28. Ini semacam dendam

Shangyuan yang memegang kertas soal muncul di kelas E membuat semua orang terpana.

Tubuhnya yang tinggi dan ramping, dan terlihat putih dan tampan, meskipun hanya celana hitam dan kemeja putih sederhana, itu menarik perhatian semua orang.

Semua orang di kelas E menganga melihat Shangyuan.

Bagaimana dia bisa datang ke kelas E?

Jiang Zhenshan melihat ke arah Gu Yu, berkedip tidak mengerti.

Sementara Shen Teng memandang Gu Yu dengan Shangyuan yang berdamping, tertegun.

Jin Shilong sedang duduk dengan baik dan membaca komik, tiba-tiba dia merasa suara di sekitarnya tidak biasa, jadi dia mengangkat kepalanya dari komik.

Ketika mendongak, dia melihat Gu Yu dengan wajah tenang tengah memeluk sejumlah kecil kertas soal dan disisi Gu Yu, ada Shangyuan dengan wajah yang sedingin biasanya.

Jin Shilong melihat kertas soal ditangan Shangyuan dan ekspresinya aneh.

Meskipun keduanya terlihat seperti biasa, mereka tidak berbeda dari sebelumnya, tapi entah bagaimana, melihat mereka berdiri bersisian, Jin Shilong merasakan sesuatu.

Seperti apa tepatnya ...

Mungkin seperti sensasi dalam komik gadis bahwa ketika protagonis pria dan wanita berdampingan, tanpa sadar memancarkan suatu sensasi yang ambigu.

Jin Shilong memandang kedua orang itu, dan ekspresinya menjadi semakin aneh.

... tapi bukankah kedua orang ini hampir tidak pernah mengobrol?

Apa dia terlalu banyak membaca komik gadis?

Jin Shilong mengerutkan kening dan berpikir keras.

Karena sudah hampir waktunya untuk kelas, begitu membantu Gu Yu membawa kertas soal ke kelas E, Shangyuan langsung berbalik dan pergi.

Setelahnya Gu Yu mendistribusikan kertas soal pada empat ketua tim lalu dengan wajah tenang, dia duduk kembali ke posisinya.

Setelah kembali ke posisi semula, Shen Teng yang masih tertegun, mulai bertanya. "Xiao Yu, bagaimana kau bisa bersama Bo..."

Jin Shilong juga berbalik menatap Gu Yu.

Gu Yu langsung memotongnya dengan samar. "Saat aku mengantar tugas rumah di ruang guru, dia ada disana. Jadi saat dia melihatku membawa kertas soal sendirian, dia membantu."

( membantu secara paksa. )

Shen Teng bergumam 'oh', "Ternyata begitu ..."

Di sisi lain, Jin Shilong sedikit mengernyit dan merasa ada sesuatu yang salah.

Karena dalam pengetahuan Jin Shilong, Bo Shangyuan tampaknya bukan orang yang suka membantu.

Jin Shilong menatap Gu Yu.

Dia melihat penampilan Gu Yu tenang, dan itu tidak seperti berbohong. Dan, untuk berhati-hati, sepertinya tidak perlu berbohong dalam hal semacam ini.

Jadi, Jin Shilong percaya.
.
.

Setelah makan malam, ponsel Gu Yu tiba-tiba menerima pesan.

Dari Shangyuan.

[ Kau belum mengatakan terima kasih pada pamanmu. ]

[ ? ]

[ Membawa kertas. ]

[ ...... ]

[ Aku tidak meminta bantuanmu. ]

[ Terserah. ]

[ Cepat katakan. ]

[ ...... ]

Gu Yu terdiam sesaat.

Kemudian, Gu Yu tidak mengatakan apa-apa lagi dan meletakkan ponselnya.

Keesokan harinya, keduanya bertemu lagi di pintu.

Gu Yu sekilas melihat Shangyuan lalu memalingkan muka, mengangkat kakinya dan pergi.

Shangyuan mengangkat alis dan mengikutinya dari belakang.

Kemudian, seperti sebelumnya, keduanya menunggu bus dan kemudian pergi ke sekolah.

Karena berangkat awal, Shangyuan masih mengantuk.

Sama seperti kemarin, begitu duduk di bus, dia langsung meletakkan kepalanya di bahu Gu Yu.

Gu Yu hanya meliriknya dan tidak mengatakan apa-apa.

Namun, ketika akan turun dari bus, Gu Yu tidak membangunkannya seperti sebelumnya, tetapi dia menyentil jarinya didahi Shangyuan.

Seperti yang diharapkan Gu Yu, Shangyuan seketika terbangun.

Gu Yu menatapnya dan berkata dengan samar, "Turun."

Dia kemudian beranjak lebih dulu.

Shangyuan melihat bagian belakang Gu Yu, bibirnya sedikit miring.

... Ini semacam dendam.

Untuk membalas dendam, maka Gu Yu balas menyentil dahi Shangyuan dengan sangat keras, sampai di kelas, tanda merah di dahinya belum hilang.

Orang-orang di kelas A melihat dahi Shangyuan yang memerah langsung tertegun. Mereka bertanya-tanya siapa itu, oh tidak, siapa yang berani memunculkan tanda merah di dahi Shangyuan.

Semua orang di kelas A penasaran, tetapi karena Shangyuan tidak mudah didekati, jadi tidak ada yang bertanya.

Sementara Duan Lun yang sudah bertahun-tahun mengenalnya, bertanya langsung. "Apa yang terjadi pada dahimu?"

Shangyuan biasanya tidak akan merespon.

Tapi hari ini, suasana hati Bo Shangyuan tidak buruk.

Jadi kening Shangyuan sedikit berkerut, berpikir sejenak, lalu berkata, "Disentil kekasih."

Duan Lun tidak memiliki suara untuk sesaat.

Begitu sadar, dia segera menutup mulutnya dan tidak bertanya.

Ah, ini bau asam jatuh cinta ...

Namun, sekali lagi, melihat ini, apa mungkin kekasih Xing Bo tipe yang galak?

Duan Lun tahu bahwa Shangyuan tidak akan mengatakan siapa kekasihnya, jadi Duan Lun tidak terus bertanya. Pokoknya, bahkan jika ditanya, dia hanya akan mendapat jawaban kosong.

Duan Lun tidak bertanya lagi, tetapi Tian Bin, teman semeja Shangyuan yang pada hari pertama, menyapa Shangyuan, tetapi diabaikan. Dia dengan penasaran bertanya. "Hah, kekasih? Siapa itu?"

"..."

Tidak ada yang peduli

Senyum di wajah Tian Bin kaku.

Tian Bin kembali tersenyum dan berkata. "Tenang saja, mulutku sangat rapat. Aku tidak akan pernah memberi tahu orang lain ..."

"..."

Masih tidak ada yang peduli.

Tian Bin sadar diabaikan jadi perlahan memudarkan senyumnya dan mengalihkan pandangannya.

Shangyuan dari dulu memang bukan tipe orang yang suka menanggapi, tentu saja berlaku untuk Tian Bin.

Karena fakta bahwa Duan Lun sudah lama mengenalnya, dia sudah bisa beradaptasi.

Dalam suasana hati yang baik, siapa pun yang memintanya untuk berbicara dengannya akan peka.

Jika dia berada dalam suasana hati yang buruk, dia tidak akan menanggapi, siapapun itu.

Bagi Duan Lun, jika itu adalah gadis yang cantik, maka bahkan jika dalam suasana hati yang buruk, Duan Lun akan menemaninya bicara selama tiga hari tiga malam. Bahkan yang biasa saja sekalipun.

Kalau itu seorang pria ... Get lost!

Lagipula, orang yang bernama Tian something Bin atau apapun itu, entah dilihat dari penampilan maupun tingkahnya, Duan Lun rasa benar - benar mirip seperti orang idiot.

Entah datang dari mana, tiba - tiba seenaknya saja dia bertanya siapa kekasih Xing Bo. Sepertinya dia benar-benar tidak tahu diri.

Jadi, Shangyuan yang mengabaikannya sudah menjadi ekspektasi Duan Lun.

Bahkan dapat dikatakan bahwa dia orang yang ¹sombong.

¹menyala untuk bersukacita dalam malapetaka dan senang dalam bencana (idiom); untuk bersukacita dalam kemalangan orang lain. /kata yang pas apa yaa untuk definisi ini? 😁/

Ketika hari pertama sekolah dimulai, bukankah terlihat wajah bangga Tian Bin ketika menyapa Shangyuan?

Shangyuan lebih tampan darinya, nilai juga jauh lebih baik, dan semuanya juga tampak luar biasa dari yang lain. Lalu apa yang dia banggakan?

Duan Lun tidak mengerti.

Tian Bin yang melihat keduanya tidak merespon, perlahan-lahan memulihkan pandangannya.

Tian Bin mendengus dan hatinya penuh dengan penghinaan.

Apa-apaan itu? Hanya peringkat pertama saja, siapa tahu nilainya itu palsu? Mungkin itu didapat dari hasil mencontek.

Jika kalau bukan nilainya yang bagus dan duduk di meja yang sama. Shangyuan pikir dia akan berbicara dengannya? Kalau saja bukan, jangan harap. Cuih! What the hell!

Lihatlah ²wajah tampan itu, jelas ada kekasih... Bahkan jika tidak ada, dia pasti m*sturb*si dirumah setiap hari!

²terkesan meremehkan.

Tian Bin mencibir didalam hati, dan memutuskan untuk tidak berbicara dengan keduanya lagi.

Bel berbunyi dan kelas segera dimulai.

Setelahnya guru kelas membawa pelajaran persiapan dan berjalan ke podium, dia melanjutkan dengan mengatakan. "Mengumumkan satu hal, kelas sejarah diwakili oleh Bo tongxue."

Mendengar itu, perwakilan dari kelas sejarah yang dipilih kemarin tiba-tiba panik.

Ketika kelas sejarah diwakili Bo tongxue, apa yang harus dia lakukan?

Tepat ketika perwakilan kelas sejarah yang asli tengah bingung, guru kelas melanjutkan. "Perwakilan asli Kelas sejarah, Cheng Hao jadi ketua tim."

Cheng Hao tertegun sejenak sebelum akhirnya bersorak gembira dibangkunya.

Mana yang lebih baik ketua tim atau perwakilan kelas?

Tentu saja, ketua tim!

/mungkin punya motif kayak Shen Teng/

Duan Lun yang duduk dibelakang Shangyuan sedikit bereaksi.

Bukankah Xing Bo paling benci menjadi perwakilan kelas? Ketika masih di sekolah menengah pertama, setiap kali guru ingin membiarkannya menjadi ketua tim ataupun perwakilan kelas, Xing Bo tidak ragu untuk menolaknya.

Sialan, ini tidak ada kaitannya dengan kekasih Shangyuan yang belum pernah dilihatnya itu kan?
.
.

Pelajaran terakhir di kelas A adalah kelas pendidikan jasmani.

Secara kebetulan, pelajaran terakhir di kelas E juga merupakan kelas pendidikan jasmani.

Gu Yu tidak tahu bahwa kelas A juga kelas pendidikan jasmani, jadi setelah datang ke lapangan, dan melihat wajah Shangyuan yang menarik perhatian, ekspresi Gu Yu tiba-tiba merosot.

Bertentangan dengan Gu Yu, suasana hati Shangyuan yang sedang baik menjadi lebih menyenangkan.

Terutama setelah melihat ekspresi Gu Yu yang tidak baik, kesenangan hatinya naik satu tingkat.

- Meskipun Shangyuan masih tidak mengerti darimana rasa senang ini berasal.

Bergabung bersama teman sekelas, wajah Gu Yu tenang dan tidak berbicara.

Setelah melihat Kelas A, ekspresi Jin Shilong agak aneh. Dia berbalik dan berkata pada mereka bertiga. "Kelas A juga kelas pendidikan jasmani."

Ketiganya adalah Gu Yu, dan Shen Teng, serta Jiang Zhenshan.

Shen Teng memandang Shangyuan yang paling mencolok dilapangan dan wajahnya dipenuhi dengan depresi. "Pelatihan militer telah berakhir, dan akhirnya mengucapkan selamat tinggal pada Bo Shangyuan. Bagaimana ini lagi?"

Shen Teng merasa tertekan.

Jiang Zhenshan pemalu, tidak berbicara, melangkah diam di belakang Gu Yu.

Jin Shilong memandang ekspresi tertekan Shen Teng, dan dia mengerti. "Kau adalah orang yang tampan dan populer."

Shen Teng mendengus dan berkata, "Aku senang!"

Tidak jauh, Shangyuan menatap ke arah Gu Yu, matanya tidak berkedip.

Duan Lun yang berada disebelahnya mengikuti arah pandang Shangyuan dengan bingung. "Apa yang kau lihat?"

Shangyuan sedikit bereaksi. Dia mengangkat alis. "Kekasih."

Duan Lun diam-diam mengumpat dalam hati.
.
.

Bel berbunyi dan kelas dimulai.

Pendidikan jasmani tidak lebih dari menjalankan lingkaran, atau melakukan kegiatan lain, tidak ada yang baru.

Mungkin itu terlalu membosankan, guru pendidikan jasmani kelas A dan guru pendidikan jasmani kelas E bernegosiasi dan memutuskan untuk membiarkan dua kelas berlomba dalam satu balapan. Ini bukan perlombaan sederhana, itu untuk membiarkan seseorang berlomba dengan satu orang. Ini juga bisa melatih kekuatan fisik dan menyenangkan.

Setelah mendiskusikannya, kedua guru merasa ini adalah ide yang bagus, ketika tembakan berikutnya siap, mereka siap untuk memulai.

Para siswa yang mendengarkan dua kelas untuk bersaing, seketika bersemangat.

Siswa bodoh dari Kelas E sangat ingin mencoba. Mereka memikirkan sekelompok siswa terbaik di Kelas A. Mereka pasti setiap hari hanya belajar. Mereka tidak banyak berolahraga setiap saat. Mereka pastinya adalah ayam yang lemah.

Alasan kelas A adalah mereka memiliki nilai dan kekuatan fisik yang lebih baik. Mereka tidak hanya bisa menginjak sol kelas E dalam nilai, tetapi juga secara fisik menempatkan kelas E pada sol kaki.

Semua orang ingin mencoba, tidak menahan diri untuk bersemangat.

Bahkan Shen Teng yang hanya suka bermain game di setiap hari dan Jin Shilong yang hanya suka membaca komik tidak bisa tidak bersemangat.

Gu Yu, di sisi lain, hanya ingin duduk dan beristirahat.

... terlalu panas.

Dia suka ketenangan dan tidak suka bergerak.

Karena ada orang untuk dibawa, laki-laki dan perempuan dibagi menjadi dua putaran.

Laki-laki membawa laki-laki, perempuan membawa perempuan. 

- Guru pendidikan jasmani berpikir demikian.

Namun, siapa sangka, untuk bisa menang, siswa laki-laki secara khusus mencari seorang gadis dengan berat ringan untuk dibawa.

Guru pendidikan jasmani itu lengah. Tidak menyangka mereka mendapatkan trik ini untuk menang. Benar-benar tidak terduga.

Namun, guru pendidikan jasmani itu tidak menghentikannya.

Ngomong-ngomong, demi permainan, dan selain itu, hanya satu atau dua menit, terlalu sensitif, tetapi tampaknya pikiran guru mereka menjijikkan.

Ketika satu siswa laki-laki memimpin, laki-laki lain mulai belajar dan menemukan siswi perempuan di kelas yang sama.

Tentu saja, ini hanya butuh keberanian. 

Keberaniannya kecil, dan itu masih siswa yang berperilaku baik di kelas yang sama, tetapi itu akan sedikit lebih ringan.

Karena siswa laki-laki sudah mulai mencari anak perempuan untuk dibawa jadi semua orang memandangi Shangyuan, memikirkan siapa yang akan dia cari.

Dalam rangka untuk menang, harus menemukan seorang gadis, atau seorang laki-laki dengan cara yang tepat.

Duan Lun juga menatap Shangyuan.

Dalam hati Duan Lun, hanya ada dua pilihan di sisi Shangyuan.

Satu: Kekasih yang tidak pernah Duan Lun lihat.

Dua: Dia, Duan Lun.

Jadi, pada akhirnya, apakah Shangyuan akan memilih 'kekasih' atau memilihnya?

Masih terjebak dalam pemikirannya, Duan Lun melihat Shangyuan berbalik dan menatap pada seorang kurcaci kecil dengan tinggi 168 di kelas E dan berkata, "Kesini."

"????????"

Tunggu, siapa yang akan memberitahunya bagaimana situasi saat ini???

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments