicara, dia menundukkan kepalanya dan menutupi bibir Guo Zhi menghilang rasa sakit dan ketidakberdayaan dengan bibirnya.
.
.

Ke Junjie sengaja tinggal di ruang kelas sangat larut. Dia tidak tahu bagaimana harus kembali menghadapi Guo Zhi. Walau hanya membaca di buku atau melihat di film sudah membuatnya merasa aneh. Dua pria? Perasaan seperti apa yang bisa dibuat menjadi film? Bisakah menulisnya dalam novel? Dia dulu berpikir bahwa hal-hal ini terlalu jauh darinya, setidaknya tidak dalam kehidupan nyata. Sekarang ada satu di sekelilingnya, dan itu mengerikan. Dia berpikir lama sebelum dia keluar dari ruang kelas yang kosong. Satu tangan muncul dari belakang meraih pundaknya dan mendorongnya ke dinding. Dia meringis kesakitan dan mendapati Shi Xi di depannya. Mata Shi Xi tampak lebih dingin di malam hari.

Satu tangannya dimasukkan ke saku celana panjang, dan satu tangan tergantung di sisi tubuhnya menatap Ke Junjie.

Ke Junjie memikirkan gambar Shi Xi dan Guo Zhi di benaknya, dan tidak bisa menahan perasaan tidak nyaman 

"Kenapa? Aku membuatmu mual?" Shi Xi sengaja mengusap tangannya di pakaian Ke Junjie. Ke Junjie mengerutkan kening dan suaranya tidak senang, "Apa yang kau inginkan?" 

"Aku tidak akan mengatakan sesuatu yang akan membuatmu menerima. Apa kau pikir aku peduli dengan pemikiranmu?"

"Bagaimana denganmu?"

"Aku tidak peduli seberapa besar kau benci dan takut, simpan saja itu dalam hatimu, jangan perlihatkan di depannya."

Ke Junjie merasa lucu tentang permintaan ini, "Apa kau memerintahku?"

"Tidak."

“Kalau begitu kau memohon?” Wajah Ke Junjie menunjukkan ekspresi tidak senang.

Shi Xi menghantam perut Ke Junjie. "Aku mengancammu."

Ke Junjie memegang perutnya dan melebarkan mata. "Apa kau pikir kau bisa..." Kata-katanya belum selesai, dia tersentak dengan tangan Shi Xi yang meremas tenggorokannya, menatapnya dingin.

Ke Junjie kesulitan bernapas, tidak bisa melepas tangan Shi Xi dilehernya. Shi Xi tetap acuh, menunggu jawaban Ke Junjie. Tidak lama kemudian, Ke Junjie dengan enggan mengangguk di kekuatan terakhirnya, Shi Xi melepasnya. Ke Junjie terbatuk-batuk dengan putus asa. Shi Xi menggunakan telapak tangannya untuk memegang dahi Ke Junjie, dia menekannya ke dinding dan memaksanya untuk melihat dirinya. "Ingat, aku adalah orang jahat. Kalau kau mengabaikan ucapanku, itu akan memprovokasiku." Setelah itu, Shi Xi pergi.

Ke Junjie masih terduduk untuk waktu yang lama. Kakinya gemetaran, bukan karena tindakan Shi Xi, tetapi ekspresinya. Dia tidak berhati lembut dan tidak memiliki perasaan. Jika dia tidak berkompromi dengan dirinya sendiri, dia tidak akan melepaskannya. Dia sepertinya tidak peduli dengan penderitaan orang lain, dia tidak menakutinya, itu ancaman mutlak!
.
.

Berdiri di luar pintu kamar, Ke Junjie mengeluarkan kunci dan ragu-ragu selama beberapa detik sebelum dia membuka pintu. Di kamar tidur, Guo Zhi sedang membaca buku. Ke Junjie melemparkan kunci di atas meja. Mereka tidak bicara. 
 
Setelah beberapa saat, Ke Junjie membuka laci dan tiba-tiba berkata, "Guo Zhi, aku ingin makan mie instan, kalau kau lapar aku bisa memberi satu, mau tidak?" Guo Zhi menoleh dengan cepat, dia menatap Ke Junjie. Raut wajahnya sangat bahagia, meskipun itu hanya kalimat biasa, tetapi ini telah mengindikasikan bahwa Ke Junjie telah menerima perasaannya dengan sendirinya, bukan? Hatinya menghangat.
.
.

Di tengah malam, Guo Zhi mengendap ke balkon dengan tenang dan menelpon Shi Xi.

"Shi Xi!" Suaranya tidak bisa sabar.

"Kenapa?"
    
"Kali ini aku benar, kau salah. Junjie tidak bisa menerimanya untuk sementara waktu, dia sudah menemukan jawabannya, kami sama seperti sebelumnya, kau tahu! Dunia ini tidak seburuk yang kau kira, dia masih temanku" Guo Zhi terus berbicara, ia ingin mengatakan segala yang ada dihatinya pada Shi Xi.

"Apa kau masih mendengarkanku?” Tidak mendapat respon, jadi Guo Zhi bertanya.

"Hm."

"Jika kau ingin sibuk dengan hal lain, kau bisa menghidupkan loudspeaker."

"Itu lebih berisik."

"Aku bisa mengatakannya dengan bisikan." Guo Zhi menguap, ia sedikit mengantuk.

"Tidurlah."

"Okay, Shi Xi, sampai jumpa besok."

Kepolosan Guo Zhi diperbaiki Shi Xi dalam kegelapan, apakah itu dusta atau penipuan. Selama Guo Zhi bahagia, metode dan cara apapun akan dilakukannya.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments