22. Wanita itu juga tokoh utamanya ( bagian 2 )

Dan Ju dan Guo Zhi berjalan dilingkungan kampus. Dan Ju yang masih mengenakan kaos Shi Xi tak peduli diperhatikan tiap pasang mata.

"Kenapa responmu dan orangtuaku tidak sama?" Guo Zhi pikir dunia akan membenci hal itu.

"Dasar bodoh! Didunia ini ada orang yang menentangnya dan juga menerimanya. Tak apa Guo Zhi, kau tahu berapa banyak wanita busuk di china? Dimasa depan jumlah mereka akan semakin banyak."

"Apa itu wanita busuk?"

"Mereka yang ingin melihatmu ditindih Shi Xi diranjang."

"Girl, apa yang kau katakan!"
    
Melihat respon Guo Zhi entah kenapa membuat Dan Ju ingin menghubungi kekasihnya. Dia mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan.

Setelah sambungan terhubung, Dan Ju mencium ponselnya lalu berbicara keras. "Wei Ye, apa kau kesepian karena berpisah denganku? Berada ditempat berbeda dengan kekasihmu ini pasti sangat menyiksa kan?"

"Tidak."    
    
"Kau ingin makan apa? Aku akan membawa pulang banyak makanan khas dari kota ini, atau, kau sedang memikirkan untuk memakanku?" Suara Dan Ju terdengar mengelikan.

"Jangan memaksaku menutupnya."

"Kapan kau akan mengikuti mauku?" Dan Ju kembali melangkah, matanya memperhatikan wajah-wajah muda yang berlalu lalang. 

"Saat kau terlahir kembali."

Dan Ju tak bisa menahan tawanya. "Wei ye, aku ingin mengatakan I love you, akankah terdengar aneh?"

"Ya, jadi tutup mulutmu!"

 "I love..." Belum sempat Dan Ju selesaikan kalimatnya, sambungan dimatikan sepihak. "Bajingan, dia benar-benar menutupnya!"   

Guo Zhi sedari tadi fokus memperhatikan dengan raut penasaran. Percintaan Dan Ju begitu bebas, dia bisa menunjukkan rasa cintanya semaunya. Bisakah Guo Zhi melakukan itu? Suara omelan ayahnya langsung terlintas membuatnya selalu menutup rapat diri dan perasaannya.

Melihat perubahan wajah Guo Zhi, Dan Ju tersenyum simpati. "Orang tidak bisa memilih siapa yang harus disuka, siapa yang tidak harus disuka. Cintamu bukan sesuatu yang spesial. Cinta adalah cinta. Termasuk aku, tidak ada yang bisa mengontrolnya. Tidak semua orang bisa mengerti. Kau tidak perlu memberitahu setiap orang. Berbahagialah. Jangan khawatir."

Seperti mendapat kekuatan, Guo Zhi mengangguk cepat.
    
Dan Ju melanjutkan, "Orang-orang idiot itu hanya iri. Apa lagi yang bisa mereka lakukan? Apa yang akan berani mereka lakukan? Ketahuilah, mereka yang benci homoseksual adalah gay yang sesungguhnya."

"Benarkah?" Guo Zhi ragu.

"Benar."

"Itu seperti yang aku selalu katakan pada diri sendiri."

"Tuh kan!"

"Ternyata seperti itu!"
.
.

Setelah dua hari Dan Ju berada ditempat Shi Xi untuk membantunya membuat karakter evil sebagai bahan fiksinya, Guo Zhi datang lagi untuk mengajaknya ke toko yang menjual produk lokal. Dia senang bersama Dan Ju, dia bisa menceritakan semua keraguan dan masalahnya.

Mereka membeli beberapa barang lalu keluar dari toko.
    
"Girl, itu..."

Guo Zhi menahan Dan Ju yang bersiap untuk pergi. Masih ada kalimat yang mengganjal dan ingin dikatakannya.

"Apa?"

"Aku, aku tak menginginkan apapun dari Shi Xi, dia tidak perlu menyukaiku. Tapi apa ada cara untuk membuatnya tersenyum bahagia?"

"Apa dia sudah pernah menulis tentangmu?"

Melihat Guo Zhi menggeleng, Dan Ju tersenyum kecil. "Ini tentang Shi Xi, dia tidak punya emosi. Dia benci semua orang. Mereka jelek, realistis, rakus, jahat, jadi dia menarik diri dari dunia dan mengamati mereka dari luar dunia, menulisnya dalam fiksi. Tapi dia tidak bisa menulis tentangmu, dia mungkin memperhatikan dirinya sendiri."

"Dia juga tak menulis tentangmu."

Dan Ju mengerutkan hidungnya, "Aku bukan orang baik."

"Tidak. Kau adalah orang baik."
    
"Karena kau selalu memujiku, aku akan beritahu cara membuat Shi Xi tersenyum."

"Benarkah?"

"Aku tak bohong. Saat dia masih kecil, dia akan tersenyum lalu tertawa bahagia karena hal ini."

"Terima kasih, girl."

.
.

Siangnya, Dan Ju mengemas barangnya dikamar Shi Xi. "Keponakan, aku pergi. Jangan menangis karena kau kutinggal. Aku bisa mengabaikan semua orang termasuk kau demi priaku."    

"No comment!"

"Kau sangat tidak lucu. Padahal aku sudah cukup baik membantu untuk membuat kejutan untukmu, byebye."
    
.
.

Kepergian Dan Ju begitu biasa seperti kedatangannya. Dalam kisah cinta ini, dia hanya peran pembantu, namun dikisah cintanya, wanita ini juga pemeran utama. Seperti orang lain dengan kisah cinta mereka masing-masing.
.
.

Beberapa saat kemudian, Guo Zhi tiba dikamar Shi Xi sambil terengah karena berlari. "Dimana girl?"

"Pergi."

"Apa? Dia sudah pergi? Padahal aku menyempatkan diri untuk mengucapkan perpisahan." Guo Zhi mendesah kecewa.
    
Shi Xi tidak bicara hanya fokus pada laptopnya. Guo Zhi masih berdiri didepan pintu, tak bergerak. Setelah beberapa saat, ia diam-diam mendekat lalu menaruh tangannya dikedua bahu Shi Xi dan membungkuk, bersuara dengan lembut. "Oh, sayangku!"

Tubuh Shi Xi seketika membeku, suara itu menerobos pertahanannya membuatnya salah tingkah. Dia menoleh, "Apa yang kau lakukan?"

"Kenapa kau tak tersenyum bahagia? Girl bilang setiap kali kau mendengar ucapan itu kau akan tersenyum."   
    
"Tersenyum? Apa kau idiot? Sudah ditipu berkali-kali dan kau masih percaya pada wanita itu?"

"Dia bukan wanita itu, dia adalah girl."

.
.

Sebuah film bertema natal menyala dilayar laptop. Langit bersalju, tumpukan manusia salju, kota berkilauan dengan cahaya, lampu warna-warni, orang-orang dengan mantel tebal, dibungkus syal dan mengubur wajah mereka di dalam, mereka memegang hadiah di tangan mereka, mereka berpegangan tangan, mereka berciuman, di setiap sudut bernuansa Natal dengan lantunan musik ringan.

Guo Zhi menontonnya dengan wajah bahagia yang menggemaskan. "Mungkin harinya tidak tepat. Jadi jika aku memanggilmu seperti tadi dihari natal, apa kau akan tersenyum?"

"Jangan percaya apa yang dikatakannya."

"Suatu hari nanti jika aku memanggilmu seperti tadi, kau akan tersenyum?"

"Kau tidak mengerti ucapanku?"

"Kau akan tersenyum." Guo Zhi bersenandung mengikuti irama musik.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments