34. Tak yakin (16+)


Guo Zhi gemetar ketika merasakan tangan Shi Xi masuk kedalam pakaiannya, jari-jarinya membakar kulit dari perut ke dada, ciumannya jatuh dibahu dengan lembut menggigit pakaiannya, tangan yang lain diletakkan di tulang kerah.

Tangannya perlahan bergerak ke bawah, dan kemudian dia menangkap sesuatu disana. Napas Guo Zhi terengah, kepalanya bersandar, jari-jarinya tegang disisi tubuh, dan mulutnya tanpa sadar memanggil “Shi Xi~~” terdengar seperti desahan yang bergetar.

Shi Xi berdiri lalu mengangkat Guo Zhi ditangannya. Dia membalikkan tubuh itu untuk menghadapnya dan membawanya ke meja. Guo Zhi bisa melihat wajah Shi Xi yang indah dan bergairah, dia menaruh kepalanya dada Shi Xi, “Matikan lampunya.”

Shi Xi tidak bicara dan memasuki dengan tiba-tiba membuat tubuh Guo Zhi melengkung, tangannya dibahu Shi Xi, semua yang ada dalam pandangannya bergetar menjadi buram, cahaya, gorden, buku, DVD dan hanya Shi Xi yang jelas.
 
Setelah beberapa saat, Guo Zhi menaruh tangannya diatas meja, menekan kertas yang berserakan, mereka bergerak, dan ketika mencapai klimaks, kakinya secara tak sadar memeluk pinggang Shi Xi.

Perasaan yang mendalam ditubuh memengaruhi pikirannya. Saat yang pertama kali, dia kehilangan arah dalam kekuatan dan kecepatan, pikirannya kosong, terus mendesah, mencapai klimaks dan kemudian ambruk.
.
.

Ketika Guo Zhi bangun, dia sudah berada dibawah selimut ditempat tidur. Dia tidak melihat Shi Xi disampingnya. Dia memalingkan muka melihat Shi Xi duduk dan sedang mengetik didepan komputer. Lampu seluruh ruangan padam, tidak ada yang tersisa, hanya tersisa suara ketikan keyboard dan senyum ringan Guo Zhi, ia memeluk bantal, bergeser ke ujung tempat tidur lebih dekat dengan Shi Xi dan kemudian tidur lagi.
.
.

Paginya, Guo Zhi akan tidur lagi jika alarmnya tak berbunyi. Ia bangun, memegang kepalanya lalu menatap Shi Xi dengan tidak siap. Ketika Shi Xi tertidur, wajah itu melepas pertahanan dan ketidakpedulian terhadap dunia, hanya tersisa deruan napas yang tenang.
Memastikan Shi Xi belum bangun, Guo Zhi dengan hati-hati membuka selimut, mengenakan pakaiannya, dan kemudian duduk di meja, mengambil pena, dan menggigit tutup pena, memikirkan apa yang harus ditulis untuk Shi Xi. Dia sudah banyak bicara, tapi mengapa hatinya masih penuh kata-kata, dia mengerutkan kening sesaat, lalu menunduk dan mulai menulis dengan serius.
 
Akhirnya, ia menggambar kartun lucu sebagai penutup.

Dia membuka pintu dan berdiri di luar. Dia berbisik pada Shi Xi yang masih tidur diranjang dengan sangat lembut, dan tidak ada yang bisa mendengar, “Selamat tinggal, Shi Xi.”
.
.

Hua Guyu dengan tidak sabar menunggu seorang diri di kamar Guo Zhi. Ke Junjie baru saja pergi. Ketika dia melihat Guo Zhi, dia mendengus dan menyipitkan mata ingin mengumpat, Guo Zhi langsung bergegas ke tempat tidur dan menyiapkan kopernya, “Aku sangat keterlaluan. Aku membiarkan seorang pria bunga yang tampan menungguiku.”
 
Pujian seperti itu sangat berguna untuk Hua Guyu, kelemahan terbesarnya mungkin keindahannya sendiri, selama dia dipuji, moodnya akan membaik. Hua Guyu melipat tangan, mengamati Guo Zhi, bibirnya melengkung seakan ada yang perlu ditertawakan.

“Aku tahu apa yang terjadi saat kau dibekap Shi Xi.”

Guo Zhi menyeka wajahnya yang memerah dan menyangkal, “Hua er, kau, apa yang kau katakan? Ini bukan aroma Shi Xi. Aku, aku memakai pelembab semalam.”
 
“Kalian terlalu mudah untuk ditebak!” Setelah mengatakan itu, Hua Guyu mengalihkan topik seakan tidak pernah membahasnya. “Apa ada rahasia atau kebiasaan buruk Shi Xi?” 

“Tidak.” Guo Zhi hampir tidak memikirkannya dan berkata tanpa berpikir.

“Tidak mungkin tak ada satupun!” Hua Guyu tidak akan percaya. Dia tidak hanya ingin mengalahkan Shi Xi soal tampilan fisik, tetapi juga mengenai ideologi dan moralitas.

Setelah mengemas koper, Guo Zhi berjalan ke stasiun bersama Hua Guyu. Satu tangan menyeret koper dan tangan lainnya menghitung jari, “Menurutku, Shi Xi sangat baik, lembut, perhatian…” Jemarinya tidak cukup merincikan.

Hua Guyu masih mencari kelemahan Shi Xi, menatap keki. “Apa kau yakin kalau kita mengenal orang yang sama? Kelebihan yang kau katakan itu, aku belum pernah melihatnya. Sepertinya bertanya padamu hanya sia – sia. Aku harus menemukan seseorang yang membencinya sama sepertiku untuk dijadikan teman.” 

Guo Zhi menepuk bahu Hua Guyu, “Hua er, kau bohong, kau tidak membenci Shi Xi. Kau menyukainya, meskipun agak berbeda dari rasa sukaku.”

“Aku hampir saja memuntahkan sarapanku. Berani kau mengatakannya lagi, aku akan mendorongmu dari kereta.” 

“Kalau begitu aku tidak akan mengatakannya.” Guo Zhi menyeret koper dan naik ke kereta, bergumam sambil berjalan. “Hua er memang tipe yang membanggakan diri.”

“Aku mendengarnya!”

Guo Zhi duduk di kereta dan memandang ke luar jendela, dia menyadari waktu cepat berlalu. Dia belum kembali ke rumah untuk waktu yang lama. Pada awalnya, ia menginjakkan kaki di kereta dengan hati kosong, memikirkan Shi Xi; sekarang berada lagi dikereta dengan hati yang penuh, masih memikirkan Shi Xi.
Ketika bersama Shi Xi, waktu seakan terhenti.

Ketika jauh dari Shi Xi, waktu begitu cepat berlalu.
.

 
Baru sampai di rumah, Guo Zhi membuka pintu. Ini adalah adegan yang akrab. Ayah merokok sambil menonton TV dan ibu sedang sibuk di dapur.
 
“Aku pulang.”

Zhou Hui yang mendengar suara Guo Zhi, menoleh sambil tersenyum. Dia menyeka tangannya di pinggang dan mencoba mengambil koper Guo Zhi namun Guo Yunyong mencegah, “Kau biarkan dia melakukannya, dia sudah dewasa. Kau jangan memanjanya.”

“Ibu, aku bisa membawanya sendiri.”

Guo Zhi menyeret koper ke kamar, dan kemudian keluar dan duduk dihadapan ayahnya. Guo Yunyong memadamkan puntung rokok yang terbakar, lalu menatap Guo Zhi. “Bagaimana ujiannya?”
 
“Lumayan.”

“Universitas adalah kunci kesuksesanmu. Belajar dengan baik, dan nantinya akan sangat berguna untukmu mencari pekerjaan setelah terjun ke masyarakat. Tidak ada perusahaan yang akan menerima siapa pun yang tidak memahami apa-apa.” Guo Yunyong memiliki banyak kunci. Dia biasa mengatakan saat Guo Zhi SMP, lalu SMA, dan sekarang universitas. Dia tidak ingin membiarkan Guo Zhi menjalani hidup dengan sangat mudah, dia harus mengencangkan semangat Guo Zhi setiap saat. Tidak bisa santai.

“Aku mengerti.” Guo Zhi menjanjikannya, tetapi matanya tak tahan untuk mengarah ke rotan yang bersandar di sudut. Itu tidak digunakan selama bertahun-tahun. Itu tinggal di sana dengan tenang, dan ditutupi dengan lapisan debu tipis.

Di saat SMP, ia bersumpah dengan rasa sakit fisik dan rasa tidak suka pada dirinya sendiri, tidak akan pernah membiarkan ayahnya marah lagi, tidak akanpernah membiarkan ibunya menangis lagi, tidak akan pernah membiarkan rotan berayun di tubuhnya lagi, karena itu menyakitkan, karena itu benar-benar menyakitkan, bahkan sekarang, Guo Zhi tidak bisa melupakan rasa sakitnya.

Tahun itu, dia meyakinkan dirinya sendiri.
Sekarang, matanya adalah ayah, ibu dan rotan, tetapi hatinya adalah Shi Xi.
Sumpah sebelumnya telah runtuh, hanya menyisakan cangkang kosong penuh kebohongan. Dia tidak bisa menjaminnya lagi.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments