35. Pikirannya menjadi rumit

Keesokan harinya.

Ujian bulanan.

Gu Yu bangun tidur jam 6:00 hari ini.

Karena kemarin, dia sudah 'membuka kartu' dengan Bo Shangyuan jadi tidak perlu sengaja menghindarinya lagi.

Tentu saja, alasan utamanya adalah karena ... bangun jam 5:30 benar-benar menyakitkan.

15 menit kemudian Gu Yu bersiap pergi ke sekolah.

Begitu membuka pintu rumah, dia berpapasan dengan Shangyuan diluar.

Gu Yu tertegun sejenak. Dia tidak terkejut karena sudah merasa hal ini akan terjadi.

Gu Yu dengan tenang menatap Shangyuan sekilas lalu seolah-olah tidak ada yang terjadi sebelumnya, dia berjalan melewati Shangyuan begitu saja.

Sementara Shangyuan hanya berdiri di tempat yang sama dan belum bergerak untuk waktu yang lama.

Seperti biasa, Gu Yu naik lift ke bawah, lalu menunggu bus, dan kemudian tiba disekolah.

Waktu ujian bulanan sama dengan waktu ujian simulasi.

Pagi dimulai 8:30, dan sore 2:30. Tidak ada perbedaan.

Satu-satunya perbedaan adalah bahwa pada hari ujian bulanan, belajar mandiri pagi dan belajar mandiri malam hari masih dilaksanakan.

Tidak hanya waktu tidak berubah, tetapi kursi tidak berubah kecuali sedikit jarak antara meja dan meja.

Dalam hal ini, mereka yang sudah bernegosiasi untuk saling mencontek saat ujian, tidak merasa senang.

Setelah melihat pengawas pagi tiba, para siswa yang masih diam-diam terkekeh, seketika diam.

- Pengawas pagi mereka adalah guru kelas dari kelas B.

Seperti yang diketahui semua orang, selama ujian, guru pengawas di setiap kelas akan diubah, misalnya guru di kelas A menjadi pengawas kelas C, guru kelas C pergi mengawas di kelas F, dan sebagainya.

Ada enam kelas dari Kelas A ke Kelas F, masing-masing kelas memiliki sembilan guru dari tingkat satu hingga tiga, jadi total ada delapan belas guru ...

Guru kelas dari kelas B, pria, 45 tahun, tidak tersenyum, dan dikenal keras dan galak.

Sekolah baru dimulai selama satu bulan, dan dia sudah membuat beberapa siswa di Kelas B menangis.

Watak guru kelas di kelas B tidak hanya diketahui di kelas B, tetapi juga di kelas lain.

Mereka di kelas E yang sudah mengerjakan lembar contekan tadi malam, dan yang sudah mendiskusikan cara menyalin jawaban pada hari ujian, begitu melihat pengawas pagi hari adalah guru kelas B, mereka langsung menunjukkan ekspresi putus asa.

WTF! guru kelas B kelas? Tamatlah sudah!

Namun, untungnya, hari pertama ujian pagi itu adalah bahasa, jadi mereka tdak terlalu putus asa. Bagaimanapun, bahasa dapat dianggap sebagai subjek yang paling mudah dari semua mata pelajaran.

Jika itu jadwal matematika dan bahasa Inggris, maka para siswa benar-benar ingin bunuh diri.
.
.

Dua setengah jam kemudian.

Bel berbunyi dan ujian berakhir.

Begitu ujian selesai, teman-teman sekelas di kelas segera berkumpul dan mulai berbicara tentang jawaban dan mendiskusikannya.
 
Tidak, itu mengoceh.

"¹Mencintainya seperti bulan terang... Aku tidak ingat kalimat selanjutnya, ah ah, kehilangan satu poin!"

¹Sajak:: Linjiang Xian Han Liu by Qing Nalan Xingde

"Aku juga tidak ingat! Menyukai seperti ayahnya! Apa-apaan itu!"

"Pertanyaan bodoh macam apa esai ini, tanyakan padaku bagaimana membelanjakan 5 yuan, jadi aku menghabiskan begitu banyak, bagaimana aku bisa membelanjakannya!"

"Lalu, ada juga pertanyaannya untuk menjelaskan bagaimana kau ingin membantu orang lain, atau kau bisa menulis surat kepada ibu dan ayahmu untuk membeli sesuatu ..."

"Ah, ah, kenapa aku tidak berpikir -"

"Di mana, kau bisa membeli kentut seharga lima yuan! Kau tidak bisa membeli kentut!"

Teman-teman sekelas di kelas berkumpul bersama dalam sebuah kelompok, dan diskusi seputar topik berjalan lancar.

Jiang Zhenshan yang duduk di sebelah Gu Yu, dan Jin Shilong dan Shen Teng, yang duduk di depan Gu Yu, juga berkumpul bersama untuk mendiskusikan jawabannya.

"Jawabanku benar!" -Jin Shilong.

"Oh, ah, aku melakukan lima kesalahan!" -Shen Teng.

"Ah, aku salah ..." -Jiang Zhenshan.

Tiga orang membalikkan buku dengan hati-hati membandingkan jawabannya, sedangkan Gu Yu hanya duduk dengan tenang dan tidak menanggapi.

Gu Yu seakan tidak peduli apa jawabannya benar atau tidak.

... Dia memang tidak peduli.

Tetapi, ibu Gu berbeda.
.
.

Pada saat bersamaan.

Lantai dua.

Di dalam kantor guru.

Guru kelas dari kelas A melihat kertas ujian kosong di tangannya, dan ekspresinya tidak bisa dipercaya.

Dia menatap Shangyuan tidak percaya lalu menunjuk kertas ujian di tangannya dan bertanya, "Bo tongxue, kau peringkat satu, bagaimana kau bisa mengumpulkan kertas kosong!"

Shangyuan dengan dingin bertanya retorik. "Kenapa tidak bisa dikumpul?"

"Mana ada orang yang mengumpul kertas jawaban kosong! Aku belum pernah melihat orang yang dengan sengaja mengosongkan lembar ujian selama bertahun-tahun!"

Shangyuan merespon dingin. "Hm."

Guru kelas dari Kelas A melihat ekspresi ekspresi acuh tak acuh Bo Shangyuan mengangkat tangan untuk memijat dahinya, merasa tanpa daya.

Ini adalah siswa paling cerdas yang pernah dilihatnya mengajar selama bertahun-tahun dan juga siswa paling acuh yang pernah dilihatnya.

Dia dengan pahit berkata, "Bicaralah dengan guru, kenapa kau mengumpul kertas kosong?"

Ekspresi Shangyuan sedikit tidak sabar. "Tidak ada alasan."

Guru kelas mengambil napas dalam-dalam dan berkata dengan sabar, "Guru tahu suasana hati Bo tongxue baru-baru ini tidak terlalu baik. Bisakah kau memberi tahu guru kenapa suasana hatimu tidak baik? Apakah ada masalah dengan teman sekelas? Atau bertengkar dengan orang tua..."

Shangyuan langsung memotong dengan dingin. "Itu tidak ada urusannya dengan guru."

Guru kelas kehilangan kata-kata. Beberapa saat kemudian tidak menahan diri untuk mengatakan, "Jika kau tidak ingin menulis, kau jangan mengosongkannya begitu saja. Paling tidak, kau harus mengisi satu atau dua pertanyaan. Misalnya, pertanyaan koneksi ini, dan mengisi baris kosong. Ini hanya memakan waktu satu atau dua menit."

Shangyuan masih tanpa ekspresi.

Guru kelas tidak bisa menahan kesedihan. "Jika kau menyerahkan kertas kosong, apa kau tidak khawatir membuat orang tuamu kecewa ..."

Ekspresi Shangyuan berubah semakin dingin, seolah-olah telah mengembun menjadi es. Dia langsung memotong, "Apa sudah cukup?"

Suara guru kelas menggantung.

"Aku akan pergi jika sudah cukup."

Guru kelas yang menatap wajah dingin Shangyuan berubah tertegun.

Melihat guru kelas tidak lagi berbicara, Shangyuan langsung berbalik pergi tanpa mengatakan apa-apa.

Setelahnya, guru kelas terhenyak dan melihat kertas jawaban kosong di tangannya, mendesah tanpa daya.

Sebelumnya dia memperkirakan bahwa nilai si peringkat satu tidak akan bisa sama dengan siswa lain, tetapi tidak menyangka bahwa pihak lain akan berani membiarkan kertas jawaban kosong dalam ujian bulanan pertama.

Dia memijat kepalanya, merasa lebih tua dua puluh tahun.

Apa yang harus dilakukan, benar-benar tidak bisa dikontrol.

Guru lain diruangan itu yang menundukkan kepalanya memeriksa lembar jawaban membuka suara. "Bukannya semakin tinggi IQ, semakin baik siswa, normal."

Guru kelas dari Kelas A tidak berdaya, "Kau menonton lelucon di sana."

Guru yang mengoreksi kertas tes tertawa dan bertanya, "Apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau tidak bisa meninggalkannya sendirian."

Bagaimana pun, saat ujian simulasi, Shangyuan mendapat peringkat satu dengan 755 poin.

Jika hasil tes bulanan Shangyuan keluar, itu tidak baik untuk reputasi SMA Chengnan.

Guru kelas dari Kelas A melihat pada kertas kosong di depannya dan menghela nafas, "Pertama-tama aku akan bertanya pada teman sekelasnya apa ada masalah."

Guru yang sedang memeriksa jawaban, merespon tanpa mengangkat kepalanya, "Kalau tidak ada masalah dengan teman sekelasnya?"

Guru kelas dari Kelas A menghela nafas lagi dan merasa tanpa daya. "Apa yang bisa dilakukan? Mengambil pilihan satunya lagi."

- Memanggil orang tua.

Jadi, sebelum ujian sore hari, guru kelas dari Kelas A memanggil Cheng Hao, ketua tim kelas A ke kantornya.

Cheng Hao juga berpikir bahwa nilai bahasanya menurun sangat buruk, jadi dia merasa takut.

Cheng Hao ketakutan berdiri didepan guru kelas di ruang guru, takut guru kelas akan mengatakan: Cheng Hao, nilaimu menurun sangat buruk.

Namun, guru kelas hanya bertanya. "Apa ada diantara teman sekelas yang punya masalah dengan Bo tongxue?"

Cheng Hao tertegun sejenak, tidak menyangka mendengar pertanyaan tentang Shangyuan.

Dia tampak tidak mengerti. "Ah?"

"Guru hanya sekedar bertanya. Jika kau tidak tahu, lupakan saja."

Cheng Hao berpikir sejenak. "Sepertinya dia tidak pernah ada masalah dengan yang lain ..."

Tepatnya, Shangyuan selalu acuh.

Dia saja tidak pernah berbicara, bagaimana bisa ada masalah dengan teman sekelas?

Guru kelas mengerutkan kening. "Bagaimana dengan beradu argumen? Apa tidak ada?"

Cheng Hao berbisik. "Dia tidak peduli siapapun ..."

"Apa dia pernah mengatakan sesuatu tentang keluarga, seperti apa yang terjadi dengan keluarganya?"

Cheng Hao masih menggelengkan kepalanya.

"Selain Duan tongxue, dia tidak berbicara dengan yang lain."

"Duan tongxue? Duan Lun?"

Cheng Hao mengiyakan lalu berkata. "Dikelas, dia hanya sesekali bicara dengan Duan Lun."

Guru kelas langsung berpikir sejenak. "Kalau begitu panggil Duan Lun, dan kau bisa kembali."

Cheng Hao bergumam mengiyakan dan berbalik pergi.

Dia bingung dan menggaruk kepalanya, bertanya-tanya, guru kelas tiba-tiba bertanya apakah ada masalah antara Bo tongxue dengan teman sekelas.

Cheng Hao kembali ke kelas dan memanggil Duan Lun.

Duan Lun pergi ke kantor. Ketika guru kelas bertanya, dia langsung menjawab tanpa beban. "Oh, itu karena dia bertengkar dengan kekasihnya."
  
Ekspresi guru kelas itu sulit dipercaya. "Apakah itu hanya karena dia bertengkar dengan kekasihnya?"

Hanya karena bertengkar, Bo Shangyuan mengumpulkan lembar jawaban kosong???

Guru kelas juga terkejut dengan kenyataan bahwa Bo Shangyuan punya kekasih.

Duan Lun yang tahu tentang Bo Shangyuan. Ketika dia melihat ekspresi guru kelas, dia langsung menebak mengapa guru kelas memanggilnya.

Duan Lun mengangkat alisnya dan bertanya. "Apa karena Shangyuan mengumpulkan lembar jawaban kosong?"

Guru kelas menatap senyum tengil diwajah Duan Lun dan tidak bisa berkata-kata.

Tanpa menunggu guru kelas menjawab, Duan Lun melambaikan tangannya dan berkata perlahan, "Dia seperti ini ketika masih di SMP. Sudah biasa. Itu tidak mengejutkan, jika dia masih mengumpulkan lembar jawaban kosong beberapa subjek berikutnya."

Guru kelas berdiri dengan sikap tertegun. "Apa? Dia masih akan mengumpulkan lembar jawab kosong?!"

Duan Lun menyengir dan berkata, "Ya."
.
.

Tiga hari kemudian.

Seperti yang dikatakan Duan Lun, dalam dua hari berikutnya, Bo Shangyuan masih mengumpulkan lembar jawaban kosong.

Kecuali namanya, tidak ada yang ditulis.  Permukaan kertas putih bahkan lebih bersih dari wajah.

Guru kelas melihat sembilan lembar jawaban kosong di tangannya dan sudah lama terdiam.

Kemudian, dia menemukan file SMP Bo Shangyuan, dan menelepon pada kontak darurat.

"Halo, apakah Anda orang tua dari Bo tongxue? Saya adalah guru kelasnya dari SMA Chengnan."

Pihak lain menerima telepon tampak sangat tersanjung, "Ah, halo. Aku orangtuanya."

Guru kelas menjelaskan. "Mentalitas belajar Bo tongxue baru-baru ini memiliki beberapa masalah. Saya harap Anda dapat datang ke sekolah untuk mengobrol. Mari kita bicara tentang bagaimana menyesuaikan mentalitas Bo tongxue."

Pihak lain merespons dengan suara yang bagus dan berkata, "Aku akan segera datang."

Pada saat bersamaan.

Hari ketiga juga merupakan waktu untuk menempelkan hasil ujian bulanan.

Hasilnya diumumkan di papan pengumuman di lantai pertama, dan masih disusun dari Kelas A hingga Kelas F. Hasilnya masih berperingkat dari tinggi ke rendah.

Gu Yu berdiri di depan papan buletin dan melihat ke bawah untuk menemukan namanya.

Gu Yu tidak melihat hasil Bo Shangyuan.

Tidak ada yang perlu dilihat.

Kalau bukan peringkat satu, apa lagi?

Tepat ketika Gu Yu sedang mencari namanya, dia mendengar beberapa orang yang berdiri di sekitar sedang mendiskusikan Bo Shangyuan.

"Aku dengar Bo Shangyuan hanya mengumpulkan lembar jawaban kosong kali ini."

"Omong kosong, ini adalah SMA Chengnan. Jika mengumpul lembar jawaban kosong, bukankah itu akan jadi hal serius?"

"Aku dengar dari orang-orang di Kelas A mengatakan saat sedang ujian, dia bahkan tidak memindahkan penanya dan hanya duduk diam di sana."

"Damn! sungguh?"

"Kalau tidak, kenapa tidak ada nama Shangyuan di papan buletin."

"Bo Shangyuan sangat berani! Aku tidak akan berani mengosongkan semua lembar jawaban!"

"Tidak heran kalau Kelas A berubah heboh. Yang lain ingin mendapatkan peringkat satu, dia malah mengumpulkan kertas kosong ..."

"Ckck..."

Gu Yu tertegun sejenak, dia segera melihat daftar nilai kelas A untuk menemukan nama Bo Shangyuan.

Namun, seperti yang baru saja dikatakan, tidak ada nama itu di papan buletin.

Gu Yu ingat apa yang terjadi lebih dari tiga hari yang lalu, sambil melihat papan buletin, pikirannya menjadi rumit.

Orang-orang yang baru saja berdiskusi di sekitar papan buletin tiba-tiba berseru.

Bukan hanya orang-orang itu, tetapi orang lain di sekitar mereka juga tercengang.

"Sa-sangat cantik!"

"Wow, terlihat bagus."

"Kakak siapa ini?"

"Ini sangat mengesankan ..."

Gu Yu berbalik dan melihat seorang wanita jangkung yang mengenakan gaun hitam berjalan di belakangnya.

Wanita itu mengenakan hak tinggi delapan sentimeter, mengenakan kacamata hitam besar dan membawa tas berjalan naik ke lantai dua.

Gu Yu menatapnya dan bertanya-tanya apakah itu ilusi. Dia merasa wajah itu agak mirip dengan Bo Shangyuan.

Wanita itu mengangkat kakinya ke lantai dua. Dia berhenti didepan pintu ruang guru yang terbuka, lalu mengetuknya. "Halo, aku adalah orang tua dari Bo Shangyuan. Apa aku boleh masuk?"

Guru kelas dari Kelas A tertegun dan dengan cepat berdiri.

Dia memandang wanita itu, tidak, itu harus disebut ibu Bo sekarang.

"Silahkan masuk!"

Ibu Bo tersenyum dan mengangkat kakinya masuk kedalam.
.
.

Kelas A.

Kedatangan Ibu Bo dengan penampilannya sangat indah dan luar biasa, dan gaun hitamnya yang glamor. Terlihat seperti bangsawan kelas atas, penuh dengan suasana elegan. Oleh karena itu, segera setelah muncul, dia menarik perhatian semua penghuni sekolah.

Karena itu, Shangyuan secara alami pun tahu hal itu.

Mengapa ibu Bo datang, Duan Lun tidak tahu di awal, tetapi setelah beberapa saat, dia menyadari.

Duan Lun diam-diam melirik Shangyuan yang duduk di depannya, dia batuk pelan, lalu mengalihkan pandangannya.

Uhuk, dia tidak tahu apa-apa ...

Sedangkan Shangyuan hanya duduk diam dan tidak ada respons.

Seakan yang ada di ruang guru saat ini adalah orang asing yang tidak ada hubungan dengannya.
.
.

Di dalam kantor.

Entah karena pesona ibu Bo yang terlalu kuat dan berkelas, guru kelas A yang berpengetahuan luas tidak bisa menahan kegugupan.

Guru kelas dari Kelas A berusaha sesederhana mungkin, "Anakmu Shangyuan, mengumpul lembar jawaban kosong di semua mata pelajaran ..."

Ibu Bo sedikit tertegun, lalu tampak tenang.

Guru kelas dari Kelas A melihat bahwa sang ibu begitu tenang, terkejut. "Apa anda sudah tahu?"

Ibu Bo menggelengkan kepalanya dan berkata, "Dia sudah biasa mengumpul lembar kosong ketika masih SMP ..."

Guru kelas dari Kelas A secara tidak sadar bertanya, "Itu karena ..."

Ibu Bo menghela nafas, tampak kecewa dan frustasi.

Guru kelas lanjut bertanya. "Apa Anda tahu jika anak Anda sedang jatuh cinta?"

Ekspresi ibu Bo sangat terkejut. Dia melebarkan matanya. "Apa dia punya kekasih?"

Guru kelas dari Kelas A mengangguk pahit, "Duan Lun yang bermain baik dengannya, mengatakan bahwa kali ini dia mengumpulkan kertas kosong karena bertengkar dengan kekasihnya."

Ibu Bo tertegun. "Jika nak Duan Lun yang mengatakannya, itu pasti benar ..."

Guru kelas berkata, "Meskipun saya tidak menentang cinta remaja, tetapi jika sampai mengganggu belajar, itu tidak baik. Anda harus kembali dan membujuk anak Anda. Dia harus tetap fokus dengan pelajaran selama tiga tahun masa SMA. Mengenai hal semacam cinta remaja seperti itu, harus dikesampingkan dulu."

Ibu Bo diam mendengarkan.

Untuk membuat Shangyuan memandangnya saja sudah sulit.

Bagaimana mungkin membuat Shangyuan mendengarkannya?

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments