3. Nama kamu

Wang Linlin menatap kearah Hua Guyu yang berada tak jauh dari bangkunya. Dia tak pernah melihat lelaki seperti itu ditempat gersang ini selama bertahun-tahun, "Benar-benar tampan, seandainya saja bisa jadi pacarku."

"Yeah, tampan." Kata Guo Zhi acuh tak acuh.

"Walaupun kau tak bisa bereaksi berlebihan pada pria, setidaknya bersikap baiklah. Bukankah ini hal yang positif? Masih ada pria tampan yang mau datang ke sekolah kita yang rusak ini. Kau merasakannya juga kan?"

"Yeah." Sahut Guo Zhi tak peduli. Ia memegang pena dan menyalin dengan cepat nama murid yang diabsen guru dikelas sebelah untuk menyerahkan hasil tes. Guo Zhi duduk dibaris belakang, ia menajamkan pendengarannya, mengabaikan nama para gadis dan menulis semua nama lelaki.

Hanya dalam dua detik melihatnya, membuat Guo Zhi menjadi semakin ingin untuk lebih mengenal lelaki itu. Kenapa wajahnya disembunyikan? Kenapa ia menenggelamkannya? Rasa penasaran Guo Zhi tidak dapat dibendung lagi.
.
.
.

Setelah kelas berakhir, para murid berdesak keluar begitu juga lelaki bertopi itu. Ia berjalan disisi koridor. Tak ada yang memperhatikannya kecuali Guo Zhi. Dengan bekal pengetahuan tentang nama siswa yang sudah ia hafal, Guo Zhi mendekati lelaki itu dan berdiri disampingnya. "Cuaca hari ini bagus ya, Zhang Yong."

Tak ada respon.

"Cuaca hari ini bagus ya, Qin Xiaojun."

Masih tak ada respon.

Bukan namanya juga ya?

"Aku bilang, cuaca hari ini sangat bagus ya, Wu Hao, Ren Chenchao..." Guo Zhi menyebut sepuluh nama dalam satu napas.

Akhirnya, lelaki itu mendesis, "Apa otakmu tak memiliki IQ?"

"Kenapa kau memarahiku? Aku Guo Zhi, siapa namamu?"

"Tak perlu memberitahumu." Kata lelaki itu lalu pergi.

Orang yang diabaikan itu hanya bisa melihat punggung lelaki jauh didepannya. Ia melipat tangan, "Dia tipe yang pemalu." Dari mana kepercayaan diri ini berasal? Benar-benar bodoh.
.
.
.

Ketika bel kelas berbunyi, para murid mulai memadati ruang kelas. Kehidupan SMA ditingkat akhir begitu hampa dan membosankan. Setiap harinya hanya belajar dan belajar. Sepuluh menit waktu istirahat hanya cukup untuk buang air kecil. Guru matematika dengan langkah pendek masuk ke dalam kelas sambil membawa penggaris segitiga dan buku teks. Kalimat pertama yang ia katakan, "Besok akan diadakan tes."

Para murid mengeluh, "Semua guru sama saja."

Yang ada di pikiran Guo Zhi, "Itu bagus, Ujian, kau bisa bermain dengan lembar tes sebelumnya untuk waktu yang lama."

"Masih ada tiga bulan lagi sebelum ujian masuk universitas, dan kalian harusnya cemas, bukan bermain saja yang dipikirkan." Guru selalu bisa mencari kalimat yang membebankan hati para murid. Guru matematika meneruskan, "Kumpulkan soal review yang dibagikan kemarin."

Soal review mulai dikumpul dari baris belakang hingga menumpuk dibaris depan. Guru mengambilnya dan segera membalik dua lembar, tiba-tiba berkata tajam, "Guo Zhi, coretan tak jelas apa ini yang kau tulis?" Tak heran guru akan marah, soal review itu dipenuhi dengan nama siswa lelaki kelas sebelah.

"Aku, aku melatih menulis kata." Jawab Guo Zhi.

"Apanya yang latihan, tidak ada kategori untuk tulisan indah di ujian masuk universitas."

"Mengerti." Guo Zhi meratakan mulutnya, nama-nama yang sudah ia hafal telah diambil guru.

Saat kuarter kedua, Hua Guyu mengerut alis indahnya sembari kembali kedalam kelas, mengeluarkan cermin dari laci dan mulai menata gaya rambutnya. Tiba-tiba ia merinding lalu mendongak dan mendapati seorang siswa bertopi yang walaupun ia tak bisa melihat wajahnya, Hua Guyu yakin lelaki itu tengah menatapnya. Ia kembali menata rambutnya, "Sungguh, bagaimana bisa wajah ini begitu tampan, dan selalu saja ada yang menggemariku dimanapun aku berada."

Wang Linlin yang sedang mengagumi ketampanan Hua Guyu merespon, "Jangan pedulikan dia. Anak itu aneh."

Guo Zhi hanya diam disebelahnya. Hua Guyu langsung dinobatkan sebagai pangeran sekolah dalam waktu singkat, tapi pangeran sesungguhnya dimata Guo Zhi adalah lelaki yang sedang berdiri diluar pintu kelas didepan sana. Hanya dengan melihatnya, Guo Zhi tahu apa itu negeri dongeng.

Sebelum kelas mandiri dimulai, Hua Guyu dikelilingi para gadis yang mengajukan pertanyaan. Lelaki bertopi itu berdiri diluar kelas dan hanya menatap Hua Guyu. Ia terus memperhatikan penampilan Hua Guyu membuat yang ditatap tak tahan untuk bertanya, "Apa yang sedang kau lakukan?"

"Melihatmu." Jawab Lelaki itu langsung, membuat Hua Guyu melongo shock namun setelahnya dengan angkuh berkata, "Aku tahu kalau pesonaku sangat memukau, tapi aku tak bisa menerima perasaanmu." Betapa narsisnya orang ini!

"Berbalik." Lelaki itu memerintah, nada suaranya tak sabar membuat Hua Guyu tak bisa membantah, iapun berbalik. "Baiklah, lihatlah kesempurnaan ini! Aku adalah dambaan semua orang."

"Cukup meyakinkan." Gumam lelaki itu lalu pergi meninggalkan Hua Guyu yang masih terbuai dengan keindahan dirinya sendiri. Guo Zhi pelan-pelan melangkah keluar kelas dan menemukan lelaki itu naik tangga lorong. Tangga itu menghubung ke atap sekolah tapi pintunya sudah dikunci pihak sekolah jadi kemungkinan kecil murid akan pergi kesana. Apa yang lelaki itu lakukan?

Guo Zhi dengan penasaran mengikutinya dari belakang menaiki tangga yang gelap, sempit dan menakutkan. Hanya ada suara ketikan keyboard, lelaki itu duduk ditangga bersandar di dinding, melipat kaki dengan laptop diatasnya. Cahaya dari layar menerangi wajahnya. Ia sepertinya tidak menyadari kehadiran Guo Zhi.

Setelah cukup lama, lelaki itu mengangkat wajahnya dari layar dan menemukan Guo Zhi yang sedari tadi duduk di anak tangga dibawahnya sedang menatapnya. Guo Zhi tersenyum polos, "Sudah selesai? Kau menulis novel? Mengagumkan."

"Tak perlu membanggakanku."

"Aku merasa itu sangat bagus. Menulis novel itu bagus. Jadi alasan kau memperhatikan Hua Guyu itu untuk inspirasi? Apa kau menulisnya sebagai seorang pahlawan atau ksatria?" Guo Zhi penasaran.

"Pelacur laki-laki."

"Pelacur laki-laki itu bagus. Begitu peduli dan memberi pelayanan kepada yang butuh."

"Berasal dari planet mana kau ini, idiot?"

"Kenapa tiba-tiba memarahiku, aku berkata jujur."

"Jadi aku memarahimu."

"Kau tidak bisa melakukan ini, kau tak bisa berteman." Guo Zhi meratakan bibirnya.

"Teman? Membuang waktu pada perasaan ekstra seperti itu tidak diperlukan."

"Tak membuang waktu! Memangnya kau tak merasa kesepian selalu sendiri?"

"Kesepian juga tidak perlu." Jawaban lelaki itu membuat Guo Zhi syok tak percaya. "Jika kau merasa semuanya tidak baik, lalu apa gunanya hidup?" Pertanyaan itu sebelumnya sudah ia tanyakan pada Wang Linlin.

"Jika kau merasa semuanya baik, lalu apalagi yang kau butuhkan untuk tetap hidup?"

Setelah mendengar kalimat itu, ingin rasanya Guo Zhi membuat lelaki tak memiliki perasaan pada dunia itu merasa lebih baik.

Lelaki itu ingin berdiri dan pergi namun Guo Zhi menahan bahunya, "Ingin hidup lebih baik, Shi Xi?" Senyuman yang begitu tulus, hangat dan secerah mentari yang bersinar. Guo Zhi menyebut namanya. Hanya ini nama yang terlintas diantara nama yang ia hafal dari coretan review. Ia tak tahu, tiba-tiba saja nama itu yang keluar dari mulutnya.

Shi Xi mengerut tak suka. Ia menepis tangan Guo Zhi dan berdiri, "Jauh-jauh dari duniaku."

Guo Zhi ikut berdiri, bertolak pinggang. "Jangan khawatir, aku tak akan masuk keduniamu, aku akan berlari bersamamu untuk mengenal dunia."

Mereka memiliki kepribadian yang bertolak belakang, dan ketidakpedulian Shi Xi telah menarik perhatian Guo Zhi yang polos.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments