27. Tidak ada akhir untuk aku menyukaimu

Matahari bersinar hangat memenuhi langit, kota dan seluruh kampus. Setelah pergi ke kantin untuk makan nasi, Guo Ruojie duduk dibangku dekat danau, berbaring malas dengan postur yang sangat tak sedap dipandang, kaki terbuka lebar, meskipun menyita perhatian orang yang lewat, kakinya masih terbuka lebar. Guo Zhi yang baru saja selesai bermain basket ingin singgah makan dikantin, melihat Guo Ruojie. "Sepupu, kenapa kau membuka lebar kakimu seperti orang menginginkan kekasih?" Tanyanya.

Guo Ruojie mendelik kesal. "Kau terang-terangan mengejekku. Tak usah bertele-tele. Aku menyukainya. Kata siapa wanita harus menutup kaki mereka?"

Guo Zhi duduk disisi bangku yang kosong, menepuk bola basket ditanah dengan kakinya. "Sepupu, kau benar. Kata siapa wanita seharusnya menutup kaki mereka?! Kata siapa lelaki harusnya hanya menyukai wanita?" Guo Zhi menambah kalimat itu seenaknya. Guo Ruojie membuka matanya, lalu duduk menatap Guo Zhi yang seakan memang sengaja mengatakan itu. Guo Zhi ingin tahu reaksi sepupunya. Dia selalu merasa Guo Ruojie bisa menerima dirinya yang berbeda jadi ia mengambil resiko.

Guo Ruojie bersandar dibangku, "Guo Zhi!"    

"Ya?" Guo Zhi menghentikan pergerakan bola basket dikakinya, menunggu kalimat selanjutnya.   

"Apa kau menangis saat ditusuk?"

"Sepupu, kau bukan wanita yang serius!"

Guo Ruojie meregang tubuhnya dengan malas, "Aku tidak ikut campur apa kau suka pria atau wanita. Itu urusanmu sendiri. Aku pikir baik atau buruk reaksi orang lain tidak bisa mempengaruhi kebahagiaanmu kan?!"

"Memang tidak bisa, karena itu membuatku merasa lebih baik didunia ini." 

"Kau sudah berpikir ini adalah dunia yang baik." Guo Zhi kembali berbaring, menopang kepala dengan tangannya.

Shi Xi muncul dalam pandangan Guo Zhi, matanya mengikuti pergerakan Shi Xi yang sedang berjalan. Guo Zhi tidak secara sadar memicing. Entah karena silau matahari, atau karena melihat Shi Xi. "Bahkan jauh lebih indah." Gumam Guo Zhi masih fokus menatap Shi Xi. Guo Ruojie mengikuti arah pandang Guo Zhi dan melihat Shi Xi, jantungnya terlalu malas untuk berdebar¹. Guo Zhi tiba-tiba berdiri, "Sepupu, aku pergi."

¹karena Shi Xi udah ga pakai topi lagi jadi wajah tampannya terpampang nyata, tapi ga ngaruh buat Guo Ruojie, jantungnya terlalu malas untuk berdebar, lol.

Dengan bola basket dipelukan, Guo Zhi berlari mendekat sambil memanggil Shi Xi.

Shi Xi berhenti, menunggu Guo Zhi.

"Shi Xi, aku mengajakmu makan!"

"Kenapa? Berterimakasih karena sudah menusukmu?"

Ini sudah kedua kalinya Guo Zhi mendengar kata itu hari ini. Guo Zhi merasa tidak senang dengan kalimat kasar tersebut. Ia pun mengeluh, "Apa itu? Aku bukan sarang lebah. Apa kau tidak bisa menggunakan kata-kata dengan cara yang beradab, seperti hubungan fisik di tempat tidur."
    
"Well, kata-katamu sangat beradab."
    
"Apa kau mengejekku?"

"Kau mendengarnya."

Mereka berjalan ke kantin.  Guo Zhi berjalan sambil memantulkan bola, dia terus berbicara dengan Shi Xi, tetapi garis pandangnya tidak meninggalkan bola basket yang naik turun. Mereka melewati siswa lain. Beberapa gadis sesekali akan melihat Shi Xi, namun Shi Xi tak membalas pandangan mereka.

Guo Zhi melirik Shi Xi, wajah tampannya yang disembunyikan kini diketahui semua orang. Perasaan seperti apa yang tiba-tiba ingin memonopoli ini? Ayahnya tidak mengajarkannya seperti ini. Ayahnya mengatakan bahwa hal-hal yang disukai harus dibagikan, apakah perasaan itu telah memperburuknya? Guo Zhi merasa cemas, dia tidak ingin menjadi buruk, tetapi dia tidak ingin membagi Shi Xi.

Tiba dikantin, Guo Zhi duduk dihadapan Shi Xi. Ia bertanya serius, "Aku sangat buruk kan?"

"Misalnya?"

"Seperti, aku tidak mencuci tangan saat makan sekarang." Guo Zhi memperlihatkan tangannya yang kotor pada Shi Xi lalu melanjutkan, "Seperti, ketika seorang gadis memperhatikanmu, aku merasa tidak ingin membagimu." Guo Zhi berkata seakan ini hal yang serius.

"Bukan buruk, tetapi bodoh."

Guo Zhi mendatarkan bibirnya, kakinya menapak bola basket, memainkannya maju mundur. Shi Xi tidak makan terlalu banyak, ketika dia tidak bisa menulis sesuatu, hatinya akan kosong. Itu adalah kekosongan yang tidak bisa diisi dengan makanan. Guo Zhi yang sedang makan melihat makanan di mangkuk Shi Xi. "Kau pria yang hebat, menghemat makanan untuk negara!"

"Pujianmu yang berlebihan itu terdengar sangat kasar." Shi Xi bersandar kursi, tangannya dimasukkan kesaku celana panjang, memperhatikan Guo Zhi makan.

Guo Zhi dengan penuh mulut sayur berkomentar, "Jangan menatapku saat sedang makan, kau bisa melihat bibi kantin, kau juga bisa melihat bunga disana, atau melihat pemandangan di luar." Sangat sulit baginya untuk menelan karena diperhatikan Shi Xi.

Shi Xi masih mempertahankan posisinya fokus pada Guo Zhi. "Apa hubungannya itu semua denganku? Kenapa aku harus melihatnya?"
    
Mendengar itu, jantung Guo Zhi berdebar dan rona merah merambat ke pipinya. Ia berpura-pura seakan tak terjadi apa-apa, meraup nasinya dengan sumpit namun tidak bisa menyembunyikan harapan di wajahnya, "Jadi, apa hubungan antara kau dan aku?"
   
Perasaan Guo Zhi tercetak jelas diwajahnya dan ekspresi Shi Xi tetap datar, tidak ada emosi. Dia merespon dengan pelan, "Apa sekarang kau ingin aku menyatakan cinta?"    

Guo Zhi menusuk sumpit kedalam mangkuk nasinya, merengut. "Aku hancur bahkan hanya dengan serangkaian kata bualan!"

Shi Xi meraih sumpit, mengambil sayur didepannya lalu memasukkannya kedalam mulut. "Jangan membuang waktuku, cepat makan."    
.
.

Setelah menghabiskan makan, keduanya mereka pergi kelas masing-masing dilantai bawah, Guo Zhi terus memantulkan bola dengan penuh kekuatan. "Cinta yang sesungguhnya sangat buruk." Ketika bola memantul, Shi Xi menjangkau dan mengambil alih bola basket tersebut, memantulkannya sambil terus berjalan, "Seberapa baik kau menginginkan cinta? Itu akan membuat kau menjadi egois, serakah, cemburu, seperti itulah cinta."
    
Shi Xi memang benar, ketika kau mencintai seseorang, ia akan menjadi egois hanya untuk kebaikannya sendiri, ia akan serakah untuk semua cinta, kecemburuan lebih dekat padanya daripada dirinya sendiri. Karena mereka menyukainya, mereka memiliki emosi ini.
    
"Jadi, aku akan menjadi buruk karena aku sangat menyukaimu?" Guo Zhi mengangguk seakan mengerti.

"Apa kau ingin mati?" 

"Aku tidak ingin menahannya! Maksudmu aku tidak bisa mengatakan bahwa aku menyukaimu? Tapi aku hanya menyukaimu, kalau aku tidak memberitahumu, siapa yang akan mendengarkanku?"

"Diam!"

"Tapi aku diam atau menyukaimu, apa yang harus aku lakukan?" Guo Zhi mengajukan pertanyaan yang aneh.

"Yang perlu kau lakukan, jangan mengatakannya!" Shixi menolak untuk kehilangan antusiasme.

"Jangan katakan itu, jika kamu tidak tahu betapa aku menyukaimu, apa yang harus aku lakukan?"

"Kamu sengaja kali ini."

"Aku ketahuan." Guo Zhi menyengir.

Sampai dilantai bawah, mereka berpisah. Tidak sampai dua langkah, keduanya berhenti. Shi Xi berbalik, dia melemparkan bola basket di tangannya, dan Guo Zhi menangkapnya, memeluk bola basket dengan erat, menyentuh dadanya. Keduanya dipisahkan oleh jarak yang kecil. Sudut bibir Guo Zhi melengkung, dan pipinya tampak lesung. Dia memandang Shi Xi tiga detik kemudian dan berkata, "Aku rasa untuk kali ini, aku tidak mengatakannya." Setelah itu, dia berbalik dan berlari.

"Idiot." 
.
.

Cinta itu benar-benar buruk, dan tidak ada akhirnya: Aku menyukaimu.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments