38. Kebohongan dimulai

Malamnya, Guo Zhi duduk di tempat tidur, dia mencetak semua foto yang dia ambil baru-baru ini, dan menyebarnya diatas kasur. Dengan hati-hati menyortir semua foto dan memasukkannya ke dalam amplop, mengambil pena dan menuliskan nama Shi Xi sambil tengkurap dan mengayunkan kakinya. Ia menggigit penutup pulpen, memandang lama amplop itu sebelum mengirimkan pesan singkat pada Shi Xi

[ Dimana alamat rumahmu? Aku ingin mengirim sesuatu. ]

Lama menunggu, masih tidak ada balasan. Guo Zhi kembali mengetik pesan baru.

[ Jangan khawatir, aku tidak akan mencuri barang - barangmu. Atau aku kasih alamat rumahku supaya kalau nanti kau kehilangan sesuatu, kau bisa membalasku. ]
    
Guo Zhi mengirim alamat rumahnya dan masih belum ada balasan, mungkin Shi Xi sibuk atau ponselnya mati. Ia pun menyelipkan amplop itu dibawah bantal.

Zhou Hui masuk ke kamar Guo Zhi membawa selimut, "Cuaca semakin dingin sekarang sepertinya akan turun salju jadi ibu membawakan selimut tambahan."    

"Aku akan melakukannya." Guo Zhi duduk diranjang.

Zhou Hui sudah mengambil alih merapikan tempat tidur Guo Zhi, "Cepat turun, biar ibu saja yang lakukan sebelum ayahmu pulang dan mengatakan ibu memanjakanmu lagi." Guo Zhi mengangguk, bangkit dari ranjang dan berdiri disebelah ibunya, Zhou Hui meletakkan selimut, mengambil bantal dan menepuknya lalu melihat amplop berwarna kuning pucat. Dia ingin mengambilnya namun tak jadi setelah melihat raut wajah Guo Zhi yang panik.

Zhou Hui tersenyum, "Melihat kau seperti itu, apa ini untuk kekasihmu?"

Guo Zhi mengambil amplop itu dan tidak bicara. Zhou Hui membawa selimut lama ke pintu dan tiba-tiba berbalik. Dia melihat Guo Zhi dengan tatapan yang seakan begitu banyak hal di matanya, dia bertanya dengan hati-hati, "Guo Zhi, itu kekasih perempuan kan?" Pertanyaan Zhou Hui tersirat ketakutan dan kekhawatiran, tetapi itu menusuk Guo Zhi. Tidak ada yang peduli dengan perasaannya, mereka hanya peduli pada gender.
    
"Ya, itu perempuan, tapi bukan kekasih, hanya teman dekat." Jadi kebohongan dimulai, mengetahui bahwa kebohongan seperti itu akan semakin banyak di masa depan, tetapi sebelum mereka siap menghadapinya, apakah ada cara lain selain berbohong? Hanya pada masalah ini, Guo Zhi tidak bisa lagi seperti anak kecil, tidak dapat membingungkannya dengan rasa keterusterangannya.   

Dia tidak bisa melukai keluarganya. Dia takut dengan ingatan itu, dan hal yang paling menakutkan baginya adalah bahwa Ayah akan merusak perasaannya pada Shi Xi. Dia akan melakukannya, pasti itu. Jadi, Guo Zhi akan bohong dan terus berbohong.

Tidak hanya demi cintanya tetapi juga keluarganya.

Zhou Hui tahu Guo Zhi tidak akan mengecewakannya lagi jadi yakin itu bukan kebohongan. Dia tertawa dengan lega. "Itu bagus."

Itu bagus, kalau begitu, oke? Kata-kata Zhou Hui tampaknya secara tidak sengaja mengulurkan tangannya untuk mendorong rasa sakit dari belakang.    
.
.

Guo Zhi melihat ibunya yang sedang berada didapur lalu menelpon Shi Xi.

"Shi Xi " Panggilnya lembut dan hangat.

Ada jeda sejenak sebelum Shi Xi merespon, "Ada apa?"

"Tidak ada, aku baik - baik saja."
    
Suara memutar kunci terdengar datang dari pintu depan. Guo Zhi dengan cepat berkata, "Akan aku beri tahu nanti." ia buru - buru mengembalikan ponsel ke dalam saku celana.

Setelah keluar untuk minum teh bersama teman-teman, Guo Yunyong kembali dan mulai menonton TV di sofa dengan kaki terangkat. Guo Zhi duduk diseberang, delikan mata Guo Yunyong sudah bisa ia tebak apa yang akan dibahas. Terakhir kali melihat pasangan lelaki di mall, membangkitkan kekhawatiran yang selalu bersembunyi di dalam hatinya. Dia khawatir suatu hari Guo Zhi akan mengulangi kesalahan yang sama. Membodohi diri sendiri dan menjadi ignoran ingin bersama lelaki. Sekarang, setelah memikirkan itu, dia menjadi tidak tenang.
  
"Apa pendapatmu tentang homoseksualitas di mal waktu itu?" Guo Yunyong masih bertanya, dan Guo Zhi tertegun. Ia tidak menyangka akan dihadapkan tiba-tiba mengenai masalah ini. Dia diam, dan Guo Yunyong terus bertanya, "Apa menurutmu mereka menjijikkan?" Ini adalah pertanyaan terselubung, tetapi lebih frontal daripada Zhou Hui.

Kejam! Guo Zhi meremas tangannya, apa ia harus menjawabnya sendiri dan mengakui perasaannya menjijikkan? Guo Zhi tidak ingin bohong, tidak pernah mau!   
    
"Tapi ayah tidak mengajarkanku berkata buruk pada orang lain."

"Itulah yang dilihat orang, mereka harusnya malu, dan mereka tidak tahu malu." Sentimen Guo Yunyong pada orang orang lain namun semua kata itu seperti cambukkan untuk Guo Zhi.
 
"Orang seperti itu tidak pantas mendapat simpati." Lanjut Guo Yunyong dengan sedikit menggebu dan itu membuatnya bersikap keras. Guo Zhi tahu seperti itulah ayahnya.
    
Zhou Hui disamping Guo Zhi berkata, "Jangan bilang begitu, ada gadis yang disukai Guo Zhi sekarang. Bagaimana menurutmu?"
    
Guo Yunyong tidak bereaksi banyak. Dia menatap Guo Zhi. "Kamu sudah besar. Aku tidak bisa mengatur terlalu banyak dalam hal seperti ini, tapi jangan sampai mempengaruhi studimu."

"Aku tahu." Mendengar jawabannya, hati Guo Yunyong meringan. Dia dan Zhou Hui merasakan hal yang sama. Karakter Guo Zhi tidak akan berbohong, tidak pernah menipu mereka.
    
Seketika itu, Guo Zhi sadar ia hanya sendiri, keluarganya tampak hanya memikirkan diri sendiri dan perasaan yang asing, kebohongan itu ditumpuk dengan harmonis.
    
Bukankah sikap mereka terhadap masalah ini terlalu jelas? Hanya Guo Zhi yang dengan bodohnya berharap seiring waktu, mereka akan menerima sedikit, lalu akan menjadi toleran. Tetapi kenyataan telah menghancurkan fantasinya, dan ada suara di hatinya yang menertawakannya, "Jangan bermimpi, mereka tidak akan memberkati cintamu, hanya mengutuk cintamu, jangan bermimpi, bangun, buka matamu, hapus itu semua."    

Guo Yunyong pergi ke dapur untuk membantu Zhou Hui. Guo Zhi kembali ke kamar, menutup pintu, dan mengeluarkan ponselnya dengan panggilan yang masih tersambung, "Apa kau mendengarnya?"    

"Hm." 

"Aku tidak bermaksud berbohong, aku tidak mau mengakui perasaanku ..." Guo Zhi ingin menjelaskan.

"Jangan mengatakannya, Guo Zhi." Shi Xi mendengar percakapan mereka dan ingin bertemu keluarga Guo Zhi, tetapi apa yang bisa dia lakukan? Dia langsung menemui keluarga dan bertemu ayahnya, lalu menangis dan meminta persetujuannya. Itu terlalu tidak realistis. Waktunya belum tiba. Dia bahkan belum punya sesuatu yang bisa dijadikan pertimbangan saat ini. Bagaimanapun, itu hanya harapan yang kekanakan.

Ketika Shi Xi familiar dengan kenyataan, orang-orang yang hidup di dalamnya telah dimainkan sorakan duniawi, tetapi iblis tidak berada di dunia. Dia tertidur dibawah, dan suatu hari dia akan menggenggam dunia.¹

¹/ini membingungkan btw. Lol/

Guo Zhi diam sejenak, "Dan aku juga takut dengan rotan ayah, itu sangat menyakitkan."
    
"Guo Zhi, tunggu saja aku, tunggu sampai aku mematahkan rotannya."

"Yah, aku akan menunggumu, aku akan menunggumu." Guo Zhi meremas ponselnya, mengangguk putus asa, pandangannya buram.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments

  1. Ayo semangat kalian berdua 🤧
    Jalan menuju kebahagiaan masih panjang,semoga konflik nya gak terlalu berat

    ReplyDelete

Post a Comment