36. Shi Xi ( Part 1 )

Cahaya matahari menerobos masuk dari celah tirai dan jatuh di atas selimut. Shi Xi membuka matanya, dia berbaring di tempat tidur dan menatap langit-langit pucat. Emosinya tidak ada di tubuhnya. Tidak ada harapan untuk masa depan, tidak ada penyesalan untuk masa lalu, hanya menonton kehidupan orang lain.

Untuk waktu yang lama, dia bangkit dari tempat tidur, melepas bajunya, dan tiba-tiba teringat kata-kata Guo Zhi dengan wajah malu, "Shi Xi, jangan melepas baju di depanku, itu akan membuat pikiranku tersendat." Dia berjalan ke kamar mandi, air dengan suhu yang nyaman membasuh tubuhnya, tetapi masih dingin.

Kapan dia mulai peduli? Apakah ini yang disebut seperti itu?

Seperti perasaan dangkal ini hanya akan membuang waktu tanpa makna, itu sama mubazirnya dengan perasaan lain, bukan?

Selesai mandi, Shi Xi menutupi kepalanya dengan handuk, dia duduk di meja, menyalakan komputer, ada kertas terlipat rapi tergeletak di keyboard yang bertuliskan: "Untuk Shi Xi"

Dia memasukkan kertas itu ke dalam tas, satu tangan mengusak handuk dikepalanya, tangan yang lain ia diatas mouse, melihat novel yang ditulis tadi malam, lalu semuanya dihapus. Meskipun dia sering dipuji, dia masih merasa bahwa dia menulis hal-hal yang tidak dapat memuaskan dirinya dan menghapusnya saat akan menulis lagi.

Dia menutup laptopnya lalu melemparkan handuk di tempat tidur dan keluar. Orang-orang yang dilewatinya semua berekspresi mati rasa yang sama. Beberapa dari mereka mengenakan penyumbat telinga, dan beberapa dari mereka melihat ke bawah di telepon. Masyarakat itu kontradiktif, mendorong semua orang untuk saling percaya dan berkomunikasi satu sama lain; begitu para gadis kampus terbunuh di masa lalu, mereka didorong untuk memercayai orang lain. Ini adalah batas yang tidak jelas. Apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya tidak sebaik tidak ada apa-apa.

Shi Xi berbaur diantara kerumunan, menonton kerumunan yang berlalu lalang dengan acuh tak acuh, seorang gadis dengan rok pendek dan sepatu bot selutut berjalan dari arah berlawanan tengah menelpon. Suaranya tebal dan jelek, dan dia berteriak keras, "Apa kau tahu apa yang baru saja ku lihat? Seorang lelaki menyuap makanan ke lelaki yang lain. Ketika aku melihatnya, itu sangat mengerikan, hahaha, ya."

Shi Xi memperpanjang kakinya ketika gadis itu lewat membuatnya tersandung dan jatuh terduduk, tangannya membenarkan rok pendeknya lalu membulatkan matanya, menatap Shi Xi.

Shi Xi berjongkok satu siku tangannya menopang lutut, dan tangan yang lain meraih kerah gadis itu dan menariknya, "Aku juga suka laki-laki, punya pendapat?"

"Bagaimana bisa kau memberitahu hal mengerikan itu?

"Bisa dibilang, aku juga bisa melihat kalau kau tidak enak dipandang, tidak ada yang bisa mengendalikan siapa, kan?" Ekspresi Shi Xi tidak berubah, ekspresinya dingin, dia melepas kerah gadis itu yang masih terduduk menatapnya. "Masih belum pergi? Mau dipukul?"

"Kau!" Gadis itu membulatkan matanya lagi, tetapi tidak berani mengatakan apa-apa, berdiri dan menepuk-nepuk pakaian, dan berjalan pergi.
.
.

Malamnya, Shi Xi duduk di depan komputer, cahaya di layar menghantam wajahnya. Tangannya tidak berada di keyboard. Dia mengangkat telepon dan meletakkannya di telinganya. "Kenapa?"

"Bukan apa-apa. Aku sudah dirumah. Kau kapan pulang?"

"Pergi besok."

"Kau sedang apa?"

Shi Xi mendengarkan suara Guo Zhi, perasaannya bahkan bisa terlihat dari telepon, Shi Xi dapat menebak ekspresi Guo Zhi saat ini pasti penuh senyum. Dia meletakkan tangannya diatas keyboard dan mengetik dua kata: Guo Zhi.

"Kenapa kau tak tidur dan melakukan ini ditengah malam?"

"Aku tak bisa tidur. Bisakah kau menceritakan sebuah kisah? Aku membelikanmu dongeng Andersen waktu itu."

"Apa kau pikir aku punya waktu luang?"

"Benar juga." Tak lagi mendengar suara diseberang, Shi Xi berdiri, jari-jarinya mengambil buku yang bertumpuk di lantai. Dia duduk di tempat tidur dan membalik buku itu, Guo Zhi agak konyol. Dalam pemikirannya, dia percaya bahwa dongeng memiliki akhir yang bahagia, tetapi tidak. Dunia tidak seindah itu, biarkan dia tahu bahwa sifat hidup itu kejam. Tetapi jari-jarinya yang membuka lembar halaman menjauhi cerita gadis yang memotong kakinya dan mengenakan sepatu merah, mengabaikan cerita putri duyung yang kehilangan cintanya dan kehilangan suaranya dan berubah menjadi buih. Dan akhirnya berhenti dicerita dengan akhir yang bahagia.

Ini hanya masalah untuk dua orang. Sekalipun yang lain memberikan kekejaman, tetapi ketika Shi Xi memberi yang baik, itu sudah cukup.

Dia perlahan membacanya. Tidak lama kemudian, Shi Xi mendengar napas teratur dari seberang, "Selamat malam, Guo Zhi." dan menutup telepon.
.
.

Keesokan harinya, Shi Xi membawa dua buku dan laptop lalu pergi. Pesawat bergerak lambat kemudian lebih cepat ketika menggesek landasan, dan kemudian terbang menuju ke langit. Shi Xi mengeluarkan surat Guo Zhi dari tasnya, bagian depannya ditulis tangan dengan rapi dengan coretan acak. Ia membukanya dan mulai membaca.

[ Shi Xi,

Tunggu, biarkan aku berpikir dulu tentang apa yang ingin aku katakan padamu. Kau harus berjanji terlebih dulu, kau harus membaca surat ini, jika tidak, kau tidak akan menjadi pria yang baik!

Aku tahu kalau kau sibuk, sibuk menulis novel, sibuk membaca buku, sibuk menonton DVD, sibuk bermain game. Namun, ketika disela menulis novel, saat membaca buku, ketika berubah menonton DVD lain, saat bermain game, kau sebenarnya bisa meluangkan waktu untuk memikirkanku. Tiba-tiba aku merasa sangat malu untuk menulis ini!

Shi Xi, aku membeli banyak pena dan menyimpannya di dalam tasmu; aku juga mengunci naskah untukmu. Aku membeli buku "Teknik Memotret" dan merisetnya baru-baru ini. Aku akan membantumu memotret lebih banyak bahan selama liburan musim dingin. Aku dapat pulang dengan selamat untuk Tahun Baru, dan aku mendoakan yang terbaik untukmu di udara, seperti Laut Timur¹, Shoubi Nanshan².

¹Dalam mitologi Tiongkok, Laut Timur adalah domain Ao Guang, Donghai Longwang (東海 龍王), atau "Raja Naga dari Laut Timur", yang bertanggung jawab untuk mengendalikan badai dan ombak.

²Hiduplah dengan lama seperti Pegunungan Zhongnan! (Idiom) / Semoga panjang umur.

/mungkin karena Shi Xi naik pesawat jadi Guo Zhi berdoa supaya cuacanya baik dan bisa sampai tujuan dengan selamat. Aq sotoy lagi maapkeun/

Ya, ya, aku harus bekerja paruh waktu selama liburan musim dingin ini.

Apa yang aku tulis, mengapa begitu bodoh? Ubah lembar dan tulis ulang.

Lupakan saja, gunakan kertas ini, beri kau lebih banyak kertas, aku akan mencoret depannya agar kau tidak ingin membaca.

Kau selalu mengatakan kalau dunia ini sangat buruk. Aku rasa dunia memiliki sinar matahari yang hangat, bunga-bunga indah, langit biru, pusat perbelanjaan penuh makanan ringan dan pakaian indah, orang-orang baik, seperti girl, Hua er, sepupu. Teman sekamarku juga baik, dimana buruknya? Shi Xi, jangan terlalu membenci dunia ini, karena aku juga ada di dunia ini.

Akhirnya, terimakasih, kabari aku saat malam tahun baru.

Bagaimana ini, jelas mengatakan yang terakhir, tetapi aku masih ingin menulis, apakah aku akan menulis sampai kau bangun? Aku benar-benar ingin mengakhiri, selamat tinggal.

Aku ingin menulis lagi, lalu mengucapkan pernyataan esoterik untuk menyimpulkan.

Ups, tidak bisa memikirkannya, bagaimana ini, sayang. ]

Akhirnya, kata sayang dicoret dengan garis horizontal, tetapi masih bisa terlihat. Shi Xi memegang surat itu, dia beralih menatap jendela. Pada saat ini, emosi kembali kepadanya tanpa peringatan. Diwajahnya yang tampan seulas senyum terukir lembut.

Membuang waktu pada hal ekstra seperti perasaan ini sungguh sia - sia.

Jadi, biarkan saja ini terus berlanjut.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments