23. Shi Xi tahu Guo Zhi

Shi Xi duduk diatas rumput belakang stadion yang tersembunyi dan sepi, tanpa kerumunan orang, terhindar dari sinar matahari.

Sama seperti tangga yang gelap menuju atap sekolah dulu, Shi Xi selalu memilih tempat untuk dirinya bisa menyendiri. Orang lain selalu takut merasa kesepian, namun hal itu justru diinginkan Shi Xi. Dia bersandar didinding dengan topi yang menutup wajah tampannya. Pena disela jemarinya saling bergesek dengan kertas, dia terus menulis hingga tinta pena habis lalu membuangnya.

Dia hanya duduk setelah itu dalam waktu cukup lama sebelum mengeluarkan ponselnya, ditempelkan ditelinga.

"Shi Xi!" Suara diseberang panggilan menyapanya dengan nada riang seperti biasa.

"Pena."

"Kau dimana?"
    
"Belakang stadion."

Beberapa saat kemudian, Guo Zhi datang berdiri didekat Shi Xi, mengeluarkan beberapa pena sambil mengatur napasnya. "Apa ini cukup?"

Shi Xi tak menjawab, tangannya bergerak mengambil satu dan lanjut menulis.

Guo Zhi kembali menyimpan pena yang tersisa kedalam tas lalu duduk sedikit jauh dan fokus dengan buku bacaannya. Ia tak ingin menganggu Shi Xi sampai membalik tiap lembaran pun dengan gerakkan yang lembut.

Tidak ada suara berisik, hanya kesunyian yang senyap dan kehangatan.

Dimulai sejak bertemu Shi Xi, ketika lelaki itu sedang menulis fiksi ditangga yang gelap, kemudian saat ditaman kecil dekat danau disekolahnya, dan saat ini Guo Zhi duduk tak jauh, tetap menunggu dengan tenang tak ingin menganggu Shi Xi.
    
Shi Xi ingin sendiri, maka Guo Zhi memberikannya kesendirian.

Shi Xi mengangkat wajahnya, menatap Guo Zhi yang sedang tersenyum dalam bacaannya seakan buku itu sesuatu yang membahagiakan.
.
.

Waktu makan siang berakhir dan kelas akan segera dimulai, Guo Zhi pun bangkit dan mengibas debu dicelananya. "Aku akan kembali ke kelas."

"Guo Zhi, apa kau selalu menempel padaku agar aku menyukaimu?" Tidak ada ekspresi diwajah Shi Xi, hanya mengajukan pertanyaan.

Guo Zhi menggeleng. "Tidak, aku tak pernah berpikiran seperti itu. Aku tahu kita berdua lelaki. Aku juga tahu kau berbeda dariku." Guo Zhi tidak lagi seperti dulu yang akan sedih dan kesakitan mengingat penyebab bekas lukanya, namun sekarang ia tersenyum dan menerima dirinya yang berbeda. Senyuman yang tak akan pernah pudar. "Aku baik pada semua orang, tapi hanya kau yang aku suka." Guo Zhi tersadar dengan ucapannya kemudian bergegas lari menjauh.
   
"Suka?" Gumam Shi Xi pelan, melihat pena ditangannya.
    
.
.

Para lelaki sibuk membicarakan siapa gadis yang paling cantik didalam kelas dan Guo Zhi hanya duduk diam dan fokus dengan bukunya. Seorang gadis, Guo Yiqi dibangku sebelah sibuk bercermin sambil memakai maskara. "Siapa namamu?"
    
"Aku Guo Zhi." responnya dengan sungkan. Dikampus ini semuanya masih asing bagi Guo Zhi, entah teman sekelas maupun diluar kelas.     

"Guo Zhi, pinjamkan aku catatanmu, aku ingin menyalinnya." Guo Yiqi tak menatap Guo Zhi, dia masih menatap cermin fokus memakai maskara. Dia tak peduli lawan bicaranya, dia hanya peduli untuk melebatkan bulu matanya.

"Ini." Guo Zhi menyerahkan catatannya. Setelah beberapa saat Guo Yiqi mengalihkan perhatiannya dari cermin, membuka lembar buku catatan itu, tiba-tiba dia menemukan bunga kering yang terselip, "Bunga ini sangat cantik."

"Itu, jangan menyentuhnya." Guo Zhi panik. Bunga kering itu mudah rusak.
    
"Untukku saja, ya?" Guo Yiqi mengerjap imut, lelaki lain pasti akan terbuai, namun Guo Zhi hanya melihat bunga kering ditangan gadis itu dengan cemas. "Tidak, aku tidak bisa memberikannya padamu. Ah, kau bisa mengambil ini." Guo Zhi mengeluarkan pena baru yang ia jadikan stok untuk Shi Xi.

Guo Yiqi mengernyit jijik. "Siapa yang butuh pena murahan itu, aku ingin bunga ini."

"Aku tambah satu lagi." Guo Zhi menyerahkan dua pena namun Guo Yiqi melemparnya kelantai. Dia menaruh kembali bunga keras itu didalam buku dengan kasar membuat kelopaknya terlepas. Guo Yiqi pura-pura terkejut. "Ah, maaf. Aku tak sengaja."
    
Guo Zhi menggigit bibirnya melihat bunga kering itu. "Tak apa, kau hanya tak sengaja."

Guo Yiqi mengabaikan Guo Zhi, dia menghadap bangku belakang mengobrol dengan temannya.

Guo Zhi mengambil selotip dari tas dan menyatukan kelopak bunga itu dengan hati-hati.

Guo Yiqi kembali memutar kepalanya dan melihat yang dilakukan Guo Zhi tiba-tiba menyulut emosinya, dia berdiri. Sebagai anak yang terbiasa dimanjakan dengan uang dikeluarganya, Guo Yiqi merasa direndahkan. "Apa pentingnya bunga yang sudah rusak itu? Kau ingin membuatku merasa bersalah?"
    
Guo Zhi terkejut, ia menggeleng menatap Guo Yiqi. "Bukan begitu."

"Aku masih tak mengerti apa gunanya benda ini." Guo Yiqi merebut bunga yang baru selesai Guo Zhi rekatkan, membuangnya kelantai dan menginjaknya. "Lelaki tapi begitu peduli dengan bunga, dasar abnormal!"

"Aku tidak abnormal." Guo Zhi tiba-tiba berteriak. Mungkin dulu dia akan memucat dan minta maaf namun sekarang dia begitu tenang dan percaya diri.

"Keributan apa yang terjadi disini? Kembali kebangku kalian." Tegur dosen yang baru masuk ke kelas.

Guo Yiqi menatap Guo Zhi tajam, tidak lagi bersuara, dan menggeser bangkunya, menjauh. Guo Zhi mengambil tangkai bunga kering itu yang masih tersisa satu kelopak dan diselipkannya dilembaran buku. Ia mendengarkan materi dengan tenang dan fokus mengisi catatan. Bunganya memang hancur namun masih ada Shi Xi jadi kebun bunganya masih mekar dihatinya.
.
.

Kelas siang berakhir, mahasiswa pergi kekantin, ketika menaiki tangga Guo Yiqi mendorong punggung Guo Zhi, "Minggir, jangan menghalangi jalan." Guo Zhi terhuyung hampir jatuh namun ditahan seseorang.

Guo Zhi mendongak, "Shi Xi?"

Melihat itu Guo Yiqi melipat tangannya. "Memang menggelikan, bahkan temannya pun aneh, siapa yang memakai topi dicuaca panas seperti ini. Kalau kau tak ingin wajah jelekmu dilihat, jangan kuliah."
    
Shi Xi menatap Guo Yiqi dingin. "Apa penampilanmu memenuhi syarat untuk menyebut orang lain jelek?!"

"Apa maksudmu?"

"Kau tak mengerti? Artinya kau jelek."

"Beraninya kau! Apa kau tak tahu siapa ayahku?" Guo Yiqi berteriak marah. Siapapun yang mencari masalah dengannya, ia tak segan menyebut jabatan orangtuanya.

"Aku tak tahu. Tapi dengan melihatmu, sepertinya sangat jelek."

Guo Yiqi dengan emosi meluap ingin menyerang Shi Xi namun dicegah kedua temannya. "Jangan dihiraukan. Berdebat dengan mereka hanya akan merusak reputasimu. Kau sekarang jadi bahan tontonan." Guo Yiqi merespon, "Ayo, pergi." Mereka pun menjauh diikuti kerumunan yang juga bubar.

Guo Zhi menunduk, bergumam sendiri. "Aku tidak abnormal."

Kalimat ini tak hanya ingin ia sampaikan pada Guo Yiqi namun juga pada dunia.
    
Dia tidak abnormal!

Shi Xi mengulurkan tangannya, mengusak rambut Guo Zhi. "Kau tidak."

Guo Zhi mengangkat wajah, pancaran matanya berkilat cerah. 
.
.

Shi Xi mengatakan bahwa akan membuatnya tahu keburukan dunia. Itu bukanlah kebohongan. Shi Xi memperlihatkan evil dan dongeng, yang membuat Guo Zhi telah belajar berbohong kepada orang tuanya dan mengenali diri sendiri. Keburukan itu berangsur-angsur kuat. Sekarang, Guo Zhi yakin Tuhan menganugerahkan perbedaan ini padanya, bukan untuk menyiksanya. Ini adalah hadiah, dan hadiah ini hanya bisa dibuka jika ia merasakan cinta. Ternyata seperti inilah cinta, selama bisa terus berada didekat Shi Xi, ia akan selalu merasakan kebahagiaan.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments