32. Dia tiba-tiba merasa lelah untuk berbicara.

Royal Club.

Ruang 802.
Setelah sekolah resmi dimulai, akhirnya tiba akhir pekan.

Duan Lun mengajak Shangyuan dan kemudian, bersama beberapa gadis cantik dari kelas lain, pergi ke Royal Club untuk bersenang-senang.

Shangyuan ingin sendirian.

Seperti sebelumnya, dia tidak akan datang.

Namun, ketika memikirkan seseorang, dia berubah pikiran setelah waktu yang lama.

Di luar gerbang Royal Club, Bo Shangyuan mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang.

[ Di mana? ]

... Tidak ada balasan

Shangyuan masih berdiri di tempat yang sama untuk sementara waktu.

Namun, masih belum ada balasan.

Duan Lun yang berdiri di belakangnya sambil merangkul dua gadis, memandangnya bingung. "Xing Bo, ada apa?"

Mata Shangyuan masih tertuju di layar ponsel, tidak merespon.

Melihat itu. Duan Lun tiba-tiba memikirkan sesuatu, dan mengangkat alisnya. Dia terkekeh dan berkata. "Apa sedang menunggu kekasih tercinta membalas pesan?"

Dua gadis dipelukannya, bertanya penasaran, "Apa dia benar-benar punya kekasih?"

Karena Shangyuan tidak pernah mengatakan siapa kekasihnya, dan tidak ada yang melihat satu gadis berjalan lebih dekat dengannya, jadi desas-desus tentang Shangyuan yang punya kekasih lambat laun membuat orang mulai bersikap skeptis. 

Duan Lun mengangkat alisnya, "Ya, itu lumayan cantik."

Kedua gadis itu semakin penasaran. "Siapa?"

Duan Lun tersenyum miring. "Aku akan beritahu kalau kalian menciumku dulu."

Kedua gadis itu mencibir, dan meninju dada Duan Lun.

Duan Lun meringis, pura-pura kesakitan.

Persis ketika Duan Lun dan kedua gadis itu bermain-main di belakang, dan mereka bersenang-senang, Shangyuan mengerutkan kening dan masih menatap ponselnya.

Apa dia masih tidur?

Apa dia tidak membuka pesan?

Shangyuan keluar dari WeChat. Lalu membuka kotak masuk pesan teks, menemukan pesan Gu Yu ketika keduanya bertukar ponsel dirumah sakit. Shangyuan melihat pesan teks yang dikirim oleh ponselnya, dan kemudian menekan nomornya.

Maaf, panggilan yang Anda buat sementara tidak dijawab.

Shangyuan mematikan sambungan yang belum terhubung. Wajahnya berubah serius.

... Apa yang sedang dia lakukan sekarang?

Di belakangnya, Duan Lun sudah selesai bercanda, mengalihkan pandangan kembali pada Shangyuan.

Duan Lun mengangkat dagunya. "Ruangan sudah dibuka, apa kekasihmu sudah membalas pesan?"

Shangyuan kembali menyimpan ponsel, suasana hatinya memburuk lagi. "Belum."

Shangyuan dengan ekspresi buruk melangkah ke aula di lantai pertama Royal Club.

Kedua gadis itu melihat interior cerah dan indah di depan mereka, menahan napas dan memandang takjub.

Namun, melihat pemandangan ini, suasana Shangyuan bahkan lebih buruk.

Itu membuatnya tanpa sadar mengingat rumah keluarganya.

Tidak seharusnya itu dikatakan sebagai rumah.

Tempat itu tidak layak disebut rumah.

Menatap pemandangan di depannya, wajahnya dingin dan dipenuhi kebencian  "Bagaimana kau memilih tempat ini?"

Duan Lun mencebik dan berkata, "Aku sudah bilang padamu itu adalah royal club, dan kau sudah menyetujuinya!"

Setelah itu, ekspresi Duan Lun menjadi riang.

Duan Lun melihat suasana hati Shangyuan sedang tidak baik. Dia menopang tangannya di bahu Shangyuan dan berbicara pelan ditelinganya, "Gadis tidak terbiasa dengan itu. Kau harus membiarkannya merasakan krisis. Perasaan seperti itu untuk membuatnya mengambil insiatif dan menghubungimu lebih dulu. Jangan terus mengejarnya setiap hari. Jika kau lakukan itu, dia akan mengabaikanmu ..."

Tidak menunggu Duan Lun selesai, Shangyuan dengan dingin meludahkan satu kata.

"Tangan."

Suara Duan Lun berhenti tiba-tiba.

Duan Lun menatapnya tanpa berkedip.

"Aku tidak menyemprotkan parfum hari ini."

"Tangan."

Duan Lun merasa tertekan dan menurunkan tangannya. "Putus! Xing Bo, aku ingin putus hubungan denganmu!"

Kurcaci kecil itu bisa memegangnya, dan ketika gilirannya, dia tidak boleh menyentuhnya.

Perbedaan macam apa ini! Pokoknya putus!

Shangyuan kemudian melemparkan kalimat dingin. "Tiga minggu lagi, tes bulanan."

Duan Lun berhenti mengeluh.

Dia seketika mengubah ekspresinya penuh dengan tawa, "Aku hanya bercanda, Bo Ge, jangan menganggapnya serius."

Setelah itu, dia menoleh untuk melihat kedua gadis di belakangnya.

Duan Lun bertanya. "Tubuhku tidak bau kan?"

Kedua gadis itu menggelengkan kepala.

Duan Lun merasa lega.
.
.

Pada saat bersamaan.

Kenapa Gu Yu tidak mengangkat telepon, karena Gu Yu tidak akan ada di kamar sama sekali.

Gu Yu tidak mendengarnya sama sekali.

Gu Yu sedang duduk diam di sofa di ruang tamu, menunggu ibu Gu selesai bicara.

"Kau memiliki nilai buruk, harus belajar lebih banyak dari tetangga Bo, ingat untuk menjadi benar dan sopan. Juga kau harus banyak bicara, jangan menjadi bodoh seperti ini setiap hari."

"..."

"Tetangga Bo memiliki nilai bagus, tampan, bersikap baik, dan sopan. Jika kau memiliki setengahnya, ibu tidak akan khawatir tentang hal itu. Hah, kenapa anak orang lain begitu baik? Sedangkan anakku seperti ini."

"..."

"Untungnya, ibu sejak awal memintamu mengisi laporan seni, dengan nilaimu itu, kau pikir bisa lolos ke SMA Chengnan?"

"..."

"Meskipun anak-anak di lantai bawah belajar buruk, mereka bersikap baik dan patuh. Terakhir kali bertemu, mereka dengan sopan memanggilku bibi. Lihat dirimu, jika aku tidak mendorongmu, kau hanya akan diam, tidak menyapa yang tua."

Ibu Gu terus mengoceh.

Gu Yu hanya duduk diam, mendengarkan.

Dia sudah biasa mendengarkannya, dan tidak ada yang bisa dikatakan.

Jadi dia hanya bisa diam.

Setelah hampir satu jam, mungkin merasa mulutnya kering, Ibu Gu pun berhenti.

Dia berkata untuk terakhir kali. "Hadiah di atas meja berikan untuk tetangga Bo. Kau antar dan katakan itu kau yang membelinya sebagai hadiah untuk tetangga baru, jadi dia bisa memperlakukanmu dengan baik nanti. Omong-omong, kau juga minta nomor telepon dan WeChat agar kalian bisa saling menghubungi di masa depan. Jika kau punya kontaknya, begitu ada kesulitan, kau bisa menghubunginya langsung."

Khawatir Gu Yu yang canggung dan tidak akan berbicara, Ibu Gu beralasan untuk membantu menetapkan pikiran Gu Yu dengan baik.

Namun, Ibu Gu tidak tahu bahwa Gu Yu sudah memiliki nomor telepon dan WeChat Shangyuan.

Hanya saja Gu Yu tidak mengatakan apa-apa.

Gu Yu mengambil tas hadiah di atas meja kopi, lalu kembali ke kamar, mengambil ponsel dan keluar.

Ibu Gu melihat kepergian Gu Yu dengan ekspresi puas.

Katakan dan lakukan saja. Ini benar.

Namun Ibu Gu tidak tahu, Gu Yu mengambil tas hadiah dan pergi ke pintu sebelah, tetapi tidak mengetuk pintu, dia hanya langsung menggantung tas hadiah di gagang pintu rumah Shangyuan.

Setelahnya Gu Yu mengangkat ponsel, siap mengirim pesan ke Shen Teng.

Begitu membuka ponsel, Gu Yu melihat panggilan yang tidak terjawab dan pesan WeChat dari Shangyuan, dia terdiam sejenak. Kemudian tidak ragu untuk mengabaikannya dan mengirim pesan ke Shen Teng.

[ Di rumah? ]

Gu Yu jarang mengambil inisiatif untuk mengirim pesan ke Shen Teng, jadi setelah Shen Teng menerima pesan dari Gu Yu, dia terkejut.

Disisi lain, Shen Teng yang melihat layar ponsel berpikir bahwa dia buta.

[ Di rumah!!! ]

[ Kenapa Xiao Yu tiba-tiba berpikir mengirimiku pesan? ]

[ 🤔 ]

Gu Yu menatap ponsel dan ekspresinya sangat tenang.

Dia mengetik balasan dan naik lift, siap untuk turun.

Singkatnya, Gu Yu tidak siap untuk pulang.

[ Pergi ke rumahmu untuk bermain game. ]

[ WTF!  !  !  !  !  ]

[ Sungguh!  !  !  ! ]

[ Hm. ]

[ Xiao Yu, aku mencintaimu!  !  ! ]

[ 🤗 ]

[ Kapan kau akan datang! ]

[ Sekarang. ]

[ Bagus!  !  !  Kalau begitu aku akan turun dan membeli makanan ringan, menunggumu datang ~ ]

[ Hm. ]

Disisi lain, Shen Teng langsung segera berlari ke bawah dan pergi untuk membeli makanan ringan.

Hehe, dia kesulitan menyelesaikan Diablo 3 selama tiga hari dan akhirnya akan bisa melewati level!

Sementara Gu Yu yang berada di lift akhirnya berada di lantai pertama.

Begitu ingin memasukkan ponsel ke sakunya, tiba-tiba telepon berdering.

Gu Yu melihat nomor yang tidak dikenalnya di layar ponsel sejenak, dan kemudian menyadari.

Yang tahu nomor ponselnya, selain ibu dan ayahnya, juga mantan guru kelas, hanya Shen Teng dan Shangyuan.

Dia baru saja bertukar pesan dengan Shen Teng, jadi itu tidak mungkin dia.

Tentu saja, itu juga bukan ibunya, ayahnya, atau bahkan mantan guru kelasnya.

Gu Yu melihat panggilan itu dan terdiam selama beberapa detik.

Setelahnya, Gu Yu tidak ragu untuk mengabaikan panggilan itu dan memasukkan ponsel ke sakunya.

- Dia tidak mau mendengar suara Shangyuan.
.
.

Royal Club.

Duan Lun dan beberapa gadis bermain di dalam ruang terbuka dengan riang, sementara Shangyuan duduk di sofa tanpa ekspresi di wajahnya, tidak bergerak sama sekali.

Kontras dengan pemandangan di depannya yang hidup, Shangyuan diam dengan udara dipenuhi dengan suasana yang tertekan.

Mata Shangyuan hanya tertuju pada layar ponsel tanpa berkedip.

Avatar Gu Yu adalah seekor anjing yang didapat secara online, tidak ada yang bisa dilihat.

Sedangkan untuk lingkaran teman, tidak ada yang bisa dilihat.

Karena tidak ada konten.

Kosong, sangat bersih.

Bo Shangyuan membuka catatan obrolan, dan setelah beberapa saat, sepertinya dia akhirnya tidak bisa menahan diri dan menelepon lagi.

Namun, itu masih suara perempuan yang kosong dan dingin.

- Maaf, panggilan yang anda tuju sementara tidak terhubung.

Shangyuan mematikan panggilan dengan kesal.

Jika bisa, Bo Shangyuan hanya ingin mengurung Gu Yu di rumahnya sendiri, kecuali keluarganya, tidak ada yang boleh masuk.
.
.

Setelah Gu Yu naik bus ke rumah Shen Teng, dia segera disambut dengan hangat oleh Shen Teng.

Shen Teng bergegas memeluknya dan menjerit bahagia. "Xiao Yu Yu, aku mencintaimu."

"... lepaskan."

Mata Shen Teng melebar. "Kenapa? Kau mau pergi? Bukankah kau baru datang? Jika kau harus pergi, kau harus membantuku melewati pass pertama! Level pertamaku belum dilewati selama tiga hari, setiap kali menghadapi bosnya, aku pasti mati, bahkan jika kau ingin pergi @ # * ...... "

Shen Teng mengeluh tidak ada habisnya.

"Panas."

Suara Shen Teng berhenti tiba-tiba. Dia sadar lalu melepaskan tangannya. Namun segera bahagia lagi.

"Aku sudah siapkan camilan didepan komputer."

Gu Yu bergumam lalu mengangkat kakinya ke kamar Shen Teng.

Sekitar satu jam atau lebih, orangtua Shen Teng pulang kerumah.

Ibu Shen membuka pintu dengan kunci. Setelah masuk, dia mengganti sepatu di pintu masuk, dan bersuara. "Xiao Teng Teng, apa kau menjaga rumah dengan baik?"

Ibunya suka memanggilnya Xiao Teng Teng. Karena pengaruh ibunya juga, Shen Teng suka menyebut Gu Yu sebagai Xiao Yu Yu.

Shen Teng mendengar suara itu dan berteriak, "Aku di kamar!"

Ayah Shen mengikuti dan bertanya. "Apa tugas rumahmu sudah dikerjakan?"

Shen Teng mencicit.

Tidak mengherankan ayahnya akan menanyakan itu.

Ayah Shen kembali berkata. "Apa kau bermain game dikamarmu lagi? Kau bahkan belum menyelesaikan tugas rumah, kerjakan sekarang!"

Shen Teng menutup mulutnya dan wajahnya tertekan.

Dia menghela nafas keras dan menjawab: "Lagipula, libur dua hari, masih ada satu hari besok, aku akan mengerjakannya besok!"

Ayah Shen masih siap untuk mengatakan sesuatu, tetapi dihentikan oleh ibu Shen di samping.

Ibu Shen berkata. "Sulit untuk bersantai, biarkan anakmu bermain sebentar."

Ayah Shen hanya bisa menghela nafas tanpa daya. "Kau hanya terus memanjakannya. Cepat atau lambat, dia akan menjadi orang pecundang."

Shen Teng yang mendengar kalimat ini, merasa kesal. "Apa salahnya menjadi pecundang? Ayah, kau mendiskriminasikan pecundang. Itu juga bermartabat!"

Orang tua biasa akan langsung marah mendengar kalimat ini.

Namun, ayah Shen hanya tertawa.

Dia tidak punya pilihan selain menggelengkan kepalanya dan berkata, "Dasar bocah nakal."

Pada saat ini, ibu Shen di samping memperhatikan sesuatu.

Dia melihat sepasang sepatu di pintu masuk, dan bertanya, "Apa Yu Yu datang ke rumah kita?"

Shen Teng menjawab dengan senang. "Iya, dia membantu melewati level permainan!"

"Benarkah? Ibu sudah lama tidak melihatnya." Kata ibu Shen sambil berjalan menuju kamar Shen Teng.

Melihat ibu Shen, Gu Yu segera berdiri menyapa.

Ibu Shen tersenyum, mengulurkan tangan dan menyentuh kepala Gu Yu.

"Ah, Yu Yu masih sangat sopan."

Shen Teng mengeluh, "Bu, kau menganggu permainan kami!"

Ibu Shen melambaikan tangannya, "Apa tidak bisa diulang lagi?"

Shen Teng merasa depresi dan wajahnya tidak senang.

Pada saat ini, Gu Yu melihat ponselnya dan berkata, "Ini sudah larut, aku harus pulang. Selamat tinggal Bibi."

Ibu Shen tanpa sadar membujuk, "Jangan pulang. Makan disini. Bibi sudah lama tidak melihatmu. Jika khawatir pada ibumu, biarkan bibi menghubunginya."

"Ya! Makan saja di rumahku!" Shen Teng ikut membujuk.

Gu Yu berbisik, "Terima kasih, Bibi, tapi tidak perlu."

Setelah itu, Gu Yu akhirnya pamit, "Selamat tinggal Bibi, Selamat tinggal Paman", dan kemudian pergi.

Ibu Shen menatap punggung Gu Yu dan mendesah dengan suara rendah.

Setelah Gu Yu pergi, Shen Teng mengeluh. "Ibu pulang begitu awal. Jika Ibu tidak kembali, Xiao Yu tidak akan pergi."

Setiap kali selama Ayah Shen atau Ibu Shen pulang, Gu Yu akan segera menemukan alasan untuk pergi.

Adapun alasannya, orangtua Shen Teng pada awalnya tidak mengerti, tetapi setelah menemukan bahwa Gu Yu selalu suka melihat ke tanah, mereka mengerti.

Ibu Shen balas. "Sepertinya Gu Yu tidak nyaman."

Shen Teng melihat antarmuka permainan yang belum membersihkan level, dan hatinya stagnan.

Hei, kapan Diablo III-nya bisa melewati level?

Ibu Shen kembali memikirkan sesuatu dan bertanya pada Shen Teng. "Apa kau membeli makanan untuk Yu Yu?"

Shen Teng menunjuk ke meja komputer. "Beli, tapi dia tidak makan."

Selalu seperti itu.

Bahkan jika Shen Teng membeli sesuatu yang lezat, Gu Yu masih tidak menyentuhnya.

Ibu Shen melihat camilan yang belum dibuka di meja komputer, dan tidak bisa menahan nafas untuk waktu yang lama.

Anak itu sangat menyedihkan.
.
.

Setelah Gu Yu meninggalkan rumah Shen Teng, dia tidak ingin pulang, dan dia tidak tahu harus pergi ke mana, jadi dia berjalan di jalan tanpa arah.

Gu Yu berjalan perlahan dan kepalanya kosong.

Tidak tahu berapa lama, telinga Gu Yu tiba-tiba mendengar suara wanita yang akrab.

Orang itu memandang Gu Yu dan terkejut. "Ah, Gu tongxue?"

Gu Yu mendengar sekilas dan melihat ke belakang.

Jiang Zhenshan berdiri tidak jauh dari Gu Yu, menatapnya terkejut.

Jiang Zhenshan mendekat dan tersenyum malu. "Ini sangat kebetulan."

Gu Yu bergumam 'um'.

Jiang Zhenshan tanpa berpikir bertanya. "Apa tugas rumah Gu tongxue sudah selesai?"

"Belum."

Jiang Zhenshan tertekan. "Aku juga belum. Aku tidak bisa membawa pulang buku teks dari guru bahasa cina untuk dipelajari ..."

Gu Yu tidak berbicara, mendengarkan dengan tenang.

Setelah itu, Jiang Zhenshan menatap Gu Yu dan bertanya, "Apa Gu tongxue sendirian?"

Gu Yu masih menjawab dengan 'um'.

Jiang Zhenshan dan Gu Yu telah berada di meja yang sama selama seminggu, dan dia sudah terbiasa dengan temperamen Gu Yu yang jarang bicara. Oleh karena itu, Jiang Zhenshan kemudian dengan penasaran bertanya, "Apa yang kau lakukan di jalan sendirian?

"Aku tidak tahu."

Mendengar itu, Jiang Zhenshan tidak bisa menahan senyum.

Matanya sedikit melengkung dan dia berkata, "Aku akan pergi ke toko buku untuk membeli buku. Apa kau ingin pergi ke sana?"

Gu Yu ragu-ragu sejenak.

Setelah beberapa saat, Gu Yu mengiyakan.

.
31 Mei 2019

Suasana di ruangan itu panas dan meriah.

Namun, atmosfir disekitar Shangyuan merosot.

Sekitar setengah meter, seolah dikelilingi tekanan rendah yang tak terlihat, suasana tampak pengap.

Shangyuan duduk di sofa dengan wajah dingin, lampu-lampu berkilauan di atas kepalanya, menyelinap ke bawah ke sisi wajahnya yang lembut, membuat lengkungan yang sempurna.

Shangyuan masih menatap ponselnya.

- Panggilannya masih tidak direspon.

Sebelumnya, Shangyuan bukan tipe orang yang suka menatap ponsel setiap hari, tetapi setelah menambahkan seseorang ke teman WeChat, ponselnya tidak pernah jauh dari jangkauan.

Namun, ponsel orang itu seperti tampilan, tidak pernah mengambil inisiatif mengirim pesan, dan tidak membalas pesannya

Bahkan belum pernah menelponnya.

Suasana hati Shangyuan benar-benar buruk. Bahkan membuat orang yang melihatnya akan menahan napas.

Dia yang baru berusia 16 tahun, tampaknya bahkan lebih mengerikan daripada penjaga keamanan yang berdiri di luar Royal Club.

Royal Club menerapkan sistem keanggotaan, kecuali untuk anggota, orang-orang lainnya tidak diizinkan masuk.

Karena orang-orang yang datang ke Royal Club pada dasarnya adalah orang-orang kaya, jadi untuk keselamatan pribadi para anggota, ada beberapa penjaga keamanan yang gagah dan megah di luar pintu.

Kedua gadis yang bersama Duan Lun berpikir jika mereka memiliki kesempatan dan bisa berbicara dengan Bo tongxue yang tampan untuk pertama kalinya, dan ingin meminta kontaknya.

Namun, begitu keduanya melihat wajah dingin Shangyuan, mereka takut untuk mengajak bicara, apalagi meminta nomor telepon. Karena itu mereka mengurungkan niat, takut memprovikasinya.

Sementara Duan Lun sudah terbiasa dengan penampilan Shangyuan yang seperti itu, jadi dia tidak takut sama sekali.

Dia sudah cukup bermain dengan kedua gadis itu, dan bersandar di sofa dengan malas, memegang segelas anggur dan menyesapnya dengan santai sambil meratapi hidup.

"Hah.. Hari-hari sebelumnya sama sekali bukan hariku!"

Masuk ke satu kelas, dan kemudian melanjutkan ke kelas yang lain, Duan Lun merasa bahwa dia akan menjadi konyol.

Duan Lun minum anggur, dengan santai melirik Shangyuan. "Our handsome boy, apa kekasihmu masih belum membalas?"

Shangyuan tidak merespon.

Melihat itu, Duan Lun tidak terkejut. Dia meraih segelas anggur dari meja dan menyerahkannya ke depan Shangyuan. "Anggur seharga ratusan ribu, mubazir jika tidak dihabiskan."

Shangyuan tidak mengangkat matanya, "Singkirkan."

Duan Lun mendengus lalu meletakkannya lagi.

Duan Lun merokok dan minum alkohol, kontras dengan Shangyuan yang tidak merokok atau minum, dan bahkan tidak bermain game.

Terkadang, Duan Lun tidak bisa membantu tetapi berpikir apa Xing Bo itu normal, bagaimana dia menghabiskan waktunya? Belajar?

Dilihat dari penampilan, Xing Bo bukan tipe yang suka belajar.

Lupa menyebutkan.

Meskipun Bo Shangyuan memiliki nilai bagus, pada kenyataannya, Bo Shangyuan tidak suka belajar.

Dan mengapa setiap ujian bisa menjadi peringkat pertama di sekolah, itu murni karena IQnya tinggi.

Saat memikirkan ini, Duan Lun merasa kesal.

Tidak suka belajar tetapi masih memiliki nilai bagus.

Orang seperti itu memang menjengkelkan.

Duan Lun meletakkan gelas itu kembali di atas meja lagi. Baru diletakkan, gadis dengan rok mini hitam bertanya, "Apa aku bisa meminumnya?"

Ratusan ribu anggur mungkin bukan sesuatu yang besar bagi Bo Shangyuan, tetapi untuk dua gadis biasa ini, itu adalah hal yang jarang terjadi yang tidak dapat ditemukan sehari-hari.

Duan Lun menatapnya dan tersenyum tengil, "Beri aku satu kecupan dulu."

Gadis di rok mini hitam itu merasa jengkel namun dia benar-benar melakukannya.

Setelahnya gadis itu bertanya, "Apa aku sudah bisa minum sekarang?"

"Tidak, cium lagi."

Gadis itu menghentak kakinya marah. "Ucapanmu memang tidak bisa dipercaya!"

Bibir Duan Lun terangkat dan dia melambaikan tangannya, "Aku hanya bercanda, minumlah."

Setelah itu, nada Duan Lun berubah.

Duan Lun menurunkan suaranya dan menyeringai dan berkata, "Kalau sampai kalian mabuk, aku tidak bisa menjamin apa yang akan aku lakukan ..."

Kedua gadis itu merutuk Duan Lun.

Namun, meski mulut mereka mengatakan demikian, anggurnya tetap di minum.

Kapan lagi mereka bisa minum anggur harga ratusan ribu.

Duan Lun memandangi penampilan bahagia kedua gadis itu, mengangkat dagunya pada Shangyuan dan berkata, "Lihat, gadis-gadis harus diperlakukan seperti ini. Semakin kau memanjakannya, dia semakin tidak patuh."

Shangyuan masih tidak merespon.

Melihat tampang Shangyuan yang begitu tertekan karena cinta, Duan Lun akhirnya tidak tahan, "Beri aku nomornya, aku akan menelepon kekasihmu. Aku berjanji akan akan membuat kekasihmu itu mengangkatnya."

Kali ini, Shangyuan akhirnya bereaksi.

Dia hanya melirik Duan Lun sekilas.

Kekasih menurut Duan Lun itu... Sebenarnya adalah seorang lelaki.

Duan Lun tidak mengerti arti dari pandangan ini dan bingung bertanya, "Apa maksudmu dengan tatapan barusan?"

Itu tidak berarti apa-apa, dia hanya melirik Duan Lun sekilas.

Namun, karena berada dalam suasana hati yang buruk, dia tidak suka bicara.

Disisi lain, Duan Lun salah memahami. "Sialan! Xing Bo, kau tidak berpikir aku akan menggoda kekasihmu kan? Aku hanya suka dada besar, aku tidak suka dada kecil."

"..."

Setelah itu, Duan Lun melanjutkan. "Kau kirim lagi pesan teks pada kekasihmu bilang jika dia tidak membalas pesan atau menjawab teleponmu, kau akan putus dengannya. Trik ini sudah aku gunakan, Coba saja!"

"..."

Duan Lun tiba-tiba memikirkan sebuah ide.

Duan Lun melambaikan tangan pada kedua gadis yang sedang meminum anggur di meja biliar, "Kalian berdua, kemari."

Kedua gadis itu saling memandang satu sama lain dan kemudian berjalan ke arah Duan Lun.

Duan Lun melihat bahwa kedua gadis itu telah datang, berniat memilih salah satu, dan kemudian berkata. "Lupakan, keduanya bisa melakukannya."

Ketika kedua gadis itu mendengar ini, mereka tidak mengerti.

Duan Lun memandangi wajah kedua gadis itu yang sedikit mabuk, dan ekspresinya sangat memuaskan.

Duan Lun berkata, "Oke, tidak apa-apa."

"?"

Setelah itu, Duan Lun menunjuk ke arah Shangyuan, dan berkata, "Satu kiri dan kanan, duduk di sebelah Xing Bo."

Dua gadis itu tertegun.

Duan Lun mengangkat alisnya dan mendesak. "Cepat kesana."

Kedua gadis itu memandangi wajah Shangyuan yang begitu dingin membuat mereka takut dan seketika rasa mabuk tadi menguap begitu saja.

Mereka masih tidak berani bergerak.

Shangyuan mengangkat wajahnya, menatap Duan Lun.

Jika saja pandangan mata bisa membunuh, mungkin Duan Lun sudah mati.

Duan Lun balas memandanginya dengan tatapan tidak bersalah. "Aku melakukan ini demi kebaikanmu, kau pikirkan, jika kau mengambil fotomu dan gadis-gadis lain, lalu mengirim pada kekasihmu. Dia pasti akan bergegas untuk menghubungimu..."

Shangyuan merespon dingin. "Enyahlah."

Duan Lun mencebik, "¹Membalas sakit kebaikan seseorang."

¹狗咬呂洞賓, 不識好人心
· Seekor anjing menggigit Lü Dongbin (idiom)

Setelah itu, Duan Lun mengangkat alisnya dengan wajah berseri-seri. "Kekasihmu terlihat sangat imut, tapi aku tidak menyangka dia begitu sulit. Benar-benar tidak seperti perkiraanku."

Shangyuan tidak bicara.

Duan Lun kembali mengaitkan leher kedua gadis itu dan bermain.

Setelah beberapa saat, Shangyuan akhirnya tidak tahan, dia berdiri dan meninggalkan ruangan.

Begitu dia keluar dari Royal Club, baru beberapa langkah, kakinya tiba-tiba berhenti.

Dia menyaksikan pemandangan yang tidak jauh dari sana, dan ekspresinya membeku.
.
.

Tidak jauh.

Gu Yu dan Jiang Zhensan tengah berjalan menuju toko buku dalam diam.

Kemudian Jiang Zhenshan dengan penasaran bertanya. "Ah ya, Gu tongxue suka baca buku apa?"

Suara Gu Yu tenang. "Aku biasanya tidak membaca buku."

"Apa yang biasanya kau lakukan? Bermain game?"

Melihat tampilan Gu Yu, sepertinya bukan orang yang suka bermain game.

"Bengong."

Jiang Zhenshan tidak bisa menahan tawa.

Setelah tertawa, gadis itu melanjutkan. "Sebenarnya, aku pergi ke toko buku karena ibu memintaku untuk membeli kertas ujian Huanggang ..."

Setelah itu, dia merendahkan suaranya.

Jiang Zhenshan berbisik. "Sebenarnya, aku tidak suka belajar sama sekali ... tapi aku tidak berani menentang ibu. Aku harus berpura-pura suka belajar. Sangat lelah setiap hari."

Gu Yu membalas pelan, "Aku juga tidak suka."

Keduanya mengobrol dan mengobrol, tiba-tiba angin bertiup. Jiang Zhenshan seketika menutup matanya, air mata yang hangat jatuh disela jari-jarinya.

Langkah kaki Gu Yu terhenti. Dia menatap gadis itu dan bertanya, "Ada apa?"

Jiang Zhenshan menggosok matanya yang berlinangan air mata dan balas berbisik, "Sepertinya debu masuk ke mataku ..."

Gu Yu berkata, "Kau lepaskan, biarkan aku melihat."

Jiang Zhenshan perlahan melepaskan tangan yang menutupi matanya.

Gu Yu mencondongkan tubuh ke depan dan melihat ke bawah.

Tinggi Gu Yu adalah 168, dan tinggi Jiang Zhenshan adalah 157. Dia melihat ke bawah tampak seperti dia mencium gadis itu.

Shangyuan yang tidak jauh melihat pemandangan itu, wajahnya semakin dingin.

Gu Yu meniup mata Jiang Zhenshan, dan kemudian bertanya, "Bagaimana, lebih baik?"

Jiang Zhenshan menggelengkan kepalanya, air matanya terus mengalir, "Sepertinya masih ada debu..."

Gu Yu kembali meniup matanya.

"Sekarang?"

Jiang Zhenshan mengangkat tangannya dan berkedip, dan balas berbisik, "Sepertinya lebih baik ..."

Setelah itu, dia dengan malu berterima kasih.

Gu Yu dengan tenang bergumam dan menegakkan tubuhnya.

Keduanya berdiri di tempat yang sama, dan mereka sama sekali tidak menyadari keberadaan Shangyuan.

Tidak ada senyum di wajahnya.

Sebelumnya Shangyuan tidak mengerti mengapa dia tidak nyaman melihat gadis ini. Sekarang akhirnya dia mengerti.

- Karena cemburu.

Dia cemburu dan akan berada dalam suasana hati yang buruk, padahal pihak lain tidak melakukan apapun, tetapi itu semakin tidak menyenangkan mata.

Jika bisa, Shangyuan bahkan ingin gadis itu lenyap.

Shangyuan mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.

Ponsel di saku Gu Yu berdering. Setelah melihat nomor pada ID penelepon, dia sedikit membeku.

Gu Yu terdiam sejenak, kemudian seperti tidak ada apa-apa, dia kembali menyimpan ponselnya.

Tidak jauh dari sana, pandangan Shangyuan semakin menggelap. Dia menatap Gu Yu tanpa berkedip.

Jiang Zhenshan mau tidak mau bertanya. "... Kenapa tidak menjawab telepon?"

Gu Yu merespon dengan tenang. "Hanya salesman."

Jiang Zhenshan mengerti. "Ah, begitu ... tidak heran kau tidak menjawab telepon."

Gu Yu bergumam 'um' dan bertanya, "Apa matamu sudah lebih baik?"

Jiang Zhenshan tersenyum malu dan berkata, "Terima kasih, Gu tongxue, ini sudah baik."

Gu Yu mengalihkan pandangannya, "Tidak perlu berterima kasih."

"Ayo pergi, toko buku sudah dekat dari sini!"

"Hm."

Shangyuan menatap kepergian keduanya dan benar-benar tidak berekspresi.

Disisi lain, Duan Lun merasa aneh menyadari Shangyuan cukup lama tidak kembali dan memutuskan meneleponnya.

Namun, panggilannya tidak dijawab.
.
.

Gu Yu tidak begitu suka membaca buku, dan niat asli Gu Yu hanyalah untuk menghabiskan waktu dan tidak ingin pulang. Karena itu, setelah menemani Jiang Zhenshan ke toko buku, dia langsung pulang.

Hari sudah sore ketika dia tiba di rumah, dan sudah melewati jam makan siang.

Ibu Gu bahkan tidak mengajukan pertanyaan tentang Gu Yu yang tidak pulang makan siang, hanya peduli tentang Shangyuan.

Ibu Gu yang sedang duduk di sofa di ruang tamu menonton TV, melihat kedatangan Gu Yu dan bertanya, "Apa hadiah itu sudah kau berikan pada tetangga Bo?"

Gu Yu bergumam pelan.

Ibu Gu kemudian bertanya. "Apa yang kau katakan padanya?"

Gu Yu tidak ingin mengatakan lebih banyak. "Seperti yang dikatakan."

Ibu Gu mengerutkan kening dan bertanya. "Jadi, apa yang kau katakan? Kau beri tahu ibu dengan jelas."

Gu Yu tidak mengatakan apa-apa.

Dia tiba-tiba merasa terlalu lelah untuk berbicara.

Ibu Gu yang melihat Gu Yu tidak berbicara, wajahnya berubah buruk.

"Kau pasti tidak mengatakan apa-apa, cukup ketuk pintu, memberikan hadiah seperti orang bodoh, lalu pergi, kan?"

"..."

"Ibu berbicara denganmu! Kau tidak mendengarnya!"

"Aku dengar."

"Kau katakan dengan jujur, bagaimana kau berbicara dengan Shangyuan! Apa kau sudah minta nomor telepon dan WeChatnya?!"

"Ya."

Mendengar itu, Ibu Gu lega.

Kemudian, ibu Gu melirik Gu Yu dan mengeluh. "Kau bisa mengatakannya lebih awal. Tidak perlu menunggu sampai ibu bertanya supaya kau jujur..."

Gu Yu diam.

Ketika ibu Gu mulai melantunkan mantra, dia akan berbicara tanpa henti.

"Kau sudah mendapatkan WeChat tetangga Bo, ingatlah untuk menyapa setiap hari dan berbicara. Bahkan jika tidak ada yang perlu dikatakan, katakan saja selamat pagi."

"..."

"Kau menyapanya setiap hari. Setelah waktu yang lama, hubungan kalian berdua akan lebih baik."

"..."

"Setelah hubungan kalian lebih baik, jika kau memiliki kesulitan dalam tugasmu, kau bisa pergi padanya. Dia pasti akan membantumu."

"..."

Ibu Gu masih terus bicara.

Gu Yu tidak makan siang pada siang hari. Dia masih merasa sedikit lapar, tapi kali ini, dia tidak punya nafsu makan sama sekali.

Setelah menunggu ibunya selesai, Gu Yu berkata, "Aku akan keluar."

Ibu Gu bertanya. "Kau mau pergi kemana lagi? Bukannya tadi kau pergi bermain dirumah Shen Teng kan? Kau tidak ingin belajar dan hanya bermain game setiap hari, kau berhenti, kembali dan ceritakan dengan jelas!"

Gu Yu pura-pura tidak mendengar, berbalik dan meninggalkan rumah.

Gu Yu naik lift ke lantai bawah dan kemudian, seperti sebelumnya, menemukan sudut terpencil di bawah dan duduk, lalu ...

Mulai bengong.

Meskipun Gu Yu tidak suka belajar di kelas, dia lebih tidak suka hari libur dibanding sekolah.

Ketika dia memikirkan hari libur lagi besok, suasana hati Gu Yu akan semakin suram.
.
.

Shangyuan kembali ke rumah, dia melihat tas hadiah biru muda tergantung di depan pintunya.

Matanya berkedip kosong, dan langsung memalingkan kepalanya dan melihat ke arah pintu sebelah.

Tidak ada kemungkinan lain selain rumah sebelah.

Shangyuan mengeluarkan ponsel dan bersiap untuk mengirim pesan kepada seseorang, tetapi ketika memikirkan Gu Yu yang dengan jelas menolak menjawab panggilannya didepan mata, wajah Shangyuan berubah dingin dan mengurungkan niatnya.

Shangyuan kembali menyimpan ponsel, mengambil tas hadiah, dan masuk ke rumah.

Begitu meletakkan tas hadiah di kabinet pintu masuk, dia menatap benda itu dalam-dalam kemudian berbalik dan melangkah ke ruang tamu.
.
.

Dua hari berlalu dan beralih ke hari Senin.

Shangyuan bangun pada pukul enam, setelah berpakaian, dia bersandar di tepi pintu dan mulai menunggu.

Tidak, lebih tepatnya akan memblokir orang itu.

Namun, sampai waktu untuk berangkat ke sekolah, orang yang ditunggu tidak kunjung keluar dari rumah sebelah.

Pada saat bersamaan.

Gu Yu yang masih mengantuk, mulai tidur di ruang kelas yang kosong.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments