4. Tak masalah bahkan jika aku menangis

Alarm pagi berbunyi tepat pukul tujuh. Para murid berdesak menuju lapangan dengan berbagai gaya rambut khas bangun tidur. Guo Zhi yang tampak segar berbaur diantara para murid. Ia suka bangun lebih awal. Ia juga suka olahraga pagi. Ia suka langit berkabut. Ia suka melihat wajah kantuk teman-temannya.

Ia suka pada fakta yang membuatnya tiba-tiba tertegun melihat pemandangan lain. Shi Xi berdiri diantara kerumunan siswa yang terkadang menyenggol bahunya. Walaupun begitu Ia masih berdiri disana, tangannya ia selipkan dalam saku celana panjang, mempertahankan posturnya, topi yang ia kenakan direndahkan menutupi wajah, ekspresinya tak terbaca.

Guo Zhi adalah lelaki yang berjiwa besar. Tanpa beban ia melangkah mendekati Shi Xi. Jarak keduanya menipis hingga saling berhadapan, dikelilingi suara berisik para murid disekitar mereka. Guo Zhi mengulurkan tangannya kemudian memegang ujung topi Shi Xi, menekan kebawah penuh tenaga. "Kau harus sembunyikan wajah ini baik-baik."

Setelahnya kerumunan pun bubar. Shi Xi pergi dalam diam, tak ada yang menyadari keberadaannya didunia ini, tapi ia tak sengaja ditemukan oleh Guo Zhi.
    
Berakhirnya olahraga pagi, para murid mulai bersiap untuk tes. Semua meja dipindahkan ke koridor diluar kelas. Ketika Guo Zhi melihat Shi Xi yang juga berada diluar, Ia perlahan mendekat untuk beramah tamah, "Nilaiku cukup bagus, aku akan memberimu contekan. Aku tahu nilaimu begitu buruk, tapi kau jangan merasa rendah. Ada banyak siswa yang juga punya nilai buruk sepertimu." Apa ini yang dikatakan ramah?

"Kembali ketempatmu." Shi Xi tidak sedikitpun tergerak oleh sikap ramah itu.

"Tunggu saja, ketika aku batuk, itu adalah kode rahasia untukmu." Guo Zhi terlihat serius. Seperti seorang utusan yang tak akan mengabaikan murid bodoh.

Ujian berlangsung dengan tertib. Setiap kali Guo Zhi menyelesaikan satu pertanyaan, ia menyalin jawabannya di kertas kecil dengan hati-hati. Setelah satu jam, ia batuk untuk mencari perhatian Shi Xi. Lelaki itu tak kunjung menoleh. Ia batuk lagi dan mulai menambah kecepatan batuknya membuat hal itu bukan lagi kode rahasia tapi terlihat seperti pasien sakit parah. Guru pengawas datang mendekat, "Siswa, jika kau tidak sehat segera pergi ke dokter."

"Aku baik-baik saja." Guo Zhi tidak terbiasa berbohong. Ia meremas kertas kecil ditangannya, menguatkan batinnya.

Setelah guru pengawas berbalik pergi, Guo Zhi mengambil kesempatan untuk melempar kertas kecil itu kearah Shi Xi.

Shi Xi mengerutkan dahi menatap gumpalan kertas yang mendarat diatas mejanya. Gumpalan jelek itu ia buka, terpampang tulisan-tulisan kecil didalamnya. Tak hanya jawaban pilihan ganda, namun jawaban soal uraian ditulis lengkap.

Shi Xi mendongak melihat Guo Zhi mengedipkan mata kanannya sebagai isyarat bagus.

Shi Xi menarik sudut bibirnya. Tak berapa lama ia melempar kertas itu kembali ke meja Guo Zhi. Kertas itu dibuka, semua jawaban yang ia tulis dicoret tak tersisa. Ada beberapa jawaban yang diperbaiki saat Guo Zhi bandingkan. Setelahnya, Guo Zhi tak tahan untuk menganga syok. Semua jawaban ini tidak hanya lebih tepat tetapi benar-benar sempurna. Bagaimana mungkin nilai lelaki itu begitu buruk?

.
.

Hasil tes akhirnya dibagikan. Guo Zhi mendapat nilai yang memuaskan. Ia memperlihatkan lembar nilainya ketika bertemu Shi Xi. "Terima kasih. Berkat kau, guru memujiku didepan kelas. Berapa nilai yang kau dapat?"

Guo Zhi menunduk melihat kertas nilai Shi Xi diatas meja, 35 poin."

"Kau sengaja mengagalkan tes ini?"

"Tak perlu memberitahumu."

 "Menyebalkan!" Guo Zhi pergi dengan merengut. Ia tak marah. Guo Zhi adalah orang yang tidak mudah marah.

Guo Zhi kembali ke kelas dan bertemu Hua Guyu, "Hua er*, aku ingin bertanya sesuatu."

*bunga

"Jangan memanggilku dengan nama itu!" Hua Guyu sedikit marah.

"Kenapa? Aku rasa itu bagus karena kau seindah bunga."

Rasa marah Hua Guyu menguap tak tersisa setelah mendengar kalimat Guo Zhi. Ia menyentuh wajahnya. "Kalau begitu aku tak marah lagi. Jadi apa yang ingin kau tanyakan? Kenapa aku begitu tampan?"

"Tidak, aku ingin bertanya jika kau ingin menjadi pelacur laki-laki, mood dan ekspresi seperti apa yang akan kau perlihatkan? Bisa aku memotretnya?" Pinta Guo Zhi.

"Pelacur laki-laki? Apa maksud ucapanmu barusan?" Hua Guyu hampir meledak.

"Karena aku pikir keindahanmu sangat cocok." Guo Zhi memang terlihat polos tapi ia tidak bodoh.

Mendengar pujian itu, Hua Guyu menyilangkan tangannya, mengangguk setuju. "Itu benar. Pelacur laki-laki, ah, aku hanya harus memiliki sedikit ekspresi dan lebih memancarkan pesonaku." Hua Guyu mulai berpose, Guo Zhi segera mengeluarkan ponselnya, "Jangan bergerak! Pertahankan gestur yang begitu mempesona ini, aku akan memotretmu."

Pujian demi pujian membuat Hua Guyu melayang tinggi, ia terus menampilkan berbagai macam ekspresi dan pose membuat kedua lelaki tak waras itu menjadi pusat perhatian didalam kelas.

Saat istirahat makan siang, Guo Zhi membawa ponselnya dan kembali bertemu Shi Xi. "Aku membantumu menemukan bahan bagus." Guo Zhi menyerahkan ponselnya memperlihatkan berbagai potret gambar Hua Guyu.

"Bagaimana kau akan menulisnya?"

Shi Xi berkata dengan nada meremehkan: "Mati secara tragis di parit karena disetubuhi pelanggan."

"Tapi sepertinya tidak masuk akal ia mati di parit." Kau tak bermaksud menolak ide Shi Xi, bukan?

"Setelah disetubuhi berulang kali, mati dipinggir jalan lalu dibuang ke parit."

Guo Zhi mengangguk paham. "Ternyata idemu sangat bagus." 

"Kau tak diijinkan untuk membanggakanku."

"Tapi aku ingin memujimu." Guo Zhi keras kepala.

Suara berisik dikelas mulai lengang, dan hanya mereka berdua yang tetap tinggal. Shi Xi melepas topi dan melemparnya ke atas meja, ia mengambil buku tulis dan merobek selembar lalu mengambil pena bersiap untuk menulis. Pergerakan Shi Xi itu tak luput dari pandangan Guo Zhi. Melihatnya hanya didua detik pertama sudah cukup membuatnya berdebar, dan ia tak menyangka setelah detik ketiga membuatnya bergetar.

Wajahnya yang bersinar itu, tak ada kata yang pas untuk bisa diungkapkan. Kepalanya menunduk, fokus dengan kertas dibawah, ia bukan hanya disimpang dunia, tapi berpisah dari dunia. Guo Zhi menopang wajahnya dengan kedua tangan, memperhatikan Shi Xi. Betapa anehnya Tuhan, menciptakan orang sepertimu.

Shi Xi selesai menulis. Ia mendongak dan menemukan Guo Zhi tengah menatapnya. "Kenapa kau masih disini?"

"Aku tak tahu." Guo Zhi jujur, dan melanjutkan, "Ini sangat aneh. Aku merasa tak pernah bosan untuk terus melihatmu." Guo Zhi tak mengerti maksud perkataannya, hanya mengungkapkan yang ingin ia katakan. Ekspresinya sangat polos tak bernoda, tak bisa disandingkan dengan dunia Shi Xi.

Shi Xi menaruh sikunya diatas meja dan mencondongkan tubuhnya menipiskan jarak dengan Guo Zhi. Ia menatap tetap dimata Guo Zhi. Napas Shi Xi yang menerpa wajahnya menembus langsung ke hati Guo Zhi. Ia ingin mundur namun tubuhnya kaku.

"Jangan mendekatiku. Kau akan menangis, Guo Zhi." Ujar Shi Xi dengan suara dingin.

Guo Zhi tersenyum hangat, "Tidak masalah, aku tak masalah jika kau membuatku menangis, aku akan membuatmu tertawa bersamaku."

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments