21. Wanita itu juga tokoh utamanya

"Is-istri?" Guo Zhi tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Ia melihat tindakan intim mereka dan semua inderanya mulai mati rasa. Apa ini bisa diterima? Haruskah ia menerimanya? Kenapa Shi Xi tak cerita? Tapi tak ada alasan bagi Shi Xi untuk memberitahunya kan?! Pikiran Guo Zhi semakin berkecamuk.

Tiba-tiba Guo Zhi menggeleng kuat dan mundur. "Maaf, aku tak tahu ada orang didalam. Maaf mengganggu. Aku pergi. Maaf." Setelah mengatakan itu ia bersiap lari namun Shi Xi menahan tangannya. "Hey."

"A-aku tidak ingin menghancurkan rumah tanggamu."

"Apa kau bodoh?"

"Shi Xi, siapa dia? Apa kau selingkuh dariku?" Wanita itu berteriak marah.

"Dia tidak pernah selingkuh, sungguh, kami tidak ada hubungan apa-apa!" Elak Guo Zhi.

"Benar tidak ada yang terjadi diantara kalian?" Wanita itu lanjut bertanya.

Wajah Guo Zhi memucat begitu ingatannya kembali ketika Shi Xi menciumnya. Ia gugup, "Kami hanya..." kalimatnya tertahan karena Shi Xi langsung membekap mulutnya.

Wanita itu melepas pelukannya lalu menunjuk Shi Xi dengan ekspresi terluka. "Kau! Biarkan dia mengatakannya!"

Shi Xi menatap wanita itu dingin. "Berapa lama lagi kau akan bermain?"

"Sialan! Padahal sedikit lagi..." wanita itu mencebik sebal, dia beralih menatap wajah muram Guo Zhi. "Menyenangkan sekali bisa mengerjainya."

Guo Zhi menatap wanita itu ketika Shi Xi melepasnya. "Mengerjaiku? Kalau begitu kau bukan istrinya?" Karena terlalu syok, dia baru sadar kalau wanita ini tampak lebih dewasa, mungkin diatas dua puluh tahun. Wajahnya bersih namun terlihat evil. Dua kombinasi yang sempurna.

Wanita itu dengan serius merespon, "Tentu saja aku istrinya."

Wajah Guo Zhi kembali memucat.

"Apa kau tidak bisa menutup mulutmu?!" Timpal Shi Xi.

"Tidak bisa."

Guo Zhi semakin bingung dengan percakapan kedua orang didepannya. Wanita itu melihat Guo Zhi yang terlihat menyedihkan. "Shi Xi, sepertinya temanmu ini tak memiliki IQ yang tinggi. Dengarkan aku, adik, apa kau bisa menikah diumurmu saat ini?" Guo Zhi menggeleng, wajahnya berubah sedikit cerah. "Lalu kau siapa?"

"Aku tunangannya." Respon wanita itu cepat dengan wajah serius. Guo Zhi kembali memucat.

"Dia bibiku." timpal Shi Xi.

Wanita itu melipat tangannya, "Membosankan, kenapa kau mengatakannya?"

"Bibi?" Guo Zhi memperhatikan wanita itu dan sepertinya membuat keputusan terakhir.

Wanita itu mengambil celananya dilantai lalu memakainya dihadapan kedua lelaki itu. Untung saja kaosnya cukup panjang jadi bisa menutup bagian yang tidak seharusnya diperlihatkan. Dia memakainya tak peduli sekitar. Dia datang dengan tergesa tadi malam tanpa membawa pakaian ganti. Begitu dia mandi, Shi Xi memberikan kaosnya dan pergi tidur di asrama kampus.

"Apa kau buta? Masih ada orang lain disini."

"Imej indahku hanya kuperlihatkan didepan priaku. Jika aku berpura-pura malu, kau perlu berhati-hati."

Shi Xi terlalu malas untuk mempedulikan bibinya, ia beralih menatap Guo Zhi. "Kenapa kesini?"

"Ah, benar. Hua er memintaku menempel posternya dikamarmu." kata Guo Zhi sambil menyerahkan gulungan poster, Shi Xi menerimanya lalu dibuang ketempat sampah. "Kau bisa pergi."

"Biarkan dia pergi, kau memanggilku datang dan bilang kau sekarat padahal kau hanya butuh bahan. Kau benar-benar keponakan yang penuh pengertian, aku sangat tersentuh." Bibinya melanjutkan sambil menggertak giginya. "Apa kau tahu bagaimana menyakitkannya meninggalkan kekasihku? Rasanya seperti tertusuk ribuan pisau."

"Kenapa kau tak terlihat seperti orang terluka?"

"Tidak mungkin, cinta menguatkan bagian vitalku." Wanita itu berkata dengan tak tahu malu. Dia kembali melirik Guo Zhi, "Halo, adik. Namaku Dan Ju.

"Aku Guo Zhi." Ia sedikit sungkan, menghormati yang lebih tua.

"Kau menyukai Shi Xi, benar kan?" Pertanyaan frontal itu membuat Guo Zhi seketika pucat. Dia melangkah mundur, menggeleng panik. "A-aku tidak!"

"Beraninya kau mengelak! Keluarga kami tidak menerima hal seperti ini!" Ucap Dan Ju serius.

Wajah Guo Zhi mengerut. "Aku tidak bermaksud, sungguh."

"Kau masih belum selesai?" Shi Xi mendelik pada bibinya.

"Tentu saja. Bagaimana bisa aku berhenti menggoda orang dengan kepribadian seperti ini." Dimata Dan Ju, Guo Zhi sangat lucu. Semakin dibully, semakin lucu responnya membuatnya tak bisa berhenti. Dan Ju melanjutkan, "Tenang saja, adik. Aku orang yang berpikiran terbuka. Hal kecil seperti itu, aku bisa menerimanya."

Mata Guo Zhi melebar tak percaya akan pendengarannya. Ia dengan seksama mengamati ekspresi Dan Ju, perkataannya sama dengan ekspresinya. Wajah Guo Zhi berubah cerah. "Kau tak masalah aku menyukai lelaki?"

"Baguskan? Bukan hanya kau saja, aku juga suka pria. Kita berdua sama."

"Tapi aku laki-laki. Kau tidak merasa pria menyukai pria adalah hal yang sangat serius?"

"Seserius itu kah?" Gumam Dan Ju menyentuh dagunya. Dia tak pernah berpikir hubungan pria dan pria adalah hal yang mengejutkan. Dan Ju melanjutkan, "Mungkin ada kaitannya dengan pendidikan ditaman kanak-kanak. Bukankah begitu, Shi Xi?"

Shi Xi membuka laptopnya. "Aku tak ingin membahasnya."

"Aku sudah menggantikan ibumu dan berusaha merekomendasikanmu keluar dari sana, kau tak mengapresiasi dan berterima kasih?"

"Sudah kubilang, aku tak ingin membahasnya."

"Bagaimana bisa aku membiarkanmu?" Dan Ju tersenyum pedih, tentu saja dia tidak akan melepaskan keponakannya. Ketika dia memberi tahu ibu Shi Xi, sekolah itu bisa mengembangkan bakat Shi Xi. Kampus yang luas membuat para siswa lebih berpikiran terbuka. Lingkungan yang elegan memungkinkan siswa untuk berperilaku lebih elegan, dengan fasilitas canggih, pendidikan berkualitas, dan guru yang lembut yang mencintai siswa. Sebenarnya, ini semua omong kosong, sekolah bukan mimpi buruk, guru adalah mimpi buruk.

Shi Xi mendelik pada Dan Ju membuat wanita itu berbalik menepuk bahu Guo Zhi. "Adik, aku bosan. Bawa aku jalan-jalan ke kampusmu."

"Aku sarankan kau tak melakukan hal bodoh." Shi Xi peringatkan Guo Zhi.

"Tapi aku ingin mengajak..." Apa yang harus dipanggilnya? Tidak sopan jika hanya memanggil nama.

"Panggil saja aku girl, lady, atau cantik..."

"Tapi aku ingin mengajak girl berkeliling."

Shi Xi menatap Guo Zhi. "Kau ingin cari mati."

"Girl benar-benar orang yang baik. Dia tidak berpikir aku orang aneh." Guo Zhi merasa orang yang tidak membenci hubungan sejenis adalah orang baik.

"Kau benar, aku adalah orang yang baik." Dan Ju yang tak pernah mendapat pujian dari orang lain merasa bangga sambil menepuk punggung Guo Zhi. Dia beralih melihat Shi Xi, "Hey, Shi Xi. Apa lagi yang kau tunggu? kurasa Guo Zhi anak yang baik. Kau bisa menindihnya diranjangmu." Shi Xi tak merespon.

Guo Zhi yang baru pertama kali mendengar kalimat seperti itu langsung memerah hingga ke telinga. "Girl, a-apa yang kau bicarakan?!"

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments