42. Ini berkat kelas tambahan... guru mengajar dengan baik

Setelah tujuh hari liburan, hal pertama yang dilakukan setiap orang setelah tiba di sekolah adalah...

Salin pekerjaan rumah.

Pada hari pertama liburan, mereka berpikir: masih ada enam hari, tidak perlu buru-buru mengerjakan PR.

Pada hari kedua liburan, mereka masih berpikir: Bagaimanapun, masih ada lima hari, tidak perlu terburu-buru.

Pada hari ketiga, hari keempat masih alasan yang sama.

Hm, hari libur masih tersisa banyak, tidak perlu terburu-buru.

Pada hari kelima, mereka masih tidak terburu-buru dan berpikir: PR bisa dikerjakan besok.

Pada hari keenam, mereka berpikir: masih belum cukup untuk bermain disisa satu hari. Tidak masalah untuk begadang di malam hari mengerjakan PR.

Dengan cara ini, mereka terus bermain selama enam hari tanpa berpikir.

Pada hari terakhir, hari ketujuh, ketika membuka pekerjaan rumah ...

Otak kosong.

Bagaimana menyelesaikannya? Tidak bisa mengerti.

Ah, lebih baik tidur.

Biarkan saja, main game sebentar lalu lanjutkan nanti.

Seperti ini yang terjadi di malam hari.

Ketika sudah waktu untuk akhirnya tidur.

Mereka yang tidak menulis PR berpikir, sudah sangat larut untuk menulis dan memilih menyerah. Besok bangun lebih awal untuk pergi ke sekolah dan menyalin pekerjaan rumah, berapa banyak yang bisa disalin.

Jadi, memegang pemikiran ini, mereka tidur nyenyak.

Ketika tiba waktu sekolah, mereka mulai mode gila meracau tentang tugas yang belum dikerjakan.

"Ah, ah, sekarat, sekarat! Aku belum menulis apa-apa!"

"Guru matematika akan mencambuk tubuh -"

"Ayah selamatkan aku, tuliskan untukku!"

"Enyahlah, ayah tidak ada urusan dengan pekerjaan rumahmu."

Di antara mereka, ada juga Shen Teng.

Shen Teng dengan mata berkaca-kaca, bertanya. "Apa kalian sudah menyelesaikan pekerjaan rumah?"

"Sudah selesai." - Jin Shilong.

"Sudah selesai." - Jiang Zhenshan.

"Sudah selesai." - Gu Yu.

Ekspresi Shen Teng putus asa.

Shen Teng terus bermain game selama tujuh hari di rumah, dan pekerjaan rumahnya tidak tersentuh.

Dia berpikir tentang pergi ke sekolah lebih awal hari ini untuk menyalin pekerjaan rumah, siapa sangka dia ketiduran dan tiba disekolah setengah jam sebelum kelas mandiri pagi.

Di tengah keputus-asaan, ketua tim matematika datang untuk mengambil alih pekerjaan rumah.

Chang Xiao berdiri di meja Jin Shilong, dan berkata kepada Jin Shilong dan Shen Teng. "Cepat, kumpulkan pekerjaan rumah kalian."

Shen Teng mengerjap pada Chang Xiao lalu berlagak imut. "Bisa tidak kau jangan dulu mengambil PR-ku?"

Chang Xiao tidak ragu. "Tidak bisa."

Chang Xiao dikenal berhati dingin dan tidak tersenyum. Melakukan kesepakatan dengan Chang Xiao jauh lebih sulit daripada menggapai langit.

Ekspresi Shen Teng putus asa lagi.

Jin Shilong yang duduk di sebelahnya dengan patuh menyerahkan PR miliknya.

Chang Xiao mengambil pekerjaan rumah Jin Shilong dan berkata, "Aku akan memberimu lima menit. Setelah lima menit, mau selesai atau tidak, kau harus mengumpulkannya padaku."

Mendengar itu, Shen Teng segera berbalik untuk melihat Gu Yu dengan wajah menangis. "Xiao Yu Yu, tolong!"

Gu Yu tanpa bicara menyerahkan tugas matematikanya.

Shen Teng merasa tersentuh. "Xiao Yu Yu, aku mencintaimu!"

Shen Teng dengan rasa terima kasih, membuka tangannya berniat memeluk Gu Yu, tapi Gu Yu dengan cepat menghindar.

Setelahnya Gu Yu tiba-tiba memikirkan sesuatu. "Apa kau sudah menulis tugas sejarahmu?"

Gu Yu teringat bahwa dia adalah perwakilan kelas dari kelas sejarah dan harus mengumpulkan tugas sejarah ke ruang guru.

Shen Teng menggelengkan kepalanya.

Setelah menggelengkan kepalanya, Shen Teng tanpa sadar bertanya, "Apa kau bisa menuliskan untukku?"

Gu Yu tidak ragu. "Tidak."

Shen Teng merengek. "Xiao Yu Yu, aku tidak mencintaimu!"

"..."

Ketua tim 2, 3, dan 4 kelas sejarah bertindak sangat cepat, tugas sejarah sudah terkumpul 15 menit sebelum belajar mandiri awal.

Hanya tersisa satu tim.

Itu karena Shen Teng belum selesai menulis.

Ketua tim sejarah di deret meja Shen Teng adalah Zhao Minghuan, seorang gadis, dan tipe yang penyabar.

Dia mendesak dan begitu tahu Shen Teng belum selesai menulis, dia memindahkan kursi dan menunggu dengan tenang di sampingnya.

Shen Teng menyalin beberapa saat, tangannya terasa lembek lalu meletakkan pena, berniat beristirahat sebentar dan kemudian melanjutkan.

Siapa sangka Zhao Minghuan yang penyabar menggebrak meja. Dia berkata, "Cepat! Semuanya sudah mengumpul tinggal kau saja!"

Shen Teng gemetar syok, dia dengan patuh ​​mengambil pena lagi.

Lima menit kemudian, Shen Teng akhirnya selesai menulis.

Zhao Minghuan merasa senang sudah mengumpul semua pekerjaan rumah, dan kemudian menyerahkannya pada Gu Yu.

Zhao Minghuan tersenyum dan berkata, "Semua sudah terkumpul ~"

Gu Yu mengambilnya dan berkata bagus.

Zhao Minghuan dengan bahagia kembali ke bangkunya.

Sementara Shen Teng kini berbaring di atas meja, ekspresinya kusam. "Tidak ada yang bisa memprovokasi seorang gadis..."

Jiang Zhenshan tiba-tiba memikirkan sesuatu. "Shen Teng, apa kau sudah selesai menulis tugas matematika?"

Gu Yu adalah perwakilan dari kelas sejarah, dan Jiang Zhenshan adalah perwakilan dari kelas matematika.

Mendengar itu, wajah Shen Teng memucat.

Shen Teng dengan kaku melihat ke belakang, berkedip, dan menatap gadis itu penuh antisipasi. "Apa bisa kau jangan mengumpulnya dulu?"

Shen Teng berpikir Jiang Zhenshan begitu lembut dan sabar, dia pasti mengiyakan dan menjanjikannya.

Jiang Zhenshan tersenyum dan berkata, "Tidak bisa."

Senyum di wajah Shen Teng menghilang seketika tanpa jejak.

Gumam Shen Teng dengan tertekan. "Siswa perempuan memang paling menyebalkan ..."

Gu Yu yang sudah menerima tugas sejarah dari para ketua tim, bangkit dari duduknya dan bersiap untuk membawanya ke ruang guru.

Tumpukan buku tugas begitu tebal, dan agak sulit untuk dibawa sendiri.

Jiang Zhenshan tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Apa kau butuh bantuanku?"

Gu Yu menggelengkan kepalanya. "Bukankah kau masih harus mengumpulkan PR matematika?"

Jiang Zhenshan teringat jadi dia duduk kembali, kemudian berbisik pelan, "Kalau begitu kau perhatikan dirimu."

Gu Yu bergumam lalu berjalan keluar dari ruang kelas.

Gu Yu tiba diruang guru di lantai dua, melapor di luar pintu, setelah mendapat izin guru, dia melangkah masuk.

Setelah memasuki kantor, Gu Yu tertegun sejenak.

Bo Shangyuan juga ada di kantor.

Tampak guru sejarah dari kelas A sedang berbicara dengan Shangyuan. Bagaimanapun, ini terlihat seperti sangat menyukai untuk mengobrol dengannya.

Guru sejarah Kelas A sangat ketat, tidak tersenyum dan tidak pernah menerima hadiah dan amplop merah. Karena itu, banyak siswa yang takut padanya.

Sangat jarang ada seorang siswa yang bisa membuatnya menyukainya.

Kinerja Bo Shangyuan baik, kualitas pembelajaran sangat baik, dan itu normal bagi guru untuk senang padanya.

Gu Yu dengan tenang melihat ke arah yang Shangyuan, lalu meletakkan pekerjaan rumah ke meja guru sejarah kelas mereka, dan kemudian bersiap untuk pergi.

Letak meja guru sejarah kelas A dekat ke arah pintu keluar.

Disaat Gu Yu berjalan melewati mereka, Shangyuan mengulurkan tangan dan dengan lembut menyentuh jemarinya.

Ujung jari yang dingin melintasi jemarinya membuat langkah kaki Gu Yu terhenti.

Gu Yu mendongak, melihat ke arah Shangyuan.

... Apa dia menyentuh tangannya?

Disisi lain Shangyuan hanya berdiri di tempat yang sama, wajahnya tanpa ekspresi seakan tidak ada yang terjadi.

Dia bertanya, "Ada apa?"

Suara Shangyuan pelan dan terdengar seperti biasa.

Gu Yu mengerutkan, mulai bertanya-tanya apa itu hanya ilusinya sendiri merasa tangannya disentuh.

Guru sejarah kelas A yang duduk di mejanya juga memandang Gu Yu dan bertanya, "Siswa, ada apa?"

Gu Yu merespon. "... Tidak ada."

Setelah itu, dia mengucapkan selamat tinggal kepada guru, lalu mengangkat kakinya dan pergi.

Ketika Gu Yu meninggalkan kantor, ekspresinya menjadi semakin bingung.

Ilusi?

Shen Teng yang melihat ekspresi bingung Gu Yu, bertanya dengan penuh rasa ingin tahu. "Apa terjadi sesuatu?"

Gu Yu berpikir untuk waktu yang lama, tidak menemukan jawaban.

Masih dengan mengerutkan kening dia menjawab, "Tidak ada."

Jiang Zhenshan dibangkunya mengangkat suara. "Shen Teng, apa kau sudah menyelesaikan PR matematika?"

Tubuh Shen Teng kaku, dan segera mengubur kepalanya, mulai lanjut menyalin pekerjaan rumahnya.

Di sisi lain, Gu Yu yang kembali duduk, meraba-raba jemarinya sendiri.

Um ... Hanya ilusi.
.
.

Kelas A.

Setelah Gu Yu pergi, tidak lama kemudian Bo Shangyuan juga kembali ke kelas.

Meskipun ekspresi Shangyuan masih sama seperti sebelumnya, tidak ada senyum, dan tidak suka didekati. Namun, dimata Duan Lun yang telah mengenalnya selama bertahun-tahun, dia melihat bahwa Shangyuan dalam suasana hati yang baik.

Tidak, harus dikatakan bahwa itu sangat baik.

Alis Duan Lun sedikit terangkat dan bertanya. "Apa yang dikatakan pria tua sejarah itu padamu, suasana hatimu menjadi sangat baik."

Shangyuan tidak menoleh. "Tidak ada."

Dia kemudian menyentuh jemarinya sendiri.
.
.

Sepuluh menit kemudian, bel kelas mandiri pagi berdering.

Shen Teng akhirnya menyelesaikan tugas matematika dan menyerahkannya pada ketua tim.

Shen Teng berkata dengan mata berkaca-kaca. "Akhirnya selesai menulis ..."

Disaat bersamaan, guru bahasa china tiba sambil membawa buku teks. "Semuanya buka halaman dua puluh  .."

Mendengar itu, Gu Yu membuka halaman buku teks.

Setelah empat puluh menit, bel berbunyi.

Belajar mandiri pagi akhirnya berakhir.

Sebagian besar orang di kelas berbaring dimeja masing-masing.

Mereka hanya bermain selama tujuh hari, jadi belum bisa menyesuaikan diri dengan kelas tadi.

Yang lain merasa mengantuk dan bersiap tidur. Sementara Gu Yu duduk dengan tenang di posisinya, tanpa rasa kantuk.

Tujuh hari liburan, mereka tidur di rumah, bermain game, atau pergi bermain dengan teman. Sedangkan Gu Yu selalu bangun lebih awal setiap hari, dan pergi ke rumah Shangyuan untuk review pelajaran.

Liburan tujuh hari Gu Yu tidak berbeda dengan mengikuti pelajaran dikelas.

Jadi dia tidak perlu menyesuaikan diri sama sekali.

Disaat Gu Yu tengah duduk dengan tenang di posisinya, tiba-tiba, teman-teman sekelas melihat ke arahnya, keluar jendela.

Gu Yu dengan bingung, menoleh mengikuti arah pandang mereka.

Belum sempat melihat, dahinya tiba-tiba disentuh dengan jari telunjuk.

Gu Yu tidak dapat mencegahnya, dia menutup mata, tangannya langsung menutupi dahinya.

Setelahnya Gu Yu mendongak lagi, jendela tampak kosong.
  
Gu Yu menarik pandangannya, lalu melihat ke mejanya, yang entah sejak kapan, tiba-tiba ada sebotol susu.

Gu Yu tidak mengerti, sedangkan para siswa di kelas melihatnya dengan jelas.

Mereka menatap Gu Yu penuh makna.

Disisi lain, setelah meletakkan susu di atas meja, Shangyuan berbalik dan pergi. Duan Lun disebelahnya mengerutkan kening. Dia tidak bisa memahami identitas Gu Yu.

Duan Lun bertanya, "Xing Bo, sebenarnya apa hubunganmu dengan kurcaci kecil?"

Shangyuan tidak merespon.

Semakin dipikirkan, Duan Lun semakin tidak mengerti. "Tidak, maksudku... kau membelikan susu, kenapa tidak kau kasih ke Jiang Zhenshan, tetapi ke kurcaci kecil?"

Langkah kaki Shangyuan tiba-tiba berhenti.

"... Jiang Zhenshan?"

Duan Lun mengangguk. "Ya."

Shangyuan yang tadi membeli susu dan ketika berdiri di dekat jendela, Duan Lun berpikir bahwa dia akan memberikan itu pada Jiang Zhenshan, dia tidak menyangka Shangyuan memberikannya pada kurcaci kecil di sebelahnya.

Apa Xing Bo salah minum obat?

Shangyuan mengerutkan kening. "... Kenapa harus diberikan padanya."

Duan Lun tidak mau berpikir, "Bukankah dia kekasihmu?"

Ketika terakhir kali Ibu Bo bertanya siapa kekasih Shangyuan, Duan Lun merahasiakannya dan tidak mengatakan sepatah kata pun.

Wajah Shangyuan langsung jelek.

"Sejak kapan dia jadi kekasihku?"

Ekspresi Duan Lun seketika membeku "... Bukan dia?"

Shangyuan menatap Duan Lun sekilas lalu berjalan pergi.

Duan Lun mengerti.

Dia seketika terkejut.

WTF ... Selama ini dia mengira gadis itu kekasih Shangyuan, ternyata bukan???

Lalu siapa sebenarnya?! Jangan katakan kalau itu adalah kurcaci kecil!
.
.

Kelas E.

Meskipun mengetahui bahwa Gu Yu tampaknya kenal dengan Bo Shangyuan, tetapi semua orang di kelas tidak menyangka bahwa Gu Yu yang hanya memiliki nilai rata-rata, tidak suka banyak bicara, juga tidak suka tersenyum, ternyata memiliki hubungan yang baik dengan Bo Shangyuan.

Dalam pikiran mereka, orang yang bisa berteman dengan Shangyuan hanya seperti Duan Lun, kaya, tampan, dan populer.

Bahkan, selama lebih dari sebulan setelah dimulainya sekolah, di kelas A yang bisa berbicara dengan Bo Shangyuan hanya Duan Lun saja.

Oleh karena itu, melihat hubungan antara Gu Yu dan Bo Shangyuan yang sangat baik, orang-orang di kelas tampak tercengang.

Dan yang utama adalah ...

Sekolah yang berlangsung selama lebih dari sebulan, ditambah setengah bulan pelatihan militer, mereka belum pernah melihat Bo Shangyuan membelikan orang lain sesuatu. Bahkan Duan Lun di kelas A.

Juga, mereka belum pernah melihat Gu Yu dan Bo Shangyuan berbicara sebelumnya, bagaimana hubungan itu tiba-tiba menjadi begitu baik?

Orang-orang di kelas tidak bisa mengerti.

Begitu Shangyuan berjalan pergi, Shen Teng duduk di depan berbalik dan bertanya. "Bo Shangyuan dari kelas A membelikanmu susu untuk apa?"

Mendengar itu, Gu Yu balik bertanya. "Yang tadi itu Bo Shangyuan?"

"Kau tidak tahu?"

Gu Yu terdiam sejenak dan berkata, "Aku tidak melihatnya."

Jiang Zhenshan yang duduk di sebelah Gu Yu berkedip polos, "... Siswa Bo membelikan siswa Gu susu, apa mungkin hanya ingin membiarkan siswa Gu tumbuh lebih tinggi?"

Shen Teng dengan tinggi lebih dari 170 mengerutkan dagunya. "Mungkin seperti itu."

"..."

Di sisi lain, Jin Shilong yang duduk di depan Jiang Zhenshan memegangi wajahnya dan berseru dengan gembira. "Aaah, ini seperti gelombang cinta dari plot komik gadis..."

Dewa sekolah yang menarik ribuan orang hanya menyukaimu seorang~

Ketika memikirkannya, batinnya menjerit histeris.

"..." - Guyu.

Shen Teng melihat lengan tebal Jin Shilong dan berkata pelan. "Long Ge, apa kau bisa turunkan tanganmu dulu?"

Jin Shilong menatapnya tidak paham. "Kenapa?"

Shen Teng bergumam 'ummm' lalu berkata, "Tampak sedikit menakutkan ..."

Jin Shilong tersenyum, "Kau mau mati atau tidak mau hidup? Um?"

Dia dengan lembut memecahkan sebuah pena.

Shen Teng mengangkat tangannya. "Aku salah."

Setelah beberapa saat, bel kelas berbunyi.

Pelajaran pertama adalah matematika.

Guru matematika membawa buku teks sambil berjalan ke podium. Begitu langkah kakinya berhenti, dia dengan dingin memanggil nama tiga orang.

"Chen Chuxuan, Wang Wei, Liu Zhixuan, maju kedepan."

Ketiga lelaki itu menyahut kemudian dengan wajah pucat dan kepala menunduk, mereka perlahan berdiri dan berjalan ke podium.

Guru matematika berkata dingin. "Beraninya kalian tidak menulis satu pertanyaan pun, dan langsung mengumpul tugas kosong. Apakah itu diizinkan oleh orang tua, atau kalian meremehkan guru?"

Ketiga lelaki itu menunduk dan tidak berani berbicara.

Orang-orang di kelas itu menatap ketiga pria di podium, menahan napas, takut mereka akan dipanggil berikutnya.

Setelah itu, guru matematika membaca beberapa nama lagi.

"Yu Beili, Zhao Zixuan, Zhou Shen  ... PR kalian belum selesai, pindahkan kursi kalian diluar dan salin pertanyaan serta jawabannya lima puluh kali."

Mereka yang dipanggil merasa lega.

Hanya lima puluh kali, tidak apa-apa ...

Setelah itu, guru matematika menambahkan, "Salin 50 kali untuk satu pertanyaan, dan tidak diizinkan masuk kelas jika tidak selesai!"

Mereka berubah pucat dan putus asa.

Satu pertanyaan lima puluh kali, matilah...

Setelah itu, guru matematika membaca nama lain.

"Gu Yu."

Gu Yu tertegun lalu perlahan bangkit dari bangkunya.

Mata Gu Yu kosong.

Dia telah menulis pekerjaan rumahnya ...

Duduk di depan dan di belakang Gu Yu, Jiang Zhenshan, Shen Teng dan Jin Shilong juga dalam suasana hati yang salah.

Gu Yu mengerjakan PRnya, kenapa namanya dipanggil?

Takut guru matematika melakukan kesalahan. Jiang Zhenshan membuka suara. "Guru, dia menulis pekerjaan rumah!"

Guru matematika merespon tanpa mengangkat matanya, "Aku tahu."

Setelah membalik buku kerja matematika Gu Yu dan menutupnya. Guru matematika memberi pujian. "Dalam pekerjaan rumah semua orang, hanya Gu Yu yang benar semua. Sangat baik, pertahankan."

Gu Yu yang tidak menyangka diberi pujian, tertegun sejenak.

Guru matematika kemudian bertanya, "Selama Hari Nasional, apa siswa Gu mengikuti kelas tambahan?"

Guru matematika mengetahui kesulitan dari pekerjaan rumah, dan juga melihat skor matematika dari ujian bulanan Gu Yu dan skor matematika dari ujian simulasi. Oleh karena itu, dapat ditebak bahwa Gu Yu bisa mengerjakan semuanya pasti berkat mengikuti kelas tambahan, atau seseorang membimbingnya.

Gu Yu yang masih tertegun bergumam mengiyakan.

Guru matematika kemudian bertanya, "Berapa hari?"

Gu Yu dengan jujur ​​menjawab, "Tujuh hari ..."

Guru matematika merasa puas, "Oke, duduk."

Gu Yu perlahan duduk.

Guru matematika kembali memarahi siswa yang tidak menulis pekerjaan rumah. "Lihat Gu Yu, dia mengikuti kelas tambahan selama cuti tujuh hari! Dia suka belajar, sadar kalau nilai matematikanya tidak baik, jadi dia ikut kelas tambahan! Kalian malah tidak menulis pekerjaan rumah! Aku tidak berpikir kalian ingin lulus!"

Ketiga pria itu menundukkan kepala dan tidak mengatakan apa-apa.

Jiang Zhenshan berbisik pada Gu Yu. "Apa kau benar-benar ikut kelas tambahan selama tujuh hari?"

Gu Yu bergumam mengiyakan.

Jiang Zhenshan menundukkan kepalanya dan suaranya sedikit tertekan. "Tiba-tiba aku merasa aku tidak sepertimu. Aku belum melakukan apa pun di rumah selama tujuh hari ..."

Dia juga ingin mengikuti kelas tambahan.

Gu Yu tidak berbicara.

Mungkin karena ini pertama kali dibanggakan guru, pikiran Gu Yu masih kosong.

Gu Yu tiba-tiba mendengar guru matematika di podium memanggil namanya.

Gu Yu mendongak dan menatap podium. Dia melihat guru matematika menatapnya, memegang sepotong kapur di tangannya dan memanggilnya maju kedepan. "Gu Yu, kesini untuk selesaikan masalah ini."

Jiang Zhenshan melihat pertanyaan di papan tulis. Ekspresinya khawatir. "Pertanyaan ini sangat sulit, apa kau bisa melakukannya?"

Gu Yu melihat topik di papan tulis dan tiba-tiba mengerjap.

Kebetulan itu adalah topik yang dibahas Shangyuan beberapa hari yang lalu.

Gu Yu menggosok bibirnya dan berkata, "... Ya."

Gu Yu pergi ke podium dan menuliskan proses dan menjawab masalah.

Guru matematika melihat jawaban Gu Yu sedikit terkejut.

Guru matematika tahu kesulitan topik itu, jadi dia hanya mencoba meminta Gu Yu untuk menuliskannya. Tidak menyangka Gu Yu bisa menjawabnya.

Yang lebih menakjubkan lagi adalah Gu Yu masih sangat cakap.

Setelah Gu Yu selesai menulis, meletakkan kapur, dan melihat wajah guru matematika itu terlihat aneh, jadi dia menjelaskan. "Kelas tambahan ... Guru sudah menerangkan jenis pertanyaan ini."

Shangyuan tidak hanya berbicara tentang itu, tetapi juga menyuruhnya salin dua puluh kali.

Karena itu Gu Yu masih mengingatnya dengan sangat jelas.

Guru matematika tersenyum. Dia menyukai siswa yang seperti Gu Yu. Dia mengangkat tangan dan menggosok kepala Gu Yu, berkata dengan lembut, "Oke, kembali ke bangkumu."

Gu Yu sedikit membungkuk /memberi hormat/ kemudian kembali ke bangkunya.

Guru matematika mulai menganalisis proses pemecahan masalah yang diselesaikan Gu Yu kepada siswa dikelas setelahnya.

Jiang Zhenshan menatap Gu Yu dengan penuh kagum. "Wow, kau bisa menulisnya, itu luar biasa!"

Shen Teng juga berbalik, "Xiao Yu Yu!"

Gu Yu diam sejenak lalu berkata, "Ini berkat kelas tambahan ... guru mengajar dengan baik."

Ketika dia berbicara tentang guru, suaranya berhenti secara tidak wajar.

Jiang Zhenshan mendengarkan dan berbisik, "Ah, apa bisa aku tahu guru yang mana? Terlalu hebat ... Aku juga ingin dia mengajariku."

"... guru ini sepertinya tidak siap untuk mengajar orang lain."

Jiang Zhenshan tampak kecewa. "Begitu ya ..."

Entah karena alasan Shangyuan memberinya review pelajaran. Dalam beberapa hari terakhir, Gu Yu selalu dipuji berbagai guru.

Pertama adalah guru matematika, lalu guru geografi, kemudian guru fisika ...

Hampir setiap guru memujinya.

Oh, tentu saja, kecuali guru pendidikan jasmani.

Ketika Gu Yu masih di sekolah menengah pertama, dia hampir tidak dipuji oleh guru. Karena itu, dia sangat tidak nyaman.

Ketika dia dipuji oleh guru pada awalnya, dia tertegun, kemudian tersanjung, dan setelahnya dia menjadi rumit.

Karena dia tidak suka belajar sama sekali, jadi kalau bukan karena Shangyuan yang mengancamnya untuk memposting diforum sekolah, dia tidak akan review pelajaran pada Shangyuan.

Dalam tujuh hari review pelajaran, dia merasa tertekan, dan menyesal mengapa dia harus berbicara dengan Shangyuan.

Karena guru terus memuji, banyak teman sekelas datang untuk bertanya kepada Gu Yu siapa guru yang memberinya kelas tambahan dan ingin meminta informasi kontak guru.

Gu Yu tidak memberikannya.

- Dia tidak bisa memberikannya.

Gu Yu tidak memberi, teman-teman sekelas di kelas mengatakan di belakangnya bahwa dia egois, bahkan menolak untuk memberi kontak guru kelas tambahan.

Namun, siapa yang bisa memikirkan kalau guru yang disebut Gu Yu itu adalah Bo Shangyuan.
.
.

Lima hari berlalu.

Ini akhir pekan.

Pada jam 9 pagi di hari sabtu, Shangyuan duduk di sofa di ruang tamu dan mengirim pesan ke Gu Yu.

[ Kemari. ]

Pihak lain merespons dengan cepat.

[ Oh. ]

[ Segera. ]

Melihat Gu Yu yang sangat patuh kali ini, Shangyuan mengerutkan kening, dia merasa aneh.

Shangyuan menatap dua pesan itu, mempelajarinya sebentar.

Apa mungkin dia hanya berpura-pura, dan kemudian menunda waktu?

Atau, apa ibu Gu mengatakan sesuatu padanya kemarin?

Atau ... sesuatu yang lain?

Tepat Shangyuan masih menerka sambil menatap dua pesan di WeChat, pintu depan diketuk.

Shangyuan bangkit dan membuka pintu.

Gu Yu berdiri di depan rumahnya sambil memeluk buku tugas, menatapnya dan dengan tenang menyapa selamat pagi.

Shangyuan mengangkat alisnya.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments