29. Bahkan mimpi pun juga indah

Mendengar itu, Guo Zhi mendongak menatap wajah tampan itu, kata-kata Shi Xi masuk ke dalam benaknya, mengganggu pikirannya, merasuk ke tubuhnya. Di dalam, detak jantungnya terganggu. Hanya dengan beberapa kata, ia bisa merasakan suasana hati seperti ini.

Guo Zhi masih berdiri tempat yang sama, tangannya tergantung di kedua sisi. Shi Xi kembali bersuara dengan sedikit tidak sabar, "Apa yang kau lakukan? Cepat jalan." Setelahnya Shi Xi berbalik berniat melanjutkan langkahnya namun Guo Zhi menarik lengan bajunya. "Kau tunggu aku, berjalanlah lebih pelan."

"Apa kau idiot?"

"Yeah."

Shi Xi terus melangkah, Guo Zhi mengikuti, satu langkah Shi Xi harus membuatmya mengambil dua langkah dengan berlari untuk mengimbangi Shi Xi.

Ia mengeluh di belakang, tetapi bukan menyalahkan Shi Xi, lebih ke dirinya sendiri. "Kakimu terlalu panjang, masuk ke duniamu sepertinya memaksaku melakukan sesuatu, aku harus menggunakan mobil untuk ke duniamu."

"Duniaku butuh biaya parkir."

"Berapa banyak?"

"Sekali parkir ditukar dengan 100 ronde diranjang."

"Kau licik!" Guo Zhi syok. "Berarti aku akan mati diranjangmu setiap kali parkir."

"Ya!" Mendengar jawaban Shi Xi, Guo Zhi memintanya untuk sedikit berbelas kasih dengan menurunkan sedikit biaya parkirnya. Ia tak menyangka Shi Xi akan menjawab, "Kalau begitu kita lakukan dilantai. Sangat merepotkan untuk mengganti sprei baru."

"Kau, kau," Kosakata Guo Zhi sangat terbatas jadi ia berpikir lama sebelum melanjutkan, "Kau tidak serius!" Kata-kata ini sama sekali tidak menyinggung Shi Xi.

Melihat Shi Xi tidak merespon, Guo Zhi mengira ia sudah berbuat salah pada Shi Xi, melukai harga diri Shi Xi membuat Guo Zhi tidak tahan untuk bertanya. "Apa tidak bisa diskon?"

Shi Xi berhenti, masih tidak berbicara. Guo Zhi bergerak ke sisinya, mengamati raut wajah Shi Xi apakah lelaki itu marah namun tiba-tiba jemari Shi Xi bergerak dikegelapan malam, menerobos angin malam, menggenggam jemari Guo Zhi. Suhu tubuh Guo Zhi meningkat, terus merambat naik hingga wajahnya memerah. Jemarinya terasa memanas.

"Tidak bisa ditawar lagi."

"Baiklah." Sepertinya memang sulit baginya untuk menawar dan meminta diskon.

Guo Zhi menatap jalan yang dituntun Shi Xi, dan ia berharap, jalan itu sedikit lebih lama, tidak hanya saat ini, tidak hanya malam ini, dia bisa berjalan seperti ini seumur hidup.

Disisa perjalanan hingga sampai diapartemen, Guo Zhi terus menguap lebar. Dia jarang tidur larut. Rasa kantuk membuatnya tidak bisa membuka matanya. Shi Xi membuka pintu kamar, dia duduk didepan komputer. Guo Zhi menggosok matanya kemudian berbaring di tempat tidur. Shi Xi menoleh dan melihat Guo Zhi sudah terbaring dengan kaki mengantung. Dia mencebik mulutnya dan berdiri, membuka selimut membenarkan posisi Guo Zhi. Dia menatap wajah Guo Zhi yang tertidur dengan bibir tersenyum.

"Wajah macam apa ini?!" Shi Xi menarik sudut bibir Guo Zhi, mencubitnya. Guo Zhi merengut dengan suara meracau tak jelas. Shi Xi melepas tangannya lalu menutup kembali selimut dengan asal dan melanjutkan kegiatannya didepan komputer.
.
.

Paginya, Guo Zhi bangun lalu duduk dengan mata terbuka. Ia melihat Shi Xi yang masih tertidur, lalu bergegas memakai pakaiannya tanpa suara kemudian mengambil kamera dan menutup pintu dengan pelan. Ponselnya berdering, Ibunya yang menelpon.

"Halo, Ibu. Kenapa?"

"Guo Zhi, Ibu hanya ingin tahu apa kau bisa pulang minggu ini? Keponakanmu baru lahir, pulanglah dan kita makan bersama. Kau juga sudah lama tak pulang."

"Baik, bu. Aku akan kembali hari jumat."

"Baiklah, hati-hati dijalan."

"Oke, sampai jumpa."
.
.

Pada jumat siang, Guo Zhi menyapa Shi Xi sejenak untuk berpisah kemudian menaiki kereta. Ibunya yang menyambut tak bisa menahan senyuman. Guo Yunyong masih berwajah serius. "Apa kau sudah terbiasa dengan kampusmu?"

"Ya, disana sangat bagus."

"Bisa bertahan dengan materinya?"

"Ya."

"Apanya yang iya, kau harus belajar dengan keras. Jangan berpikir karena sudah kuliah, kamu bisa bersantai dengan mudah, atau kamu akan kesulitan saat menghadapi masyarakat nanti."

"Aku tahu."

"Jangan membuat kekacauan. Apalagi, kau jauh dari kami sekarang."

"Baik."

Guo Yunyong memiliki banyak pelajaran untuk dikatakan, dan Guo Zhi tidak pernah bosan. Tampaknya pelajaran seperti itu diterima begitu saja, karena ia mulai mendengarkan dari sejak kecil.
.
.

Malamnya, ketiga orang itu datang duduk dimeja makan untuk makan malam. Ponsel Guo Zhi berdering, Shi Xi menelponnya.

"Shi Xi!"

"Dimana kau menyimpan pena?"

"Aku taruh didalam laci kedua dimeja samping tempat tidur."

"Ok."

Begitu panggilan ditutup, Guo Zhi tak bisa menahan ekspresi bahagianya. Melihat itu, Guo Yunyong mengerutkan alis. "Siapa Shi Xi?"

Guo Zhi seketika menyadari sesuatu. Wajahnya pucat dan kakinya bergetar di bawah meja. Apakah ia harus berbohong? Berapa lama kebohongan ini ditaburkan? Seberapa besar jadinya? Guo Zhi tidak suka berbohong, Guo Zhi tidak suka berbohong tentang hal ini. Dia menimbang cukup lama, dan akhirnya bersuara, "Ayah, maaf, aku, aku akhirnya masih menyukai lelaki. Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diri."

Segala sesuatu di rumah senyap seperti sebelumnya. Mata tajam Guo Yunyong menghujamnya. "Apa katamu?"

"Shi Xi, yang aku sukai adalah lelaki." Guo Zhi tidak berani melihat ekspresi Guo Yunyong. Tubuhnya menegang dan takut, takut akan segala sesuatu yang akan dihadapi.

Guo Yunyong membanting mangkuk, menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya keras. Zhou Hui menatap Guo Zhi, "Anakku, apa yang kau katakan itu kau sudah memikirkannya dengan jelas?"

"Ya, aku sudah memikirkannya dengan sangat jelas. Ayah, kau bisa memukulku atau membentakku, tapi kali ini aku tidak akan berubah."

Guo Yunyong tidak bicara, dia menundukkan kepalanya. Untuk waktu yang lama, dia mengangkat kepalanya dan memasukkan puntung rokok ke asbak. Dia menghela nafas. "Sudah seperti ini. Kau masih tidak berubah bahkan aku sudah memukulmu seperti itu dulu. Bagaimana kau bisa bercanda kali ini? Jadi, karena kau sudah memilihnya, apa lagi yang bisa aku katakan? Jika kau menyukainya, tetaplah bersamanya, dan hanya itu yang bisa ayah katakan."

Guo Zhi tidak percaya pendengarannya. "Apa ayah setuju? Ayah benar-benar menyetujuinya? Bagaimana dengan ibu?"

"Ayahmu sudah setuju, apa lagi yang bisa ibu katakan?"

Hati Guo Zhi diselimuti perasaan bahagia. Ia bergegas memeluk ayahnya, air matanya merembes keluar. "Aku sungguh menyukai Shi Xi. Aku sangat menyukainya."

Tiba-tiba, semua gambaran itu hilang, Guo Zhi membuka matanya, hanya langit-langit kamar yang sudah familiar tertangkap penglihatannya, dia tidur di tempat tidur, di sebelah Shi Xi, waktu aslinya hanya berlalu satu malam, dia tidak meninggalkan kamar Shi Xi, dia tidak menerima panggilan dari ibunya, dia tidak pulang, perasaannya tidak ketahuan.

Ini hanya mimpi. Mimpi itu hanyalah pemikirannya. Pikirannya membuat orang-orang dalam mimpi ini jadi mudah menerima dan berubah.

Dia menendang selimut dengan keras membuat Shi Xi mengerutkan kening dan membuka matanya, "Apa yang kau lakukan?"

Guo Zhi memalingkan kepalanya, wajahnya penuh senyuman, lebih hangat dari matahari pagi, Guo Zhi mendekat dan memeluk lengan Shi Xi. "Tidak ada, hanya bermimpi manis."

"Gila."

Guo Zhi membenamkan kepalanya di lengan Shi Xi. Setelah beberapa saat, ia menyeringai, dan Shi Xi mengerutkan keningnya lagi. "Obat macam apa yang membuatmu seperti ini?"

"Aku ingin kau menebaknya sendiri." Guo Zhi kembali menyeringai.
.
.
Dia tidak akan merasa sedih hanya karena bermimpi, ia hanya berpikir bahwa bahkan didalam mimpi pun itu indah...

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments