39. Sangat menyukainya

Terkadang, memikirkan seseorang lebih kesepian daripada sendirian.

Semakin lama jauh dari Shi Xi, Guo Zhi semakin memikirkannya. Guo Zhi ingin melihatnya duduk bersila dan meletakkan laptop di pangkuannya. Dia ingin melihat jari-jarinya yang indah memegang pena dan menulis di kertas. Melihat bagaimana Shi Xi menulis tentang dunia, ingin tahu hobi apa yang baru-baru ini dilakukannya, memikirkan penampilannya yang tampan, dan ingin mendengarkannya. 

Perasaan penuhnya menumpuk di dada dan tidak ada tempat untuk pergi.

Meskipun hanya sedetik, Guo Zhi ingin melihatnya.     

Tampaknya setiap waktu tertuju hanya pada Shi Xi, itu memang benar.
.
.    
    
Setelah hari yang sibuk di kedai, Guo Zhi mengganti pakaian dan mengenakan mantel tebal. Ketika keluar, ia tak tahan untuk tidak mendengkur kedinginan. Langit tampak kelabu, Guo Zhi menendang batu di jalan, dari sisi kiri jalan ke sisi kanan lalu dari arah sebaliknya, sesekali menghembuskan nafas seperti uap dari mulutnya.

Dalam perjalanan pulang, Guo Zhi melewati taman tua. Sebagian besar fasilitas di tempat itu usang dan rusak. Karena dekat dengan rumah, Guo Zhi suka datang ke sini untuk bermain ketika masih kecil. Guo Zhi menginjak daun-daun yang mati, tangannya dimasukkan ke dalam saku dan memperhatikan taman.

Saat masih kecil, Guo Zhi suka duduk di jungkat-jungkit, itu berkarat, dan satu sisi telah hancur dan jatuh ke tanah. Guo Zhi duduk di atasnya, mengambil ranting di tanah, menulis nama Shi Xi dan tertawa tanpa alasan, jika Shi Xi melihatnya, dia pasti akan mengumpat.

Dia mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan kamera ke mode selfie dan menekan tombol video.

"Shi Xi! Ini aku, Guo Zhi. Itu, begini... Ah, bagaimana mengatakannya..." Tangan kanannya memegang gagang jungkat-jungkit dan melanjutkan, "Kita adalah sepasang kekasih, kan? Jadi, kau lihat Tahun Baru akan datang sebentar lagi, bukan? Aku bisa membuat permintaan Tahun Baru kan? Bisakah kau juga merekam video untukku? Aku tidak ingin melihat foto, aku ingin video, aku tidak terlalu berlebihan kan?"    
    
Guo Zhi mengakhiri videonya. Menatap lama ponselnya sebelum berdiri dan berjalan di sekitar taman, mempertimbangkan apakah akan mengirimnya pada Shi Xi, dia tiba-tiba menunjuk ke tempat sampah di sebelahnya. "Kau, dengarkan aku! Kalau menurutmu aku tidak harus mengirimnya, bergerak dua kali. Kalau menurutmu aku harus mengirimnya, jangan bergerak." Persyaratan apa ini, kau mengandalkan tempat sampah untuk mengambil pilihan kedua.

Melihat tempat sampah tidak bergerak, Guo Zhi mengangguk. "Kau yang menyuruhku harus mengirimnya, bukan keinginanku." Setelah mengatakannya, ia menekan tombol kirim, lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam tas, sambil tersenyum, ia berlari pulang.    
.
.

Zhou Hui melihat Guo Zhi yang masuk kerumah dengan terengah - engah. "Dari mana saja? Kau pulang terlambat. Pergi cuci tangan dan makan."

Guo Zhi pergi untuk mencuci tangan dan duduk bersiap makan. "Aku berkeliling disekitar sini. Hari ini sangat dingin."

"Ya, mungkin akan turun salju tahun ini." Zhou Hui memandang ke luar jendela.   

Guo Zhi dengan senang juga melihat keluar jendela, "Sudah lama belum melihat salju dan kalau benar turun, aku ingin sekali melihatnya walaupun cuma sedikit." Zhou Hui tidak bisa menahan senyum. "Beraoa umurmu? Kau seperti anak kecil." 

Satu keluarga itu makan di meja dengan tenang sesuai aturan untuk tidak berbicara ketika makan. Guo Zhi memasukkan makanan kedalam mangkuk, ia memikirkan Shi Xi, ketika bepergian, ketika duduk di kedai kecil. Ia selalu memikirkannya, tidak perlu, ia tidak ingin mengatakannya pada Shi Xi walaupun ia tahu Shi Xi tidak akan merespon.
    
Setelah makan seperti biasa, Zhou Hui membersihkan peralatan makan, dan Guo Yunyong segera menyalakan rokok. "Apa kekasihmu juga seorang pelajar? Jangan mencari gadis yang statusnya tidak jelas."
    
"Dia pelajar, nilainya sangat baik tetapi dia bukan kekasihku. Aku hanya sedikit menyukainya." Guo Zhi mulai merasa tak nyaman. Kata-kata yang tidak bermakna dan salah ini, hanya diucapkan dari pikirannya bukan dari hati.

"Bagus, pilih kekasih yang baik dan berpendidikan. Kau lihat sepupumu, terakhir kali dia membawa kekasihnya, penuh polesan make up, dan tidak tahu bicara sopan. Kerabat membicarakan itu dibelakang, membuat malu keluarga."

"Aku mengerti."

Selain hubungan keluarga dan kerabat, mereka seperti musuh dalam selimut, jika melakukan hal-hal aneh, kalian akan diam-diam dibicarakan dibelakang.

Perasaan ini, ada banyak hal untuk bertahan, sangat banyak. 

Jelas, ia siap secara mental, tetapi ia harus menanggung lebih dari yang dipersiapkan.

Berapa banyak orang yang menyerah dan berapa banyak orang yang bertahan.    

Jika ia berpikir untuk menyerah, tak akan berdaya. Ia sudah menyerah satu kali. Ia akhirnya menyukai hal yang membuatnya menyerah. Pada akhirnya, ia masih menyukai Shi Xi. Inilah jiwanya. Inilah hatinya. Inilah kebahagiaannya.   

Meskipun hubungan ini agak tidak adil, itu tidak sendirian, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.

Terima dan bertahan.
.
.

Mereka mengobrol, waktu sudah jam 11 lewat, Zhou Hui yang sedang mengangkat pakaian di balkon, tiba-tiba berteriak. "Guo Zhi, cepat kesini, salju." Guo Zhi berlari ke balkon, salju turun dengan lembut dari kegelapan langit. Jatuh ke kota yang dihiasi lampu, seperti malaikat datang, mengguncang sayap putih, jatuh dengan indah. Guo Zhi menjangkau, salju jatuh di telapak tangan dan meleleh.  

Di kejauhan, entah dari mana asalnya, kembang api menyala dengan suaranya mencerahkan langit.

Guo Yunyong juga keluar. Tiga orang berdiri di balkon dan menyaksikan pemandangan salju yang belum terlihat selama beberapa tahun. Sebenarnya tidak indah, dan salju tidak sebagus itu.  

Guo Yunyong dan Zhou Hui mengobrol. Jantung Guo Zhi berkedut. Bayang salju dipupil matanya sedikit melebar, cahaya warna-warni dari kembang api memperjelas keadaan taman tua itu, tepat di jungkat-jungkit yang bobrok, ada seseorang duduk di atasnya, tidak mungkin salah, tidak salah lagi. Shi Xi duduk di jungkat-jungkit dengan tangan disaku celananya, dia tampak dingin dan menatap kembang api.    

Perasaan apa ini, hangat hingga menjadi panas menggebu.

Tangannya menggenggam pagar balkon, Zhou Hui yang melihat ekspresi Guo Zhi tak tahan untuk bertanya, "Apa kau benar-benar suka salju?"

"Suka, suka." Guo Zhi berbisik, terus mengulangnya, kemudian tubuhnya sedikit condong ke depan, berteriak keluar dengan sangat keras. "Suka, suka, benar-benar menyukainya!" 

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments