47. Dia tidak ingin menangis

Apa yang dikatakan Gu Yu tadi, ibu Gu dan Li Shuhui tidak mengatakan apa-apa pada Bo Shangyuan.

Karena itu, mustahil Shangyuan tahu tentang Gu Yu yang tadi mengatakan bahwa Li Shuhui adalah wanita simpanan. Juga tidak mungkin bagi Gu Yu untuk berbohong dengan Shangyuan dan mengatakan bahwa Li Shuhui adalah wanita simpanan.

Karena itu, hanya ada satu kemungkinan ...

Satu-satunya yang memang berbohong hanyalah Li Shuhui.

Ibu Gu memikirkan tamparannya, dan memikirkan sidik telapak tangan di wajah Gu Yu, dan tatapannya yang tenang, bodoh.

Ibu Gu tidak menyangka bahwa Li Shuhui yang berpakaian bagus dan elegan adalah wanita simpanan.

Ibu Gu tidak menyangka bahwa setiap kalimat Gu Yu adalah kebenaran.

Ibu Gu berdiri canggung dan tidak bisa berkata-kata, tetapi tidak ada yang memperhatikannya.

Li Shuhui melihat bahwa Bo Shangyuan sudah mengatakannya, langsung memecahkan kaca yang tertutup rapat.

Li Shuhui melipat lengannya dan dengan santai menggosok rambutnya sendiri, "Ayah dan ibumu telah berpisah selama bertahun-tahun. Mereka tidak punya perasaan apapun. Aku yang punya hubungan normal dengan ayahmu. Bagaimana kau bisa menganggapku wanita simpanan?"

Shangyuan berkata tanpa ekspresi. "Selama mereka tidak bercerai, kau akan selalu menjadi wanita simpanan."

Li Shuhui bergumam lembut, "Mereka tidak bercerai, terus kenapa? Aku sudah punya anak dengan ayahmu, dan akan mengambil hati nenekmu-"

Shangyuan langsung memotong dengan suara dingin, "Jangan menyebut anak haram itu. Itu bukan urusanku."

Mendengar itu ekspresi wajah Li Shuhui langsung kaku. "A-anak haram?"

Li Shuhui tidak tahu bahwa Duan Lun selalu menyebut-nyebut putranya di depan Shangyuan sebagai anak haram.

Shangyuan tidak pernah menyebut anak haram sebelumnya tetapi hanya karena dia tidak ingin membicarakan tentang topik yang menjijikkan ini jadi dia mengatakan itu.

Shangyuan kembali menambahkan tanpa ekspresi, "Aku tahu tujuanmu datang kesini. Jangan repot-repot, aku tidak akan mengatakan apa pun pada nenek untukmu."

Li Shuhui mendengus dan akan bersiap untuk berbicara, tetapi Shangyuan kembali bersuara. "Sekedar mengingatkan, tempat yang kau tinggali sekarang berada di bawah namaku."

Karena ayah Bo dan Li Shuhui berhubungan, nenek Bo menyadari bahwa Li Shuhui tampaknya punya tingkah yang buruk, jadi dia memindahkan semua properti atas nama Bo Shangyuan.

Nenek Bo secara alami sudah menjamin masa depan Bo Shangyuan.

Li Shuhui seketika membeku.

Setelahnya Shangyuan dengan asal mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan telepon.

"Keamanan, usir anak haram itu dari vila."

Li Shuhui membelalakkan matanya.

Dia tidak lagi peduli tentang pembahasan akun anaknya, dia membawa tas, dan bergegas untuk pulang.

Putranya baru berusia tiga tahun. Jika diusir, dia akan sendirian. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?

Sebelum pergi, Li Shuhui menoleh dan mendelik pada Shangyuan.

- Dasar kejam!

Shangyuan tampak acuh tak acuh dan tidak responsif.

Ketika Li Shuhui pergi, ibu Gu masih terkejut luar biasa.

Penampilan Li Shuhui yang begitu mewah dengan sikapnya yang anggun dan elegan. Ternyata menghancurkan keluarga orang lain?

Yang dia tahu, wanita simpanan hanya berwajah cantik tanpa etika. Namun orang seperti Li Shuhui, ibu Gu baru pertama kali melihatnya.

Ibu Gu menunjuk ke arah di mana Li Shuhui pergi, dan bertanya, "Shangyuan ah, situasi apa ini?"

Shangyuan menatap Ibu Gu, enggan untuk menjelaskan. "Bukankah bibi sudah melihatnya?"

Ibu Gu terdiam.

Bo Shangyuan tidak ingin terus membuang waktu dengan ibu Gu, dia berbalik untuk bersiap pergi. Tapi setelah dua langkah, dia berhenti.

Shangyuan menoleh dan bertanya. "... Apa bibi ingin tahu kenapa nilaiku selalu baik?"

Ibu Gu tertegun.

"Karena ibuku tidak pernah membandingkanku dengan orang lain."

Setelahnya Shangyuan berjalan pergi.
.
.

Shangyuan mencari Gu Yu.

Namun, dia sudah menelusuri semua tempat disekitar, dan tidak menemukan Gu Yu.

Karena itu, pikiran Shangyuan langsung menerka Gu Yu pergi rumah Shen Teng.

Dia siap menelepon seseorang untuk mencari nomor ponsel Shen Teng.

Tetapi begitu mengeluarkan ponsel, dia tiba-tiba teringat cetakan telapak tangan yang mencolok di wajah Gu Yu dan kemudian kembali menyimpan ponsel.

Gu Yu yang selalu suka menyimpan masalah tidak akan pergi ke Shen Teng dengan wajah seperti itu.

Gu Yu pasti menemukan sudut untuk bersembunyi.

Tapi di sudut mana ...

Bo Shangyuan berdiri di lantai bawah komunitas, mengerutkan alisnya mengedarkan pandangan ke sekitarnya.

Gu Yu pergi belum lama jadi seharusnya dia tidak pergi jauh. Tidak peduli bagaimana Shangyuan berpikir tentang itu, dia masih tidak bisa menemukannya.

Pertama dia melihat sudut komunitas, lalu melirik ke arah area gedung olahraga, dan akhirnya, memandang ke atas gedung komunitas.

Menyadari sesuatu, hatinya tergerak.

Lantai atas.

Karena hampir tidak ada orang yang datang ke lantai atas, udaranya tidak mengalir dan sangat pengap.

Tidak ada jendela di lantai atas, buram, gelap juga dingin.

Gu Yu duduk memeluk kakinya, bersembunyi di sudut lantai paling atas. Matanya tidak berkedip, menatap kosong ruang hampa.

Udara di lantai atas pengap dan tidak nyaman, tetapi suasananya tenang.

Tenang, tanpa suara apa pun, seolah telah diisolasi.

Gu Yu menyukai suasana tenang ini.

Pandangan Gu Yu kosong.

Dia tidak memikirkan apa pun, dan dia tidak mau memikirkan apa pun.

Dia hanya perlu sendirian saat ini.

Entah berapa lama, tiba-tiba ada suara langkah kaki.

Langkah kaki itu terdengar mendekat langkah demi langkah hingga akhirnya satu sosok berdiri didepan Gu Yu.

Gu Yu tahu siapa itu, jadi dia tidak mendongak.

Tanpa menunggu orang itu bicara, Gu Yu lebih dulu bersuara. "... Aku ingin sendiri saat ini."

Shangyuan berdiri di depan Gu Yu, melihat kebawah, menatapnya.

Setelahnya dia mengangkat pandangannya dan bergumam mengerti dan berbalik untuk turun.

Namun baru melewati satu anak tangga, langkah kakinya berhenti dan tidak lagi bergerak.

Gu Yu ada di lantai atas tengah menatap kosong.

Shangyuan berdiri diam di anak tangga, menunggu dengan tenang.
.
.

Waktu berlalu dengan lambat.

Karena terlalu sunyi, Gu Yu yang terduduk lama, tanpa sadar menutup matanya dan tertidur.

Entah berapa lama dia tidur, tiba-tiba dia merasa seseorang memeluknya. Tubuhnya kemudian terasa melayang membuatnya seketika terbangun dan segera membuka matanya.

Begitu Gu Yu membuka matanya, wajah Bo Shangyuan yang sangat tampan langsung muncul di pandangannya.

Ekspresi Gu Yu merosot, reaksi pertamanya, "Turunkan aku."

Melihat Gu Yu bangun, Shangyuan dengan samar berkata, "... Disini dingin, pulang dan tidur."

Gu Yu berpikir Shangyuan akan membawanya pulang ke rumah, jadi dia kembali bersuara. "Biarkan aku turun."

Dia akan melakukan apa saja, kecuali pulang ke rumah.

Ekspresi Shangyuan tidak berubah, "... Pulang ke rumahku."

Gu Yu tertegun.

Lima menit kemudian.

Bo Shangyuan membawa Gu Yu kembali ke rumahnya.

Ini bukan pertama kalinya Gu Yu pergi ke rumah Shangyuan, tetapi dia belum pernah dengan cara seperti ini, tidak ada tujuan.

Karena itu Gu Yu berdiri tegak di ruang tamu, sedikit canggung.

Gu Yu tidak makan sepanjang hari jadi setelah membawanya pulang, Shangyuan berbalik dan pergi ke dapur untuk memasak.

Shangyuan membuka lemari es. Dia bertanya, "Kau ingin makan apa?"

"..."

Tidak ada tanggapan.

Shangyuan menoleh dan melihat bahwa Gu Yu hanya berdiri di tempat yang sama dan tidak bergerak semenjak masuk ke rumah.

Shangyuan terdiam sejenak lalu berjalan ke arah Gu Yu.

Dia mengulurkan tangannya dan menarik Gu Yu kedalam pelukan.

"Menangis saja kalau kau ingin menangis."

Gu Yu merespon, "Kenapa aku harus menangis?"

"Apa wajahmu masih sakit?"

Gu Yu tiba-tiba kehilangan suaranya.

Setelah beberapa saat, Gu Yu berkata pelan. "... Tidak sakit."

Meskipun Gu Yu mengatakan bahwa itu tidak sakit, suaranya tidak sadar menjadi serak.

Shangyuan yang masih memeluk Gu Yu, dengan lembut mengelus kepalanya.
  
Dia tidak ingin menangis, tapi entah karena tindakan Shangyuan, tenggorokannya tiba-tiba menjadi masam. Gu Yu berkedip keras dan berusaha menahan air mata, tetapi pada akhirnya, dia masih tidak bisa menahan air matanya.

Pakaian di dada Shangyuan perlahan mulai basah.

Gu Yu menekan suaranya dan menangis dalam diam.

Sebenarnya, tamparan itu ... Rasanya sakit.

Setelah menangis beberapa saat, Gu Yu menyeka air matanya dan berkata, "Aku tidak menangis."

Shangyuan menyentuh kepalanya. "Hm, kau tidak menangis."

Melihat air mata Gu Yu sudah berhenti, Shangyuan perlahan melepaskannya. "Lapar?"

Gu Yu bergumam mengiyakan dengan suara rendah.

Shangyuan mendudukkannya di sofa di ruang tamu, "Aku akan memasak, tunggu sebentar."

Gu Yu berpikir bahwa dia selalu merepotkan Shangyuan, akhirnya dengan merasa sedikit malu, dia merespon terima kasih.

Setelah Shangyuan berbalik dan pergi ke dapur, Gu Yu mengambil ponsel di sakunya bersiap untuk mengirim pesan ke Shen Teng.

Meskipun dia tidak terbiasa tinggal di rumah Shen Teng ketika orangtuanya ada di rumah, namun hari ini Gu Yu benar-benar tidak ingin pulang. Terutama ketika dia memikirkan kepulangannya ke rumah, ibunya mungkin memintanya untuk meminta maaf kepada wanita itu, dan itu membuatnya tidak ingin pulang.

Dia tidak melakukan kesalahan dan berbohong, mengapa dia harus meminta maaf?

Dia tidak akan pernah meminta maaf.

Gu Yu membuka WeChat, dan mengirim pesan ke Shen Teng.

[ Apa kau di sana? ]

[ WTF! Xiao Yu Yu, bagaimana kau tiba-tiba berpikir mengirimku pesan?  ]

[ 😯 ]

[ Hm ... ada sesuatu. ]

[ Ah? Apa itu? ]

Gu Yu menggosok bibirnya, ragu-ragu sejenak dan mulai mengetik.

Tetapi sebelum dia selesai mengetik, Shen Teng dengan cepat mengiriminya beberapa pesan.

[ Hehe, Xiao Yu Yu, kau tahu, ibuku membawaku jalan-jalan ke kota A ~]

[ Disini banyak makanan enak, aku mencoba semuanya. ]

[ Enak dan murah! Aku akan membawakanmu saat sekolah di hari senin! ]

[ Hanya saja atraksi di sini membosankan, semuanya hanya kepala manusia. Aku tidak bisa melihat pemandangan dan hanya bisa melihat kepala orang. Tiket ratusan yuan hanya menguras dompet! ]

Shen Teng dengan bersemangat terus mengirim pesan, sampai akhirnya dia ingat sesuatu.

[ Oh ya, Xiao Yu Yu, tadi kau ingin katakan apa? ]

[ Tidak ada. ]

[ 🤔 ]

Gu Yu menutup WeChat.

Dia duduk di sofa dan diam.

Saat ini, makanan sudah siap.

Shangyuan selesai menatanya di meja dan berkata, "Makan."

Gu Yu sedikit terhenyak, lalu melihat ke arah Shangyuan.

Gu Yu ragu-ragu sejenak. "Hm, itu ..."

Shangyuan mengangkat alisnya, menunggu.

Gu Yu berkata perlahan, "Apa aku boleh ... tinggal di rumahmu selama satu malam?"

Shangyuan menatapnya lama.

Gu Yu berkata pelan. "Aku tidak ingin pulang hari ini ..."

Shangyuan kembali menarik pandangannya, "Boleh."

Gu Yu mendesah lega. "Terima kasih."

"Ayo makan."
.
.

Pada saat bersamaan.

Sudah malam, Gu Yu belum kembali ke rumah.

Ayah Gu pulang terlambat dari kerja, jadi dia tidak tahu hal-hal di pagi hari. Ayah Gu yang melihat Gu Yu belum pulang, mau tidak mau merasa aneh.

"Kenapa Gu Yu belum kembali?"

Meskipun Ibu Gu mulai panik, dia masih berkata tenang. "Dia akan pulang cepat atau lambat."

Ayah Gu mengernyitkan alisnya, "Apa kau mengatakan sesuatu padanya?"

Ibu Gu berkata, "Dia membuat kesalahpahaman jadi aku menamparnya. Aku ibunya, apa tidak bisa keras padanya?"

Ayah Gu speechless.

"Bagaimana jika dia benar-benar tidak kembali hari ini?"

Ibu Gu melambaikan tangannya dan berkata, "Tidak mungkin."

Jika Gu Yu tidak pulang, dia akan pergi kemana?

Apa pun yang terjadi, Gu Yu pasti pulang.

Dia adalah ibunya, memangnya tidak bisa marah padanya?

Lagipula, itu hanya tamparan di wajah, dia ibunya, Gu Yu harusnya memahami itu.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments