30. Hidup tidak sesuai standar

Guo Zhi sudah cukup lama duduk didepan meja, dia terus mengawasi waktu, khawatir akan terlambat. Shi Xi masih tertidur jadi dia tidak ingin berisik. Setelah bertemu Shi Xi, karakter moralnya yang baik selalu diuji. Guo Zhi tidak takut membangunkan Shi Xi, dia hanya tidak ingin membangunkannya.

Mereka berbeda. Shi Xi adalah malam, Guo Zhi adalah siang. Tetapi ketika mereka berbaur, Shi Xi melihat wajah tidur Guo Zhi dan dia akan masih tertidur disaat Guo Zhi terbangun. Guo Zhi tidak pernah berpikir untuk mengubah Shi Xi. Guo Zhi sudah menyukainya sejak awal, kenapa dia harus membuat perubahan yang tidak berarti? Bahkan jika dia tidak punya perasaan, dia masih tahu itu.
.
.

Shi Xi membuka matanya dan memicing karena sinar matahari menerangi kamar.
    
"Shi Xi, kau sudah bangun? Aku menunggumu untuk pergi kekampus bersama."
    
"Apa aku memintamu menungguku? Jangan menangis kalau sampai kau terlambat."

"Aku tidak akan menangis."

Shi Xi bangkit dari ranjang, meregangkan otot lehernya. Menyadari sesuatu Guo Zhi buru-buru membelakangi Shi Xi, "Kau, apa kau ingin melepas pakaianmu?"

"Novel roman mana yang kau jadikan acuan kali ini?"

"Aku tidak bisa melihat tubuhmu. Begitu melihatnya, pikiranku akan tersendat."
.
.

Tidak butuh waktu lama bagi Shi Xi untuk mandi, keduanya pun bersiap pergi. Shi Xi melangkah duluan, melupakan sesuatu lalu berbalik melihat Guo Zhi dengan berbaik hati sudah menutup pintu kamarnya.

"Siapa yang menyuruhmu menutup pintu?"

"Pergi keluar dan menutup pintu adalah suatu keharusan."
    
"Aku tidak membawa kuncinya." Respon Shi Xi datar tetapi Guo Zhi berubah cemas. "Apa yang harus aku lakukan? Tunggu sebentar!" Dia berlari dengan cepat dan tak lama ia kembali dengan sebuah kawat yang entah didapat darimana. Ia mulai menusukkan kawat itu kelubang kunci dan kemudian mengernyitkan alis. "Tidak masuk akal. Adegan difilm, pintunya akan langsung terbuka."
    
"Jika kau bisa membukanya, itu yang tidak masuk akal. Ayo pergi."
    
Ketika Shi Xi baru berjalan dua langkah, dia mendengar suara benturan dibelakangnya. Dia berbalik mendapati Guo Zhi sedang membenturkan tubuhnya dipintu. Shi Xi menggertakkan giginya. "Apa kau pikir kau punya kekuatan super ditubuhmu?"

"Apa yang bisa aku lakukan dengan kuncinya? Kau tidak bisa pulang nanti setelah kuliah. Ini semua salahku." Guo Zhi bersiap untuk membentur lagi pintu itu namun Shi Xi menarik lengannya. "Aku bisa temukan pemilik sewa untuk meminta kunci cadangan."
    
"Kenapa kau tak mengatakannya! Aku merasa sangat kesakitan."

"Aku tidak berpikir kau bisa sebodoh ini."
.
.

Didalam kelas, Guo Zhi memegang pena sesekali mencatat sambil mendengarkan penjelasan dosen. Tiba-tiba sebuah pena berguling ke kakinya. Ia melihat kebawah lalu mendengar suara kecil seorang gadis dari belakang. "Maaf, penaku jatuh. Bisa minta tolong kau ambilkan?"

"Tak masalah, aku bisa membantu, tak perlu sungkan." Guo Zhi membungkuk dan mengambil pulpen itu dan berbalik mendapati Xu Ru. Gadis itu sangat pendiam dikelas. Dia selalu menguncir rambutnya dan memakai kacamata berbingkai hitam. Dia jarang berbicara. Guo Zhi meletakkan pena di meja Xu Ru dan tersenyum. "Ternyata kau duduk di belakangku, Xu Ru."

"Kau mengingat namaku?" Xu Ru tampak terkejut.

Guo Zhi mengangguk. "Namamu sangat bagus, tentu saja aku ingat." Kalimat ini tak bermakna dalam baginya. Dia membual pada siapapun. Seperti disekolah menengah, ia sering memuji Wang Linlin. Tetapi bagi Xu Ru, itu bukan sekedar pujian, dia tidak tahu bagaimana menjawab dan hanya membenamkan kepalanya rendah, tidak berani menatap Guo Zhi dan dengan susah payah mengeluarkan kalimat, "Terima kasih, terima kasih."

Guo Zhi berbalik dan kembali fokus mendengarkan materi barulah Xu Ru berani mendongak. Dia duduk di belakang dan melihat Guo Zhi. Dalam kesannya, Guo Zhi selalu bahagia dan sangat baik kepada orang lain. Sekarang penilaiannya pada Guo Zhi semakin lebih baik. Jika saja orang seperti Guo Zhi menjadi kekasihnya, itu akan semakin baik. Menyadari pikirannya sendiri, Xu Ru tidak bisa mencegah rona merah diwajahnya. Dia segera menggeleng.
.
.

Dalam beberapa hari berikutnya di kelas, Xu Ru selalu dengan sengaja atau tidak sengaja duduk di belakangnya, dan selalu dengan sengaja atau tidak sengaja menjatuhkan barang-barang. Setelah menyadari ia telah berjongkok berkali-kali, hari ini Guo Zhi akhirnya berbalik melihat Xu Ru yang sedang menatapnya kagum, gadis itu buru-buru menyembunyikan kepanikannya, Guo Zhi mengerutkan kening lalu melirik meja Xu Ru. "Apa kau ..." Belum selesai, Xu Ru sudah menimpali. "Tidak, tidak."

"Tidak? Itu tidak mungkin, apa kau yakin mejamu tidak sedikit miring sampai barang-barangmu selalu meluncur ke bawah?" Guo Zhi memperhatikan sudut meja.

Xu Ru bernapas lega. Dengan ragu, ia merogoh laci meja dan mengeluarkan sekantung cokelat. "Itu, Guo Zhi, aku membeli beberapa cokelat untukmu sebagai ucapan terima kasih karena selalu membantuku."
    
"Tidak perlu. Bahkan tanpa cokelat itu pun aku akan membantumu. Lagipula aku memang duduk didepan."

'Apa Guo Zhi tahu tentang perasaannya?' Xu Ru tak tahan untuk berpikiran seperti ini.
    
Xu Ru menaruh cokelat itu ditangan Guo Zhi. "Ambil saja jika kau menganggapku sebagai teman."

"Oke." Guo Zhi tersenyum.
.
.

Ketika istirahat makan siang, Guo Zhi membawa cokelat ke tempat sepi di belakang perpustakaan. Shi Xi ada di sana, dia duduk di sana seolah-olah dia sudah terbiasa ditempat itu. Ketika Guo Zhi melihat bahwa Shi Xi tidak menulis apa-apa, dia berteriak. "Shi Xi! Lihat cokelat ini."

"Apa bagusnya."

Guo Zhi duduk disebelah Shi Xi dan menaruh kantung cokelat diantara keduanya. Guo Zhi mengambil satu buah, merobek bungkusnya dan langsung melahap bulat-bulat. Ia tidak mengunyah, hanya mengemut cokelat itu hingga meleleh dengan sendirinya. "Semua orang mengatakan kalau cokelat bisa membuat orang merasakan kebahagiaan, bisa merangsang tubuh untuk mengeluarkan sesuatu." Dia tidak akan mengatakan kata benda itu.
    
"Rasa kebahagiaan? Yang aku lihat hanya membuat orang menjadi gemuk."

"Bisakah kau tidak hanya memikirkan semuanya dari sisi buruk? Apa yang buruk tentang lemak? Sangat lucu, itu artinya hidup itu kaya, anak perempuan tidak akan sia-sia. Bukti lemak itu baik dan bisa menghasilkan banyak anak."
 
"Di era serba penampilan ini, orang gemuk hanya dijadikan bahan ejekan dan nama panggilan. Saat membeli pakaian, penjual akan langsung memberimu ukuran terbesar, orang yang kau suka akan selalu menyukai orang lain. Ini adalah estetika yang ditetapkan oleh standar era ini. Terlalu banyak standar."

Lelehan cokelat dimulut Guo Zhi bercampur antara rasa pahit dan manis. "Lelaki tidak bisa menyukai lelaki, apa itu juga standar era ini?"  

"Ya." Jawab Shi Xi tanpa ragu. Ia memperhatikan Guo Zhi yang menunduk masih mengunyah cokelatnya dengan ekspresi kusam yang tak begitu kentara. Shi Xi melanjutkan, "Guo Zhi, apa kau bodoh?"
    
"Aku tidak." Guo Zhi mendongak dengan wajah tak senang.

"Itu tidak akan berhasil."

"Apa maksudmu?" Guo Zhi pikir Shi Xi hanya menggodanya tapi ia tak menyangka hal ini menjadi masalah.
    
Shi Xi memutar pena ditangannya, satu tangan yang lain bergerak dan mendorong dahi Guo Zhi. "Karena hanya orang idiot yang akan hidup sesuai standar ini."

Cokelat meleleh habis dan jatuh masuk ke kerongkongan Guo Zhi menciptakan sensasi manis. Cokelat benar-benar bisa membuat orang merasa bahagia.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments