30. Isi ulang 1000 yuan

Bel berbunyi dan kelas berakhir.

Karena itu adalah kelas terakhir, jadi setelah para siswa berpencar, sebagian besar dari mereka langsung pulang.

Gu Yu masih harus kembali ke kelas mengambil jaketnya. Begitu dia berbalik, Jiang Zhenshan mengikuti.

Gu Yu meliriknya.

Jiang Zhenshan dengan malu-malu berkata. "Ibuku memintaku membawa pulang buku latihan untuk belajar ..."

Mendengar itu, Gu Yu menarik kembali pandangannya.

Keduanya pun berjalan ke ruang kelas bersama.

Shangyuan menatap ke arah di mana keduanya pergi, dan tidak ada senyum di wajahnya.
.
.

Setelah Gu Yu selesai makan siang, ponsel di sakunya berdering.

Pesan WeChat dari Shangyuan.

Bisa dikatakan, setelah Shangyuan menjadi  temannya di WeChat, ponsel Gu Yu terus berdering hari demi hari.

[ Siapa dia? ]

Gu Yu membaca pesan itu dengan bingung.

Dia? Dia siapa?

[ ? ]

Shangyuan membalas sangat cepat.

Ini hampir merupakan balasan instan.

[ Yang mengobrol denganmu. ]

[ Oh. ]

[ Teman satu meja. ]

[ Benarkah? ]

[ Kenapa kau bertanya ini? ]

[ Bukan apa-apa. ]

Gu Yu semakin tidak mengerti.

... Kenapa dia bertanya tentang Jiang Zhenshan?

Gu Yu menatap layar sebentar, namun, tidak lagi membalas. Dengan masih mengerutkan kening, dia kembali meletakkan ponselnya.

Setengah jam kemudian, ketika tiba waktunya untuk pergi ke sekolah, Gu Yu bangkit dari tempat tidur dan bersiap pergi.

Di sisi lain, Shangyuan duduk di ruangan yang tenang dan kosong, merasa suram.

Setelah mengetahui identitas Jiang Zhenshan, entah bagaimana, perasaannya tidak sedikit lebih baik, tetapi semakin suram.
.
.

Kuartal pertama kelas sore adalah kelas matematika.

Subjek paling sulit bagi Gu Yu.

Gu Yu melihat angka-angka yang padat di papan tulis dan merasakan sakit kepala.

Gu Yu duduk dibangkunya, berusaha menahan kantuk.

Rasa mengantuk tetapi tidak bisa tidur benar-benar terlalu menyiksa.

Setelah bertahan selama empat puluh menit, kelas pun berakhir. Gu Yu segera merebahkan kepala di atas meja dan bersiap untuk tidur sebentar.

Tanpa diduga, belum sempat tertidur, guru kelas sejarah sudah berjalan ke podium dan memanggilnya. "Gu Yu."

Gu Yu mengerutkan kening dan mendongak. Setelah melihat guru sejarah di podium, dia tiba-tiba bangun.

Guru sejarah menatap Gu Yu dan berkata, "Pergi dan ambil tugas rumah diruang guru."

Gu Yu merespon dan kemudian berdiri.

Jiang Zhenshan yang duduk disebelahnya, meliriknya dan berbisik, "Apa kau butuh bantuan?"

Gu Yu ingin menolak, namun setelah memikirkan tugas rumah yang tebal dan berat, dia ragu sejenak sebelum mengiyakan.

Jiang Zhenshan berdiri dengan gembira dan berbisik, "Ayo pergi."

Kemudian, keduanya bangkit dan berjalan bersama ke arah ruang guru di lantai dua tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Duan Lun yang berdiri diluar koridor kelas A dan sedang menggoda para gadis melihat keduanya yang sempat dijadikan bahan gosip, alisnya sedikit terangkat.

Duan Lun kembali masuk ke ruang kelas, duduk di bangku depan meja Shangyuan lalu mengangkat dagunya ke arah luar jendela, mengisyaratkan Shangyuan melihat keluar.

Duan Lun berkata ¹riang. "Aku melihat kekasihmu berjalan dikoridor bersama orang lain, dan mereka mengobrol dengan sangat bahagia."

¹riang disini lebih ke -- bersukacita dalam kemalangan orang lain (idiom)

Shangyuan menatap Duan Lun.

Duan Lun kembali mengarahkan dagunya keluar jendela sambil memajukan bibirnya. "Tidak ingin lihat?"

Shangyuan merespon tanpa ekspresi. "Siapa?"

"Yang ada di kelas pendidikan jasmani, gadis kurus dan rambut dikuncir kuda yang berlari dengan kurcaci kecil..." Kata Duan Lun sambil mengayun pena.

Namun, belum menyelesaikan kalimatnya, Shangyuan dengan dingin memutuskan kontak dan tidak lagi menatapnya.

Melihat itu, Duan Lun menjadi bingung. "Kau tidak akan pergi melihat?"

Shangyuan menjawab tanpa ragu. "Tidak."

Itu bukan 'kekasih' seperti pemikiran Shangyuan jadi dia tidak berminat.

Duan Lun kembali berkata, "Kau tidak takut kalau kekasihmu yang cantik itu direbut kurcaci kecil?"

Suara Shangyuan sedikit naik. "... kurcaci kecil?"

Duan Lun tidak menyadari keanehannya, dia menjawab. "Kurcaci kecil yang menggendong kekasihmu."

Setelah itu, Duan Lun teringat sesuatu.

Duan Lun mengubah nada bicaranya dan berubah pikiran. "Kurcaci kecil yang kau gendong. Siapa kurcaci kecil itu, kerabat jauhmu?"

Kalau tidak, bagaimana Shangyuan bisa dengan patuh mendengarkan kurcaci kecil itu?

Mendengar itu, ekspresi Shangyuan berubah dan tiba-tiba berdiri dari duduknya.

Pergerakan yang tiba-tiba menarik sekilas perhatian para siswa di sekitar.

Bo Shangyuan bangkit dan meninggalkan ruang kelas dan berdiri koridor, namun Gu Yu dan Jiang Zhenshan sudah tidak disana.

Shangyuan yang berdiri di koridor yang kosong, ekspresinya menjadi semakin dingin.

Duan Lun berdiri di belakang Shangyuan, bersandar pada bingkai pintu kelas, dan berkata dengan ceroboh. "Apa yang kau khawatirkan? Kurcaci kecil tidak tinggi sepertimu, dan juga tidak tampan sepertimu, nilainya jelas tidak lebih bagus, gadis kecilmu yang cantik tidak akan berpaling ..."

Siapa yang begitu bodoh akan berpaling dari Shangyuan pada kurcaci kecil?

Shangyuan berkata tanpa menoleh. "Bukan dia."

Duan Lun bingung. "Hah, bukan dia? Lalu siapa?"

Shangyuan tidak menanggapi dan langsung kembali ke ruang kelas.

Suasana hatinya semakin memburuk.

Selama kelas berlangsung, pikiran Bo Shangyuan benar-benar di luar kelas.

Dia memikirkan Gu Yu dan Jiang Zhenshan yang duduk bersama, mengobrol bersama, bermain bersama, pergi ke kelas bersama, bahkan tertawa bersama ... dan tidak ada satupun dari hal itu yang bisa dia lihat.

Ketika memikirkan hal ini, Shangyuan merasa sangat kesal dan ekspresi wajahnya menjadi semakin buruk.

Mengapa dia merasa sangat kesal, dia tidak tahu mengapa.

Selama Shangyuan berada dalam suasana hati yang buruk, dia tidak akan terlalu peduli.

Tidak, harus dikatakan bahwa dia tidak akan peduli sama sekali.

Pada siapapun itu.

Tepat ada satu gadis di kelas yang kebingungan dengan topik pada buku teks fisika. Dia tidak dapat menemukan jawabannya untuk waktu yang lama. Akhirnya, dia membawa buku teks untuk meminta bantuan pada Shangyuan si peringkat pertama.

Gadis itu berjalan dengan gugup dan berhenti didepan meja Shangyuan. "Bo tongxue, aku tidak mengerti topiknya. Apa kau bisa menjelaskan?"

... Diabaikan.

Gadis itu berpikir suaranya terlalu kecil, jadi dia mengatakannya lagi dengan suara besar.

... Masih diabaikan.

Gadis itu memandangi tatapan dingin dan sikap acuh tak acuh Shangyuan, dia mendatarkan mulutnya, menahan keluhan, "Maaf, sudah menganggu ..." gadis itu pun pergi.

Shangyuan tetap mengabaikan.

Di belakangnya, Duan Lun melihat pemandangan ini dan tidak bisa tidak memikirkannya, sikap Shangyuan yang seperti ini, bagaimana dia bisa mengejar kekasihnya di kelas E?

Apakah sulit bagi pihak lain untuk mengejarnya?

Ketika perasaan Shangyuan tidak terlalu baik, dia tidak akan peduli pada siapapun seperti halnya di sekolah menengah pertama.

Dia sudah membuat banyak perempuan menangis.

Karena sudah memahami temperamen Bo Shangyuan yang seperti ini, Duan Lun tidak merasakan apa-apa.

Tetapi tidak untuk orang lain.

Seperti teman semejanya, Tian Bin.

Sejak hari pertama, Tian Bin yang sudah merasa tidak puas dengan Shangyuan, kini menjelingkan mata meliriknya.

Cuih! Mulai berpura-pura lagi ...
.
.

Kelas keempat berakhir, jam sekolah pun berakhir.

SMA Chengnan telah mengadakan belajar mandiri malam sejak tingkat tahun pertama.

Setelah kelas keempat, saatnya pergi ke kantin untuk makan malam. Setelah makan, kemudian belajar mandiri malam.

Ada dua bagian dalam belajar mandiri malam, tetapi mereka biasanya menulis tugas rumah.

Tepat setelah pelajaran keempat, Duan Lun yang duduk belakang Shangyuan mendorong kursinya. Dia bertanya, "Apa kau akan makan di luar, atau pergi ke kafetaria?"

Shangyuan dalam no mood mode. "Terserah."

Duan Lun mendengus, dia paling benci dengan kata terserah.

Duan Lun kemudian bertanya pada teman semejanya. "Apa menu kafetaria hari ini?"

Dia berpikir sejenak dan kemudian perlahan-lahan menyebutkan. "Melon musim dingin, paprika goreng, sup telur rumput laut, jamur, iga babi rebus, telur orak-arik dengan tomat ..."
  
Mendengar ini, Duan Lun mengangkat alisnya.

Itu adalah hidangan yang Shangyuan tidak suka.

Duan Lun bertanya. "Itu saja?"

Teman semejanya mengangguk. "Hm, sepertinya itu saja."

Duan Lun tersenyum dan berkata, "Terima kasih."

Temannya itu menyentuh bagian belakang kepalanya sendiri, cukup malu. "Sama-sama."

Kemudian, Duan Lun menoleh dan langsung berkata tanpa ragu. "Ayo pergi makan ke kafetaria."

Shangyuan yang dalam suasana hati yang buruk, tentu saja dia tidak mendengarkan kata-kata Duan Lun dengan teman semejanya. Jadi, ketika tiba di kafetaria dan melihat menu, dia tiba-tiba terdiam.

Shangyuan menoleh dengan wajah dingin pada Duan Lun.

Ekspresi Duan Lun tidak bersalah. Dia bertanya. "Mau makan apa?"

"Daging manusia."

"..."

Duan Lun diam selama dua detik. Dia kembali bersuara. "Bagaimana kalau pergi makan diluar?"

Seperti yang sudah diketahui, pendengaran Bo Shangyuan selalu baik.

Ketika dia siap untuk menjawab Duan Lun, dia mendengar suara Tian Bin.

Tian Bin yang entah dengan siapa dia mengobrol dengan antusias.

Tidak, itu seharusnya bergosip dengan heboh.

Tian Bin dan beberapa siswa kelas F duduk bersama, mengobrol dan berbicara panas.

"Bo Shangyuan, ternyata tidak baik. Dia selalu memiliki wajah yang dingin sepanjang hari, ²sangat arogan ..."

²拽的二五八萬似的 - drag it like a 2,58 million. Ini diambil dari istilah dalam permainan Mahjong. Orang yang punya kartu tertentu akan merasa puas dan bersikap arogan.

Arogan disini lebih ke megalomania, bentuk obsesi berlebihan terhadap diri sendiri karena merasa dirinya paling hebat, paling berkuasa, dan paling besar.

"...."

"Terus berpura-pura sepanjang hari, aku bisa memukulnya dengan satu pukulan dan lihat nanti apa dia masih bisa berpura-pura ..."

"....."

"Dia tidak mendengarkan kelas dan tidak membuat catatan. Aku pikir nilainya hasil menyontek. Saat punya waktu nanti, aku akan pergi ke guru untuk melaporkannya..."

Tian Bin terus berbicara dan berbicara tanpa henti.

Tidak ada reaksi pada wajah Shangyuan.

Di sekolah menengah pertama, dia telah melihat banyak orang yang mengatakan hal buruk tentangnya di belakang.

Hanya setelah insiden toilet, tidak ada yang berani mengatakan hal buruk tentangnya.

Meski tidak ada yang mengatakannya di mulut, tentu saja, hati mereka tetap mencemooh.

Namun, Shangyuan tidak peduli.

Orang dengan perilaku seperti ini yang suka mengatakan hal-hal buruk hanyalah kekanak-kanakan dan konyol di mata Shangyuan.

Disaat Shangyuan tidak peduli, seseorang tiba-tiba menyela Tian Bin. "Tongxue, apa kau tidak tahu istilah jangan bicara disaat makan?"

Suara Tian Bin tiba-tiba berhenti.

Shangyuan yang mendengar suara ini, tertegun sejenak kemudian berbalik.

Itu adalah Gu Yu.

Shangyuan menatapnya tanpa berkedip.

Gu Yu tadi mendengar obrolan Tian Bin.

Meskipun Gu Yu tidak suka Shangyuan, itu sangat menjijikkan berbicara buruk tentang seseorang dibelakang.

Tian Bin yang tidak senang, merespon, "Ada apa denganmu? Ketika Laozi suka berbicara, akan berbicara, apa masalahnya denganmu?"

Gu Yu hanya punya dua kata, "Terlalu berisik."

Mendengar itu, Tian Bin menggebrak meja, "Kenapa, kau ingin berkelahi?!"

Tian Bin memandangi lengan dan kaki Gu Yu yang kurus dan kecil. Dia menggulung lengan bajunya, dan bahkan bersiap untuk menghajar Gu Yu.

Tidak jauh, mata Shangyuan sedikit bereaksi, dan dia bersiap untuk maju, tetapi Jin Shilong yang duduk di sisi Gu Yu lebih cepat.

Jin Shilong berdiri dan menggulung lengan bajunya untuk memperlihatkan lengannya yang tebal. Dia mencibir. "Ingin bertarung, ayo."

Tian Bin memandangi sosok kuat Jin Shilong, dan dia duduk kembali.

Jin Shilong mencibir dan duduk di tempatnya.

Shen Teng memandang Tian Bin dengan sombong. Dia mendesah dramatis. "Hah, suka menggertak tetapi penakut ... Kau tidak apa-apa kan, Xiao Yu?"

Gu Yu tidak menjawab.

Shen Teng tidak peduli, karena tujuan utama Shen Teng adalah untuk menyindir Tian Bin.

Shen Teng kemudian berkata, "Laki-laki tetapi kenapa seperti wanita penggosip yang suka berbicara buruk dibelakang?"

Jin Shilong yang ada di samping, melihat tubuh bagian bawah Tian Bin dan berkata, "Mungkin dia bukan laki-laki. Itu sangat datar di bawahnya. Aku curiga tidak ada apa pun di bawahnya."

Setelah mendengarkan itu, Shen Teng tidak bisa menahan tawa.

Tian Bin yang marah masih tidak berani berbicara.

Shen Teng dan Jin Shilong sama-sama mencemooh dengan keras tentang Tian Bin yang seperti banci, laki-laki dengan lidah longgar /ceplas ceplos/, tidak ada organ vital seperti kasim, suka memfitnah di belakang ...

Tian Bin bertahan dan bertahan, akhirnya tidak bisa menahan diri.

Tian Bin tiba-tiba bangkit dan bersiap untuk meninju, tetapi tiba-tiba dia dicegat.

Shangyuan menahan pergelangan tangannya.

Tian Bin berusaha membebaskan diri, tetapi ketika dia bergerak, tidak ada reaksi sama sekali.

Tian Bin berbalik dan setelah melihat ke arah Shangyuan, dia tiba-tiba membeku.

Duan Lun mengikuti Shangyuan di belakang, tapi dia masih tidak mengerti bagaimana Shangyuan tiba-tiba datang ke sini. Begitu melihat Tian Bin, dia bisa memahaminya sekaligus.

Duan Lun merangkul bahu Tian Bin dan tersenyum. "Memfitnah?"

Tian Bin membuka mulutnya tetapi tidak bersuara.

Duan Lun lanjut berkata, "Tian tongxue, ​​ayo pergi, aku punya sesuatu untuk dikatakan padamu."

Setelah itu, tanpa menunggu Tian Bin menjawab, dia langsung menyeret Tian Bin pergi.

Adapun apa yang akan terjadi setelah Tian Bin diseret pergi, jawabannya tidak bisa dikatakan.

Meskipun lidah Shangyuan beracun, dan Duan Lun telah berulang kali mengatakan bahwa dia ingin putus hubungan, itu hanya ucapan dimulut saja.

Jika Duan Lun benar-benar ingin putus hubungan, dia pasti sudah menyerah. Bagaimana dia masih bisa menjadi teman baik Shangyuan hingga sekarang?

Setelah kejadian Tian Bin tadi, suasana hati Shangyuan yang buruk sepanjang sore tiba-tiba membaik.

Shangyuan duduk di posisi Tian Bin dan kemudian berkata pada Gu Yu. "Aku tidak membawa kartu makan."

Gu Yu mendengarkan dan tanpa berpikir langsung menyerahkan kartu makannya.

Makanan untuk beberapa yuan, Shangyuan pernah membelikannya es loli yang juga beberapa yuan, itu hanya untuk mengimbangi.

Gu Yu berpikir begitu, disebelahnya, Shen Teng dan Jin Shilong menatapnya dan Shangyuan dengan lambat.

Ah? Tunggu ...

Bukankah seingat mereka, Gu Yu dan Bo Shangyuan tidak saling mengenal?

Setelah mengambil kartu makan, Shangyuan tidak pergi ke arah makanan, tetapi berjalan ke arah stasiun pengisian saldo kartu.

Shangyuan menyerahkan kartu makan.

Orang yang bertugas dengan ramah bertanya. "Berapa banyak?"

"Seribu."

Orang itu tiba-tiba tertegun.

Setelah selesai diisi, Shangyuan membawa kembali kartu makan itu dan melemparnya di depan Gu Yu, dan ketika Gu Yu masih loading sejenak, Shangyuan mengulurkan tangan dan mengusak kepalanya, lalu berbalik dan berjalan pergi.

Gu Yu tanpa sadar mengangkat tangannya dan menyentuh kepalanya sendiri sambil mengerutkan kening.

Kenapa Shangyuan menyentuh kepalanya?

Namun, bukankah dia akan makan? Kenapa tidak menggunakannya?

Gu Yu melihat kartu makannya, bingung.

Jin Shilong dan Shen Teng yang melihat adegan tadi, tertegun.

Itu adalah tindakan manja, jika bukan karena Gu Yu adalah laki-laki, mereka berdua pasti berpikir bahwa Gu Yu dan Bo Shangyuan saling jatuh cinta.

Tepat ketika keduanya siap untuk menanyakan sesuatu, Gu Yu mengambil kartu makan itu, dan mengamatinya dengan aneh.

Oleh karena itu, perhatian Shen Teng dan Jin Shilong teralihkan dan ikut menatap kartu makan.

Keduanya melupakan pertanyaan untuk adegan tadi.

Shen Teng yang duduk di sisi Gu Yu juga tidak bisa mengerti.

Di sisi lain Jin Shilong tiba-tiba melihat petunjuk.

"Dia pasti memberimu uang! Kisah di komik seperti ini! Tokoh utama pria yang tinggi, tampan dan kaya memberikan uang pada tokoh utama wanita yang malang, tetapi si wanita tidak mau, jadi dia mengisi saldo uang wanita itu tanpa memberi tahunya."

Tokoh utama wanita yang malang, Gu Yu. "..."

Shen Teng tidak berpikir demikian. "Bagaimana mungkin, Xiao Yu dan Bo Shangyuan tidak saling kenal."

Jin Shilong mencibir. "Lihat saja kalau tidak percaya!"

Jadi ketiganya pergi ke top-up untuk memeriksa saldo kartu.

Setelah memeriksa saldo, ketiganya terdiam.

Saldo akun: 1089 yuan.

Gu Yu tidak menyangka Shangyuan akan memberinya uang.

Sementara Shen Teng tidak menyangka cerita Jin Shilong menjadi kenyataan.

Dan Jin Shilong tidak menyangka bahwa Shangyuan memberikan seribu yuan.

Ketiganya berdiri di tempat yang sama dan tetap diam untuk waktu yang lama.

Kemudian, Shen Teng dan Jin Shilong mengerumuni Gu Yu.

"Xiao Yu, katakan yang sebenarnya, apa kau saling kenal dengan Bo Shangyuan?"

"Sudah aku bilang, aku merasa ada yang salah sejak awal. Dia tadi bahkan menyentuh kepalamu, itu pasti berhubungan." Kata Jin Shilong.

"Aku sama sekali tidak tahu."
.
.

Malam ini, Tian Bin tidak belajar mandiri malam dan menghilang.

Kemudian, guru kelas menelepon dan ibu Tian Bin mengatakan bahwa Tian Bin masuk rumah sakit dan tidak bisa pergi ke kelas untuk sementara waktu.

Setelah absen, ibu Tian Bin meminta guru kelas untuk memindahkannya ke Kelas B.

Ketika guru kelas mendengarnya, segera membujuk.

Bisa masuk kelas A, mengapa harus pindah ke kelas B? Bukankah ini tidak masuk akal?

Tapi entah bagaimana, sikap ibu Tian Bin sangat keras, dan tidak peduli bagaimana guru kelas itu membujuk, dia acuh tak acuh.

Akhirnya, guru kelas tidak punya pilihan selain menyetujui.

Adapun mengapa Tian Bin tiba-tiba ingin pindah kelas ... Alasannya tidak diketahui.
.
.

Waktu berlalu, dan sekejap mata sudah akhir pekan.

Pada hari Sabtu, Ibu Gu yang duduk di sofa di ruang tamu, menghentikan Gu Yu saat keluar dari kamar dan berkata dengan ekspresi serius. "Gu Yu, kemari. Ada sesuatu untuk dikatakan padamu."

Gu Yu memandangi ekspresi serius ibunya, dan hatinya memiliki jawaban yang samar.

Gu Yu menunduk dan berjalan mendekat lalu duduk di sofa dengan tenang.

Ibu Gu bertanya. "Sudah beberapa hari sejak mulai sekolah. Bagaimana perasaanmu?"

"Biasa saja."

Ibu Gu kemudian bertanya. "Apa disekolah kau bertemu tetangga Bo?"

"Tidak."

Ibu Gu bersikeras. "Apa dia tidak ada di sekolah?"

Gu Yu bergumam 'um'.

Ibu Gu mengerutkan kening, mengeluarkan tas hadiah dari belakang dan meletakkannya di meja kopi.

"Ibu sudah membahas dengan ayahmu beberapa hari yang lalu. Daripada memberikan hadiah pada guru, lebih baik meminta tetangga Bo mengajarimu. Dia memiliki nilai bagus. Jika kau tidak mengerti apa-apa, kau bisa bertanya langsung padanya."

Gu Yu diam.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments

  1. Terkadang kesel banget dg org yg balas pesan singkat kemudian ga da kabar lgi kayak du yu 😆

    ReplyDelete

Post a Comment