42. Shi Xi ( Part 2 )

Setelah menemui Guo Zhi, Shi Xi kembali ke kota tempat tinggalnya, jalanan yang asing, orang-orang asing, Shi Xi mengambil beberapa kunci asing, masuk kerumah, kembali ke keluarganya sendiri yang bahkan asing baginya.

Ruang tamu penuh dengan barang-barang, tampak sedikit berantakan, tidak ada yang akan membuang waktu untuk membersihkan, mereka tidak pernah memiliki tempat tinggal yang tetap, selalu berpindah dari satu kota ke kota lain bersama dengan dua orang itu. Seorang wanita dengan wajah cantik tetapi ekspresi dingin duduk di sofa. Dia Danyi, wanita yang melahirkan Shi Xi. Ada gelas sampanye di depannya, dia membalik lembar file tanpa melihat Shi Xi, "Sudah pulang?"

"Hm."

Danyi tidak pernah bertanya kemana Shi Xi pergi dan apa yang dilakukan. Baginya, anak harus mandiri tumbuh dewasa untuk memahami lingkungan sosial. Danyi berbeda dari wanita lain. Dia terlalu tegas dan tidak terikat. Pada usia 16 tahun, bersama ayah Shi Xi dia menentang keluarganya dan kawin lari, tetapi bukan karena dia gadis yang ingin mengejar romansa dan cinta yang penuh gairah. Dia hanya membutuhkan seseorang membawanya untuk kabur. Kemudian dia mendesain pakaiannya dengan visi uniknya sendiri. Sekarang dia memiliki perusahaannya sendiri, dia hampir mandiri dan mengerikan, seperti tidak ada yang perlukan lagi.

Shi Xi melihat ruang paling kiri dari ruang tamu, pintu itu tertutup, cahaya keluar dari celah bawah. "Sudah berapa lama dia di dalam?"

"Seharian."

Seketika pintu terbuka dan lelaki kurus keluar. Dibawah dagunya ada sedikit buih, dan meskipun kelihatan lelah, itu tidak mengurangi penampilannya yang dewasa dan tampan. Dia adalah ayah Shi Xi, Shi Zhou. Seorang seniman tanpa nama, dan karya-karya murahan yang dibuat khusus untuk memenuhi tren akan selalu menjual harga yang baik, tetapi kreasi batinnya tidak dihargai. Tidak ada yang peduli seperti sampah. Kemarahan kaum muda kini berubah menjadi mati rasa, dan dia jatuh ke kursinya dengan merosot.   
    
Kedua orang ini sebenarnya belum menikah, dan tidak ada yang mau diikat oleh siapa pun. Mereka berpikir bahwa selembar kertas itu tidak masuk akal.

Keluarga ini terdiri dari kesendirian.
    
Hanya pemandangan seperti itu yang tidak asing bagi Shi Xi. Dia mengeluarkan laptop. Shi Zhou menyeka buih diwajahnya dan memperhatikan Shi Xi. "Liburan tahun ketiga?" Shi Xi tidak menjawab, mengetik keyboard. Jika dia mempunyai emosi, mungkin dia akan sakit hati.

¹saking cueknya jadi mengira Shi Xi masih SMA kelas tiga

Danyi menatap Shi Zhou, "Bukankah aku sudah bilang padamu waktu itu? Dia sudah kuliah tahun ini."    

"Benarkah? Mungkin aku sibuk saat itu jadi tak memperhatikan." Respon Shi Zhou datar.
    
Shi Xi tumbuh dalam keluarga seperti itu. Ketika dia masih kecil, dia sering tidak bisa melihat Danyi dan Shi Zhou sering mengunci diri di kamar, Shi Xi ditinggalkan sendiri di ruang tamu. Ruang tamu yang kosong itu seperti monster cukup buas, menunggu untuk melahap ketakutan dan kesepiannya. Dia perlu menemukan sesuatu untuk menemaninya, bahkan jika itu hanya fiksi. Dia mengambil pena yang jatuh di tanah, mulai menulis pada file Danyi, dan menulis pada lukisan Shi Zhou, mungkin balas dendam, mungkin melampiaskan emosi.
    
Seiring berjalannya waktu, dia tinggal di berbagai kota, dan berada di ruang tamu setiap apartemen baru, pupilnya menjadi semakin dingin, emosinya menghilang, dan dia lupa emosi dari novel aslinya, terus menulis. Setiap malam.
    
Sampai dia bertemu Guo Zhi.

Guo Zhi terus meneriakkan namanya seolah dia ingin berteriak kembali ke emosi yang jatuh ditubuhnya yang kosong. Kepolosannya yang tidak bersalah, itu menyebalkan; dia tidak punya alasan untuk memuji, itu menjengkelkan; dia tersenyum terlalu murni, itu menyebalkan. Shi Xi ingin merusak kepolosannya, senyumnya, tetapi ketika dia menangis di depannya, Shi Xi menyesal, hatinya sakit.
    
Dia ingin merusak dengan jemari devilnya, tetapi dia merengkuhnya di dada.

Guo Zhi yang sangat menyukainya menerobos pertahanan Shi Xi.

Jika Shi Xi tidak dapat menghancurkannya, lindungi saja dia.
.
.

Pada Malam Tahun Baru, mereka makan di luar, musik dengan elegan melantun didalam restoran bergaya western. Hanya ada sedikit kata di antara mereka. Mereka tidak akan berbicara tentang masalah yang tidak penting dan bergosip. Mereka tidak membicarakan urusan orang lain atau mengobrol. Apa yang bisa dibicarakan didalam hati sendiri?

Jemari Danyi yang ramping meraih gelas berisi wine, menggoyangnya sebelum diminum. Ekspresinya sedingin suaranya. "Shi Xi, apa kau ingin sesuatu?"
    
Shi Xi bersandar, melihat keluar jendela. "Kau belum memberiku sesuatu yang ku inginkan sebelumnya."
    
Shi Zhou mengamati ekspresi Shi Xi, tetapi ekspresinya tidak bisa membuat orang menebak isi pikirannya. Shi Zhou mengajukan pertanyaan yang selalu ingin dia tanyakan. "Apa kau membenci kami?"
    
Danyi berbeda dari Shi Zhou, walaupun mereka agak sama. Mereka semua adalah orang yang tidak tahu bagaimana menjadi orang tua. Ketika mereka masih muda, mereka berada di usia yang sama, dan mereka berdua adalah anak-anak. Danyi tidak tahu bagaimana menghadapi Shi Xi, dan hanya memberinya materi, tetapi dia tidak bisa memberikan emosi yang tidak bisa dia mengerti. Ketika Shi Xi tumbuh, dia menjadi berbeda. Danyi dan Shi Zhou menyadarinya tetapi tidak tahu apa yang harus diberikan padanya. Mereka menolaknya, dan sekarang dia menolak mereka.
    
Mereka egois, hanya memperhatikan perasaan mereka sendiri. Mereka hanya ingin menggunakan segalanya untuk memuaskan kebebasan mereka sendiri. Ketika mereka hanya memikirkan mengapa karya mereka tidak dihargai, mereka lupa waktu.   

Figure Shi Xi yang indah tercermin di jendela, dia melihat ke bawah, kendaraan dan orang-orang datang dan pergi dengan tergesa-gesa, dia bersuara, "Kata benci terlalu serius, kalian bagiku, hanya satu hal yang berbeda dari orang lain: hubungan darah."

Panggilan masuk diponselnya berbunyi, dia mengangkatnya, suara Guo Zhi terdengar. "Kenapa kau tak membalas pesanku?"

"IQku tidak mengijinkan untuk membalasnya."

"Pesanku tidak secacat itu. Aku mengirimnya banyak, setidaknya balaslah satu!"

Shi Xi tidak menjawab, masih menatap keluar. Suara Guo Zhi kembali terdengar. "Jangan membodohiku. Aku sangat terpukul. Kau mengecewakanku di hari terakhir tahun ini. Kau memberiku ringkasan akhir tahun yang sangat buruk."

"Guo Zhi, aku tak membalas bukan berarti kau tak penting, mengerti?"

"Mengerti."
    
"Kau ini tidak punya IQ atau memang idiot? Mau saja dibodohi dengan satu kalimat."    
   
"Kau! Kau bukan orang yang serius!"
 
"..."
   
"Shi Xi, selamat tahun baru."

"Kau juga." kalimat terakhir ini Shi Xi jawab dengan lembut.    

Setelah menutup panggilan, suasana hati Shi Xi menjadi tidak terlalu buruk sekarang.    

Mata Danyi fokus pada cairan wine yang ia tuang kedalam gelas. "Kekasih?" Dia hanya bertanya dengan biasa, tak menginginkan jawaban.   
   
"Kalau kau tak peduli, tidak perlu basa basi bertanya."

Shi Xi pernah ingin mengabaikan dunia. Sekarang, di dunia ada sesuatu yang tidak bisa diabaikannya.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments