41. Duan Lun bahkan curiga bahwa Bo Shangyuan mungkin bermarga Liu.

Kali ini, Gu Yu atas inisiatif sendiri.

Dia dengan tenang melewati Shangyuan dan melangkah ke dalam rumah.

Gu Yu langsung duduk di depan bar merah dan terus menyalin pertanyaan yang belum disalin kemarin.

Kemarin, Gu Yu masih enggan untuk menyalin, dan wajahnya dipenuhi dengan kebencian. Namun kali ini dia melakukannya atas inisiatif sendiri sama sekali tidak seperti biasanya.

Sangat aneh.

Shangyuan berdiri dibelakang Gu Yu sambil mengerutkan kening, "Apa yang terjadi?"

Gu Yu merespon tanpa mengangkat wajahnya. "Tidak ada."

Gu Yu selalu suka menyimpan hal-hal di dalam hatinya, dan kali ini tidak terkecuali.

Bukan apa-apa. Dia hanya terbiasa.

Mendengar itu kening Shangyuan berkerut semakin dalam.

Itu tidak terlihat seperti tidak ada apa-apa.

Tetapi bahkan jika Gu Yu tidak mengatakannya, Shangyuan bisa menebak satu atau dua.

Kemarin di rumahnya, dia masih baik-baik saja. Gu Yu pulang pada malam hari dan ketika dia kembali keesokan harinya, dia menjadi seperti ini... Jika terjadi sesuatu, pasti Ibu Gu mengatakan sesuatu padanya tadi malam.

Hati Shangyuan merasa sedikit kesal.

Dia memikirkan solusi yang belum terpecahkan.
 
Atau lebih tepatnya, ada cara untuk menyelesaikan masalah.

Tapi Gu Yu hanya diam, tidak pernah mau berbicara, bahkan jika Shangyuan ada banyak cara dan berguna, selama Gu Yu memilih tidak bicara, Shangyuan tidak bisa ikut campur.

Di sisi lain, mungkin karena tidak tidur nyenyak semalam, Gu Yu yang terus menyalin perlahan-lahan semakin menunduk dan akhirnya, dia jatuh tertidur.

Kepala Gu Yu terbaring diatas buku tugasnya, menutup mata dan tertidur.

Di belakangnya, Shangyuan mengangkat alis melihat Gu Yu yang berbaring dan tidak bergerak untuk waktu yang lama, "... Gu Yu?"

Tidak ada tanggapan.

Gu Yu sudah tertidur nyenyak.

Shangyuan mendekat ke bar merah melirik Gu Yu.

Gu Yu menutup matanya, bibirnya sedikit terbuka, dan bernapas dengan teratur.

Shangyuan menatap Gu Yu sebentar, lalu membungkuk, memeluk, dan mengangkatnya dari kursi dengan hati-hati.

Tubuh Gu Yu kurus dan sangat ringan.

Shangyuan nyaris tanpa usaha, dia dengan mudah menggendongnya.

Dia membawa Gu Yu berjalan melewati ruang tamu, lalu masuk ke kamar tidur.

Dan kemudian perlahan merebahkannya diatas kasur, lalu melepas sepatu dan jaketnya, dan akhirnya menutupinya dengan selimut.

Karena Shangyuan tidak mengantuk, dia duduk di tepi tempat tidur dan menatap wajah tidur Gu Yu.

Gu Yu sangat tenang ketika tertidur, tidak mendengkur, dan tidak melantur apa-apa. Dia tertidur dengan tenang dan tidak bergerak.

Sebenarnya, ini pertama kalinya dia membiarkan orang lain berbaring di ranjangnya.

Duan Lun tahu Shangyuan tidak suka orang lain tidur ditempat tidurnya, jadi meskipun dia sudah memasuki kamarnya, dia tidak pernah berbaring di ranjang Shangyuan.

Pada saat ini, Gu Yu dengan tenang berbaring diranjangnya, tetapi tidak ada perasaan kesal dihati Shangyuan, dia lebih merasa Gu Yu semakin manis.

Shangyuan tidak bisa menahan diri untuk menangkap jemari Gu Yu dan mulai memainkannya.

Gu Yu tidak tinggi, jadi tangannya juga kecil. Tangan Gu Yu hampir bisa dibungkus dengan tangan Shangyuan sepenuhnya.

Shangyuan dengan lembut meremas-remas satu per satu jemari Gu Yu untuk sementara waktu. Kemudian, jarinya menyelinap dan mulai menelusuri pembuluh darah biru pucat di punggung tangan Gu Yu.

Kulit Gu Yu tipis, jadi pembuluh darah birunya sangat jelas di bawah kulitnya.

Jari-jari Shangyuan menyentuh pembuluh darahnya sampai pergelangan tangan. Setelahnya, dia menjerat lima jarinya pada jemari Gu Yu.

Gu Yu yang tengah tertidur tidak menyadari bahwa tangannya telah berubah menjadi mainan.

Ponsel Shangyuan di ruang tamu tiba-tiba berdering.

Dering ponsel yang menusuk terdengar tidak terduga, Gu Yu mengerutkan kening, dan bersiap membuka matanya.

Shangyuan segera memeluknya, tangan lainnya menepuk punggung Gu Yu dengan lembut, lalu berbisik ditelinganya, "Tidak apa, terus tidur."

Gu Yu perlahan menutup matanya lagi.

Memastikan Gu Yu kembali tertidur, Shangyuan perlahan bangkit dan pergi ke ruang tamu untuk mengambil ponselnya.

Shangyuan mengerutkan alisnya, wajahnya jelek.

Seharusnya tidak dihidupkan hari ini.

Pihak lain sangat gigih, dan terus-menerus meneleponnya, dan ponselnya terus berdering.

Shangyuan bersiap akan menyampaikan beberapa kata. Namun di layar ponsel menunjukkan nomor asing yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Mata Bo Shangyuan berubah dingin sampai ekstrem.

Shangyuan menatap nomor ponsel itu sejenak, lalu menerima panggilan.

Suara raungan ayah Bo langsung terdengar diujung telepon. "Aku meneleponmu kemarin, kenapa tidak diangkat?!"

"Tidak ada alasan."

Ayah Bo menjadi lebih marah. "Kau pindah keluar dan bersikap mandiri! Tidak peduli lagi padaku! Ya, percaya atau tidak—"

Tidak menunggu ayah Bo selesai, Shangyuan langsung memotong. "Jika kau menelepon hanya untuk mengatakan ini, aku akan tutup."

Suara Ayah Bo tertahan.

Jika Shangyuan berbicara tentang menutup telepon, itu benar-benar akan dia lakukan.

Ayah Bo menekan emosinya. "Kenapa kau tidak pulang ke rumah kemarin?"

Karena kemarin Shangyuan tidak pulang, neneknya merutuk pada ayah Bo, dan mengatakan semua ini salah ayah Bo karena membawa wanita bernama Li Shuhui itu, sehingga cucunya tidak mau kembali.

Ayah Bo tahu akan perbuatannya jadi dia diam mendengarkan.

Meskipun tidak ada bicara, tetapi hati ayah Bo semakin terbakar. Ketika selesai dirutuk, ayah Bo mengganti nomornya dan terus menelepon Bo Shangyuan. Namun Shangyuan tetap tidak menjawab.

Shangyuan kembali merespon. "Tidak ada alasan."

Mendengar itu, emosi ayah Bo semakin membara. Dia menggebrak meja, "Dasar kau-"

Ibu tiri muda Bo Shangyuan, Li Shuhui, berbisik pelan di belakangnya. "Jangan marah, kenapa kau memarahi anakmu? Marah itu tidak baik untuk tubuhmu ..."

Ayah Bo merespon dengan senang. "Dikeluarga ini hanya kau yang paling pengertian..."

Shangyuan mengerutkan kening jijik.

Suasana hatinya yang tadinya baik kini lenyap karena panggilan telepon ini.

Setelahnya Li Shuhui kembali bersuara sambil terisak. "Itu semua salahku. Jika bukan karena keluargaku yang tidak baik, Xiaoyuan tidak akan memandangku rendah ..."

Benar saja, ayah Bo yang begitu dipengaruhi ibu tirinya, seketika semakin marah.

Ayah Bo bertanya dingin. "Apa kau memandang rendah Li -"

Shangyuan langsung memotong. "Ya."

Setelahnya dia langsung menutup telepon, tidak lupa mematikan ponselnya.

Sepertinya dia harus mempertimbangkan untuk mengubah nomor.

Shangyuan meletakkan ponselnya dan kembali lagi ke kamar.

Melihat Gu Yu yang masih tertidur dengan tenang, suasana hatinya membaik.

Shangyuan berbaring di tempat tidur, dengan lembut meletakkan Gu Yu ke lengannya, dan kemudian menutup matanya.
.
.

Ketika Gu Yu bangun, hari sudah sore.

Gu Yu bahkan tidak ingat kapan dia tertidur. Begitu membuka matanya, dia perlahan-lahan bangun dan duduk tempat tidur lalu mengamati sekeliling yang tampak asing, dia bengong.

Dimana ini?

Karena Gu Yu belum pernah ke kamar Shangyuan jadi dia tidak tahu ruangan ini.

Gu Yu duduk di tempat tidur, bengong sejenak lalu bangkit dari ranjang.

Mungkin karena dia baru bangun, kakinya terasa kosong dan tubuhnya masih linglung.

Gu Yu berjalan keluar dari kamar, lalu melihat Shangyuan tengah sibuk di dapur.

Pikiran Gu Yu masih kacau, dia belum sadar sepenuhnya.

Ketika mendengar suara di belakangnya, Shangyuan membuka suara tanpa berbalik. "Apa kau ingin cuci muka atau langsung makan malam?"

Gu Yu hanya berkedip dan tidak menanggapi.

Shangyuan berbalik dan bertanya lagi, Apa kau ingin cuci muka atau langsung makan malam, hm?"

Gu Yu akhirnya sadar dan berkata, "Cuci muka."

"Ada handuk bersih di kamar mandi, kau bisa menggunakannya."

Gu Yu bergumam 'um' lalu tanpa sadar mengatakan terima kasih.

Shangyuan menggerakkan jarinya.

Gu Yu berjalan mendekat sambil memandangnya bingung. "?"

Detik berikutnya, Shangyuan mengulurkan tangan lalu memeluk Gu Yu.

Satu tangan memeluk pinggangnya, tangan yang lain mencubit wajahnya, dan kemudian seperti mendesah, dia berbisik, "Sangat manis ..."

Gu Yu bengong menatap Shangyuan.

Shangyuan melepasnya dan berkata, "Pergi cuci muka lalu makan."

Masih tertegun, Gu Yu dengan patuh berjalan menuju kamar mandi.

Dia berdiri di depan wastafel kamar mandi dan mencuci wajahnya dengan air dingin, perlahan-lahan mulai terbangun.

Ketika kesadaran berangsur-angsur kembali, semakin dia berpikir, semakin terasa ganjil.

Tunggu ... Bagaimana rasanya ada yang salah?

Gu Yu terus merenung sampai duduk di meja makan, dia masih belum bisa menemukan jawabannya.

Tidak hanya makanan kemarin, tetapi juga mie buatan Shangyuan hari ini sangat lezat.

Ketika Gu Yu mengambil gigitan pertama, dia segera melupakan renungannya.

Disaat Gu Yu tengah menikmati makanannya, Shangyuan yang duduk diseberang berkata dingin, "Masih ada 30 kali yang belum disalin, lanjutkan setelah makan."

"..."

Seketika rasa menyenangkan tadi hilang tanpa jejak.
.
.

Dalam sekejap mata, tujuh hari berlalu.

Liburan akhirnya berakhir.

Gu Yu yang merasa pada awalnya daripada diam di rumah, lebih baik review pelajaran dirumah Shangyuan karena setidaknya Shangyuan tidak akan mengomel padanya.

Tapi tidak lama kemudian, Gu Yu menemukan bahwa Shangyuan terlalu naif.

Lebih baik dirumah Shangyuan tetapi dia dengan ibu Gu tidak berbeda jauh.

Pada hari kedelapan, Gu Yu pergi ke sekolah lebih awal, karena takut bertemu Shangyuan.

Begitu dia tiba di sekolah, Shen Teng mencoba dengan tenang bertanya padanya, "Xiao Yu Yu."

Gu Yu melihat ekspresi Shen Teng yang tiba-tiba serius menjadi tidak mengerti.

Shen Teng bertanya padanya dengan tatapan serius, "Kenapa kau menyeretku ke daftar hitam!"

Gu Yu semakin tidak mengerti

Daftar hitam? Menyeret apanya?

Ekspresi Shen Teng berubah sedih. "Apa Xiao Yu ada cinta baru jadi tidak ingin lagi berteman denganku?"

Jin Shilong buru-buru menyela di samping, "Hey, Shen Teng, kata cinta baru tidak bisa digunakan dengan biasa—"

"..." - Gu Yu.

Gu Yu memandang Shen Teng sebentar dan menemukan bahwa Shen Teng tidak bercanda, jadi dia mengeluarkan ponselnya dan melihatnya.

Gu Yu membuka WeChat dan melihat akun "Teng Teng" di daftar hitam.

Dalam tujuh hari ini, Gu Yu tidak terlalu menyentuh ponselnya karena dilarang Shangyuan.

Apa Bo Shangyuan yang memblacklistnya?

Gu Yu tidak mengerti.

Gu Yu terdiam beberapa saat lalu berkata, "Aku tidak melakukannya."

Shen Teng tertegun. "Lalu siapa?"

Gu Yu diam sejenak. "Guru yang membentuk kelas tambahan."

Kalimat ini bukan bohong.

Shen Teng tidak mengerti, "Kenapa guru yang memberimu kelas menyeretku ke daftar hitam?"

"Saat kau mengirimku pesan, dia mendengarnya."

Shen Teng tampak mencoba memahami. "Jadi, agar kau belajar dengan giat, dia memblacklistku?"

Wajah Gu Yu tenang. "Ya."

Shen Teng mencebik, "Guru yang memberimu review pelajaran benar-benar abnormal!"

Gu Yu tidak ragu untuk bergumam setuju.

Ya, memang abnormal.

Pada saat bersamaan.

Kelas A.

Setelah Shangyuan tiba di sekolah, Duan Lun bertanya ambigu. "Apa yang sudah kau lakukan dengan kekasihmu selama tujuh hari?"

Menurut akal sehat, bersama selama tujuh hari, pasti ada yang terjadi.

Shangyuan tidak menoleh. "Review pelajaran."

Sudut mata Duan Lun berkedut dan ekspresinya sedikit terdistorsi, "Jangan katakan padaku, kau dan kekasihmu tidak melakukan apa pun di rumah selama tujuh hari, hanya review pelajaran."

Shangyuan bergumam mengiyakan.

Ekspresi Duan Lun seketika terkejut.

Dia menatapnya tidak bisa percaya. "Sialan ... Tujuh hari di rumah hanya berduaan, tidak ada yang terjadi?"

Duan Lun bahkan curiga bahwa Bo Shangyuan mungkin bermarga Liu.

Duan Lun tidak mempercayainya. Dalam tujuh hari ini, Xing Bo bahkan tidak memegang kekasihnya dan hanya sekedar mereview pelajaran.

Jika benar, Duan Lun akan memberi keduanya penghargaan siswa yang baik, lalu menempel foto mereka di tembok dan memberi hormat setiap hari.

Duan Lun bertanya, "Tidak memegang tangan?"

"Tidak."

Duan Lun tertegun. "Ciuman?"

"Tidak."

Duan Lun tidak bisa menahannya.

"Sialan ... Kau ganti saja namamu jadi ¹Liu Xiahui ..."

¹Mendeskripsikan pria yang mempunyai gender isu.

Shangyuan melemparkan dua kata dengan dingin. "Tidur bersama."

Duan Lun tertegun, matanya melebar. "Apa? Apa yang baru saja aku dengar? Tidur-"

Ini tidak masuk akal.

Duan Lun semakin terkejut.

WTF! Xing Bo melewatkan basis pertama dan basis kedua, dan langsung menuju basis ketiga!

Duan Lun tiba-tiba merasa bahwa dia yang selalu memiliki banyak selir, ternyata Shangyuan lebih tidak murni darinya!

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments

Post a Comment