24. Taring iblis

Menjelang akhir oktober, musim panas pun berakhir. Shi Xi masih terus menulis, dan Guo Zhi pun masih menjadi Guo Zhi yang biasanya.

.
.

Hua Guyu yang berada dikelas sebelah datang menghampiri Shi Xi dan duduk disampingnya. "Membosankan! Shi Xi, apa kau tahu cara agar aku tak bosan?"

"Ya."

"Apa?"

"Tutup mulutmu!"

Hua Guyu memandang Shi Xi dengan ekspresi kebencian. Meskipun ia sudah terbiasa dengan Shi Xi yang acuh, namun kebenciannya akan tetap abadi. Hua Guyu menepuk meja dengan keras, "Aku putuskan untuk memilih saat ini!"

Mata Hua Guyu bergerak memperhatikan para gadis diruang kelas Shi Xi, mereka yang ditatap menunduk malu. Hua Guyu mengerutkan bibirnya sambil melipat tangan. "Gadis berpakaian merah tidak cantik, fitur wajahnya tidak lembut, bentuk dadanya agak aneh; Yang warna kuning bahkan lebih buruk, meskipun wajahnya cantik, tetapi senyumnya tidak indah; Hei, apakah tidak ada yang pantas untuk wajahku?!" Dengan kritisnya Hua Guyu menilai gadis yang tidak sesuai estimasinya.

Shi Xi yang mulai terganggu melirik Hua Guyu, "Hei, kau!"

"Kenapa?"

"Sebenarnya kau lumayan tampan." Shi Xi mengatakan ini untuk bisa mengusirnya.

Hua Guyu terkejut sambil bangkit berdiri dan menunjuk wajahnya sendiri. "Kau bilang wajahku lumayan tampan? Hanya lumayan? Aku ini sangat tampan. Aku tidak akan memaafkanmu. Aku benci kau, aku membencimu, Shi Xi." Setelah mengatakan itu Hua Guyu berbalik dan menghentak kesal keluar kelas.

Temen sekelas Shi Xi memandangnya dan juga ketidaknormalan Hua Guyu dengan heran. Mereka tidak paham, bagaimana bisa pangeran kampus seperti Hua Guyu bisa mengenal Shi Xi yang biasa-biasa saja. Shi Xi yang menyadari menjadi pusat perhatian, menarik semakin turun topinya lalu kembali fokus dengan bukunya, tak mempedulikan sekitar.
.
.

Hua Guyu yang hatinya terluka serius, perlu penyembuhan. Butuh waktu lama baginya untuk menemukan kelas Guo Zhi. Para gadis dikelas itu memandang Hua Guyu dengan penuh kekaguman. Hua Guyu berdiri diluar kelas dan berteriak, "Guo Zhi, cepat keluar!"

"Ada apa?" Guo Zhi keluar dengan terburu mengira hal serius terjadi pada Hua Guyu.

"Ada yang menyebutku lumayan tampan, bagaimana menurutmu? Aku sangat tampan kan?" Hua Guyu masih tak bisa menerima kata lumayan.

Guo Zhi ikuti emosi. "Tidak masuk akal! Kau itu sangat tampan." Akhirnya, sakit hati Hua Guyu terobati.

"Kau juga berpikir begitu kan?" 

"Tentu saja! Hua er adalah lelaki yang sangat tampan. Bahkan lelaki dikelasku tak ada yang bisa menandingimu. Siapa yang berani mengatakan itu? Keterlaluan!"

"Shi Xi!" Mendengar nama itu keluar dari mulut Hua Guyu, perlahan emosi Guo Zhi mereda.

"Mungkin, mungkin Shi Xi mengatakan itu karena ada alasannya."

Hua Guyu mundur dua langkah, menunjuk Guo Zhi. "Kau, kau, kau teman yang berpihak. Kau memihak Shi Xi karena menyukainya." Hua Guyu segera sadar apa yang baru dia katakan. Dia pikir Guo Zhi mengelak dan tidak akan mengakuinya namun respon Guo Zhi berbeda.

Guo Zhi sedikit terkejut kemudian tersenyum. "Hua er, kau sudah tahu tapi masih ingin berteman denganku. Hua er, kau tak hanya bijak, tapi juga sangat baik. Ya, aku menyukai Shi Xi."

Hua Guyu memandang Guo Zhi tak percaya. Dia mengakuinya? Apa yang sudah Shi Xi masukkan ketubuhnya dan membuatnya berubah?

"Apa yang akan kau lakukan nanti?"

"Apa lagi? Tentu saja terus menyukainya." Respon Guo Zhi seakan Hua Guyu mengajukan pertanyaan konyol.

Lagi-lagi Hua Guyu mengerang tapi tak bisa menemukan kata yang tepat. Guo Zhi tak perlu dukungan atau hiburan, ekspresinya saat ini sudah menunjukkan kepuasan.

"Masuklah! Aku pergi dulu."

"Oke, selamat jalan!" Guo Zhi melambaikan tangannya.

"Apa-apaan selamat jalan!" Hua Guyu pun pergi.

Guo Zhi kembali kedalam kelas dan langsung dikerumuni para gadis yang penasaran. "Apa dia temanmu?"

"Yeah."

"Kau punya teman yang tampan tapi kau malah tak mengenalkannya pada kami, Guo Zhi.

Guo Yiqi yang tengah mengoles cat kuku menoleh dengan ekspresi merendahkan. "Apa kalian percaya itu temannya? Mungkin hanya orang yang sengaja ia bayar untuk datang dan pura-pura menjadi temannya supaya diakui. Bukankah saat ini banyak orang yang melakukan hal itu? Jika aku jadi kau Guo Zhi, lebih baik uang itu kugunakan untuk beli pakaian yang bagus."

"Benarkah?" Para gadis menatap curiga.

Guo Zhi tidak marah. Ia pikir Guo Yiqi mungkin tidak bisa menemukan tempat untuk melampiaskan moodnya yang sedang buruk. Guo Zhi hanya tersenyum kecil. "Terima kasih atas pendapatmu dan aku baik-baik saja mengenakan pakaianku yang sekarang."

Sungguh ironis. Sejak terakhir kali berdebat, Guo Yiqi sudah tak suka Guo Zhi. Belakangan ini, dia selalu berbicara buruk tentang Guo Zhi dan menghasut teman-temannya untuk menjauh.
    
"Apa kau baru saja menganggapku berbohong? Temanmu hanya si monster jelek yang selalu memakai topi, benarkan? Kalian berdua sama."

"Dia tidak jelek." Bisik Guo Zhi. Tak ada niat untuk berselisih dengan gadis itu.

Guo Yiqi tak bisa mendengar dan hanya melihat gerakkan bibir Guo Zhi. Dia pikir Guo Zhi mengejeknya jadi dia melempar botol cat kuku ke wajah Guo Zhi dengan emosi. Guo Zhi memegang wajahnya yang terasa perih, ia tak mengerti dengan tindakan Guo Yiqi.

Dosen masuk kekelas setelah mendengar keributan lalu berteriak, "Kelas akan dimulai, apa yang kalian lakukan? Cepat kembali duduk!"

Guo Yiqi menatap botol cat kukunya yang pecah dengan ekspresi tertekan. Karena butuh banyak uang untuk membelinya dan sekarang terbuang sia-sia membuatnya semakin membenci Guo Zhi.
.
.

Setelah kelas berakhir, Guo Zhi pergi ke minimarket untuk membeli tisu basah, menghapus noda cat kuku dipakaiannya. Ia bertemu Hua Guyu disana. "Hua er, kebetulan sekali."
     
"Tentu saja minimarket kampus hanya satu jadi kemungkinan bertemu bisa saja terjadi." Setelah mengatakan itu, Hua Guyu menatap Guo Zhi, "Kenapa dengan wajahmu?"
    
"Bukan apa-apa. Ada gadis dikelasku memakai cat kuku dan tak sengaja terkena wajahku. Aku pergi lebih dulu!"
    
Hua Guyu diam dan hanya menatap kepergian Guo Zhi. IQnya bisa dilihat langsung dari wajah jadi dia bisa melihat jelas Guo Zhi berbohong. Dia kembali ke gedung fakultas dan pergi ke kelas Shi Xi.

"Seingatku kelasmu ada disebelah."

"Aku tadi bertemu Guo Zhi."

"Apa urusanku?"

"Tentu saja urusanmu. Wajahnya sedikit memar dan ada bekas cat kuku. Apa menurutmu dia dibully?"
    
Shi Xi tak merespon. Dia masih tak mengangkat wajahnya, sibuk dengan urusannya. Hua Guyu mendengus lalu berbalik pergi menuju kelasnya.
.
.

Kelas disiang hari membuat mengantuk. Guo Zhi yang tampak segar melangkah masuk kedalam kelas. Satu siswa disebelahnya mengeluh, "Ini sangat sulit. Guo Zhi, kau mengerti jadi bantu aku, tolong jelaskan!"
 
"Oke!"

Guo Yiqi yang duduk tak jauh mendengar percakapan kedua lelaki itu segera menoleh, "Bukankah sudah aku bilang jangan bicara dengan orang aneh ini? Jika kau ingin menjadi temannya, jangan bicara lagi padaku." Guo Yiqi menganggap seluruh kelas harus memihaknya, karena dia cantik dan punya banyak uang. Mereka harus menuruti perintahnya.

Siswa disebelah Guo Zhi seketika canggung dan tak tahu harus berkata apa. Guo Yiqi tersenyum angkuh. "Orang menjijikkan sepertimu hanya punya teman yang jelek. Apa kau perlu teman baru? Aku pikir tak ada yang sangat jelek dikelas ini untuk bisa jadi temanmu."

"Jangan bilang dia jelek, dia tidak jelek!"
    
 "Ya, dimatamu dia tak jelek. Seperti orang yang buta karena cinta. Bukan berarti kau juga menyukai pria. Lagipula, itu bukan hal tidak biasa kau melakukan kelainan seperti ini. Sedikit menjijikkan, tidak normal." Mereka yang berada didalam kelas merasa Guo Yiqi sudah keterlaluan, namun mereka yang memihak gadis itu ikut mengompori. "Menjijikkan!"

"Menjijikkan!"

Shi Xi berdiri diluar pintu, bersandar dan melipat tangannya. Guo Yiqi menyadari itu dan menyeringai. "Teman jeleknya sudah datang untuk menjemputnya, pergilah Guo Zhi."

Guo Zhi menatap Shi Xi sedih. Karena dirinya, Shi Xi sampai harus ikut terluka.

Shi Xi tak bicara. Dia berjalan kearah Guo Yiqi, dengan perlahan menyentuh ujung topinya dan mengangkat keatas. Wajah tampan yang disembunyikannya itu kini terlihat. Bahkan cahaya matahari dengan malu menyinarinya. Diwajah itu, bibirnya, hidungnya, lalu matanya dan kemudian terlihat seutuhnya keindahan itu. Wajah yang sekali dipandang langsung membuat semua orang terpana.

Shi Xi melepas topinya kelantai sedikit mendekatkan wajahnya pada Guo Yiqi yang syok. Suaranya begitu dingin, "Jika kau masih berani menyebutnya menjijikkan, tak peduli siapapun ayahmu, aku akan menghancurkanmu!"
.
.

Dia bersembunyi di kegelapan untuk merekam duniawi, sekarang dia secara bertahap mengeluarkan taring iblis, hanya untuk melawan dunia.    

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments