25. Apa kekasih Bo Shangyuan itu udara?

Bel berbunyi.

Jam pertama berakhir.

Gu Yu bukan tipe bersemangat seperti Shen Teng yang begitu kelas berakhir langsung berkeliaran diluar kelas. Gu Yu lebih memilih untuk tetap diam di bangkunya.

Shen Teng sudah tahu karakter Gu Yu jadi ketika dia pergi ke supermarket sekolah, dia tidak mengajaknya tetapi memanggil teman semeja barunya, Jin Shilong.

Mereka yang tidak tahu, melihat penampilan Gu Yu, pasti berpikir bahwa Gu Yu suasana hatinya tidak bahagia.

Tetapi pada kenyataannya, Gu Yu hanya dalam keadaan yang membosankan.

Jiang Zhenshan yang duduk sebelah, meliriknya diam-diam.

Jiang Zhenshan menggigit bibirnya. Setelah ragu-ragu sebentar, dia berdiri dan meninggalkan ruang kelas.

Empat menit kemudian, dia kembali dengan sebotol susu, dan meletakkannya di atas meja Gu Yu.

Gu Yu tertegun, tiba-tiba ada sebotol susu di depannya. Dia menoleh bingung pada Jiang Zhenshan.

Jiang Zhenshan berbisik, "A-aku belikan untukmu ..."

Gu Yu mengerutkan kening. "Kenapa kau belikan untukku?"

Jiang Zhenshan memerah sambil menunjuk ke papan tulis. "Bukankah Gu tongxue tadi sudah bantu membacakan kata-kata di papan tulis? Jadi ..."

Gu Yu mengerti.

Dia mendorong susu itu kembali.

"Tidak perlu, itu bukan apa-apa." Katanya ringan.

Tanpa diduga, detik berikutnya, Jiang Zhenshan dengan wajah makin memerah, dengan hati-hati mendorong susu itu lagi kedepan Gu Yu.

Dia meremas sudut bajunya, dan bersuara lemah. "A-aku cukup introvert, jadi ... jadi aku khawatir akan merepotkan Gu tongxue di masa depan ..."

Semakin bicara, suaranya makin melemah diikuti kepalanya menunduk.

Rasanya malu untuk menatap Gu Yu lagi.

Melihat tingkah gadis itu, kali ini, Gu Yu tidak menolak tetapi mengatakan terima kasih.

Jiang Zhenshan seketika merasa lega dan kemudian tersenyum senang.

Matanya sedikit melengkung. "Jangan berterima kasih ~"
.
.
Jam pertama adalah kelas bahasa.

Pelajaran kedua adalah matematika.

Ketika bel berbunyi, seorang wanita dengan rambut merah menyala dan sepatu hak tinggi berjalan ke ruang kelas dengan tumpukan kertas.

Wanita itu berjalan ke podium, melirik para siswa dan kemudian meletakkan tumpukan kertas diatas meja.

Dia tersenyum lembut, "Aku akan memperkenalkan diri untuk pertama kalinya. Namaku Huang, dan aku adalah guru matematika di kelas E."

Semua orang menahan napas dan tidak berani berbicara.

Dia berdiri di podium dan tidak melakukan apapun, tetapi entah kenapa, itu membuat para siswa terlihat ketakutan.

Guru Huang masih tersenyum, lanjut berkata, "Tidak seperti guru bahasa kalian, temperamenku tidak terlalu baik. Jika ada yang ketahuan berani berbicara walau hanya berbisik, makan, dan bermain ponsel dikelasku, ¹kalian harus menerima konsekuensinya!"

¹tulisan aslinya 吃不了兜著走 :: jika kau tidak bisa makan semuanya, kau harus membawanya pulang (idiom)

Setelah itu, dia menggebrak meja podium membuat semua siswa terkejut ketakutan.

Mereka sempat berpikir bahwa guru bahasa tampaknya agak keras ...

Sekarang dibandingkan dengan guru matematika, guru bahasa sangat lembut!

Setelah itu, guru Huang melirik seorang siswa yang paling dekat dengannya, lalu mengarahkan jarinya dan berkata, "Bagikan kertas ini."

Siswa itu tidak berani menolak dan bergegas naik ke atas podium, mengambil kertas, dan kemudian membagikannya sesuai dengan nama di sudut kiri atas meja.

Seperti dalam pelajaran sebelumnya, guru Huang akan mulai menjelaskan pertanyaan yang salah satu per satu.

Seni liberal selalu menjadi kekuatan Gu Yu, tetapi dalam hal sains, Gu Yu tidak akan berhasil.

Meskipun guru Huang menguraikan proses pemecahan masalah, Gu Yu masih tidak mengerti.

Mengapa jawabannya tiba-tiba menjadi satu?

Bagaimana tanda akar (√ ) tiba-tiba hilang?

Bagaimana garis ini tiba-tiba memiliki hubungan dengan garis ini?

Sakit kepala.

Dia benci matematika.

Jiang Zhenshan memandang Gu Yu yang tengah kesulitan, bertanya dengan hati-hati. "Itu ... Kalau Gu tongxue tidak mengerti, kau bisa bertanya padaku."

Gu Yu diam, tidak menanggapi.

Jiang Zhenshan melirik skor 137 di kertas tes matematika dan kemudian tampak sedikit malu, "Meskipun skor bahasaku tidak terlalu baik, skor matematikaku baik-baik saja ..."

Setelah itu, karena takut Gu Yu menolak, dia lanjut berbisik, "Aku tidak bisa bahasa, nilai matematika Gu tongxue juga tidak begitu bagus, jadi kita bisa saling membantu."

Gu Yu akhirnya mengucapkan terima kasih.

Jiang Zhenshan tersenyum. "Tidak, tidak perlu."

Tiba-tiba Guru Huang menggebrak meja di podium. "Kalian yang berbisik, aku peringatkan sekali! Jika sampai aku masih mendengar suara, silahkan keluar!"

Jiang Zhenshan segera tutup mulut dan berhenti berbicara.

Setelah empat puluh menit, bel berbunyi, kelas matematika berakhir.

Setelah kelas, Gu Yu mengantuk dan merebahkan kepala di atas meja.

Dia bangun lebih pagi, dan kelas matematika sudah merontokkan banyak sel otak dan kekuatan mentalnya. Pada saat ini, Gu Yu hanya ingin tidur.

Jiang Zhenshan berbisik. "... kau tidur saja, kalau guru datang nanti aku akan memanggilmu."

Gu Yu bergumam mengiyakan dan berkata terima kasih, lalu menutup matanya dengan tenang.
.
.

Pada saat bersamaan.

Kelas A.

Duan Lun tidak sarapan di pagi hari, dan ketika jam kedua berakhir, dia secara alami merasa lapar.

Duan Lun pertama-tama menepuk bahu teman semeja barunya dan bertanya apa punya makanan. Setelah mendapat jawaban negatif, dia mengetuk bagian belakang kursi meja depan dan bertanya, "Our handsome boy Shangyuan, pergi ke supermarket?"

Shangyuan yang sedang bad mood hari ini, tanpa ragu menjawab. "Tidak pergi."

Duan Lun mendengus dan bertanya, "Suasana hatimu sedang tidak baik?"

Shangyuan bergumam mengiyakan.

Duan Lun mengangkat alis dan mengubah wajahnya menjadi wajah gosip yang bersemangat dan ingin tahu. "Kemarilah, ceritakan pada Duan Ge, apa kau sedang galau, atau galau, dan atau galau?"

"Pergi sana!"

Duan Lun langsung mencebik kesal. "Sialan, aku berbaik hati mencerahkanmu, kau tidak menghargainya, bahkan mengusirku pergi. Kau ganti saja namamu jadi sentimental, lupakan saja!"

Melihat shangyuan yang tidak bereaksi, dia melanjutkan. "Jika kau dalam suasana hati yang buruk, ayo keluar dan berkeliling untuk mengalihkan perhatianmu."

Shangyuan merespon tanpa berbalik. "Berkeliling ke supermarket?"

Duan Lun terbatuk dan berkata, "Itu hanya sepintas, sepintas."

"..."

Duan Lun tiba-tiba memikirkan sesuatu. Dia mengangkat alisnya dan berkata dengan santai, "Bukankah kau punya kekasih? Jika kau berada dalam suasana hati yang buruk, temui kekasihmu untuk dapat hiburan, jika dia menghiburmu, suasana hatimu akan lebih baik."

Shangyuan sedikit bereaksi.

Sebenarnya bukan kekasih.

Tapi Shangyuan tidak meralatnya.

Duan Lun tidak menganggap serius ucapannya, tetapi detik berikutnya, dia melihat bahwa dia benar-benar berdiri dari duduknya.

Duan Lu membeku.

Melihat Duan Lun yang tidak bergerak, Shangyuan bertanya. "Tidak ke supermarket?"

Setelah terhenyak, batin Duan Lun mengumpat.

- Xing Bo akan menemui kekasihnya!

Memikirkan akhirnya dia akan melihat kekasih Shangyuan, Duan Lun begitu bersemangat sehingga dia tidak lagi merasa lapar.

Duan Lun mengumpulkan energi untuk memusatkan perhatian, karena takut ia akan kehilangan sedikit detail.

Sepanjang jalan, Duan Lun berpikir: Apa kekasih Bo Shangyuan di Kelas B?

Lalu dia melihat Shangyuan tanpa ekspresi melewati kelas B.

Duan Lun mengangkat alisnya dan berpikir: Bukan di Kelas B, apa di Kelas C?

Kemudian Shangyuan melewati kelas C tanpa ragu-ragu.

Duan Lun terdiam, berpikir: ... Bukan di kelas D kan?

Kemudian dia melihat Shangyuan melewati kelas D begitu saja.

Tepat ketika Duan Lun sudah merasa bodoh, Bo Shangyuan akhirnya berhenti di luar koridor kelas E.

Duan Lun memandang kelas E dan ekspresinya sungguh sulit dipercaya.

Bo Shangyuan yang peringkat pertama, jatuh cinta dengan seorang gadis di kelas E?

Tapi tunggu, sepertinya dia belum pernah mendengar ada gadis di kelas E yang lebih baik ...

Apa kekasih Bo Shangyuan tipe yang imut?

Duan Lun merenung, jatuh ke dalam pemikiran yang mendalam.

Disisi lain, Shangyuan yang berdiri di koridor kelas E, melihat ke bawah lewat jendela yang terbuka lebar.

Terlihat Gu Yu sedang tidur di dekat jendela.

Ketika orang lain bermain di ruang kelas dan mengobrol satu sama lain, hanya Gu Yu yang diam-diam tidur di posisinya.

Gu Yu menggunakan lengannya untuk mengistirahatkan kepalanya, wajahnya berpaling ke dalam, dan rambutnya dibalik ke dinding.

Gu Yu sedang tidur di mejanya.

Sangat aneh.

Ketika dia melihat Gu Yu, dia merasa lebih baik.

Shangyuan memandangnya sejenak, lalu mengulurkan tangan dan mengelus kepalanya dengan lembut.

Setelahnya Shangyuan perlahan menarik kembali tangannya dan berkata, "Ayo pergi."

Duan Lun disampingnya yang masih merenung menebak siapa kekasih Shangyuan. "???"

Duan Lun tanpa sadar bertanya. "Kau tidak bertemu kekasihmu?"

Shangyuan merespon ringan. "Aku sudah bertemu dengannya."

Duan Lun tertegun: WTF???

Tunggu, kapan dia menemuinya?

Duan Lun jelas berdiri di dekat Xing Bo, mengapa dia tidak melihatnya?

Apakah kekasih Bo Shangyuan itu udara?
.
.

Ketika Shangyuan berjalan pergi dengan mood membaik, Gu Yu terbangun.

Gu Yu yang tidur nyenyak tiba-tiba merasakan sapuan dingin dibelakang kepalanya, dia kaget dan terbangun.

Dia membuka matanya dan mencari-cari disekitar.

Duduk di depannya, Jin Shilong dan Shen Teng sedang pergi ke kantin, sedangkan hanya ada Jiang Zhenshan disebelahnya.

Gu Yu mengerutkan kening.

Jiang Zhenshan yang sedang fokus membaca buku teks, menoleh lalu tersenyum, "Kau sudah bangun? Aku akan memanggilmu nanti."

Gu Yu masih mengerutkan kening. "Siapa yang tadi ada di sini?"

Jiang Zhenshan berkedip bingung. "Ah? Tidak ada yang datang."

Karena terlalu serius membaca, dia tidak menyadari fakta bahwa Shangyuan tadi berdiri diluar jendela.

Gu Yu ragu.

Ilusi?

Tidak lama bel kelas berdering lagi.

Subjek berikutnya adalah bahasa Inggris.

Guru bahasa Inggris adalah pria gemuk dengan perut buncit. dia lebih lembut daripada guru matematika, dan lebih keras dari guru bahasa yang lembut.

Mungkin karena telah belajar di luar negeri, aksennya sangat otentik.

Tapi ini bukan intinya.

Intinya adalah ... Gu Yu mengantuk.

Ketika berada di kelas matematika, Gu Yu sudah mengantuk. Dan pelajaran bahasa Inggris adalah hal tidak dia sukai, dan durasinya lebih lama.

Karena itu, Gu Yu merasa lebih sulit.

Gu Yu mengantuk dan kepalanya menunduk.

Tetapi bagaimana pun caranya, dia tidak boleh tidur di kelas. Jika dia tidur di kelas pada hari pertama, kesannya dimata guru akan tidak baik.

Karena itu, ketika dia tahu bahwa dia akan tertidur, Gu Yu diam-diam menampar dirinya sendiri agar tetap terjaga.

Dia terus seperti itu selama kelas berlangsung.

Setelah kelas berakhir, hati dan jiwa Gu Yu benar-benar terkuras habis.

Siang hari, Gu Yu lelah dan kembali ke rumah. Ketika dia tiba di rumah, dia melihat ibu dan ayahnya duduk di sofa ruang tamu.

Langkah kaki Gu Yu terhenti.

Keduanya berdebat serius di ruang tamu, dan mereka tidak memperhatikan bahwa Gu Yu telah tiba di rumah.

"Beberapa hari lagi adalah Hari Guru. Mari kita beri hadiah pada guru?" Kata ibu Gu.

"Hadiah apa? Kelas bahkan baru resmi dimulai." Balas ayah Gu.

"Kau tidak mengerti apa yang aku maksud, maksudku, memberikan hadiah pada guru, biarkan guru memperhatikan Gu Yu!"

"Oh, orang lain memberikan, kita juga, orang tidak mengirim, kita akan kita berikan. Apa itu perhatian istimewa?"

"Itu harus istimewa! Semakin banyak orang tidak mengirim, semakin banyak yang akan kita kirim! Demi prestasi Gu Yu, jika guru tidak memperhatikannya, dia tidak akan bisa mendapatkan kopian ujian sama sekali!"

"Kenapa kau begitu gigih? Anak itu tidak bisa belajar materi, kenapa kau harus memaksanya ..."

"Nilai ujian bagus, ada masa depan! Nilai jelek, pekerjaan tidak bisa ditemukan! @ # $ ......"
.
.

Gu Yu pura-pura tidak mendengar kemudian melewati ruang tamu menuju kamarnya.

Dia tidur sebentar hingga tiba waktu makan siang.

Gu Yu berpikir bahwa orangtuanya sudah selesai berdebat. Dia tidak menyangka Ibu Gu masih bertanya padanya.

Ibu Gu tiba-tiba meletakkan sumpit dan bertanya dengan serius, "Oh, aku ingin mendengar pendapatmu. Beberapa hari lagi adalah Hari Guru. Bagaimana menurutmu dengan memberikan hadiah pada guru?"

Gu Yu terdiam selama dua detik dan berkata, "Terserah."

Ibu Gu mengerutkan kening, wajahnya tidak setuju.

"Jawaban apa itu? Kami memberikan hadiah pada guru, itu untukmu, bagaimana kau seperti ini ..."

Gu Yu meletakkan sumpit dan berkata dengan tenang. "Aku sudah selesai makan."

Setelahnya dia bangkit dan berjalan ke pintu keluar, mengenakan sepatu dan pergi.

Awalnya, Gu Yu masih berpikir tentang tidur di rumah sebentar sebelum pergi ke sekolah.

Tapi lupakan saja, pergi ke sekolah dan tidur disana.

Ketika Gu Yu pergi ke lift dan hendak keluar dari komunitas, dia tiba-tiba teringat sesuatu dan menyentuh sakunya.

... Ponselnya lupa dibawa.

Dia menaruh ponsel diatas kasur saat tidur sejenak tadi.

Karena buru-buru pergi, Gu Yu jadi melupakannya.

Gu Yu berdiri diam dan ragu-ragu sebentar.

Namun, setelah teringat akan tampangb ibunya, Gu Yu segera mendapatkan jawabannya.

Lupakan saja, tidak usah mengambil ponselnya, lagipula tidak akan bisa digunakan saat kelas berlangsung.

Gu Yu pun melanjutkan langkahnya.
.
.

Shangyuan yang sudah selesai makan siang dirumahnya, memikirkan sesuatu lalu mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan Wechat pada Gu Yu.

[ Jam berapa kau pergi ke sekolah sore? ]

Setelah pesan dikirim, Bo Shangyuan masih memegang ponselnya.

... tidak ada balasan.

Shangyuan menekuk alis menatap kotak obrolan.

Di sisi lain, Gu Yu sedang tidur di ruang kelas.

Bo Shangyuan di rumah terus menunggu, dan ketika akhirnya harus pergi ke sekolah, dia pun bangkit dan pergi.

Ketika dia keluar, dia memicingkan mata ke pintu rumah yang tertutup di sebelah.

Pintu tetangga tertutup dan sunyi.

Shangyuan mengerutkan kening, menarik kembali pandangannya.

Dia pergi ke sekolah sendirian dan ketika tiba di Kelas A, Duan Lun yang duduk di belakangnya, bertanya dengan tidak mengerti. "... Kenapa our handsome boy terlihat bad mood sore ini?"

Shangyuan tidak menanggapi.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments