40. Kembalikan milikku!

Gu Yu memeriksa pertanyaan untuk ketiga kalinya bersamaan dengan Bo Shangyuan selesai memasak.

Shangyuan mematikan api, mencuci tangan, dan tanpa menoleh membuka suara. "Makan."

Gu Yu perlahan menutup buku kerja, dia dengan ekspresi berat melihat makanan yang disajikan di atas meja.

Harum makanan memenuhi dalam rumah. Namun, pada saat ini, pikiran Gu Yu hanya penuh dengan ucapan Shangyuan yang 'menyalin sepuluh kali'.

Gu Yu melakukan pertanyaan salah sebelumnya, bahkan jika itu adalah seorang guru, dia hanya membiarkannya memperbaikinya tepat waktu, tidak pernah membiarkannya menyalin sepuluh kali.

Setelah Gu Yu tiba didepan meja makan, Shangyuan mengulurkan tangannya, "Berikan!"

Gu Yu perlahan menyerahkan buku kerja di tangannya.

Shangyuan menerimanya tanpa ekspresi. "Sudah periksa berapa kali?"

Gu Yu dengan jujur ​​menjawab, "Tiga kali."

Shangyuan bergumam samar, lalu menyuruh Gu Yu duduk dan mulai makan, sementara dia duduk disisi berlawanan memeriksa pekerjaan rumahnya.

Masakan Bo Shangyuan sangat enak, setiap hidangan terlihat enak, dan rasanya lezat, bisa dibandingkan dengan koki hotel bintang lima di luar.

... tapi bagi Gu Yu itu tidak ada rasa.

Shangyuan berkata tanpa ekspresi. "Pertanyaan ketiga salah."

"..."

"Aku ingat sudah menuliskan untukmu di draft paper. Bagaimana bisa kau masih salah? Pertanyaan ini disalin dua puluh kali."

"... Bukankah kau bilang hanya salin sepuluh kali?"

"Aku sudah menjelaskannya tetapi kau masih bisa membuat kesalahan, bagaimana kau bisa mengingatnya dengan hanya sepuluh kali?"

"Oh ..."

Gu Yu menunduk dan dalam diam memakan makanannya.

Shangyuan mengerutkan kening ketika melihat pertanyaan selanjutnya. "Pertanyaan keempat juga salah."

"..."

"Kesalahan yang sama dengan pertanyaan sebelumnya, salin dua puluh kali."

"..."

Gu Yu tidak mengatakan apa-apa.

Setelah lima belas menit, Shangyuan menutup buku kerja.

Shangyuan dengan wajah dingin membuka suara. "Dari 14 pertanyaan, salah delapan pertanyaan. Ini hasil inspeksimu tiga kali?"

Gu Yu menggunakan sumpit untuk menggambar lingkaran di mangkuknya sambil merespon "Nilai matematikaku selalu tidak begitu baik ..."

"Tiga, empat, delapan, sebelas salinan dua puluh kali. Tujuh, sembilan, tiga belas, empat belas salinan sepuluh kali."

Gu Yu menunduk sedih. "Oh ..."

Dia tiba-tiba memikirkan sesuatu dan matanya berbinar. "Apa bisa aku mengajak seseorang untuk datang kesini dan belajar bersama?"

Kening Shangyuan agak mengerut.

Gu Yu melanjutkan, "Dia Shen Teng yang duduk di depanku, kinerja matematikanya tidak baik."

Dia sendirian seharian penuh menyalin seratus dua puluh pertanyaan.

Gu Yu tidak ingin membayangkan tangannya akan lembek.

Memikirkan adegan itu, Gu Yu merasa tertekan.

Tapi ... Jika Shen Teng mengikutinya, Gu Yu tidak akan merasa begitu sulit.

Dikatakan bahwa ada berkah di tempat yang sama. Dia diam-diam membuat kelas di sini. Bagaimana dia bisa memperlakukan Shen Teng sebagai teman?

Dia menarik Shen Teng untuk review pelajaran dengannya, dan itu juga demi kebaikan Shen Teng. Ketika hasil tes bulanan Shen Teng meningkat, dia pasti akan berterima kasih padanya.

—— Pikiran Gu Yu tentang gagasan yang masuk akal.

Namun, detik berikutnya, Shangyuan dengan wajah dingin berkata tegas. "Aku menolak."

Gu Yu tidak mengerti. "... Kenapa?"

Shangyuan acuh tak acuh. "Tidak ada alasan."

Gu Yu bergumam 'oh' dan tidak bertanya lagi.

Gu Yu selalu berpikir bahwa Shangyuan bersedia membantu orang lain karena dia berinisiatif untuk memberinya kelas tambahan.

Namun pada kenyataannya, dalam kamus Bo Shangyuan, tidak pernah ada kata membantu.

Dua puluh menit kemudian, Gu Yu selesai makan.

Gu Yu mengambil mangkuk dan sumpit dan berdiri dari kursi, siap pergi ke dapur untuk mencuci mangkuk yang telah dia gunakan.

Ketika Shangyuan memasak, dia sama sekali tidak membantu, jadi dia tidak bisa membiarkan Shangyuan juga harus mencuci piring bekasnya.

Tanpa diduga, Gu Yu baru saja bangkit, Shangyuan membuka suara. "Biarkan saja."

Gu Yu menoleh. "Ah?"

Shangyuan menunjuk buku PR dengan dagunya. "Selesaikan pekerjaan rumah."

Ekspresi Gu Yu ragu-ragu, "Tapi mangkuk ini masih ..."

"Ada mesin pencuci piring."

Suara Gu Yu tiba-tiba berhenti.

Um...

Orang kaya benar-benar menyebalkan.

Gu Yu mengambil buku kerja dan kembali ke bar merah, dan mulai tertekan menyalin pertanyaan.

Ketika Gu Yu menyalin, dia mulai menyesal mengapa dia harus pergi membawa Shangyuan ke rumah sakit dan membelikannya air ketika pelatihan militer. Dia benar-benar usil ikut campur pada masalah orang lain.

Jika dia tidak membawa Shangyuan pergi ke rumah sakit, maka dia tidak akan berbicara dengannya, dan hubungannya dengan Bo Shangyuan akan berhenti selamanya sebagai tetangga asing dan siswa yang tidak akan pernah berbicara disekolah.

Dia juga tidak akan menyalin pertanyaan ini sekarang.

Tidak...

Ketika Shen Teng memaksanya menyeka tabir surya, dia seharusnya tidak ragu untuk secara tegas menolak.

Gu Yu memikirkannya sambil tertekan menyalin pertanyaan.

Berapa kali dia sudah menyalin?

Satu, dua, tiga ... Baru tiga kali.

- Masih ada seratus tujuh belas kali.

Keputusasaan.

Di sisi lain, ponsel Shangyuan tiba-tiba berdering.

Shangyuan melihat nomor dan ID penelepon sekilas lalu menarik pandangannya..

Pemilik nomor itu jelas ibu Bo.

Setelah 'pertobatan' tiba-tiba dari ibunya, setiap kali Shangyuan ulang tahun, ibu Bo akan mengambil inisiatif menghubunginya dan mengucapkan selamat ulang tahun.

Namun, kecuali untuk pertama kalinya, karena fakta bahwa dia tidak tahu itu ibunya, dia menerima panggilan itu, setelahnya, dia tidak pernah menjawab lagi.

Dering keras menggema di udara.

Shangyuan duduk diam, tidak ada respons.

Ibu Bo mungkin tahu bahwa dia tidak punya ide untuk menjawab telepon pada saat ini, oleh karena itu, setelah dering kedua, ponselnya diam beberapa saat.

Setelahnya ponsel berdering lagi.

Ini adalah prompt informasi.

[ Nomor akun Anda 8233 akan ditransfer ke penghasilan 500.000 yuan pada 1 Oktober 2018.  [XX Bank] ]

Shangyuan hanya meliriknya sekilas.

Dari awal hingga akhir, tidak ada gerakan.

Namun tidak lama kemudian, ponsel tiba-tiba berdering lagi.

Shangyuan mengerutkan kening dan langsung mengabaikannya. Namun, pihak lain sangat gigih, dan meskipun Shangyuan tidak menjawabnya, orang itu masih gigih.

Ini bukan gaya ibu Bo.

Shngyuan mengangkat alisnya, lalu melihat id penelepon.

Wajahnya menjadi semakin dingin.

Jika tadi hanya mengabaikan, maka saat ini raut Shangyuan benar-benar menjijikkan.

Dia tidak ragu untuk menyeret pihak lain ke dalam blacklist.

Tidak hanya itu, kalau-kalau pihak lain mengubah nomor untuk menelepon lagi, dia juga secara spesifik mematikan telepon.

Setelahnya ekspresi Shangyuan lebih baik.

Oke, sekarang sudah bersih.

Shangyuan menaruh mangkuk ke mesin cuci piring, dan kemudian berjalan ke meja bar, bersandar di tepi bar yang dingin, dan menatap Gu Yu tanpa berkedip.

Tidak, dia sedang menatap kepala Gu Yu yang sangat imut.

Suasana hatinya yang tadinya buruk karena panggilan telepon, kini setelah melihat Gu Yu, suasana hatinya tanpa disadari membaik.

Shangyuan tidak tahan untuk mengulurkan tangan dan menyentuh kepala Gu Yu.

Jari-jarinya terus mengusak kepala Gu Yu. Gerakan itu hampir seperti mengelus kepala kelinci.

Gu Yu yang sedang kesal menyalin, lengah tiba-tiba ada yang menyentuh kepalanya.

Gu Yu menanggung kesabaran, dan akhirnya tidak menahan diri, dia menepuk tangan diatas kepalanya.

"Jangan sentuh."

"Apa salahnya paman menyentuhmu."

"..."

Kenapa menurutnya kalimat ini agak aneh?

Ekspresi Gu Yu aneh untuk sesaat, dia tidak menemukan dimana anehnya kalimat itu, jadi dia cepat-cepat mengabaikannya.

Gu Yu mengerutkan kening, wajahnya tidak senang. "Aku tidak mau kau menyentuhku. Sentuh saja dirimu sendiri."

Gu Yu tidak mengerti kenapa Shanyuan suka sekali menyentuh kepalanya.

Setelah itu, Gu Yu segera menambahkan, "Tidak boleh mencubit wajahku."

Shangyuan memandang Gu Yu dengan tenang dan mengangkat alisnya.

Setelah Gu Yu selesai berbicara, dia diam sejenak memikirkan sesuatu lalu berkata lagi. "Sentuh sekali, salinan dikurang sepuluh kali."

Jika itu bisa terjadi, Gu Yu menantikan Shangyuan untuk datang padanya dan menyentuhnya.

Namun, Shangyuan perlahan menarik kembali tangannya dan berkata, "Salin dengan baik, aku tidak akan mengganggumu."

Setelahnya, Shangyuan berbalik dan berjalan pergi tanpa beban.

"..."

Gu Yu lama terdiam.

Bo Shangyuan ... Benar-benar menjengkelkan!!!
.
.

Dalam sekejap mata, jam enam sore.

Saatnya makan malam.

Gu Yu melihat waktu di dinding dan menemukan bahwa sudah jam 6:00, dia kemudian meletakkan pena, dan menutup matanya, berbaring dimeja di bar merah yang dingin.

Dia benar-benar tidak bisa menyalinnya.

Tangan Gu Yu lembek, dan dia tidak memiliki kekuatan sama sekali. Gu Yu bahkan berpikir bahwa tangan sudah tidak ada lagi.

Sepanjang sore Gu Yu sudah menyalin lima puluh delapan kali.

Masih ada enam puluh dua kali ... tetapi Gu Yu berpikir tangannya hampir putus.

Di belakangnya, Shangyuan yang tengah berbaring, perlahan berdiri dari sofa.

"Pulang makan malam atau makan di sini."

Gu Yu tidak ragu, "Pulang."

Menyalin sepanjang sore membuat matanya lelah, jari-jarinya mati rasa. Dia tidak ingin melihat wajah Shangyuan lebih lama lagi.

Shangyuan sudah menduganya jadi ekspresinya tenang.

Dia kemudian pergi ke bar merah, dan membuka pekerjaan rumah Gu Yu, "Salin berapa kali?"

Wajah Gu Yu penuh dendam. "... 58 kali."

Setelah menyalin sepanjang sore, pikiran Gu Yu sekarang hanya dipenuhi dengan rumus matematika.

Mendengar itu, Shangyuan perlahan menaruh kembali pekerjaan rumah. Lalu berkata ringan. "Yang belum disalin, lanjutkan besok."

Gu Yu bergumam 'oh' dengan wajah kaku membawa pekerjaan rumahnya dan pergi pulang.

Gu Yu takut untuk tinggal sedikit lebih lama, dia tidak akan bisa menahan diri lagi menghadapi Shangyuan.

Ketika dia akan menuju pintu keluar, langkah kakinya terhenti. Dia tiba-tiba melihat sesuatu yang akrab.

Penghapus.

Gu Yu mengambil penghapus itu dan melihatnya sebentar.

Bukankah ini penghapus yang dia lemparkan pada Shangyuan saat ujian?

Karena ini hanya barang murahan seharga satu yuan jadi dia tidak meminta kembali.

Namun, ini bukan intinya, intinya adalah Shangyuan masih menyimpannya.

Gu Yu sama sekali menyangka.

Shangyuan orang kaya, dia dengan santai memberinya seribu yuan, tidak menyangka Shangyuan masih menyimpan penghapus seharga satu yuan.

Gu Yu bersiap untuk membawa kembali penghapusnya.

Karena itu miliknya sendiri, tidak mengherankan jika dia ingin mengambilnya.

Tanpa diduga Shangyuan menghentikannya. Dia menatap Gu Yu tanpa berkedip. "Berhenti."

Gu Yu berhenti lalu berbalik.

"Kembalikan!"

Gu Yu tertegun memandangnya..

... Apa yang kembalikan?

Shangyuan menatap tangan Gu Yu, matanya tidak berkedip.

"Benda di tanganmu."

Mendengar itu, Gu Yu melihat penghapus ditangannya lalu mendongak. "... Ini milikku."

"Kembalikan milikku."

"..."

Gu Yu terdiam beberapa saat.

Gu Yu memandang ekspresi Shangyuan yang tampak sedang tidak bercanda. Dia tidak bisa menahan diri untuk berkata, "Ini hanya penghapus seharga satu yuan..."

Shangyuan begitu kaya, mengapa dia begitu gigih mempertahankan penghapus seharga satu yuan ini atau bahkan mungkin saat ini satu yuan sudah tidak bernilai lagi.

"Kembalikan!"

"..."

Gu Yu bergumam 'oh' lalu kembali meletakkan penghapus itu.

"Patuh."

"..."

Gu Yu dengan wajah kaku meninggalkan rumah Shangyuan.

Gu Yu tidak bisa menahan diri untuk merasa ada sesuatu yang salah dengan otak Shangyuan.

Namun, Gu Yu tidak tahu sama sekali bahwa setelah dia pergi, Shangyuan memasukkan penghapus itu ke dalam kotak khusus dan menguncinya.
.
.

Gu Yu menulis pekerjaan rumah seharian dirumah Bo Shangyuan. Pada siang hari, dia juga makan disana, dan tidak pulang.

Oleh karena itu, begitu Gu Yu membuka pintu dan memasuki rumah, Ibu Gu bertanya dengan wajah jelek, "Dari mana saja kau berkeliaran hari ini, kenapa seharian tidak pulang? Kau juga tidak pulang makan siang."

Gu Yu akan berbicara, tetapi ibu Gu kembali bersuara.

"Apa kau pergi ke rumah teman sekolahmu untuk bermain game? Ah?"

Gu Yu menutup mulutnya dan diam.

Ibu Gu semakin marah. "Lihatlah dirimu, nilai ujian bulanan telah turun begitu banyak poin, tidak tinggal di rumah untuk belajar, tetapi hanya bermain game setiap hari! Seharusnya aku tidak membiarkanmu masuk SMA, lagipula, belajar juga sia-sia!"

Gu Yu berdiri di tempat yang sama dan tidak mengatakan apa-apa.

Karena Gu Yu tidak pulang sebelumnya, ketika Ibu Gu bertanya, Gu Yu akan menjawab bahwa dia sedang bermain game dirumah teman sekolahnya. Oleh karena itu, kali ini ibu Gu juga menganggap Gu Yu pergi bermain game.

Bahkan saat Gu Yu yang tengah memeluk buku PR pun tetap sama.

Ibu Gu marah, dan Gu Yu berdiri diam, tidak menanggapi.

Di sisi lain ayah Gu menarik ibu Gu dan berkata, "Anak itu belum berbicara. Bagaimana kau tahu dia pergi ke rumah teman sekolahnya untuk bermain game?"

Ibu Gu tidak mau berpikir, "Apa lagi kalau bukan bermain game? Apa dia pergi ke rumah temannya untuk belajar? Aku tidak percaya dia sangat suka belajar begitu banyak."

"Mungkin saja dia memang pergi belajar? Kau tidak lihat dia membawa buku tugasnya?"

Ibu Gu bertanya langsung. "Kalau begitu katakan, apa yang kau lakukan hari ini?"

Ekspresi wajah Gu Yu tenang. "... Main game."

Setelah itu, ibu Gu segera berbalik untuk melihat ayah Gu, "Lihat, seperti yang baru saja aku katakan, apa lagi kalau bukan bermain game!"

"Oh, sulit untuk libur tujuh hari, apa salahnya membiarkannya bermain selama satu atau dua hari?"

Ibu Gu semakin marah. "Kau sudah terbiasa! Setiap saat dia selalu menjadi yang terbaik dari belakang di kelas!"

Ayah Gu tidak setuju. "Apa yang buruk tentang anak kita?"

Gu Yu berdiri di samping dan tidak bergerak. Matanya suram dan tidak ada sedikit senyum di wajahnya.

Gu Yu tiba-tiba merasa bahwa jauh lebih baik berada dirumah Shangyuan.

Orangtuanya berdebat selama setengah jam.

Ibu Gu akhirnya berkata bahwa dia lelah, menutup mulutnya, menatap Gu Yu dan berkata, "Kau tetap tinggal untuk belajar di rumah besok, tidak boleh pergi keluar, dengar!"

Gu Yu tidak berbicara.

Ibu Gu mengerutkan kening, ulangi. "Aku bicara padamu, dengar tidak?!"

Ayah Gu yang merespon, "Berisik sekali, tetangga sebelah hampir dengar, bagaimana mungkin anak ini tidak mendengar."

Ibu Gu tidak puas, "Setiap kali aku berbicara dengannya, seperti orang bodoh, aku tidak tahu harus berkata apa. Orang luar yang tidak tahu, berpikir aku melahirkan anak bodoh."

Ibu Gu mulai lagi bicara tanpa henti.

Ayah Gu melihat waktu dan berkata, "Istriku, sudah hampir jam tujuh. Kau masih belum memasak, ah hampir mati kelaparan."

Ketika ibu Gu mendengarnya, perhatiannya tiba-tiba teralihkan. "Makan, makan dan makan. Lihat lemakmu itu—"

Dia berkata sambil berjalan menuju dapur.

Setelah makan malam, Gu Yu mengambil ponselnya dan mengatur jam alarm pada pukul 8:30.

Setelahnya, dia pergi tidur.
.
.

Keesokan harinya.

Shangyuan duduk di sofa di ruang tamu dengan tenang, dia memegang secangkir kopi di tangannya dan menatap dinding sepanjang waktu, menunggu kedatangan jam sembilan.

Sedangkan untuk ponselnya, tergeletak diam disisi tubuhnya.

Lima puluh delapan.

Lima puluh sembilan.

Enam puluh ...

Saat jarum jam tepat diangka sembilan, Shangyuan hendak mengangkat ponselnya, namun pintu tiba-tiba diketuk.

Shangyuan bangkit dan membuka pintu.

Gu Yu sudah berdiri di luar pintu sambil memeluk buku tugasnya, dia mendongak dan mengucapkan selamat pagi.

Sudut bibir Shangyuan sedikit melengkung keatas, balas bergumam 'um'.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments