22. Dia tidak mengerti, apa yang bagus dari Bo Shangyuan untuk disukai

Waktu berlalu cepat.

Dalam sekejap mata, itu adalah hari terakhir pelatihan militer.

Sampai hari terakhir, Meng Yifan masih belum datang ke pelatihan militer.

Tampak menghilang sepenuhnya, tidak pernah datang.

Namun, sekarang, tidak ada yang pernah peduli tentang Meng Yifan datang atau tidak ke pelatihan militer.

Gaya Meng Yifan sombong dan arogan, menganggap dia adalah bos Chengnan. Jika Meng Yifan tidak datang, yang lain merasa senang.

Pada hari terakhir pelatihan militer, para siswa senang dan sedih.

Berita baiknya adalah bahwa pelatihan militer 15 hari seperti neraka ini akhirnya berakhir.  Sayangnya, setelah pelatihan militer, mereka akan sulit bertemu pelatih.

Meskipun pelatih Zhang sangat keras dan ganas selama pelatihan, tetapi bagaimanapun, mereka telah bersama selama hampir setengah bulan, dan kurang lebih memiliki perasaan.

Mereka tidak akan bertemu lagi setelah pelatihan militer berakhir.

Ketika berbaris, para siswa menatap pelatih dengan mata memerah.

Para siswi yang lebih dekat dengan pelatih tidak bisa menahan tangis mereka.

Pelatih Zhang yang selalu keras tampaknya juga merasa sedih.

Pelatih mengangkat speaker dan butuh waktu lama sebelum akhirnya dia membuka mulut.

"Seperti yang kalian ketahui, hari ini adalah hari terakhir pelatihan militer."

Para siswa mendesah sedih.

Para gadis kini menangis terang-terangan.

Umur pelatih Zhang tidak tua, usianya sekitar 20 tahunan. Melihat pemandangan di depannya, suara pelatih Zhang menjadi parau.

"Hari ini adalah hari terakhir. Aku tidak akan menyiksa kalian jadi kalian bisa pulang nanti dan beristirahat dengan mudah."

Para laki-laki kini tidak bisa menahan tangis.

Kemudian, beberapa gadis menangis dan berkata, "Pelatih Zhang, kami tidak bisa melepasmu ..."

Pelatih Zhang tersedak dan menelan perasaan masam.

Kemudian, dia berkata tanpa ragu. "Pertama tinju militer, tunggu sisanya, laki-laki push-up seratus kali, perempuan squat seratus kali. Begitu selesai, kalian bisa pulang kapanpun."

Mendengar itu, tangisan yang memenuhi lapangan tiba-tiba berhenti.

Pada saat yang sama, suasana sedih menghilang dalam sekejap tanpa jejak.

Lapangan menjadi sunyi.

Semua orang diam.

Dalam keheningan, ekspresi sedih di wajah para siswa diikuti oleh ketidakpedulian dan mati rasa.

Pelatih semacam ini ... Lebih baik pergi sejak awal, mereka tidak ingin bertemu dengannya lagi.

Tidak.Akan.Sudi.Bertemu.Lagi!
.
.

Karena tinju militer di pagi hari, seratus push-up, dan seratus squat, jadi pada sore hari, suasana sedih telah benar-benar hilang dan tidak bisa lagi naik.

Pada sore hari, para siswa memandang pelatih Zhang dengan mati rasa, menunggu untuk melihat bagaimana dia menyiksa mereka di sore hari.

Mereka tidak punya harapan untuk sore hari.

Pelatih Zhang yang berdiri di garis depan, pertama-tama mengangkat alisnya dan memandangi para siswa yang sudah mati rasa di depannya. Kemudian dia melihat ke waktu di arlojinya, mengangkat speaker dan berkata, "Semuanya buat lingkaran."

Mereka mengikuti.

Pelatih Zhang menambahkan, "Duduk."

Mereka juga mengikuti.

"Oke, mulailah mengobrol."

Ketika mendengar ini, para siswa membeku.

Hei, bukan untuk postur duduk?

Suara pelatih Zhang terdengar lengah, "Aku hanya bersenang-senang dengan kalian di pagi hari."

"..."

Seratus kali squat, seratus kali push-up, hanya bersenang - senang ...

Pelatih Zhang menemukan posisi dan ikut duduk, "Mulailah mengobrol, bicara apapun mau kalian. Ketika haus, pergilah membeli air. Jika ingin pergi ke kamar mandi, angkat tangan dan lapor."

Mendengar itu, para siswa memutuskan bahwa sore itu tidak berlatih, dan melepaskan waktu.

Setelah yakin, mereka mulai mengobrol dengan gembira.

Oh, tidak, itu seharusnya bergosip.

"Pelatih Zhang, hehe ... apa kau punya kekasih?"

"Tidak."

"Pelatih Zhang, kau sangat tampan, kenapa tidak punya kekasih?"

"Aku tidak tahu kenapa."

"Aku tahu! Pasti karena kau terlalu serius jadi tidak ada gadis yang berani berbicara denganmu sehingga kau tidak punya pacar!"

"Aku membiarkan kalian mengobrol dengan sesama, kenapa selalu bicara padaku?"

"Kami penasaran!"

Semua orang tertawa.

Mengobrol dan mengobrol, tidak butuh waktu lama untuk mengalihkan topik dari pelatih ke gadis itu.

Seorang laki-laki berkacamata dengan gugup bertanya, "Aku ingin bertanya ... laki-laki macam apa yang biasanya disukai perempuan?"

Setelah lelaki itu bertanya, para lelaki lainnya bersorak dan bersiul.

Lalu, yang lain berkata, "Chu Qiao, kau menanyakan pertanyaan ini, apa kau tidak takut ketahuan ibumu?"

Lelaki berkacamata itu tampak malu, "A-aku hanya bertanya."

Sekelompok siswa lelaki menertawakannya.

Gadis-gadis malu dan tidak menjawab. Pelatih Zhang mengambil alih untuk menjawab.

"Lelaki macam apa yang disukai, tentu saja tampan."

Sorakan memelan.

Seorang siswa mengangkat tangannya dan bertanya, "Apa lagi selain tampan?"

Kali ini seorang gadis yang menjawab. Dia tersipu dan berbisik, "... nilainya bagus."

Ini membuat sorakan lebih pelan.

Nilai bagus dan tampan ... Siapa lagi kalau bukan Bo Shangyuan?

Sekelompok anak lelaki memalingkan pandangan mereka ke arah Shangyuan yang dari tadi hanya diam.

Setelahnya mengalihkan mata mereka ke bawah, mereka pun menjadi lebih jengkel.

Sial! Shangyuan, dia tidak terbakar matahari sama sekali!

Mungkin karena laki-laki yang memakai kacamata sudah cukup berani untuk mengajukan pertanyaan, maka tiba-tiba gadis lain berani dan dengan penuh rasa ingin tahu bertanya. "Itu, bisakah aku bertanya pada Bo tongxue... Siapa kekasihmu?"

Setelah gadis itu bertanya, kecuali Gu Yu, semua orang melihat ke arah Shangyuan.

Bahkan pelatih Zhang juga menoleh penasaran.

Karena Duan Lun, semua orang di sekolah, bahkan pelatih yang biasanya tidak bergosip, tahu bahwa Shangyuan punya kekasih.

Adapun mengapa Gu Yu tidak melihat Shangyuan ...

Karena 'kekasih' itu adalah dia.

Dibawah tatapan semuanya, Shangyuan dengan tanpa ekspresi perlahan-lahan menoleh pada Duan Lun.

Duan Lun batuk, ini semua salahnya.

Setelahnya Shangyuan melihat ke arah Gu Yu.

Gu Yu duduk di sisi kanan diagonal Shangyuan, tidak ada respons dan tidak menoleh padanya seperti yang lain.

Seakan tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya.

Shangyuan mengangkat alisnya lalu ludahkan dua kata tanpa ragu.

"Gu Yu tahu."

Semua orang mendengar itu seketika terkejut.

Gu Yu tahu???

Reaksi Gu Yu bahkan lebih mengejutkan.

Gu Yu mendongak dan melihat ke arah Shangyuan.

"???"

Shangyuan sama sekali tidak merasa bersalah dan terlihat tenang.

Lebih tepatnya, Shangyuan memang tidak tidak berbohong.

Gu Yu tahu siapa 'kekasih' Bo Shangyuan.

Shen Teng yang duduk di sebelah Gu Yu tertegun, "Xiao Yu, kau tahu?!"

Gu Yu terdiam selama beberapa detik.

"Bagaimana mungkin aku tahu, Bo tongxue hanya bercanda."

Shen Teng masih ragu. "Hanya bercanda?"

Wajah Gu Yu tampak biasa. "Aku belum pernah bicara sepatah katapun dengan Bo tongxue, Bagaimana aku bisa tahu siapa kekasihnya?"

Shen Teng secara bertahap mulai percaya.

Karena Shen Teng tidak pernah melihat Gu Yu dan Shangyuan berbicara di sekolah.

Ketika mendengar ini, Shangyuan menatap Gu Yu.

Seharusnya tidak hanya disebut pembohong.

... Pembohong ulung.

Tapi Shen Teng masih agak bingung.

"... Kenapa dia bercanda dan menyebutmu, bukan mencari orang lain?"

"Aku tidak tahu, kau harus bertanya padanya."

Melihat wajah dingin Bo Shangyuan membuat orang merasa takut, dan Shen Teng tidak berani untuk bertanya.

Yang lain melihat penampilan Gu Yu bukan orang yang suka berbohong, jadi mereka langsung percaya pada retorika Gu Yu, berpikir bahwa Shangyuan benar-benar hanya bercanda.

Semua orang mendesah.

Siapa sebenarnya kekasih Shangyuan? Mereka benar-benar ingin tahu.

Shangyuan menolak untuk menjawab jadi semua orang tidak terus bertanya dan mengubah topik pembicaraan.

Duduk di tumpukan para gadis, Xia Ruojin menatap Gu Yu dan menggigit bibirnya.
.
.

Tiga setengah jam kemudian.

Pada pukul 5:30, dengan dering bel, pelatihan militer akhirnya berakhir.

Orang-orang berdiri dari tanah perlahan-lahan, dan ekspresi di wajah mereka penuh keengganan.

"Pelatih, kami tidak bisa melepasmu ..."

"Huaaaaa, pelatih ..."

"Pelatih, bisakah kita bertemu lagi nanti?"

"Pelatih, tambah QQ!"

Para siswa mengelilingi pelatih dan meminta nomor QQ juga id WeChat.

Gu Yu diam berdiri di tempat yang sama, tidak responsif. Tidak ada niat untuk maju.

Shen Teng yang melihat adegan itu, mau tidak mau menggunakan sikunya untuk menyenggol pinggang Gu Yu. "Apa kita juga harus minta id WeChat pelatih?"

Wajah Gu Yu tenang dan bertanya retorik. "Setelah menambahkannya, lalu apa?"

"Chatting lah!"

Gu Yu kemudian bertanya. "Apa yang akan kau bicarakan?"

Shen Teng mendengar kata-kata itu, tiba-tiba diam.

Ya, setelah menambahkannya, apa yang dia bicarakan?

Sepertinya ... tidak ada yang perlu dibicarakan?

Xia Ruojin tiba-tiba datang ke depan keduanya.

Tidak, lebih tepatnya di depan Gu Yu.

Xia Ruojin menggigit bibirnya dan berbisik, "Gu tongxue ... apa ada waktu?"

Gu Yu tampak tidak mengerti.

Shen Teng yang disebelahnya langsung mengerti.

Jika tidak salah menebak, itu pasti karena Bo Shangyuan.

Jadi, Shen Teng mendorong Gu Yu, dan menyeringai. "Gadis itu mencarimu, kenapa kau masih berdiri di sini?"

Setelah itu, dia menambahkan. "Kalian temukan tempat untuk berbicara, aku tidak akan mengganggu, aku pulang dulu."

Setelahnya Shen Teng melangkah pergi dengan antusias.

Gu Yu masih berdiri di tempat yang sama, diam memperhatikan Xia Ruojin.

"Ada apa?"

Xia Ruojin mengambil napas dalam-dalam dan berkata, "Ini tidak nyaman, mari kita ubah tempat."

Dia berbalik dan berjalan ke sudut terpencil.

Gu Yu mengernyitkan alisnya, ragu-ragu selama dua detik lalu mengikutinya.

Setelah memastikan tidak ada yang memperhatikan, Xia Ruojin berhenti.

Dia menundukkan kepalanya, meremas sudut bajunya, dan tidak berbicara lama. Sepertinya sangat sulit untuk dibicarakan.

Gu Yu yang melihat Xia Ruojin tidak kunjung bicara akhirnya berkata, "Jika tidak ada apa-apa, aku akan pergi."

Xia Ruojin kaku dan cepat-cepat meraih pergelangan tangannya, buru-buru berkata. "Gu tongxue, jangan pergi!"

Gu Yu menatapnya dan tidak berbicara.

Xia Ruojin mengambil napas dalam-dalam dan mengumpulkan keberanian. "Itu ... Apa Gu tongxue bisa memberitahuku, siapa kekasih Bo tongxue?"

Gu Yu tidak menyangka kalau Xia Ruojin benar-benar menanyakan ini, ekspresinya aneh.

Selain itu, bukankah dia sudah bilang dia tidak mengetahuinya? Kenapa masih datang dan bertanya padanya?

Gu Yu tidak ragu. "Aku tidak ..."

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Xia Ruojin sudah menyela.

"Aku tahu Gu tongxue pasti tahu! Katakan padaku, katakan saja padaku, aku tidak akan pernah memberi tahu orang lain! Aku bersumpah! Jika aku memberi tahu orang lain, aku akan disambar petir!"

Xia Ruojin mengangkat tangannya dan mengucapkan sumpah dengan serius.

Gu Yu menatap aneh keseriusan Xia Ruojin.

"Kenapa kau menanyakan ini?"

Xia Ruojin berbisik, "Aku ... aku hanya penasaran ..."

Tapi penampilan yang baru saja dibuatnya jelas bukan hanya karena penasaran.

Tapi Gu Yu tidak menyanggah.

"Kau salah, aku benar-benar tidak tahu."

Xia Ruojin tiba-tiba terisak. "Kau tidak harus memberi tahu namanya, beritahu saja apa dia siswi SMA Chengnan. Apa masih tidak bisa?"

Gu Yu mengerutkan kening, tidak bisa mengerti mengapa Xia Ruojin begitu gigih.

Bahkan jika dia mengetahuinya, apa yang akan dia lakukan? Mengubah keadaan?
  
Xia Ruojin masih terisak dan berbisik, "Kalau aku tahu, aku akan menyerah. Jika aku tidak tahu ... Aku tidak menahan diri dan selalu membayangkan bahwa dia sebenarnya tidak punya kekasih.  Bayangkan kebohongan-kebohongan yang keluar dari orang lain ... Aku tahu ini sangat memalukan, tapi aku benar-benar ... menyukainya."

Gu Yu diam dan terlihat rumit.

Dia tidak menyukai siapa pun, jadi dia tidak bisa mengerti.

Xia Ruojin terus berbicara. Dia menyeka air matanya dengan lengan bajunya.

"Ini aneh, dia jelas tidak melakukan apa-apa, dan dia tidak ingin bicara denganku, tetapi aku menyukainya, sangat menyukainya."

"..."

Xia Ruojin tersedak. "Apa aku terlihat sangat memalukan? Aku sudah berkali-kali mengatakan pada diri sendiri jangan mempermalukan diri lagi, tetapi aku tidak bisa menahannya ... Setiap melihatnya, aku tidak tahan untuk berbicara dengannya, walaupun dia tidak pernah peduli."

"..."

Xia Ruojin terus berbicara. Moodnya semakin rendah.

"Kenapa dia tidak menyukaiku? Apa yang harus aku lakukan supaya dia menyukaiku?"

Gu Yu hanya bisa memandang Xia Ruojin.

Dia tidak mengerti.

Dia tidak mengerti mengapa Xia Ruojin sangat menyukainya.

Dan tidak bisa mengerti, apa yang bagus dari Shangyuan untuk disukai.

Xia Ruojin masih menangis, tiba-tiba meraih tangan Gu Yu, menatapnya dengan mata memerah, "Gu tongxue, kau bisa memberitahuku kan? Aku mohon dengan sangat."

Gu Yu akhirnya berbicara. "Dari sekolah lain."

Gu Yu sudah biasa menabur begitu banyak kebohongan, dan tidak ada pengecualian untuk yang satu ini.

Xia Ruojin tertegun, setelah beberapa saat, dia mengerti apa yang dimaksud Gu Yu.

Dia buru-buru bertanya. "Berapa tinggi badannya?"

Gu Yu ragu-ragu selama dua detik, "... 168."

... lebih tinggi dari dirinya.

Memikirkan hal ini, hati Xia Ruojin lebih masam.

"Apakah dia imut?"

"Tidak imut."

"Bagaimana dengan nilainya?"

"Itu juga tidak bagus."

/ ini sih Gu Yu menggambarkan diri sendiri, wk /

Xia Ruojin tertegun. "Kenapa Shangyuan menyukainya?"

Gu Yu terdiam selama dua detik.

"... Aku tidak tahu."

Setelah mendengar jawaban ini, Xia Ruojin tiba-tiba mengerti.

Mata berubah sendu. "Ya tentu saja, suka ya suka, tidak perlu alasan ..."

Gu Yu diam.

Akhirnya, Xia Ruojin bertanya. "Apa Bo tongxue sangat menyukainya?"

Gu Yu diam untuk waktu yang lama. Setelahnya dia bergumam mengiyakan.

Xia Ruojin menatap ujung sepatunya, mendadak suram.

Setelah beberapa saat, Xia Ruojin menarik sudut mulutnya dan menunjukkan senyum lebar pada Gu Yu.

"Terima kasih karena sudah memberi tahuku. Aku akhirnya bisa menyerah. Kau tenang saja, aku tidak akan memberi tahu orang lain."

Gu Yu tidak menjawab.

Xia Ruojin memikirkan sesuatu, dia ragu-ragu bertanya. "Apa luka di wajahnya itu, Meng Yifan yang melakukannya?"

Gu Yu hanya menatapnya diam, tidak tahu.

Xia Ruojin menggigit bibirnya. "... Tolong katakan maaf pada Bo tongxue dariku."

Gu Yu bergumam mengiyakan.

Kemudian, Xia Ruojin menatap langit lalu dengan kuat mengangkat senyum dan berkata pada Gu Yu. "Maaf, sudah buang waktumu."

Gu Yu merespon tidak apa.

Xia Ruojin tersenyum dan berkata, "Aku tidak berbicara denganmu sebelumnya, aku pikir teman Gu tongxue sangat sulit bergaul. Aku tidak menyangka kau sangat lembut."

Gu Yu sedikit bereaksi.

... lembut?

Setelah itu, Xia Ruojin tampak ragu membisikkan sebuah kalimat. "Itu, tentang aku yang suka Bo tongxue, Apa kau bisa merahasiakannya dari orang lain?"

Gu Yu bergumam mengiyakan.

Xia Ruojin sangat lega, "Terima kasih!"

"Apa ada hal lain?"

Xia Ruojin menggelengkan kepalanya.

Dengan begitu Gu Yu pamit lalu berbalik dan pergi.

Melihat kepergian Gu Yu, Xia Ruojin menatap tanah.

Dibilang menyerah, ternyata semudah itu...

Setelah Gu Yu kembali ke rumah, dia ragu-ragu untuk waktu yang lama sebelum membuka WeChat dan mengirim pesan pada Shangyuan.

[ Xia Ruojin memintaku untuk menyampaikan pemintaan maaf. ]

Shangyuan membalas sangat cepat.

[ Untuk apa. ]

[ Karena luka di wajahmu itu disebabkan oleh Meng Yifan, jadi dia minta maaf. ]

[ Oh. ]

[ Apa lagi yang dikatakan. ]

Gu Yu melihat balasan ini dan tiba-tiba teringat percakapannya tadi.

Gu Yu terdiam selama dua detik dan tidak ragu untuk berpura-pura mati.

- Xia Ruojin sudah menyuruhnya berjanji untuk tidak mengatakannya pada orang lain.

Di sisi lain Shangyuan yang sudah mengirim dua pesan dan belum dijawab, mengangkat alisnya, dia langsung mengirim seribu yuan tanpa ekspresi.

Benar saja, Gu Yu yang masih pura-pura mati, tiba-tiba 'hidup'.

[ Kenapa kau mengirimku seribu yuan? ]

[ Uang saku dari Paman. ]

[ ...... ]

Apa alasan Xia Ruojin sangat menyukai Shangyuan?

Gu Yu benar-benar tidak bisa mengerti.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments