26. Perasaan tidak serumit itu (16+)

Jemari Shi Xi bergerak melepas semua kancing pakaian Guo Zhi, dan perlahan meraba tulang selangkanya, turun ke dada lalu perut membuat tubuh Guo Zhi sedikit gemetar karena sentuhan itu. Bibir Shi Xi menghujaninya dengan ciuman, pindah ditelinga lalu bergerak turun ke leher menghasilkan kehangatan dan kelembapan, membuat pikiran Guo Zhi blank dan terjatuh ke tempat tidur, diatas selimut yang lembut. Pikiran dan emosinya terperangkap dalam sentuhan Shi Xi.

Shi Xi sekali lagi yang menatap wajah polos Guo Zhi dibawah cahaya remang dengan matanya yang hitam kelam dan kembali menghujaninya ciuman dalam. Setelah disentuh sekali, Guo Zhi menginginkan lebih banyak sentuhan menikmati mood Shi Xi yang sedang dipenuhi gairah. Guo Zhi mengulurkan tangannya meremas pakaian di bahu Shi Xi.

Setiap inci kulit dicium sampai mati rasa, hingga bibir Shi Xi berada di perut bagian bawah. Guo Zhi menggigit bibir dan melenguhkan tubuhnya. Mulutnya tidak bisa menahan desahan yang memalukan, dan kemudian lebih banyak desahan yang tak terhentikan.

Shi Xi mengangkat kepalanya, kini tangannya bergerak melebarkan kedua kaki Guo Zhi, dan membelai dari bagian dalam paha hingga ke lututnya. Kaki Guo Zhi gemetar, dan ada perasaan takut akan rasa sakit yang datang. Shi Xi membungkuk dan mendekat ke telinganya, “Akan sedikit sakit.” Setelah mengatakan itu, dia kembali mencium bibir Guo Zhi.

Tangan Guo Zhi menyusuri sisi pinggang Shi Xi lalu memeluknya. Sekarang, perasaan takutnya hilang, Guo Zhi menyerahkan dirinya, menyerahkan semua yang ia miliki pada Shi Xi, Hatinya saja bisa dia serahkan, apalagi tubuh. Selama Shi Xi menyukainya, tampaknya apa pun bisa diberikan olehnya.

Bagian tubuh Shi Xi perlahan memasukinya, alis Guo Zhi berkerut, kehangatan melilitnya. Shi Xi mulai bergerak dan membiarkan tempat tidur berderit, Guo Zhi mengeluarkan suara desahan yang keras, matanya setengah tertutup, wajah memerah, perasaan ini terlalu kuat, menenggelamkan semua, melucuti dirinya.
.
.

Setelah beberapa lama, Guo Zhi terbangun didalam pelukan lengan Shi Xi, ia menatap Shi Xi sejenak, lalu kembali jatuh tertidur dilengannya.
Ini bukan mimpi, karena kebahagiaan ini terlalu kuat, dan bercampur dengan rasa manis.
.
.

Sinar matahari menerobos celah jendela dan jatuh menerangi ruangan. Guo Zhi mengernyit lalu membuka mata dan merasakan perih ketika baru bangun. Ia menyibakkan selimut, pergi ke kamar mandi, memutar shower, air menerpa dari atas, membasahi tubuhnya. Guo Zhi menekan sampo ke tangannya dan menggosoknya di kepalanya. Busa semakin banyak tetapi Guo Zhi tetap tersenyum. Busa itu menyelinap ke bawah menutupi matanya, tetapi dia masih terus menarik sudut bibirnya. Belum pernah terlihat ada seseorang bisa mandi seperti itu.

Guo Zhi mengenakan kaos Shi Xi, ia menarik kerahnya didepan hidungnya, menghirupnya lalu menurunkannya kembali, duduk di meja dan mengambil pena. Setelah beberapa saat, Shi Xi bangun terduduk ditempat tidur, melihat sinar matahari yang masuk dari luar jendela dengan mata terbuka, dan kemudian melihat punggung Guo Zhi.

“Shi Xi, kau sudah bangun? Kenapa ini masih terasa sakit?” Keluhnya saat menoleh melihat Shi Xi.

Pertanyaan pertama yang menyambut Shi Xi disaat dia baru bangun tidur. “Itu tak akan sakit lagi jika dilakukan beberapa kali.” Jawabnya tenang.

“Kau, kau masih ingin melakukannya denganku? Seharusnya sudah cukup satu kali untuk bahan fiksimu.”

Shi Xi menatap Guo Zhi datar. “Kau pikir aku bisa menulis sebuah fiksi hanya dengan melakukannya satu kali?”

“Memangnya harus berapa banyak?”

“Kau tidak perlu menghitungnya, mendekatlah!”

Guo Zhi merangkak keatas tempat tidur dan duduk didepan Shi Xi, ia meraih pakaian Shi Xi dengan kaku, wajahnya merah karena berdebar, “Lalu bagaimana?”

“Kau yang jadi bahan fiksinya. Lepas bajumu.”

Guo Zhi melepas pakaiannya. Dibawah sinar matahari pagi, bekas lukanya terlihat jelas. “Apa bekas lukaku harus ditulis?”

“Ya, karena ini sesuatu yang indah.” Shi Xi mengecup bekas itu didada Guo Zhi.

Jadi, mereka melakukannya lagi dua kali. Setelahnya, Guo Zhi masih terbaring di tempat tidur, mengeluh pada Shi Xi disebelahnya. “Kau bohong. Ini bahkan lebih menyakitkan setelah melakukannya beberapa kali.”

“Masih sakit? Itu berarti masih belum cukup.”

“Curang! Aku tak mau dibodohi lagi.”

Shi Xi langsung menaruh tangannya dikepala Guo Zhi dan mendorongnya masuk kedalam selimut. “Idiot.”

Guo Zhi kembali mengeluarkan kepalanya dengan susah payah, merasa tidak senang. “Apa masih ada lagi yang ingin kau lakukan?”

“Ada.”

“Apa lagi?”

Kali ini Shi Xi menunduk dan mencium bibir Guo Zhi, ciuman yang basah. Dia menepis rambut didahi Guo Zhi, kemudian kembali ke posisinya.

“Kau melakukan itu dan menciumku. Aku tak bodoh. Aku akan salah paham mengira kau menyukaiku.”

“Kau bisa salah paham.”

Guo Zhi pikir Shi Xi akan menjawab dirinya hanya sebagai bahan namun ia tak menyangka mendengar jawaban seperti itu. “Aku kira kau tidak akan menyukaiku karena aku bukan seorang gadis.”

“Itu hanya pemikiranmu.” Shi Xi bangkit dari ranjang, menapak kakinya dilantai dan melepas kaosnya, membuang ke tempat tidur. Guo Zhi yang kini bangun dan duduk diatas kasur ingin berkata lagi, namun matanya teralihkan dan pikirannya tersendat. Dia lalu meraih kaos itu, dan melemparnya ke arah Shi Xi, “Apa kau tak mengerti? Sudah kubilang jangan melepas pakaianmu didepanku. Sekarang aku lupa apa yang ingin kukatakan.”

“Jangan terlalu menekankan betapa kau menyukaiku.”

“Aku tidak!”
.
.

Satu jam kemudian, mereka pergi kuliah. Bahasa mereka tidak berbeda dari biasanya, *departemen mereka tidak banyak berubah, mungkin di antara mereka sendiri tidak perlu berubah.
*maksudnya keseharian mereka di jurusan masing-masing.

Perasaan itu sangat aneh, kita bisa dengan mudah menyukai, atau bisa dengan mudahnya bersama, benar-benar tidak serumit yang dipikirkan.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments