31. Apa siswa Gu sendirian?

Setelah sekolah resmi dimulai, akhirnya tiba akhir pekan.

Duan Lun mengajak Shangyuan dan kemudian, bersama beberapa gadis cantik dari kelas lain, pergi ke Royal Club untuk bersenang-senang.

Shangyuan ingin sendirian.

Seperti sebelumnya, dia tidak akan datang.

Namun, ketika memikirkan seseorang, dia berubah pikiran setelah waktu yang lama.

Di luar gerbang Royal Club, Bo Shangyuan mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang.

[ Di mana? ]

... Tidak ada balasan

Shangyuan masih berdiri di tempat yang sama untuk sementara waktu.

Namun, masih belum ada balasan.

Duan Lun yang berdiri di belakangnya sambil merangkul dua gadis, memandangnya bingung. "Xing Bo, ada apa?"

Mata Shangyuan masih tertuju di layar ponsel, tidak merespon.

Melihat itu. Duan Lun tiba-tiba memikirkan sesuatu, dan mengangkat alisnya. Dia terkekeh dan berkata. "Apa sedang menunggu kekasih tercinta membalas pesan?"

Dua gadis dipelukannya, bertanya penasaran, "Apa dia benar-benar punya kekasih?"

Karena Shangyuan tidak pernah mengatakan siapa kekasihnya, dan tidak ada yang melihat satu gadis berjalan lebih dekat dengannya, jadi desas-desus tentang Shangyuan yang punya kekasih lambat laun membuat orang mulai bersikap skeptis. 

Duan Lun mengangkat alisnya, "Ya, itu lumayan cantik."

Kedua gadis itu semakin penasaran. "Siapa?"

Duan Lun tersenyum miring. "Aku akan beritahu kalau kalian menciumku dulu."

Kedua gadis itu mencibir, dan meninju dada Duan Lun.

Duan Lun meringis, pura-pura kesakitan.

Persis ketika Duan Lun dan kedua gadis itu bermain-main di belakang, dan mereka bersenang-senang, Shangyuan mengerutkan kening dan masih menatap ponselnya.

Apa dia masih tidur?

Apa dia tidak membuka pesan?

Shangyuan keluar dari WeChat. Lalu membuka kotak masuk pesan teks, menemukan pesan Gu Yu ketika keduanya bertukar ponsel dirumah sakit. Shangyuan melihat pesan teks yang dikirim oleh ponselnya, dan kemudian menekan nomornya.

Maaf, panggilan yang Anda buat sementara tidak dijawab.

Shangyuan mematikan sambungan yang belum terhubung. Wajahnya berubah serius.

... Apa yang sedang dia lakukan sekarang?

Di belakangnya, Duan Lun sudah selesai bercanda, mengalihkan pandangan kembali pada Shangyuan.

Duan Lun mengangkat dagunya. "Ruangan sudah dibuka, apa kekasihmu sudah membalas pesan?"

Shangyuan kembali menyimpan ponsel, suasana hatinya memburuk lagi. "Belum."

Shangyuan dengan ekspresi buruk melangkah ke aula di lantai pertama Royal Club.

Kedua gadis itu melihat interior cerah dan indah di depan mereka, menahan napas dan memandang takjub.

Namun, melihat pemandangan ini, suasana Shangyuan bahkan lebih buruk.

Itu membuatnya tanpa sadar mengingat rumah keluarganya.

Tidak seharusnya itu dikatakan sebagai rumah.

Tempat itu tidak layak disebut rumah.

Menatap pemandangan di depannya, wajahnya dingin dan dipenuhi kebencian  "Bagaimana kau memilih tempat ini?"

Duan Lun mencebik dan berkata, "Aku sudah bilang padamu itu adalah royal club, dan kau sudah menyetujuinya!"

Setelah itu, ekspresi Duan Lun menjadi riang.

Duan Lun melihat suasana hati Shangyuan sedang tidak baik. Dia menopang tangannya di bahu Shangyuan dan berbicara pelan ditelinganya, "Gadis tidak terbiasa dengan itu. Kau harus membiarkannya merasakan krisis. Perasaan seperti itu untuk membuatnya mengambil insiatif dan menghubungimu lebih dulu. Jangan terus mengejarnya setiap hari. Jika kau lakukan itu, dia akan mengabaikanmu ..."

Tidak menunggu Duan Lun selesai, Shangyuan dengan dingin meludahkan satu kata.

"Tangan."

Suara Duan Lun berhenti tiba-tiba.

Duan Lun menatapnya tanpa berkedip.

"Aku tidak menyemprotkan parfum hari ini."

"Tangan."

Duan Lun merasa tertekan dan menurunkan tangannya. "Putus! Xing Bo, aku ingin putus hubungan denganmu!"

Kurcaci kecil itu bisa memegangnya, dan ketika gilirannya, dia tidak boleh menyentuhnya.

Perbedaan macam apa ini! Pokoknya putus!

Shangyuan kemudian melemparkan kalimat dingin. "Tiga minggu lagi, tes bulanan."

Duan Lun berhenti mengeluh.

Dia seketika mengubah ekspresinya penuh dengan tawa, "Aku hanya bercanda, Bo Ge, jangan menganggapnya serius."

Setelah itu, dia menoleh untuk melihat kedua gadis di belakangnya.

Duan Lun bertanya. "Tubuhku tidak bau kan?"

Kedua gadis itu menggelengkan kepala.

Duan Lun merasa lega.
.
.

Pada saat bersamaan.

Kenapa Gu Yu tidak mengangkat telepon, karena Gu Yu tidak akan ada di kamar sama sekali.

Gu Yu tidak mendengarnya sama sekali.

Gu Yu sedang duduk diam di sofa di ruang tamu, menunggu ibu Gu selesai bicara.

"Kau memiliki nilai buruk, harus belajar lebih banyak dari tetangga Bo, ingat untuk menjadi benar dan sopan. Juga kau harus banyak bicara, jangan menjadi bodoh seperti ini setiap hari."

"..."

"Tetangga Bo memiliki nilai bagus, tampan, bersikap baik, dan sopan. Jika kau memiliki setengahnya, ibu tidak akan khawatir tentang hal itu. Hah, kenapa anak orang lain begitu baik? Sedangkan anakku seperti ini."

"..."

"Untungnya, ibu sejak awal memintamu mengisi laporan seni, dengan nilaimu itu, kau pikir bisa lolos ke SMA Chengnan?"

"..."

"Meskipun anak-anak di lantai bawah belajar buruk, mereka bersikap baik dan patuh. Terakhir kali bertemu, mereka dengan sopan memanggilku bibi. Lihat dirimu, jika aku tidak mendorongmu, kau hanya akan diam, tidak menyapa yang tua."

Ibu Gu terus mengoceh.

Gu Yu hanya duduk diam, mendengarkan.

Dia sudah biasa mendengarkannya, dan tidak ada yang bisa dikatakan.

Jadi dia hanya bisa diam.

Setelah hampir satu jam, mungkin merasa mulutnya kering, Ibu Gu pun berhenti.

Dia berkata untuk terakhir kali. "Hadiah di atas meja berikan untuk tetangga Bo. Kau antar dan katakan itu kau yang membelinya sebagai hadiah untuk tetangga baru, jadi dia bisa memperlakukanmu dengan baik nanti. Omong-omong, kau juga minta nomor telepon dan WeChat agar kalian bisa saling menghubungi di masa depan. Jika kau punya kontaknya, begitu ada kesulitan, kau bisa menghubunginya langsung."

Khawatir Gu Yu yang canggung dan tidak akan berbicara, Ibu Gu beralasan untuk membantu menetapkan pikiran Gu Yu dengan baik.

Namun, Ibu Gu tidak tahu bahwa Gu Yu sudah memiliki nomor telepon dan WeChat Shangyuan.

Hanya saja Gu Yu tidak mengatakan apa-apa.

Gu Yu mengambil tas hadiah di atas meja kopi, lalu kembali ke kamar, mengambil ponsel dan keluar.

Ibu Gu melihat kepergian Gu Yu dengan ekspresi puas.

Katakan dan lakukan saja. Ini benar.

Namun Ibu Gu tidak tahu, Gu Yu mengambil tas hadiah dan pergi ke pintu sebelah, tetapi tidak mengetuk pintu, dia hanya langsung menggantung tas hadiah di gagang pintu rumah Shangyuan.

Setelahnya Gu Yu mengangkat ponsel, siap mengirim pesan ke Shen Teng.

Begitu membuka ponsel, Gu Yu melihat panggilan yang tidak terjawab dan pesan WeChat dari Shangyuan, dia terdiam sejenak. Kemudian tidak ragu untuk mengabaikannya dan mengirim pesan ke Shen Teng.

[ Di rumah? ]

Gu Yu jarang mengambil inisiatif untuk mengirim pesan ke Shen Teng, jadi setelah Shen Teng menerima pesan dari Gu Yu, dia terkejut.

Disisi lain, Shen Teng yang melihat layar ponsel berpikir bahwa dia buta.

[ Di rumah!!! ]

[ Kenapa Xiao Yu tiba-tiba berpikir mengirimiku pesan? ]

[ 🤔 ]

Gu Yu menatap ponsel dan ekspresinya sangat tenang.

Dia mengetik balasan dan naik lift, siap untuk turun.

Singkatnya, Gu Yu tidak siap untuk pulang.

[ Pergi ke rumahmu untuk bermain game. ]

[ WTF!  !  !  !  !  ]

[ Sungguh!  !  !  ! ]

[ Hm. ]

[ Xiao Yu, aku mencintaimu!  !  ! ]

[ 🤗 ]

[ Kapan kau akan datang! ]

[ Sekarang. ]

[ Bagus!  !  !  Kalau begitu aku akan turun dan membeli makanan ringan, menunggumu datang ~ ]

[ Hm. ]

Disisi lain, Shen Teng langsung segera berlari ke bawah dan pergi untuk membeli makanan ringan.

Hehe, dia kesulitan menyelesaikan Diablo 3 selama tiga hari dan akhirnya akan bisa melewati level!

Sementara Gu Yu yang berada di lift akhirnya berada di lantai pertama.

Begitu ingin memasukkan ponsel ke sakunya, tiba-tiba telepon berdering.

Gu Yu melihat nomor yang tidak dikenalnya di layar ponsel sejenak, dan kemudian menyadari.

Yang tahu nomor ponselnya, selain ibu dan ayahnya, juga mantan guru kelas, hanya Shen Teng dan Shangyuan.

Dia baru saja bertukar pesan dengan Shen Teng, jadi itu tidak mungkin dia.

Tentu saja, itu juga bukan ibunya, ayahnya, atau bahkan mantan guru kelasnya.

Gu Yu melihat panggilan itu dan terdiam selama beberapa detik.

Setelahnya, Gu Yu tidak ragu untuk mengabaikan panggilan itu dan memasukkan ponsel ke sakunya.

- Dia tidak mau mendengar suara Shangyuan.
.
.

Royal Club.

Duan Lun dan beberapa gadis bermain di dalam ruang terbuka dengan riang, sementara Shangyuan duduk di sofa tanpa ekspresi di wajahnya, tidak bergerak sama sekali.

Kontras dengan pemandangan di depannya yang hidup, Shangyuan diam dengan udara dipenuhi dengan suasana yang tertekan.

Mata Shangyuan hanya tertuju pada layar ponsel tanpa berkedip.

Avatar Gu Yu adalah seekor anjing yang didapat secara online, tidak ada yang bisa dilihat.

Sedangkan untuk lingkaran teman, tidak ada yang bisa dilihat.

Karena tidak ada konten.

Kosong, sangat bersih.

Bo Shangyuan membuka catatan obrolan, dan setelah beberapa saat, sepertinya dia akhirnya tidak bisa menahan diri dan menelepon lagi.

Namun, itu masih suara perempuan yang kosong dan dingin.

- Maaf, panggilan yang anda tuju sementara tidak terhubung.

Shangyuan mematikan panggilan dengan kesal.

Jika bisa, Bo Shangyuan hanya ingin mengurung Gu Yu di rumahnya sendiri, kecuali keluarganya, tidak ada yang boleh masuk.
.
.

Setelah Gu Yu naik bus ke rumah Shen Teng, dia segera disambut dengan hangat oleh Shen Teng.

Shen Teng bergegas memeluknya dan menjerit bahagia. "Xiao Yu Yu, aku mencintaimu."

"... lepaskan."

Mata Shen Teng melebar. "Kenapa? Kau mau pergi? Bukankah kau baru datang? Jika kau harus pergi, kau harus membantuku melewati pass pertama! Level pertamaku belum dilewati selama tiga hari, setiap kali menghadapi bosnya, aku pasti mati, bahkan jika kau ingin pergi @ # * ...... "

Shen Teng mengeluh tidak ada habisnya.

"Panas."

Suara Shen Teng berhenti tiba-tiba. Dia sadar lalu melepaskan tangannya. Namun segera bahagia lagi.

"Aku sudah siapkan camilan didepan komputer."

Gu Yu bergumam lalu mengangkat kakinya ke kamar Shen Teng.

Sekitar satu jam atau lebih, orangtua Shen Teng pulang kerumah.

Ibu Shen membuka pintu dengan kunci. Setelah masuk, dia mengganti sepatu di pintu masuk, dan bersuara. "Xiao Teng Teng, apa kau menjaga rumah dengan baik?"

Ibunya suka memanggilnya Xiao Teng Teng. Karena pengaruh ibunya juga, Shen Teng suka menyebut Gu Yu sebagai Xiao Yu Yu.

Shen Teng mendengar suara itu dan berteriak, "Aku di kamar!"

Ayah Shen mengikuti dan bertanya. "Apa tugas rumahmu sudah dikerjakan?"

Shen Teng mencicit.

Tidak mengherankan ayahnya akan menanyakan itu.

Ayah Shen kembali berkata. "Apa kau bermain game dikamarmu lagi? Kau bahkan belum menyelesaikan tugas rumah, kerjakan sekarang!"

Shen Teng menutup mulutnya dan wajahnya tertekan.

Dia menghela nafas keras dan menjawab: "Lagipula, libur dua hari, masih ada satu hari besok, aku akan mengerjakannya besok!"

Ayah Shen masih siap untuk mengatakan sesuatu, tetapi dihentikan oleh ibu Shen di samping.

Ibu Shen berkata. "Sulit untuk bersantai, biarkan anakmu bermain sebentar."

Ayah Shen hanya bisa menghela nafas tanpa daya. "Kau hanya terus memanjakannya. Cepat atau lambat, dia akan menjadi orang pecundang."

Shen Teng yang mendengar kalimat ini, merasa kesal. "Apa salahnya menjadi pecundang? Ayah, kau mendiskriminasikan pecundang. Itu juga bermartabat!"

Orang tua biasa akan langsung marah mendengar kalimat ini.

Namun, ayah Shen hanya tertawa.

Dia tidak punya pilihan selain menggelengkan kepalanya dan berkata, "Dasar bocah nakal."

Pada saat ini, ibu Shen di samping memperhatikan sesuatu.

Dia melihat sepasang sepatu di pintu masuk, dan bertanya, "Apa Yu Yu datang ke rumah kita?"

Shen Teng menjawab dengan senang. "Iya, dia membantu melewati level permainan!"

"Benarkah? Ibu sudah lama tidak melihatnya." Kata ibu Shen sambil berjalan menuju kamar Shen Teng.

Melihat ibu Shen, Gu Yu segera berdiri menyapa.

Ibu Shen tersenyum, mengulurkan tangan dan menyentuh kepala Gu Yu.

"Ah, Yu Yu masih sangat sopan."

Shen Teng mengeluh, "Bu, kau menganggu permainan kami!"

Ibu Shen melambaikan tangannya, "Apa tidak bisa diulang lagi?"

Shen Teng merasa depresi dan wajahnya tidak senang.

Pada saat ini, Gu Yu melihat ponselnya dan berkata, "Ini sudah larut, aku harus pulang. Selamat tinggal Bibi."

Ibu Shen tanpa sadar membujuk, "Jangan pulang. Makan disini. Bibi sudah lama tidak melihatmu. Jika khawatir pada ibumu, biarkan bibi menghubunginya."

"Ya! Makan saja di rumahku!" Shen Teng ikut membujuk.

Gu Yu berbisik, "Terima kasih, Bibi, tapi tidak perlu."

Setelah itu, Gu Yu akhirnya pamit, "Selamat tinggal Bibi, Selamat tinggal Paman", dan kemudian pergi.

Ibu Shen menatap punggung Gu Yu dan mendesah dengan suara rendah.

Setelah Gu Yu pergi, Shen Teng mengeluh. "Ibu pulang begitu awal. Jika Ibu tidak kembali, Xiao Yu tidak akan pergi."

Setiap kali selama Ayah Shen atau Ibu Shen pulang, Gu Yu akan segera menemukan alasan untuk pergi.

Adapun alasannya, orangtua Shen Teng pada awalnya tidak mengerti, tetapi setelah menemukan bahwa Gu Yu selalu suka melihat ke tanah, mereka mengerti.

Ibu Shen balas. "Sepertinya Gu Yu tidak nyaman."

Shen Teng melihat antarmuka permainan yang belum membersihkan level, dan hatinya stagnan.

Hei, kapan Diablo III-nya bisa melewati level?

Ibu Shen kembali memikirkan sesuatu dan bertanya pada Shen Teng. "Apa kau membeli makanan untuk Yu Yu?"

Shen Teng menunjuk ke meja komputer. "Beli, tapi dia tidak makan."

Selalu seperti itu.

Bahkan jika Shen Teng membeli sesuatu yang lezat, Gu Yu masih tidak menyentuhnya.

Ibu Shen melihat camilan yang belum dibuka di meja komputer, dan tidak bisa menahan nafas untuk waktu yang lama.

Anak itu sangat menyedihkan.
.
.

Setelah Gu Yu meninggalkan rumah Shen Teng, dia tidak ingin pulang, dan dia tidak tahu harus pergi ke mana, jadi dia berjalan di jalan tanpa arah.

Gu Yu berjalan perlahan dan kepalanya kosong.

Tidak tahu berapa lama, telinga Gu Yu tiba-tiba mendengar suara wanita yang akrab.

Orang itu memandang Gu Yu dan terkejut. "Ah, Gu tongxue?"

Gu Yu mendengar sekilas dan melihat ke belakang.

Jiang Zhenshan berdiri tidak jauh dari Gu Yu, menatapnya terkejut.

Jiang Zhenshan mendekat dan tersenyum malu. "Ini sangat kebetulan."

Gu Yu bergumam 'um'.

Jiang Zhenshan tanpa berpikir bertanya. "Apa tugas rumah Gu tongxue sudah selesai?"

"Belum."

Jiang Zhenshan tertekan. "Aku juga belum. Aku tidak bisa membawa pulang buku teks dari guru bahasa cina untuk dipelajari ..."

Gu Yu tidak berbicara, mendengarkan dengan tenang.

Setelah itu, Jiang Zhenshan menatap Gu Yu dan bertanya, "Apa Gu tongxue sendirian?"

Gu Yu masih menjawab dengan 'um'.

Jiang Zhenshan dan Gu Yu telah berada di meja yang sama selama seminggu, dan dia sudah terbiasa dengan temperamen Gu Yu yang jarang bicara. Oleh karena itu, Jiang Zhenshan kemudian dengan penasaran bertanya, "Apa yang kau lakukan di jalan sendirian?

"Aku tidak tahu."

Mendengar itu, Jiang Zhenshan tidak bisa menahan senyum.

Matanya sedikit melengkung dan dia berkata, "Aku akan pergi ke toko buku untuk membeli buku. Apa kau ingin pergi ke sana?"

Gu Yu ragu-ragu sejenak.

Setelah beberapa saat, Gu Yu mengiyakan.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments