46. Terpaku

Saat istirahat makan siang, Guo Zhi diseret Ke Junjie untuk bermain basket. Ketika ia tiba di gedung olahraga, mereka bertemu dengan sekelompok siswa lain yang juga sudah berada disana. Ke Junjie menepuk bola basket dan pergi ke tengah lapangan, dan langsung dipanggil lelaki lain. "Hei, kami di sini lebih dulu, kami sedang bersiap untuk bermain."

"Ini bukan rumahmu, kami tidak bisa bermain?" Respon Ke Junjie kesal karena mendengar nada suara pemuda itu tidak sabar.

"Memangnya tidak ada tempat diluar sampai kau harus berdebat dengan kami? Berbicara dengan nada seperti itu, kau dari kelas mana?" Pria kekar dari kelompok itu menantang.

"Kenapa aku harus memberitahumu?"    

Para lelaki dari kedua sisi mulai bertengkar. Guo Zhi mengerutkan kening. Dia tidak suka bertengkar. Itu bukan karena ia lemah. Hal kecil seperti ini tidak harus dipertengkarkan. Ketika dia berusaha melerai, suara Hua Guyu muncul, "Tidak ingin bermain basket? Apa yang kalian lakukan?” Semua orang melihat ke belakang. Hua Guyu menopang tangannya ke dinding. Dia berdiri dengan sengaja dibawah cahaya, berpose, menonjolkan keindahan dirinya.

"Aku tidak tahu dari mana orang-orang ini datang untuk mengambil alih lapangan."

"Hua er, apa mereka teman kelasmu?"

Hua Guyu terus menampilkan gaya yang menurutnya sangat indah, "Dengarkan aku Guo Zhi,  orang yang begitu tampan sepertiku ini lebih dulu merebut lapangan. Kalian tidak takut dibenci oleh gadis-gadis di seluruh dunia?"    
    
Mendengar itu, para lelaki dari kedua sisi berhenti bertengkar.

"Kita bisa bermain bersama." Saat mendengar usul Guo Zhi, Hua Guyu segera menunjukkan pandanganya merendahkan, "Apa ayam dan burung ini teman sekelasmu? Tidakkah itu akan menurunkan standarku?"    
    
"Kau salah, beruang hitam, beruang coklat, beruang kutub dikelasmu itu belum tentu menang, lalu apa kau ingin bertanding?"

"Kau seharusnya berkaca. Mau bagaimana lagi, lalu siapa yang menjadi wasit?" Mereka menatap saty sama lain, tak ada yang bisa di percaya dari kedua kelas itu. Disaat seperti ini, pikiran Guo Zhi dan Hua Guyu tertuju pada satu orang: Shi Xi!

Hua Guyu berpikir, dengan menunjuk Shi Xi, dia bisa memperlihatkan kemampuannya dibidang olahraga dan akan membuat Shi Xi malu dan tidak senang! Sementara Guo Zhi, tidak peduli yang diinginkan, dia hanya bisa memikirkan Shi Xi!

Guo Zhi mengeluarkan ponselnya, menelpon Shi Xi namun Hua Guyu dengan cepat menutupnya. "Apa kau ingin bilang: Shi Xi, datanglah! Kami sedang bermain basket, kau yang akan jadi wasitnya." Hua Guyu meniru nada suara Guo Zhi ketika berbicara dengan Shi Xi.

"Ya."

"Apa itu! Dia hanya akan menyalahkan kita karena menjadi penganggu dan kemudian menutup telepon." Kata-kata Hua Guyu tidak dapat disangkal, jadi Guo Zhi bertanya. "Apa yang akan kau lakukan?"

"Tentu saja aku punya metode, siapa aku? Titisan dewa kebijaksanaan dan keindahan! Kau jongkok dilantai, beberapa dari kalian mengelilinginya dan angkat satu kaki kalian."
    
Guo Zhi tidak mengerti namun tetap melakukannya, ia berjongkok di lantai. Dia hanya ingin tahu metode apa yang Hua Guyu gunakan untuk bisa memanggil Shi Xi. Yang lainnya bahkan lebih tidak mengerti. Bukankah dia baru saja bilang ingin bertanding? Apa yang mereka lakukan sekarang? Tetapi mereka juga menurut dan mengangkat kaki, Hua Guyu mundur menjauh, menyesuaikan sudut dengan kamera ponsel, mengambil foto, mengirimkannya ke Shi Xi dengan tambahan teks yang menggemparkan: Shi Xi! Ini buruk! Guo Zhi sedang dikeroyok!

Hanya beberapa menit kemudian, Shi Xi muncul, dia mengerutkan kening melihat wajah licik Hua Guyu dan wajah Guo Zhi yang tersenyum. "Shi Xi! Kau benar-benar datang, metode apa yang Hua er gunakan untuk memanggilmu ke sini?"

Shi Xi menggertakkan giginya, tidak bicara, dia memandang Hua Guyu dengan mata dinginnya, dan Hua Guyu tersenyum seolah-olah dia menaklukan Shi Xi. "Hei, bukankah ini Shi Xi? Kemana Shi Xi yang cerdas? Apa yang terjadi? IQ tinggimu tidak bisa berbuat apa-apa? "Hua Guyu sekarang bahagia, dan dia tidak memikirkan konsekuensi dari perbuatannya.   

"Shi Xi, jangan dengarkan Hua er. Kau akan menjadi wasit yang sangat cerdas." Guo Zhi salah paham dengan maksud perkataan Hua Guyu.
    
“Kalau begitu, mulai permainan!” Hua Guyu bertepuk tangan dan berjalan masuk ke lapangan seperti drama idola, dia melepas mantelnya dan melemparkannya ke atas bangku. Shi Xi masih tak mengatakan sepatah kata pun, Guo Zhi disebelahnya, mengisap hidung, walaupun ia minum obat dan pileknya sudah berkurang tetapi hidungnya masih berlendir. Shi Xi mengambil mantel Hua Guyu dan menempelkannya ke wajah Guo Zhi, dengan kasar menggosok hidung itu. Suaranya masih tanpa emosi. "Apa kau minum obat tepat waktu?"

"Ya, sudah jauh lebih baik, dan kemudian berolahraga, berkeringat itu bagus."

“Guo Zhi, cepatlah!" Teriak Ke Junjie.

Hua Guyu melihat mantel baru yang baru saja dia beli digunakan untuk menyeka hidung Guo Zhi. Dia tidak bisa menahan diri untuk mengumpat. "Apa kau tahu sudah berapa lama aku berkeliling sebelum mengambil jaket itu?"    
    
“Tidak tahu.” Jemari Shi Xi mengendur dan mantel itu jatuh ke lantai, dia menginjak mantel itu dan berdiri di garis putih lapangan basket. Ketika Hua Guyu hanya ingin pergi ke mantel itu, Shi Xi berkata, "Di luar batas itu adalah pelanggaran, kau keluar!"

"Aku belum pernah mendengar aturan seperti itu!"

"Bukankah kau yang memanggilku? Aku wasit disini."

Hua Guyu keluar lapangan dengan marah, dan teman sekelas mereka yang tidak ikut bermain duduk di bangku untuk menghibur kelas masing - masing. Shi Xi berdiri disana, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, dia hanya berdiri dengan santai, begitu santai. Gerakan malasnya seperti godaan mematikan.   

Guo Zhi tidak bisa berkonsentrasi pada hal itu. Bagaimanapun dia berbalik, ekor matanya selalu tertuju pada Shi Xi. Orang yang dia suka ada disekitarnya membuat dia tidak bisa melakukan hal lain. Apakah ini normal?  

Guo Zhi bergerak membawa bola, berlari dan berdiri didekat Shi Xi. Anggota tim melambaikan tangan dan berteriak, "Sebelah sini, lewat di sini." Guo Zhi memeluk bola dan melemparkannya pada Shi Xi dan Shi Xi menjangkau untuk menangkapnya. Dan melempar bola basket itu kembali ke Guo Zhi. "Apa kau idiot?"

"Tidak, itu karena kau berdiri disana."

“Mengoper bola pada wasit itu salah Guo Zhi, apa yang kau pikirkan?!” Teriak Ke Junjie.

Pria kekar dari kelas Hua Guyu juga berkata, "Apa ini pelanggaran?"  

Shi Xi menatapnya, "Kau! Terlalu banyak bicara, keluar!"
    
“Tidak adil!” Pria itu mengeluh, dan Shi Xi menatapnya lagi, “Apa kau meragukan wasit?” Pria itu menggelengkan kepalanya dan berjalan ke samping dan mengalihkan pandangannya yang marah kepada Hua Guyu. Dia baru saja mulai menemukannya. Dia masih berpikir dalam hati bahwa mereka semua adalah jurusan, mereka harus saling membantu, siapa sangka Shi Xi malah membantu orang luar.    

Pemain pengganti masuk, pertandingan berlanjut, Guo Zhi selalu ingin berlari ke Shi Xi. Ketika dia mengambil bola lagi, Hua Guyu menghalangi jalannya, dan ketika dia menjangkau dan ingin memenangkan bola basket di tangan Guo Zhi, Shi Xi tiba-tiba berkata, "Hua Guyu, pelanggaran."    

"Dibagian mana aku melakukan pelanggaran?

"Tidak ada kontak fisik yang diizinkan."

"Aku belum menyentuhnya!"

"Hanya mencoba tetap pelanggaran!"  

"Shi Xi, kau, aku membencimu! Aku membencimu!" Hua Guyu berteriak dengan wajah kesal.

Seketika bel di akhir istirahat makan siang berbunyi dan mengganggu permainan mereka. Shi Xi mengabaikan orang-orang itu dan berbalik, Guo Zhi mengambil jaketnya dan mengejar Shi Xi, "Aku sangat pandai bermain bola basket."
    
“Aku bisa melihatnya.” Respon Shi Xi ironis, dan Guo Zhi bisa mengartikannya. “Itu tadi salahmu karena kau berdiri di sana, aku merasa kau mengawasiku, dan kemudian itu memengaruhi pikiranku. Kalau tadi hanya kita berdua yang main, mungkin aku akan mengalahkanmu, jangan meremehkanku."

"Pakai jaketmu."

Guo Zhi mengenakan mantel dan mengisap hidung lagi. Shi Xi merogoh tisu toilet dari saku Guo Zhi dan menjepit hidung Guo Zhi dengan itu. "Pergi ke kelas."

Gerakannya yang halus, bahkan tanpa nada lembut dan ekspresi yang serasi, selalu bisa membuat Guo Zhi tersentuh, ia mengulurkan tangan dan menekan tisu toilet dihidungnya lalu melarikan diri, tidak ingin ekspresinya dilihat Shi Xi. Sekarang, lihat siapa yang terpaku.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments