20. Kata-katanya menyedihkan

Pelatihan militer berlangsung dibawah terik matahari. Wajah Guo Zhi memerah, keringat mengalir keluar dari topi loreng yang dikenakan, sesekali ia menjilat bibirnya yang kering. Mahasiswa baru lainnya mengeluh namun Guo Zhi menikmatinya. Dia pikir pelatihan militer seperti ini sangat bagus untuk kesehatan.

Pelatih meniup pluit, "Berdiri semua! Istirahat 30 menit! Barisan bubar!

Mahasiswa pun mulai berpencar, ada yang pergi makan, mengobrol satu sama lain, ada juga yang duduk diatas rerumputan dan beristirahat.

Guo Zhi melepas topi dan menggantungnya dibahu. Ia pergi ke minimarket dan membeli air mineral. Guo Zhi melihat Shi Xi duduk dibawah pohon yang tak terlalu jauh dari lapangan saat ia akan kembali.

"Shi Xi!" Panggil Guo Zhi dengan senang.

Shi Xi tak merespon, sibuk membaca buku.

"Kau tidak butuh pelatihan militer?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena aku lemah."

Wajah Guo Zhi berubah cemas. "Apa yang salah dengan tubuhmu? Apa bisa disembuhkan?"

"Tidak." Jawab Shi Xi tenang, masih fokus dengan buku ditangannya. Orang bodoh pun tahu itu hanya kebohongan namun Guo Zhi percaya.

"Bagaimana ini? Kau jangan pesimis, pasti ada cara untuk sembuh. Aku akan menghubungi 120 untuk mengirimkan ambulans dan membawamu kerumah sakit." Guo Zhi mengeluarkan ponselnya.

"Aku bercanda." Cegah Shi Xi sambil mengangkat kepalanya menatap Guo Zhi.

Guo Zhi tak marah, ia mendesah lega. "Untunglah kau tak menderita penyakit mematikan."

"Kau benar-benar bukan spesies dari dunia ini."

"Alien yang kulihat di TV tidak mirip denganku."

Shi Xi tak lagi merespon percakapan tak penting ini.

Guo Zhi beralih duduk disebelah Shi Xi. Mengamati teman-teman seangkatan mereka yang berbaur berinteraksi penuh canda dan tawa dilapangan, mengenakan seragam loreng.

"Lihatlah betapa bahagianya dunia ini."

"Aku tak menulis tentang dunia yang bahagia!"

"Bahagia adalah bahagia, bagaimana kau bisa menulisnya menjadi kesedihan?" Guo Zhi tak percaya.

Shi Xi menengadahkan tangan, menggerakkan jemarinya. Guo Zhi segera mengeluarkan kertas dan pulpen dari saku seragam lorengnya. Dia sungguh membawanya!

Guo Zhi menunjuk pasangan pria dan wanita yang sedang bergurau dilapangan. Si pria mengusak rambut si wanita hingga berantakan lalu berlari, si wanita mengejar dibelakangannya dengan wajah merona sambil menggerutu.

Shi Xi mulai menulis, wajahnya tak berekspresi. Setelah beberapa saat, kertas itu diberikan kembali pada Guo Zhi. Walau tulisannya berantakan, Guo Zhi tak kesulitan untuk membacanya.
    
[Dia tidak memiliki cinta untuknya, tetapi penampilan naluriah dan daya tarik fisik. Apakah dia mengenalnya? Apakah dia akan menikahinya? Tidak, masa mudanya masih panjang. Dia membutuhkan kesenangan daripada komitmen. Dia sekarang mengusak rambutnya. Dia sekarang memiliki kelembutan di matanya, dan dia akan menyakiti hati wanita itu nanti. Wanita itu mengejar di belakangnya, tetapi dia tidak pernah bisa menyusulnya. Dia sekarang merona malu, dan wajahnya akan dipenuhi air mata. Ketika dia bosan mengejar, dia akan berhenti, melihat orang lain, dan ingin mengejar orang lain, sehingga gambar diulang, tetapi dapatkah ini menyalahkannya? Hidup selalu diulang, sehingga setiap cinta dalam hidup diulang, bersama, berpisah, bersama, berpisah, bersama, berpisah, dan mati.]
   
Guo Zhi melepas pandangannya dari kertas kearah pasangan yang sedang bergurau disana lalu menggigit bibirnya. Guo Zhi beralih menunjuk pria yang sedang duduk sambil mengorek lubang hidung. "Bagaimana kau menulis tentangnya?"

Kertas kembali diserahkan pada Shi Xi. Tak lama, Guo Zhi menerima dan mulai membaca.

[Setiap orang memiliki ruang kosong di hatinya. Jika orang lain tidak bisa masuk, mereka tidak bisa pergi. Dia duduk di tanah yang panas tetapi tidak memiliki perasaan. Dia tidak bisa mengubah penampilannya. Tidak ada yang mau memandangnya lebih jauh. Dia ingin menarik perhatian orang lain, namun dia ragu-ragu, menyakitkan, merusak martabatnya, mengangkat tangannya dan memasukkan jari-jarinya ke hidung, tetapi dia tiba-tiba merasa bahwa dia konyol, dan bahkan sedikit sedih, jadi apa yang bisa diterima, hanya ejekan. Lebih baik berada dikekosongan hatinya sendiri, dimana tak ada yang menyakitinya. Meskipun hanya ada kesepian, kesepian itu tidak akan membuatnya sakit.]
    
"Dia hanya sedang mengorek lubang hidung!"

"Sangat menyedihkan."

"Disebelah mana?"

"Jangan terlalu naif, semua orang memiliki kesedihan mereka sendiri, kau hanya tak bisa melihatnya."

"Tapi setiap orang juga memiliki kebahagiaan mereka sendiri, kenapa kau tak melihatnya?" Pertanyaan Guo Zhi tak mendapatkan jawaban. Guo Zhi kini memperhatikan berbagai macam jenis tingkah dan rupa orang-orang yang sedang beristirahat dilapangan. Mereka memakai seragam yang sama namun mereka adalah pribadi yang berbeda.

Guo Zhi berdiri dan memeluk batang pohon, kembali bersuara, "Shi Xi, aku pikir kau pasti akan menulis fiksi yang baik suatu hari nanti dan akan mengesankan banyak orang. Pemeran utama difiksimu akan seperti di negeri dongeng dimana hanya akan adalah satu hal diakhir cerita, mulai saat ini mereka akan hidup bahagia selamanya."

Guo Zhi yang selalu membanggakan Shi Xi, tak bisa melihat kesedihan dari sudut pandangnya membuat Shi Xi tak bisa menulis tentang Guo Zhi.

Angin bertiup pelan, Shi Xi duduk dan Guo Zhi berdiri disampingnya, mereka berada dibawah pohon. Sinar matahari menembus celah dedaunan dan jatuh ketanah menghasilkan berbagai bentuk bayangan.

Keduanya melihat pemandangan yang sama namun punya pandangan yang berbeda. Suatu saat dunia mereka akan berbaur menjadi satu, ditanya karena apa, jawabannya tentu saja karena cinta.
.
.

Keesokan harinya, Hua Guyu datang ke sesi siang pelatihan militer untuk menemui Guo Zhi sambil membawa satu gulungan poster.
    
"Guo Zhi, kau kuberi tugas."

"Apa?"

"Letakkan ini dikamar Shi Xi."

"Apa ini?" Tanya Guo Zhi mulai membuka gulungan poster itu namun dicegah Hua Guyu, "Jangan sampai dilihat orang lain. Mereka akan merebutnya. Ini foto pribadiku yang sengaja aku cetak."

"Menempelnya dikamar Shi Xi?"    
 
"Aku bahkan menggunakan Mito Xiu Xiu untuk membuat wajahku semakin tampan dan sempurna. Aku akan membiarkan Shi Xi iri sampai mati." Hua Guyu menggertak giginya.
    
"Apa dia mau?"

"Pasti, pasti, tolonglah!" Hua Guyu sok tahu sambil menampakkan ekspresi memelas.

"Baiklah!"

Guo Zhi pun pergi keluar kampus dengan poster ditangannya. Dia berjalan dengan hati-hati mengingat rute terakhir kali ia lewati hingga berhasil sampai di apartemen Shi Xi.

Setelah menaiki lift, Guo Zhi tiba didepan kamar Shi Xi dan mengetuknya. Tak lama, Shi Xi membuka pintu, rambutnya masih basah tampak baru selesai mandi.

"Kenapa kesini?"

"Aku datang untuk..." Guo Zhi baru akan menyelesaikan kalimatnya, ada suara malas yang menginterupsi, "Siapa itu?" Suara seorang wanita dari bawah selimut ditempat tidur.

Siapa? Dada Guo Zhi terasa sesak dan suasana mendadak tak nyaman. Ia menatap Shi Xi. Mungkinkah dia mulai menulis fiksi erotis jadi menemukan wanita untuk menjadikan bahan fiksinya? Shi Xi bisa saja melakukan hal itu namun Guo Zhi tak percaya. Ia masih memikirkan sisi baiknya.

"Shi Xi, bukannya kau bilang tak punya teman?" Guo Zhi bertanya dengan canggung.

Bibir wanita itu berkedut, ia menyibakkan selimut beranjak dari kasur dengan rambut berantakan. Dia memakai kaos Shi Xi tanpa bawahan mengekspos kaki jenjangnya. Dia menatap Guo Zhi, ada pandangan menggelikan dimatanya seakan mengatakan bagaimana bisa Shi Xi mengenal orang seperti Guo Zhi.

Wanita itu berdiri dibelakang Shi Xi, memeluk pinggang Shi Xi erat, dan menopang dagunya dibahu Shi Xi. "Aku bukan temannya, aku adalah adalah istrinya."

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments