26. Hmm

Ruang kelas A penuh dengan hiruk pikuk. Ada yang mengobrol, makan dan bermain bersama. Baru hanya setengah hari saling mengenal, mereka sudah akrab satu sama lain.

Namun, dalam hal ini, suasana paling 'hidup' berada disekitar Shangyuan. Para gadis berkerumun disekelilingnya. Meskipun tidak kontak langsung dan menyapa Shangyuan, mereka selalu mencuri pandang ke arahnya.

Bukan tidak mungkin, karena Shangyuan terlalu menarik perhatian. Laki-laki lain di kelas mereka semua tampak naif, dan perilaku mereka kekanak - kanakan. Terutama, mereka tidak tampan.

Karakter Shangyuan luar biasa, tampan, dan nilai bagus.

Selain itu, tampaknya dia lebih matang daripada laki-laki lain di kelas.

Sedikit matang saja, sudah cukup membuat orang merasa antusias.

Namun, kontras dengan pemikiran para gadis, Shangyuan sedang tidak merasa bahagia hanya karena belum mendapat balasan dari Gu Yu.

Kenapa tidak bahagia, dia tidak tahu kenapa.

Saat melihat halaman obrolan WeChat yang tidak pernah dibalas, perasaan Shangyuan menjadi semakin suram.

Setelah tiba dikelas, Shangyuan dengan ekspresi kosong hanya menatap ponsel dan tidak bergerak.

Seolah-olah segala sesuatu di sekitarnya tidak relevan baginya, terisolasi dari dunia, dan tidak bergerak.

Hanya ada satu pemikiran di otaknya.

... Kenapa tidak dibalas?

Ketika masih menatap ponsel, deringan bel kelas terdengar.

Guru berjalan ke ruang kelas dengan kertas ujian simulasi.

Di sore hari, masih menjelaskan pertanyaan-pertanyaan dari kertas ujian.

Namun, karena Kelas A hampir semuanya siswa top dengan nilai bagus, dan pertanyaan yang salah jauh lebih sedikit daripada yang ada di kelas lain, jadi setelah beberapa saat, mereka selesai.

Setelah selesai membahas soal ujian, mereka secara resmi memulai kelas.

Guru berdiri di podium dan memberi tanda kepada semua orang untuk membuka halaman pertama.

"Kalian buka halaman pertama ..."

Shangyuan tidak bergerak, tidak ada respons.

Pikirannya sepenuhnya berada diluar kelas.

Dia dengan sabar dan menunggu balasan sampai kelas berakhir.

Sesekali mengeluarkan ponsel dan melihatnya.

- Tidak ada balasan.

Dalam sesi pertama, tidak ada balasan.

Di sesi kedua, masih belum ada balasan.

Di sesi ketiga, masih belum ada balasan.

Di sesi keempat, masih belum ada balasan.
.
.

Shangyuan menunggu dengan sabar hingga empat sesi dan masih tidak ada balasan.

Selama bertahun-tahun, ini pertama kalinya ada yang mengabaikan pesannya.

Ketidaknormalan Shangyuan, secara alami diperhatikan Duan Lun dari meja belakang.

Ketika dia mengeluarkan ponsel pertama kali, Duan Lun berpikir bahwa itu hanya melihat jam.

Kedua kalinya, Duan Lun masih tidak terlalu peduli.

Ketiga kalinya, Duan Lun akhirnya mulai merasa ada sesuatu yang salah.

Keempat kalinya, Duan Lun akhirnya tidak bisa menahannya.

Dalam sesi keempat, Duan Lun tidak bisa menahan diri untuk bertanya. "Apa yang kau lihat?"

Shangyuan tidak merespon.

Melihat itu, Duan Lun tidak terkejut.

Dalam hal ini, Duan Lun telah lama terbiasa diabaikan.

Jika Bo Shangyuan benar-benar jujur ​​menjawab apa yang dia lihat, Duan Lun akan merasa aneh.

"Menunggu kiriman uang?"

Diabaikan.

"Ponselmu kehabisan daya?"

Diabaikan.

"... Melihat film dewasa?"

Diabaikan.

Duan Lun akhirnya bertanya santai. "Apa mungkin kau menunggu pesan balasan dari kekasihmu?"

Kali ini, Bo Shangyuan akhirnya bereaksi.

Duan Lun langsung mengumpat. "Sialan ..."

Ekspresinya terkejut.

Asal tahu saja, Duan Lun yang selalu mengirimnya sepuluh pesan teks belum tentu akan dibalas satu.

Tapi sekarang, Shangyuan bahkan terus menatap ponsel, menunggu kekasihnya itu membalas pesan singkatnya.

Sialan ...

Siapa kekasih Bo Shangyuan itu?? Dia bisa mengubahnya menjadi seperti ini!

Memikirkan sesuatu, Duan Lun kembali bersuara. "Kekasih yang tidak membalas pesan itu sederhana saja. Ini masalah kecil."

Shangyuan menatapnya.

Duan Lun berkata sambil tersenyum bangga, "Selama kau memberitahuku siapa kekasihmu, aku akan segera membantumu menyelesaikan kasus kecil ini!"

Shangyuan menarik kembali pandangannya.

"... Fck! Katakan! Atau kau akan mati!"

Jika Shangyuan mengatakannya, tanpa butuh satu hari, itu akan diketahui semua orang.

Tapi bukan itu intinya.

Intinya adalah bahwa pihak lain bukanlah kekasih.

Memikirkan ini, dia bahkan merasa lebih aneh.

Jelas bukan kekasih, tapi mengapa dia tidak senang karena pihak lain tidak membalas pesannya?

Pikiran Shangyuan rumit.
.
.

Setelah belajar mandiri malam, Gu Yu kembali ke rumah.

Dia melihat bahwa kedua orangtuanya masih berdebat tentang apakah akan memberikan hadiah kepada para guru atau tidak.

"Apa maksudmu, kau ingin mengatakan bahwa aku membuang-buang uang sekarang?"

"Ada begitu banyak siswa untuk diajar, dan kau mungkin ingat salah satunya. Kau tidak ingat harus mengirim apa."

"Karena aku tidak bisa mengingatnya, aku harus memberikan hadiah, sehingga gurunya dapat memiliki kesan!"

"Hasil pencapaian ini masih tergantung pada anak-anak sendiri ..."

"Jika nilainya bagus, bagaimana aku bisa memberikan hadiah kepada guru?"
.
.

Gu Yu pura-pura tidak melihat dan mendengar, dia berjalan masuk ke kamar.

Setelah berada di kamar, Gu Yu mengeluarkan tugas rumah dan mulai mengerjakannya.

Adapun ponsel, dia abaikan. Tidak disentuh sama sekali.

Sementara tetangga barunya, terus menatap ponsel, menunggu balasan sepanjang malam.
.
.

Keesokan harinya.

Gu Yu bangun jam 6:30 dan siap pergi ke sekolah.

Gu Yu mengenakan sepatunya dan pergi keluar. Begitu dia membuka pintu, dia melihat Shangyuan berdiri di luar rumah sebelah.

Shangyuan melipat tangannya dan bersandar di pintu, sepertinya sudah lama berdiri di sana.

Gu Yu terkesiap sejenak lalu menyapa selamat pagi dan bersiap untuk pergi.

Begitu melewati Shangyuan, tanpa diduga, Shangyuan menahan kerah belakang seragamnya.

Gu Yu tidak bisa bergerak. Dia menoleh melihat Shangyuan yang juga menatapnya.

"Apa yang kau lakukan?"

"Kenapa tidak balas pesanku?"

Pesan? Gu Yu mengerutkan kening.

"Pesan apa?"

"WeChat."

Menyadari itu, Gu Yu segera mengeluarkan ponsel lalu dia melihat pesan yang dikirim Shangyuan siang hari kemarin.

"... maaf, aku tidak melihatnya kemarin."

Shangyuan berkata pelan. "Aku menunggu siang kemarin."

Ekspresi Shangyuan tetap datar, dan suaranya masih tenang, tapi entah bagaimana, Gu Yu benar-benar mendengar sedikit keluhan dalam kata-kata ini.

Gu Yu sedikit merasa bersalah. Tidak tahu bagaimana menjawabnya.

Setelahnya suara Shangyuan terdengar lagi. "Ayo minta maaf pada pamanmu."

"..."

Semua perasaan bersalah Gu Yu menghilang dalam sekejap tanpa jejak.

Gu Yu melihat ekspresi serius Bo Shangyuan dan terdiam sesaat. Kemudian, Gu Yu menarik kerah belakangnya dari tangan Shangyuan, dan tidak ragu untuk mengangkat kakinya dan pergi.

Shangyuan ikut melangkah di belakang Gu Yu, dan masih 'mengeluh'. "Tidak membalas pesan paman, kau masih tidak meminta maaf pada paman ..."

"..."

"Tidak minta maaf, paman tidak akan memperhatikanmu lagi."

"..."

Wajah Gu Yu menggelap.

Apa yang disebut lidah yang longgar dapat menyebabkan masalah, tentu saja kata paman dari mulutnya.

*idiom

Gu Yu menanamkan pikirannya.

Jika dia berbohong dikemudian hari, jangan biarkan Shangyuan mendengarnya.

Gu Yu menulikan pendengaran dan bertahan untuk sementara waktu.

Lift tiba.

Keduanya melangkah ke lift.

Ketika pintu lift tertutup, Shangyuan yang diam sejenak mulai membuka suara lagi.

"Paman ..."

Gu Yu tidak tahan, berbalik dan menempelkan telapak tanganya dibibir Shangyuan.

Shangyuan ditekan oleh Gu Yu ke sudut lift dan menutup mulutnya dengan erat. Kelopak mata Shangyuan rendah, menatap Gu Yu, tidak berkutat.

Sangat aneh, melihat Gu Yu yang tak tertahankan, suasana hatinya yang suram semalaman, tiba-tiba membaik.

Shangyuan tidak bergerak, biarkan Gu Yu menutup mulutnya.

Napas hangat menerpa telapak tangan Gu Yu, dia terkejut, tetapi masih tidak melepaskannya.

Hanya saja tubuhnya tanpa sadar membeku.

Karena Gu Yu tidak pernah begitu intim dengan orang lain. Ini pertama kalinya dengan Shangyuan.

Gu Yu masih bertahan diposisinya sampai lift tiba di lantai pertama, perlahan-lahan melonggarkan tangannya.

Ketika melepaskannya, Gu Yu tidak melepaskannya sekaligus, tetapi perlahan, sedikit demi sedikit ... Ini seperti memastikan bahwa Shangyuan tidak akan membuka mulut lagi, lalu dia akan melepaskannya.

Shangyuan memperhatikan semua tindakan Gu Yu. Menatapnya tanpa berkedip dan sudut bibirnya tidak sadar sedikit terangkat.

Gu Yu melepaskan Shangyuan lalu berjalan keluar dari lift dan meninggalkan komunitas.

Seperti biasanya, berdiri di halte bus di luar komunitas.

Shangyuan dengan tenang melangkah di belakang Gu Yu, menginjak langkah kakinya sepanjang jalan.

Tiga menit kemudian, bus tiba.

Keduanya naik bus.

Karena berangkat lebih awal, tidak seperti pelatihan militer sebelumnya yang bus penuh dengan orang.

Kini bus tampak lengang dan masih cukup banyak bangku kosong.

Gu Yu dengan santai menemukan posisi dibelakang untuk duduk. Ketika dia duduk, Shangyuan ikut duduk di sisinya.

Gu Yu tanpa sadar berkata. "... Apa tidak ada posisi lain?"

Shangyuan hanya bergumam 'hmm' dan tidak bergerak.

Gu Yu diam, tidak mengatakan apa-apa lagi.

Setelah beberapa saat, Gu Yu tiba-tiba merasa bahunya agak berat. Gu Yu menunduk dan melihat bahwa Shangyuan meletakkan kepalanya di bahunya dan menutup mata.

"... Bo tongxue?"

Shangyuan merespon masih dengan mata tertutup, suaranya serak. "Mengantuk, biarkan aku tidur sebentar."

Bo Shangyuan selalu pergi ke sekolah agak terlambat. Namun, hari ini untuk 'memblokir' Gu Yu, dia bangun jam enam tepat.

Begitu lama, tidak pernah bangun sepagi ini.

Shangyuan masih mengantuk dan setelah beberapa saat, dia tertidur.

Gu Yu memandang kepala di bahunya, ingin membuka mulut, dan akhirnya menutup mulutnya tanpa suara.

... lupakan saja, ini hanya sebentar.

Setelah dua puluh menit, bus berhenti.

Gu Yu menepuk bahu Shangyuan.

"Sudah sampai, kita harus turun dari bus."

Shangyuan perlahan membuka matanya.

Mungkin belum bangun, dia masih tidak bergerak.

Sopir bus menekan klakson, dengan tidak sabar mendesak. "Cepat turun! Ada orang lain yang menunggu!"

Gu Yu mengerutkan kening, dia mengambil tangan Shangyuan dan menyeretnya turun dari bus.

Karena dia juga pernah melakukannya di rumah sakit, jadi dia tidak berpikir apa-apa.

Shangyuan tiba-tiba terbangun.

Menatap telapak tangannya yang digenggam, ekspresinya rumit.

Aneh...

Perasaan seperti ini ... apa itu?

Setelah turun dari bus dan berjalan dua langkah, Gu Yu secara alami mengendurkan tangannya.

Sama seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya, Gu Yu berkata dengan tenang, "Aku akan pergi ke kelas."

Setelah itu, tanpa menunggu balasan, dia berbalik dan pergi.

Shangyuan berdiri dengan tenang, memperhatikan punggung Gu Yu, matanya tidak berkedip.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments