33. Seperti drama


Baru saja keluar dari gedung, seorang pria dengan penampilan serba hitam, jas hitam tebal, dasi hitam, celana panjang hitam, sepatu kulit hitam, kepala sikat, membungkuk padanya. "Tuan Li Xiang, silahkan lewat sini."

Li Xiang terkejut, baru ingin mengatakan tidak perlu membungkuk, pria serba hitam itu sudah kembali berdiri tegak, tidak memandangnya sedikitpun.

Ponselnya kembali berdering, suara wanita kembali terdengar. "Apa kau melihat mobil?"

Li Xiang menemukan bahwa ada sebuah mobil biru mewah terparkir kurang dari lima meter tetapi dia tidak tahu pemilik mobil itu, jadi dia tidak mengerti. "Lihat, lihat."

"Naik, aku menunggumu."

Li Xiang mengikuti pria serba hitam itu, baru mengambil dua langkah, dia berhenti dan berkata ke telepon. "Apa kau bisa menungguku selama lima menit?"

"Apa?"

"Aku akan kembali naik ke atas dan berganti pakaian. Aku tadi terburu-buru keluar."

 "..." Wanita ditelepon mengambil napas dalam-dalam dan lanjut berbicara. "Tidak, masuk saja ke mobil."

“Oke, aku datang.” Li Xiang akhirnya berjalan ke depan mobil, pria serba hitam itu membukakan pintu untuknya, Li Xiang duduk, tidak ada orang di belakang. Pria serba hitam itu duduk di kursi pengemudi dan kursi penumpang depan juga kosong.  Li Xiang bertanya, "Kau dimana? Kenapa tidak ada dimobil?"

"Aku tidak di dalam mobil!" Pihak lain mendengus dan kembali dengan nada tenang. "Aku menunggumu di kedai kopi. Kau akan melihatku dalam lima menit, tutup telepon."

Sepanjang jalan, pria serba hitam itu diam dan berkonsentrasi mengemudi. Li Xiang bosan, melihat ke kiri, melihat ke kanan, dan kemudian masih bosan, linglung. Untungnya, hanya lima menit bagi mobil untuk berhenti.

Pria serba hitam membawa Li Xiang ke pintu kedai kopi, membungkuk dan berbalik pergi. Li Xiang melihat bagian belakang lelaki serba hitam itu, batinnya mendesah, berpikir apa ini sosial kuno, bagaimana bisa orang seperti itu ada.

Li Xiang memasuki kedai kopi. Ini adalah kedai kopi yang belum pernah dikunjunginya, bahkan namanya belum terdengar, tidak seperti kedai berbintang lain yang dibuka pada posisi paling mencolok, tetapi ini disembunyikan di kedalaman pusat kota, takut ditemukan.

Kedai itu kecil, hiasannya sangat halus, gaya abad pertengahan, hiasan di dinding seperti barang antik dengan perubahan-perubahan kehidupan, aroma kopi yang mengambang dimana-mana. Li Xiang mungkin menduga bahwa ini adalah jenis bisnis yang dibuka untuk lingkaran kenalan.

Seorang wanita duduk di kursi kulit di depan, Li Xiang hanya bisa melihat punggungnya. Rambutnya diikat model hair bun, mantel bulu yang dikenakan dirajut dengan benang emas. Ujung mantel bulu mengkilap tergantung di sudut kursi kulit, seakan itu tidak berharga.

Batin Li Xiang meditasi: Ini bukan ibu Xu Kai, ini bukan ibu Xu Kai ...

Wanita itu dengan anggun mengangkat ponsel di atas meja dan mengetuk layar.  Pada saat yang sama, telepon seluler Li Xiang berdering. Wanita itu menoleh, kulitnya sangat putih dengan riasan tipis diwajah. Tahun-tahun terlewat meninggalkan jejak di wajahnya, tetapi bisa dilihat wanita itu orang yang cantik.

Wajah ini, Li Xiang melihatnya di album foto Xu Kai. Itu benar-benar ibu Xu Kai ...

"Kenapa hanya berdiri di sana?" Wanita cantik itu mendesaknya dengan tidak sabar. Ayo duduk."

“Oh oh!” Li Xiang mendekat dan duduk di seberangnya, mengenakan mantel abu-abu polos, dikelilingi syal hitam tebal, dia melihat kalung mutiara besar di leher wanita itu. Dia juga mengenali mutiara itu. Dengan ikon berlian, dua huruf C back-to-back, Li Xiang berkeringat dan merasa gelisah.

“Apa kau tidak panas?” Ibu Xu berbicara.

Penghangat udara benar-benar besar. Li Xiang melepas syal dan menggulungnya menjadi bola dan meletakkannya. Kemudian dia melepas mantelnya dan tidak melipatnya, dia menekannya langsung diatas syal itu. Li Xiang kini hanya mengenakan sweter dengan huruf Inggris besar khusus.

Ibu Xu Kai memandang matanya sedikit muak, tetapi dengan cepat menyamarkannya, diganti dengan senyum yang anggun, tetapi nadanya tidak terlalu ramah. "Mau minum apa?" Sambil mendorong menu di atas meja ke Li Xiang.

Pada saat yang sama, pelayan yang mengenakan rok seragam menyambutnya, memegang pena dan kertas, menunggu pesanan Li Xiang.

Buka daftar kopi, baris teratas tidak tahu bahasa mana, berikut ini ditulis dalam garis kecil bahasa Inggris, tidak ada bahasa Cina. Li Xiang berpikir keras untuk melihat bahasa Inggris dan mendapati bahwa banyak kosa kata profesional tidak dapat mengerti, sedikit canggung, sedikit tergagap. "Tunggu sebentar, aku ingin ... oh ... biarkan aku melihat ..."

"Beri dia sama denganku," kata ibu Xu Kai kepada pelayan, lalu berbalik untuk melihat Li Xiang, "Apa tidak apa-apa?"

“Ya!” Li Xiang menutup daftar itu dan mengembalikannya kepada pelayan. Meskipun dia sedang terburu-buru, dia merasa sedikit tidak nyaman dan merasa ringan.

Pelayan pergi, dan ibu Xu bicara langsung ke inti. "Aku rasa, kau tahu apa yang aku cari."

Batin Li Xiang meditasi: dia tidak tahu tentang kami, dia tidak tahu tentang kami...

"Apa? Kau tidak akan mengatakannya?" Ibu Xu menyeruput kopi dan menatapnya. "Hm, kau tidak bilang tapi Xu Kai sudah memberitahuku segalanya ..."

Duarrr! Li Xiang merasa tersengat kilat. Ibu Xu Kai benar-benar mengetahuinya.

“Kau tahu tidak apa yang dia katakan kepadaku?” Mata ibu Xu aneh dan sepertinya sedang menahan mood.

Li Xiang menggelengkan kepalanya dengan penuh minat.

"Dia bilang ingin menghabiskan seumur hidup bersamamu, demi kau dia melepaskan bisnis keluarga ..." Mulutnya menyeringai sedikit mencibir. "Keluarga kami Xu Kai awalnya akan mengambil alih bisnis keluarga dan menjadi kebanggaan. Demi kau dia melepasnya, aku takut bahkan jika aku seorang ibu, dia tidak menginginkannya ... "

Jumlah informasi ini terlalu besar, mata Li Xiang melebar, "Bisnis apa?" Keluarga Xu Kai membuka toko?

"Kau tidak mengetahuinya? Kau tidak tahu Grup Xu? Xu Kai kami sebagai penerusnya."

Oh ... Sepertinya dia pernah mendengar bahwa itu adalah perusahaan besar di pusat kota. Xu Kai ternyata adalah tiran lokal?

Melihat ekspresi terkejut Li Xiang, ibu Xu menghela nafas. "Aku tidak tahu apa kau ini benar-benar tidak tahu atau pura-pura bodoh ... Keluarga Xu selalu berpikiran terbuka. Jika Kai Kai kami menemukan seorang gadis dan ingin menikah, aku pasti langsung setuju tanpa berpikir. Tapi kau seorang lelaki, bisakah kau meninggalkan Xu Kai kami?"

Li Xiang masih menggelengkan kepalanya.
Ibu Xu menatapnya, ingin mengatakan sesuatu tetapi ragu. Li Xiang berpikir, kalimat selanjutnya pasti berapa banyak uang yang kau inginkan, sangat gugup ...

Benar saja, ibu Xu berkata, "Katakan saja, berapa banyak uang yang kau inginkan agar meninggalkannya?"

Mata Li Xiang menyala. Di mata ibu Xu, dia tampak seperti orang yang benar-benar menginginkan uang. Ketika mendengar itu, dia mengerjap. Li Xiang tidak memberikan jawaban, tetapi hanya menunduk, menatap jari-jarinya.

Ibu Xu meremehkan dan berkata dengan nada biasa. "Satu juta?" Sama seperti berapa banyak uang untuk belanja di pasar.

Li Xiang mendongak, woah, banyak sekali!  Tapi menggelengkan kepalanya.

"Dua juta?"

Li Xiang menggelengkan kepalanya.

"Lima juta?"

Terus menggelengkan kepala.

Ibu Xu menundukkan dan menyeruput kopinya. "Kau lebih serakah daripada yang kupikirkan, tidak sebodoh penampilanmu. Hm, kau membuka harga, berapapun akan aku berikan, buku cek ada di tasku."

Reaksi pertama Li Xiang adalah wow sangat kaya dan memiliki buku cek!  

Reaksi kedua adalah bahwa ibu Xu Kai terlalu bodoh, berani mengatakan membawa buku dengan keras, bagaimana jika ada orang jahat yang dengar dan berniat merampoknya?

Lalu dia mulai merenungkan kalimat,"tidak sebodoh penampilanmu", dia terlihat bodoh? Jelas tidak bagus ...

Disisi lain, ibu Xu mengeluarkan buku cek dan pena dari tas. "Sudah waktunya untuk memikirkannya, cepat beri tahu aku."

Li Xiang bermeditasi sebentar, mendongak dan tersenyum, "Berapa banyak uang keluargamu?"

"Kau begitu serakah!" Suara ibu Xu menjadi tajam lagi. "Katakan, berapa banyak yang kau inginkan! Aku akan memberimu!"

Li Xiang dikejutkan oleh reaksinya, kulit kepalanya mati rasa, tidak sopan bertanya pada orang kaya tentang harta mereka. Kemudian pundaknya tenggelam dan wangi yang tidak asing - tangan Xu Kai bertengger dengan nyaman di bahunya. "Tidak apa," lalu duduk di sisinya. Li Xiang benar-benar merasa jauh lebih aman.
Xu Kai mengeluarkan kartu bank dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. Dia memandang Li Xiang. "Aku akan berbicara denganmu juga. Berapa banyak yang dia berikan padamu, aku akan memberimu lebih dari padanya."

Ibu Xu dengan marah menepuk meja. "Apa yang kau lakukan!"

Xu Kai dengan samar berkata, "Apa yang kau lakukan?"

"Aku lakukan ini untukmu! Sekarang kau mungkin membenciku, kau akan berterima kasih padaku di masa depan."

"Menurutku, kau menyakiti orang yang kusuka."

"Apa yang baik tentang orang ini? Dia sangat buruk, pakaiannya jelek, canggung, bahkan bodoh bahasa Inggris!"

"Kurasa dia terlihat baik dan seleranya bagus. Buktinya dia suka putramu."

Li Xiang menyaksikan keduanya saling melempar kalimat. Ketika ibu Xu mengatakan dia sangat buruk, dia menahan napas, lalu saat Xu Kai membantunya untuk berbicara, dia sangat senang. Dia kemudian membujuk mereka untuk tidak bertengkar. "Itu, jangan berdebat!"
“Diam!” Ibu Xu mengerang, lalu memusatkan ekspresi. “aku baru saja kehilangan akal ... Li Xiang, Xu Kai sekarang telah melepaskan bisnis keluarga, dia orang miskin; dan aku memegang dana Grup Xu di tanganku. Kau harus memilih siapa, aku percaya, hatimu jernih."

Xu Kai memberinya kartu gaji. "Benar-benar tidak ada banyak uang di dalamnya. Aku akan memberikan semua uangku di masa depan."

Li Xiang menarik lengan baju Xu Kai. "Kau tidak perlu memberiku kartu gaji. Cukup beri aku satu yuan."

Wajah Xu kaku dan sepertinya sulit dipercaya.

Xu Kai mengeluarkan koin 1 yuan untuk Li Xiang, lalu membantunya mengenakan mantelnya dan membungkusnya dengan syal, "Ayo pergi."

Li Xiang diseret dan berkata, "Tapi kopi yang aku pesan belum muncul."

"Ayo pergi ke tempat lain."

"Belum dibayar ..."

"Tidak perlu, biarkan ibuku membayar, dia punya uang."

Keduanya menjauh dari kedai kopi. Biarkan ibu Xu duduk di sana, mematung.
Sambil berjalan, Xu Kai bertanya, "Kenapa satu yuan?"

"Aku meminjamkanmu satu yuan, kau sangat baik padaku. Sekarang kau memberiku satu dolar, aku akan sangat baik padamu." Li Xiang meniup napas dua kali, menggosok keduanya tangannya yang dingin. "Aku bertanya pada ibumu berapa banyak uang yang keluarganya miliki, dia terlihat marah, padahal aku ingin menyebutkan harga yang dia tidak mampu bayar."

"Aku akan memberitahunya," Xu Kai memasukkan tangan Li Xiang ke sakunya. "Dingin?"

"Tidak dingin."

 Dari hati ke tangan, terasa hangat.
🌻🌻🌻



Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments

  1. Ngakak gua sama kelakuan nie anak...masih bisa dia ngelawak ...

    ReplyDelete
  2. Suka bgt sm kata2 xu kai makin aku cintaaaaa

    ReplyDelete
  3. entah kenapa aku pengen kkk li bikang kalau "harga kamu (Xu Kai) kekasihku melebihi kekayaan yang akan ibu mertua wariskan padanya" hahahahaha sekarang kamu tau betapa serakahnya kkk li ku hahahahahaahhahaa

    ReplyDelete
  4. Kirain bakal melow2 penuh drama sinetron, eh tau ny😁😁😁

    ReplyDelete
  5. Aduh ampun deh,,
    Li Xiang ini ya,,,
    Aduh aduh aduh

    ReplyDelete

Post a Comment