41. Ringkasan akhir tahun

Ketika berpisah, Guo Zhi tidak tahu bagaimana mengucapkan selamat tinggal. Ia meletakkan tumpukan amplop berisi foto di sebelah Shi Xi dan kemudian melarikan diri. Dia berlari ke dunia Shi Xi dan keluar dengan melarikan diri. Di dunia Shi Xi, hanya kecepatan seperti itu yang bisa meringankan harapan dan keengganan. Ketika ia sampai di rumah dan menutup pintu dengan hati-hati, Guo Zhi sadar masih mengenakan jaket Shi Xi. Ia tak tahan untuk berubah khawatir. Guo Zhi kembali ke kamar dan duduk di tempat tidur. Ia mengirim pesan singkat.

[ Shi Xi, kau tidak boleh mati membeku. ]

Pesannya belum dijawab. Shi Xi memang bukan orang yang suka membalas pesan. Ponselnya seperti hiasan yang diletakkan di sebelah komputer hanya untuk menindih kertas.

Guo Zhi berbaring di tempat tidur, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket dan menemukan ada selembar kertas di dalamnya. Dia menjepit selembar kertas itu dan menatap langit - langit, ragu. Ini ada didalam jaket Shi Xi, jika dia melihatnya sendiri, apa dia melanggar privasi Shi Xi? Tetapi moralitasnya selalu lemah di hadapan cinta, dan ia mengirim pesan lagi.

[ Ada selembar kertas dijaketmu, bisa aku membukanya? Jika kau tak balas, aku anggap kau setuju. ]    

Guo Zhi menatap layar dan menunggu selama lima menit. Biasanya, dia seharusnya tidur lebih awal saat ini. Hari ini, dia tidak mengantuk. Ketika Shi Xi tidak menjawab, Guo Zhi membukanya. Itu adalah kertas dengan tulisan familiar nama Shi Xi diluarnya.

Ternyata kertas ini adalah surat yang Guo Zhi tulis untuk Shi Xi saat itu. Ternyata Shi Xi membawanya.    
    
Guo Zhi membuka kertas itu dengan hati-hati, kertas itu memiliki coretannya dan bekas-bekas noda, serta bahasa yang aneh, Guo Zhi tak tahan untuk berbaring di tempat tidur dan menyalahkan diri sendiri. "Aku telah menulis sesuatu yang aneh!" Tiba-tiba membidik kalimat terakhir dari dikertas itu.
    
(Ah, aku tidak bisa memikirkannya, bagaimana ini, sayang.)

Tiga kata terakhir diolesi oleh sensasi, tetapi itu ditutupi tanda kurung, dan ada kalimat tambahan: Kau bisa menulisnya dengan kurang ajar, tapi masih takut aku melihatnya?   

Guo Zhi menarik selimut menutupi kepalanya dan tertawa geli. Orang yang jatuh cinta memang seperti orang gila, dan itu benar.
    
Dia benar - benar memanggilnya sayang.
Jangan terlalu mudah percaya, ia akan memanggilnya seperti ini, selalu.

Guo Zhi menetapkan ide itu, menempel surat didadanya dan tertidur lelap.
.
.

Beberapa hari setelah hari itu, adalah Malam Tahun Baru. Keluarga Guo Zhi semakin tampak hidup, anak-anak penuh diruangan, para lelaki berdiri di balkon dan merokok, dan para wanita memasak kue di dapur. Guo Ruojie memegang sekantong keripik kentang di dadanya dan menonton TV. Setelah Guo Zhi menyambut tamu, ia duduk di sebelah Guo Ruojie. "Sepupu."

"Apa?"

"Kau menyisir rambut hari ini!" 

Guo Ruojie meraup keripik kentang dan melemparnya pada Guo Zhi. Keripik itu jatuh dipakaian Guo Zhi, ia memungutnya lalu memasukkan kemulut. "Sepupu, jangan begini. Waktu itu aku sudah cukup baik meminta Shi Xi menulismu sebagai pelacur. Mungkin karena perilakumu ini Shi Xi menolaknya. Sangat disayangkan kau kehilangan kesempatan menjadi pelacur."

"Yeah, aku benar-benar mengimpikan menjadi pelacur." Respon Guo Ruojie ironis. Guo Zhi berpikir itu benar jadi ia menghiburnya, "Tidak apa, sepupu. Masih banyak kesempatan untuk mewujudkan mimpimu."

Guo Ruojie kembali melempar keripik kentang pada Guo Zhi, dia terlalu malas melanjutkan topik ini, beralih bertanya, "Novel apa yang dia tulis?"   
    
"Em, saat ini dia hanya iseng menulis. Nanti dia akan menulis novel yang indah, dia akan menjadi penulis!" Kebanggaan itu tidak bisa disembunyikan dalam nada bicaranya.

"Apa sekarang kau sedang membanggakan kekasihmu?"

"Dia pantas untuk dibanggakan. Bahkan jika aku mengenalkannya pada orangtuaku, aku akan dengan bangga menyebutnya sebagai kekasihku."

"Lalu ayahmu akan menamparmu." Guo Ruojie hanya bercanda. Dia tak tahu masa lalu Guo Zhi. Itu menjadi rahasia dikeluarga kecil Guo Zhi. Wajah Guo Zhi berubah sekilas sebelum kembali biasa. Dia dengan lembut mendatarkan mulutnya dan ada rasa tak berdaya di bibirnya, "Jika aku tidak bangga pada diriku sendiri, siapa yang bisa bangga padaku?"

"Kau tidak takut?"

"Aku, aku sebenarnya hampir mati ketakutan."

Guo Ruojie memasukkan keripik kentang kedalam mulutnya, "Tidak masalah. Aku hanya akan makan keripik kentang dan menonton pertunjukan bagus ini didekatku."    
    
"Kau tidak membantuku?" 

"Apa aku bisa ikut campur untuk masalah seperti ini?"

"Tapi mungkin dengan kau turut membantuku, aku akan lebih berani."

"Tujuanku adalah untuk menimbun kalori, bukan kekuatan fisik untuk melakukan hal semacam ini."

Zhou Hui membawa pangsit besar, "Ayo, makan pangsit." Semua orang duduk di sekitar meja, anak - anak sangat ingin mengambil kue pangsit langsung dan memasukkannya ke dalam mulutnya, Guo Yunyong mengambil anggur, menyambut para tamu, dan Guo Zhi memotret kue pangsit didepannya dan diam-diam dikirim ke Shi Xi. Selalu ada banyak hal kecil untuk dibagikan dengannya.
  
"Di keluarga kita, Guo Zhi adalah yang paling menjanjikan, patuh, dan rajin." Ayah Guo Ruojie minum dan memujinya. 
    
Guo Yunyong menggeleng. "Tidak begitu. Ruojie juga bagus.

"Dia terlalu malas sepanjang hari, jika ini terus berlanjut, aku khawatir tidak ada pria yang berani menikahinya nanti."    

Yang lain tertawa, Guo Zhi hanya memperhatikan, tidak peduli seberapa baik dia, suatu hari dia akan mengecewakan orang tuanya dan mengecewakan semua orang. Dia memaksa dirinya untuk tidak memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan. Guo Zhi sudah mengisi perutnya dan menjauh dari meja makan. Yang lain masih mengobrol tentang cuaca. Guo Zhi berdiri di balkon dan menyentuh ponsel.
    
Dia berjongkok di pagar dan menelpon Shi Xi. Ketika panggilan diangkat, dia langsung bertanya, "Kenapa kau tidak membalas pesanku?"
  
"IQku tidak mengijinkan melakukan itu."

"Pesanku tidak secacat itu. Aku mengirimnya banyak, setidaknya balaslah satu!" Guo Zhi meratakan bibirnya, jemari kakinya dengan pelan menendang pagar.   

Ketika Shi Xi tidak bicara, Guo Zhi melanjutkan, "Jangan membodohiku. Aku sangat terpukul. Kau mengecewakanku di hari terakhir tahun ini. Kau memberiku ringkasan akhir tahun yang sangat buruk."

"Guo Zhi, aku tak membalas bukan berarti kau tak penting, mengerti?"

Kalimat itu tanpa permisi menerobos pertahanan Guo Zhi, "Mengerti."

"Kau ini tidak punya IQ atau memang idiot? Mau saja dibodohi dengan satu kalimat."    
   
"Kau! Kau bukan orang yang serius!"

Tahun ini Guo Zhi benar-benar ingin meyakinkan diri untuk bagaimana cara memperkuat kemampuannya. Ponsel masih melekat erat ke wajah kiri, dia berbalik dan menghadap ke arah ruang tamu, mengarah ke rotan di sudut. Jari-jarinya yang dingin masuk ke pakaian dan menyentuh bekas lukanya.
    
"Shi Xi, Selamat tahun baru."

"Kau juga."    

Ketika ada orang yang dicintai, semua rasa sakit yang perlu dipertahankan dan semua beban yang harus dibayar menjadi bermakna.

Tahun ini akan segera berakhir. Guo Zhi bertemu Shi Xi di tahun ini, jadi ringkasan akhir tahun ini hanya memiliki dua kata: sangat bagus. 

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments