43. Nanti, nanti

Kalender yang diberikan dari kerabat digantung diruang tamu. Warnanya murahan, beratribut naga emas dan phoenix. Guo Zhi melingkari tanggal masuk kuliah dengan pena tinta merah. Tiga hari sebelum dimulainya kuliah, ia mengambil pena dan menggambar garpu pada tanggal hari ini, dan memperbaiki kalender dengan kencang. Lalu dia berkata pada dirinya sendiri, "Kenapa masih belum juga masuk kuliah?"

Guo Yunyong sangat senang mendengarnya. Dia mengira Guo Zhi ingin segera masuk kuliah untuk belajar dengan baik. Anak orang lain berharap untuk bermain selama beberapa hari lagi, dan anaknya hanya berharap untuk pergi ke kuliah lebih awal. Tak tahan untuk mendidik diri sendiri, Guo Yunyong merasa bangga. Tapi mengapa Guo Zhi ingin jadwal masuk kuliah cepat tiba, hanya dia yang tahu.

Guo Yunyong melepas abu rokoknya diasbak lalu bertanya, "Apa angpao tahun ini dikumpulkan banyak?" Di keluarga Guo Zhi umumnya memberikan angpao pada mereka yang belum menikah berapapun usianya.
    
"Ya."

"Kau akan masuk kuliah dua hari lagi jadi pergilah ke bank besok "

"Baik."

"Jangan gunakan uang hasil kerjamu. Tahun lalu kau membeli kamera. Apa yang bisa digunakan dengan benda itu? Aku selalu mendapat pesan notifikasi setiap kali kau menarik uang. Banyak sekali pesan yang aku terima selama kau semester, saat kutanya, kau bilang butuh banyak pena jadi kau menarik banyak uang untuk membelinya. Sangat sulit untuk mendapatkan uang dan kau malah tak tahu bagaimana menghemat." Dia mulai mengangkat topik ini lagi.

"Kamera sangat berguna, bisa digunakan untuk memotret."
    
“Apa gunanya fotografi? Apa bisa membantumu belajar? Setelah kau menyimpan uang, kau bisa merencanakannya dengan baik, menggunakannya dalam bisnis, atau ketika kau butuh. Sekarang ini uang dibutuhkan dimanapun." Guo Yunyong tidak puas dengan jawaban Guo Zhi.

Guo Zhi diam dan hanya mengangguk.  
.
.

Pada malam hari, Guo Zhi berbaring di tempat tidur, terus membalik tubuhnya dibawah selimut. Akhirnya, dia duduk dan mengambil uang dari bantal dan menaruhnya di atas selimut. Dia sedang memikirkan sesuatu, sesuatu yang sangat penting. Setelah cukup lama, ia meletakkan uang itu kembali di bawah bantal dan tertidur.
.
.

Pagi berikutnya, Guo Zhi bangun pagi dan melipat selimut lalu memasukkan uang dan kartu bank ke dalam tas. Zhou Hui menyiapkan sarapan, Guo Zhi makan dengan tenang, setelahnya pergi terburu-buru. Suhu cuaca yang dingin itu melonjak, Guo Zhi menggerakkan bahunya melawan dingin. Ia melapisi kepalanya dengan penutup kepala jaket yang dikenakan. Ujung topinya yang berbulu membuatnya gatal.

Sudah ada banyak orang di bank, dan agak ramai. Para penjaga keamanan memangku tangan sambil berkeliaran di sekitar. Memperhatikan pekerja migran yang memegang kartu bank di mesin ATM dan menunggu bos memberikan gaji jangka panjang. Untuk pertama kalinya, keluarga yang membantu anak-anak membuka rekening mereka sendiri, orang-orang yang berbeda membentuk sebuah kesan, ke mana pun kau pergi, kau dapat melihat status sosial.  
    
Tetapi ini semua berbeda pada Guo Zhi. Dia berpikir bahwa setiap orang memiliki uang untuk diambil, dan itu baik untuk memiliki uang.   

Guo Zhi mengambil satu nomor antrian dan menunggu di luar bank. Karena kedinginan, ia berjongkok. Ia terus memikirkan masalah tadi malam. Itu seperti seorang perampok yang ragu-ragu untuk merampok bank. Cintanya sedang menguji lagi. Moralitasnya hilang.    

Sekarang ayahnya tidak tahu berapa banyak yang ia dapatkan tahun ini. Jika Guo Zhi menabung sedikit, dia tidak akan menemukannya. Dia memikirkannya di dalam hatinya, dan mengerang karena pikiran buruknya. Pada akhirnya, dia menekan nomor yang sudah dikenalnya, dan tak lama panggilan diseberang tersambung, "Shi Xi!"

Shi Xi yang masih tertidur hanya mendengus, menempel ponsel ditelinga, tak bicara.    

"Shi Xi! Shi Xi!" Seakan tak bisa mendengar jawaban, ia tak akan berhenti memanggil.

"Diam!"
    
"Bisakah aku bertanya sesuatu yang penting?"

"Bisakah aku menutupnya?"

Guo Zhi mengabaikan dan terus bertanya, "Berapa nomor rekeningmu? Apa aku bisa menyimpan sedikit uang?"
    
"Banyak kelompok penipuan sudah menggunakan trik ini. "
    
"Percayalah! Aku bisa mengirimku kartu identitasku." Guo Zhi menanggapi serius. "Kalau aku menyimpan uang direkeningku, ayahku yang akan memegangnya dan mengaturnya untuk masa depanku."

"Kalau begitu buat rekeningmu sendiri." respon Shi Xi malas.

"Tapi aku ingin punya rekening atas namamu."

Shi Xi menutup sepihak. Guo Zhi mendatarkan mulutnya dan berjalan masuk kedalam bank. Dia mengisi beberapa kolom dan tandatangan rartu bank Zhang Xin. Dia menulis nama Shi Xi di bagian belakang kartu dengan spidol, dan kemudian menyimpan sejumlah uang pada dua kartu bank. Lalu menelepon Shi Xi lagi.

Shi Xi masih memejamkan mata, dia mengulurkan tangan dan meraba-raba ponsel di bantal untuk menjawab. "Apa lagi?"
    
"Apa kau sudah menerima pesan notifikasi dari bank? Notifikasi kartu bank punyaku dengan nomor rekeningmu."

"Jangan beritahu aku hal tak berarti seperti ini." Kali ini Shi Xi menekan tombol loudspeaker, menaruh ponselnya diatas bantal dan berbalik untuk tidur.

"Ini bukan tidak berarti." Guo Zhi keluar dari bank, bibirnya yang pucat karena udara dingin menghembuskan uap putih dan lenyap. "Ayah punya rencana untuk kehidupan masa depanku, tapi aku punya rencana sendiri untuk masa depan. Aku tidak bisa selalu membiarkanmu yang membayar, ini adalah dana emosional kita. Kita berdua akan melakukan perjalanan di masa depan, akan membeli buku di masa depan, dan kita akan hidup bersama di masa depan." Suara Guo Zhi sampai dipendengaran Shi Xi, bahkan kebaikannya untuk masa depan mengalun diruang kamarnya, terdengar sangat bahagia, sangat bersemangat.

Guo Zhi melompat turun setiap melangkahi tangga. "Perlahan uang yang tersimpan bisa membeli rumah di kota yang indah, mengecat setiap kamar dengan warna, dan kemudian melukis dinding yang indah, memberimu ruang besar agar kau menulis novel dengan tenang, membeli rak buku yang besar untuk meletakkan semua bukumu. Aku hanya perlu kamar kecil untuk mencuci foto. Kemudian, aku harus membeli banyak furnitur. Nanti, aku akan membantumu menerbitkan buku. Jika ada yang ingin membelinya nanti, jika ada yang mau membelinya walau hanya satu, aku akan sangat berterima kasih padanya. Itulah rumah, rumah kita."

Ketika Shi Xi membuka matanya, dinding putih jatuh dalam pandangannya. Shi Xi tidak pernah memberitahu apa yang dia rasa, tetapi Guo Zhi bisa menyentuh rasa sakit Shi Xi tepat disudut tergelapnya.
 
"Guo Zhi." Suara Shi Xi terdengar lembut.

"Kenapa?"  

"Kalau saat ini kau ada disampingku," Guo Zhi menyela, "Apa kau akan bilang aku mengatakan hal yang konyol lagi?"    
    
"Diam."

Guo Zhi menutup mulutnya. Shi Xi melanjutkan. "Kalau saat ini kau ada disampingku, aku akan menciummu."

Suara Shi Xi tidak ada emosi tetapi mendengar kalimat itu, Guo Zhi tak tahan untuk menarik sudut bibirnya, tersenyum lebar.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments

Post a Comment