25. Ketampanannya

Mata Guo Yiqi melebar, tak menyangka melihat wajah yang tersembunyi dari balik topi itu. Setelah beberapa saat, dia terkesiap sadar masih menjadi perhatian teman sekelas. Untuk pertama kalinya ada yang mempermalukannya didepan umum. Guo Yiqi dengan geram meraih buku diatas meja dan melemparnya ke arah Shi Xi, "Kau pikir kau siapa?"

Shi Xi dengan mudah menangkap buku itu lalu kembali melemparnya tanpa ragu ke wajah Guo Yiqi, "Kau pikir kau siapa?" Dimata Shi Xi, semua manusia sama saja, dia tidak membedakan gender. Dia tidak merasa kasihan dan mengalah hanya karena lawannya wanita.

Guo Yiqi melotot kaget, antara marah dan malu. Rasa perih yang baru dirasakan membuatnya menangis. Dia memegang wajahnya, belum pernah ada yang menyakitinya.
    
Guo Zhi merasa kasihan dan ingin memanggil Shi Xi namun Guo Yiqi tiba-tiba berteriak histeris. "Beraninya kau memukulku! Beraninya kau memukulku, fuck?!"

Guo Yiqi berniat menerjang Shi Xi, namun melihat mata Shi Xi yang tidak ada emosi juga warna, hanya dingin yang menusuk kemarahan Guo Yiqi membuat kakinya membeku.

Shi Xi beralih menyapu pandangannya ke seisi kelas dan tertuju pada kelompok yang memihak Guo Yiqi, "Kalian hanya kelompok parasit." Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan berhenti dipintu kelas, "Aku sudah peringatkan kau. Jika kau menganggap aku bercanda, coba saja!"

"Shi Xi!" Guo Zhi memanggilnya.

"Kalau hanya pujian aneh, tutup saja mulutmu!"

Guo Zhi meratakan mulutnya dan menelan kembali kata-kata pujian, Shi Xi sudah menebaknya.

Apa itu kehangatan, tentu saja Shi Xi.

Ketika Shi Xi keluar kelas, Hua Guyu sudah menunggunya sambil melipat tangan. Dia menghampiri Shi Xi dan menyikutnya dilengan. "Kau bilang bukan urusanmu, bagaimana..." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Shi Xi mendorongnya ke bawah tangga. Hua Guyu membeku menahan bobot tubuhnya, "Apa kau ingin membunuhku?"

"Aku berpikiran begitu."

"Kau ingin seluruh dunia menangis karena kehilangan pria tampan sepertiku?"

"Kapan kau akan menerima kenyataan kalau kau hanya lumayan?"

"Lumayan? Kau masih saja menyebutku lumayan?" Sepanjang jalan, Hua Guyu terus komplain tentang kata itu disebelah Shi Xi.
.
.

Shi Xi kembali ke kelasnya tanpa ekspresi menyita perhatian dan keterkejutan teman sekelas juga dosen, melihat wajah tampan yang tersembunyi dibalik topi selama ini. Tak berbeda jauh dengan teman sekelas Guo Zhi, mereka kembali mengerumuninya.

"Apa kau tahu siapa dia?"

"Shi Xi."

"Dia sangat tampan."

"Ya, dia tidak hanya tampan, nilainya juga sangat bagus, baik hati..." Melalui Guo Zhi, ketampanan Shi Xi mulai tersebar, statusnya meningkat.

"Apa kau berhubungan baik dengannya?"

"Ya, kami berteman baik!" Jawab Guo Zhi dengan bangga.
.
.

Setelah kelas mandiri malam, Guo Zhi pergi ke kedai makanan diluar kampus dan membeli banyak makanan, kemudian pergi ke toko buah dan membeli satu keranjang buah, dan terakhir ia singgah ke toko bunga, menatap berbagai macam bunga dengan bingung. Penjual menegurnya ramah, "Jenis bunga seperti apa yang kau inginkan? Aku bisa merekomendasikannya, apa untuk kekasihmu?"
    
Guo Zhi menggeleng, menatap si penjual dengan serius. "Bunga apa yang tepat diberikan untuk malaikat?"

Pertanyaan itu membuat si penjual heran, dan bertanya lagi, "Apa maksudmu? Apa kekasihmu seperti malaikat?"

"Tidak, tidak. Maksudku malaikat sungguhan, yang terbang dilangit." 

"Ini..." Si penjual tak tahu bagaimana harus menjawab. Mata Guo Zhi seketika tertuju pada bunga yang berada disudut. Itu bunga yang sama dengan bunga kering pemberian Shi Xi. Guo Zhi langsung menunjuknya, "Aku mau yang itu dalam jumlah banyak, tolong dibungkus!"

"Baiklah, tunggu sebentar."
.
.

Guo Zhi menenteng makanan, keranjang buah dan bunga. Situasi seperti itu seakan ia pergi ke rumah sakit untuk menjenguk kenalan, yang pastinya menyita perhatian.

Guo Zhi berteriak didepan pintu kamar Shi Xi, "Shi Xi, buka pintunya. Aku tak bisa menahannya lagi."

Shi Xi membuka pintu, melihat buah dan bunga membuatnya menutup pintu lagi namun Guo Zhi mencegah dengan kakinya, "Kenapa kau tak membiarkanku masuk?"

"Kenapa aku harus membiarkanmu masuk?"

"Lihat, aku membelikan ini semua untukmu, Shi Xi. Kau sangat baik dan aku tak tahu bagaimana cara berterima kasih. Apa kau menyukainya?"

"Apa kau pikir aku akan suka?"

"Aku pikir kau akan suka." Guo Zhi masuk, meletakkan bawaannya lalu mengeluarkan buku dari tasnya. "Aku juga membelikanmu buku."

Tak peduli Shi Xi suka atau tidak, Guo Zhi bergerak menyusun buku itu diantara buku milik Shi Xi disudut ruangan. Ia lalu melihat sekitar, dan menemukan botol plastik kosong, memotong bagian atas dan mengisinya dengan air keran dikamar mandi kemudian mengisi bunga dengan hati-hati. Guo Zhi menimbang, jika meletakkannya diatas meja yang dipenuhi kertas dan laptop, kemungkinan akan basah terkena air. Jadi ia memindahkan botol berisi air dan bunga itu diatas meja samping tempat tidur kemudian bertepuk tangan, "Oke!"

"Siapa yang mengijinkanmu berkelakukan seperti itu?"
    
"Tak masalah, jangan berterima kasih. Sudah seharusnya ini aku lakukan." Shi Xi tidak lagi melihatnya, Guo Zhi melanjutkan. "Tapi kau tak perlu memukul Guo Yiqi. Lelaki menyakiti wanita adalah hal yang salah. Aku pikir dia tidak buruk."

"Kapan kau akan sadar kenyataan kalau kau itu bodoh?"
    
"Aku sudah jelas mengatakan setiap orang punya sisi baik, kenapa kau selalu tak percaya?"

Karakter keduanya begitu berbeda dengan pemikiran yang tak sama, tetapi mereka masih ditakdirkan berada dilingkup yang sama.

"Dimana sisi baiknya? Setidaknya aku tak melihat itu." Shi Xi membuka laptopnya, Guo Zhi bergerak mendekatinya, berdiri disamping Shi Xi, berkata lembut dengan kebahagiaan yang tercetak jelas. "Aku tak tahu bagaimana orang lain melihat itu, namun untukku..." Jedanya, kemudian menaruh jari telunjuknya didada Shi Xi, tepat dihati. "Disini!"

Ekspresi polosnya tertangkap mata Shi Xi. Didalam ruang yang senyap, bunga layu yang sama sekarang mekar di meja samping tempat tidur. Shi Xi tiba-tiba menipiskan jarak wajah mereka dan mencium Guo Zhi.

Ciuman ini tak sesingkat sebelumnya. Ciuman yang sekarang begitu dalam hingga menggetarkan hati, membuat darah mendidih. Jemari Shi Xi bergerak melepas kancing baju Guo Zhi.
    
"Shi Xi, kau, apa yang kau lakukan?"

"Tidak melakukan apapun."

"Benarkah tidak melakukan apapun?"   

 "Ya." Jawaban Shi Xi yang walau tidak cukup meyakinkan, namun Guo Zhi selalu percaya setiap perkataannya walaupun saat ini Shi Xi mencoba melepas pakaiannya.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments