2. Tidak ada yang dinantikan

Ketika Shangyuan membuka pintu rumahnya, sosok Ibu Bo* tertangkap oleh pupil matanya.

*Ibunya Bo Shangyuan.

Ibu Bo mengambil lap dan dengan hati-hati menyeka setiap sudut ruang tamu. Tindakannya itu tampak seperti istri dan ibu yang baik.

Menatap pemandangan di depannya, suasana hati Shangyuan menjadi buruk dengan sangat ekstrim. Ia yang masih bersandar di pintu masuk, bersuara dingin. "Masih belum pergi? Kenapa? Sudah kecanduan jadi istri dan ibu yang baik?"

Pagi tadi ibu Gu datang bertamu, dan Ibu Bo langsung menyambutnya dan bercerita dengan hangat, persis seperti penampilan istri dan ibu yang baik.

Shangyuan sangat muak. Karena ada orang luar, dia tidak membongkar kebohongan itu. Dia pikir wanita itu akan segera pergi, tetapi Shangyuan tidak menyangka wanita itu masih disini.

Perasaan Shangyuan saat ini sangat buruk.

Ibu Bo mendengar kata-kata itu dan tubuhnya kaku, dia berbalik dan melihat ke arah pintu masuk. Dia tersenyum, "Shangyuan..."

Shangyuan melihat jam didinding. "Kalau kau tidak kembali, suamimu akan cemas."

Ketika berbicara tentang kata suami, itu terdengar seperti cemoohan.

Senyum di wajah ibu Yan berubah kaku.

Orangtua Shangyuan menjalani pernikahan bisnis, karena tidak ada perasaan, keduanya tidak akur satu sama lain, jadi setelah dua tahun menikah, mereka berdua berselingkuh. Keduanya masing-masing punya kekasih di luar, punya anak, dan cinta yang erat.

Adapun Shangyuan... secara alami, diabaikan oleh keduanya. Mereka peduli tentang Shangyuan, hanya sebagai anak yang lahir untuk meneruskan keluarga.

Meskipun keduanya memberikan dukungan materi, apa yang disebut kasih sayang orangtua tidak pernah dirasakan Shangyuan.

Sebagaimana mestinya, Shangyuan tidak memerlukan itu hari ini.

Setelah jeda dua detik, ibu Bo kembali tersenyum dengan natural. "Apa kau sudah makan malam? Jika belum, ibu akan membuatkannya untukmu."

"Aku tidak membutuhkannya." Respon Shangyuan dingin.

Ibu Bo seperti tidak mendengarnya dan kembali bertanya, "Apa kau mau makan pancake? Atau sup? Bubur? Apa kau suka bubur manis atau bubur asin?"

"Apa bibi ini akan pergi sendiri, atau aku harus meminta penjaga keamanan untuk datang dan menyuruhmu pergi?"

Senyum di wajah Ibu Bo seketika menghilang tanpa bekas. Shangyuan sama sekali tidak membuat lelucon.

Ekspresi Ibu Bo mendung dan suram, seolah-olah dia berumur dua puluh tahun lebih tua dari usianya. Dia menghela nafas dan kelelahan, "Ibu hanya ingin menebus semuanya, kenapa kau harus menolak ibumu ribuan mil..."

"Aku tidak punya ibu." Potong Shangyuan tanpa ekspresi.

Ibu Bo menatap mata yang tanpa emosi itu, dan semua kalimatnya tertahan di tenggorokan.

Ruangan itu seketika hening.

Melihat Shangyuan tidak bergerak, ibu Bo terdiam selama beberapa detik, mengambil dompet di sofa ruang tamu, bangkit untuk pergi.

Ketika berjalan ke pintu, Ibu Bo tidak bisa menahan diri untuk berbalik dan berkata, "Jika tidak ada uang, teleponlah ibu..."

"Aku tidak punya ibu." Potong Shangyuan sekali lagi dengan suara samar.

Perkataan Ibu Bo tertahan, dan memilih menutup pintu.

Setelahnya pada detik berikut, ponsel Shangyuan tiba-tiba berdering. Dengan dahi berkerut, dia mengeluarkan ponsel dan membaca pesan masuk.

[ Nomor akun Anda 8233 telah ditransfer pendapatan sebesar 500.000 yuan pada 8 Agustus 2018. [XXmoney/ok] ]

Shangyuan hanya melirik sekilas lalu kembali menyimpan ponselnya.

Dari awal hingga akhir, emosinya sama sekali tidak tergerak.

Dalam dua tahun terakhir, Ibu Bo tiba-tiba menyesal dan ingin menebus semuanya. Namun, Shangyuan sudah 16 tahun, dan tidak ada lagi yang diperlukan dari sesuatu yang disebut kasih sayang seorang ibu.

Ini mungkin berguna di tahun-tahun awal.

Tapi sudah terlambat.

Tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Shangyuan melihat nomor yang tertera dilayar dan tidak bereaksi. Setelah beberapa detik, dia akhirnya menjawab panggilan itu.

Setelah terhubung, pria di ujung telepon tak tahan untuk berteriak, "Shu Hui baru saja datang, dan kau langsung pindah. Apa maksudmu?"

Hening diseberang, kini terdengar suara wanita berbisik di telepon, "Shangyuan tidak suka padaku, aku lebih baik pindah..."

Suara wanita tenggelam ditimpal dengan kalimat menenangkan yang lembut oleh pria itu, lalu sekali lagi mengeraskan volume suaranya menjadi lebih parah ditelepon. "Jika kau tidak suka Shu Hui, katakan saja..."

Tanpa menunggu, Shangyuan langsung meludahkan tiga kata dengan suara dinginnya. "Aku tidak suka Shu Hui."

Setelah itu, dia langsung menutup telepon dan kemudian menyeret nomor tersebut ke daftar hitam tanpa ekspresi.
.
.

Dua hari kemudian adalah hari terakhir liburan.

Malamnya, Shen Teng tampak tiba-tiba memikirkan sesuatu, dan dengan cepat mengirim pesan pada Gu Yu di WeChat.

[ Xiao Yu Yu Yu Yu Yu Yu Yu!!! ]

[ Apa kau di sana? ]

[ Ada apa? ]

[ Kenapa kau ingin menambahkan yang lain? Apa aku menyebalkan? ]

[ 😭 ]

[ Aku akan tidur jika tidak ada apa-apa. ]

Setelah mengirim pesan ini, Gu Yu menutup telepon dan benar-benar siap untuk berbaring dan tidur.

Namun di detik berikutnya, ponsel kembali menyala dalam sekejap.

[ Jangan tidur, jangan tidur! ]

[ Kita sudah lama tidak bertemu, apa kau mau kita pergi mendaftar bersama di sekolah besok? ]

Gu Yu mengangkat ponselnya lagi, memandangnya, dan kemudian membalas 'hmm' dengan singkat.

Seperti kenyataan, Gu Yu juga tidak banyak bicara di WeChat.

[ Bagaimana dengan Itu... Besok kan tidak ada kelas ... ]

[ Setelah selesai mendaftar, apa kau ingin pergi ke rumahku untuk bermain game? ]

[ (*'▽'*)♪ ]

Umumnya, siswa baru akan mendaftar di sekolah pada hari pertama, dan belum ada kelas. Lalu hari berikutnya adalah tes simulasi. Itu juga dikenal sebagai tes dasar. Penempatan kelas didasarkan pada hasil tes. Setelahnya, pelatihan militer 15 hari dan kemudian kelas resmi dimulai.

[  ...... ]

[ Itu memang poin utamamu kan? ]

[ Hehe, tidak bisakah big bro pergi? ]

[ Pergi. ]

Meskipun Gu Yu memainkan game, tetapi pada kenyataannya, dia sebenarnya tidak tertarik dengan game. Tapi selama dia tidak di rumah, dia dapat melakukan apa pun yang diinginkan.

[ Ok! Kalau begitu sudah sepakat! ]

[ Sampai jumpa di gerbang sekolah besok! ]

[ Hm. ]

[ Aku akan tidur. ]

[ Dadah big bro! ]

Gu Yu meletakkan ponselnya dan hendak tidur. Suara Ibu Gu tiba-tiba terdengar di luar pintu, "Gu Yu, apa kau sudah tidur?"

Kelopak mata kanan Gu Yu berdenyut. Dia diam selama dua detik sebelum menjawab, "Belum."

Kemudian, dia hanya mendengarkan Ibu Gu bersuara dari luar pintu, "Jangan lupa apa yang ibu katakan dua hari terakhir. Jangan lupa mengajak tetangga sebelah ketika kau pergi mendaftar besok. Ketika sampai di sekolah, kalian bisa saling membantu satu sama lain."

Gu Yu tidak berbicara.

Ibu Gu belum selesai, "Ketika kau mengetuk, ingat untuk tersenyum, jangan tampakkan wajah surammu seharian."

Gu Yu masih tidak berbicara.

"Lihatlah Shangyuan, dia sopan dan cerdas. Ketika melihat ibu, dia akan memanggil Bibi. Lihat dirimu, setiap kali Tahun Baru, dan bertemu kerabat kau tidak menyapa, tidak sopan dan bodoh."

Ibu Gu berdiri di luar pintu dan berbicara tanpa henti. Ayah Gu melihat jam dan memanggil Ibu Gu, "Sudah larut. Besok dia harus pergi ke sekolah lebih awal untuk mendaftar jadi jangan bicara lagi, biarkan dia tidur."

Ibu Gu berhenti. Namun, sebelum pergi, dia juga membuat kalimat khusus, "Jangan lupa apa yang ibu katakan, ingat untuk mengajaknya besok ketika kau pergi mendaftar!"

Mata Gu Yu menerawang, tidak ada kata-kata.

Menurut akal sehat, sehari sebelum siswa baru pergi mendaftar ke sekolah baru, mereka umumnya akan sangat bersemangat, dan namun tidak berlaku untuknya.

Gu Yu duduk dengan tenang di tempat tidur, suram, dengan wajah tenang, tanpa perasaan senang atau gembira di wajahnya.

Gu Yu melihat ke arah pintu dalam diam. Dia tidak memiliki apa-apa untuk dinantikan di sekolah baru.
.
.

Keesokkan harinya, karena waktu ujian untuk tes simulasi hari berikutnya adalah 8:30, sekolah akan menetapkan batas waktu pendaftaran menjadi 8:30 untuk menyesuaikan jadwal siswa.

Karena itu, bahkan jika tidak memiliki kelas, Gu Yu masih harus bangun pagi. Dia bangun jam 7:30, mandi sepuluh menit, mengambil informasi pendaftaran dan meninggalkan rumah, bersiap pergi ke sekolah untuk mendaftar.

Namun, ketika melewati rumah tetangga, Gu Yu memikirkan sesuatu, langkah kakinya berhenti. Dia perlahan berbalik dan menatap pintu rumah tetangga yang tertutup. Dua detik kemudian, Gu Yu mengalihkan pandangannya, berbalik dan pergi.

Baru saja keluar dari gedung apartemen, ponsel di saku berdering. Tentu saja Shen Teng.

[ Big Bro, aku di gerbang sekolah! ]

[ Aku masih punya dua puluh menit. ]

[ Aku menunggumu! ]

[ 🤗 ]

[ Hm. ]

Dua puluh menit kemudian, Gu Yu tiba di depan gerbang sekolah SMA Chengnan. Dia mendongak dan memandang gerbang sekolah yang megah. Hanya sekilas lalu dengan cepat mengalihkan pandangan.

Shen Teng yang telah menunggu di luar gerbang SMA Chengnan, melihat Gu Yu dan bergegas melambaikan tangan. "Gu Yu! Sini!"

Gu Yu melihat wajah yang begitu bersemangat hanya diam sejenak dan kemudian berjalan ke arah Shen Teng. Begitu mendekat, Shen Teng yang telah lama berada di sana, tidak bisa menahan diri dan bersuara dengan wajah yang terkejut. "What the f*ck! Gu Yu, apa kau tahu siapa yang aku lihat? Li Guangze! Dia benar-benar masuk ke SMA Chengnan! Keluarganya pasti sangat kaya!"

Li Guangze, teman sekelas mereka di SMP dengan nilai terburuk.

Setelah itu, Shen Teng tampaknya melihat orang lain lagi, dan dia kembali mengumpat. "What the f*ck! orang bijak hadir sebagai orang biasa¹, untuk menunjukkan warna sejati seseorang bukan orang sungguhan. Apa keluarga Shu Jinpeng sangat kaya?"

¹(idiom) Seorang individu yang benar-benar berbakat tidak bersaing untuk mendapatkan perhatian dengan memamerkan keahliannya.

Shu Jinpeng, orang dengan nilai terburuk kedua di SMP.

Chengnan adalah sekolah menengah terbaik di Kota S. Karena nilai penerimaan yang tinggi, biasanya hanya ada dua jenis siswa di sekolah ini.

Pertama, siswa terbaik.

Kedua, siswa bodoh dengan keluarga sangat kaya.

Karena perbedaan antara skor harus menghabiskan sebagian kecil dari puluhan ribu, harus membayar ratusan ribu biaya sekolah khusus setiap tahun.... Ratusan ribu setahun, tiga tahun lebih dari satu juta, yang dapat terjangkau oleh rata-rata keluarga.

Karena itu, siswa bodoh yang bisa masuk sekolah menengah di Chengnan pada dasarnya adalah orang kaya.

Tentu saja, ada juga siswa yang seperti Gu Yu, mereka adalah siswa seni, dan nilai masuknya lebih rendah daripada skor biasa.

Ah, ada juga siswa dengan nilai bagus dan keluarga kaya.

Namun, ada sangat sedikit orang seperti itu.

Shen Teng yang terkejut melihat mantan teman sekelasnya di SMP, beralih melihat sesuatu dan ekspresinya tiba-tiba berubah.

Gu Yu melihat kebelakang, mengikuti arah pandang Shen Teng, tubuhnya mematung dan berdiri diam selama dua detik, lalu dengan cepat mengalihkan pandangan, dan wajahnya kembali tenang.

Shangyuan. Tinggi dan tampan, meski hanya dengan celana panjang putih, tetapi ditengah kerumunan siswa baru sekolah ini masih menarik perhatian. Kerumunan siswa baru berdiri tempat yang sama, memandang ke arah Shangyuan tanpa berkedip.

Dimana Shangyuan lewat, tingkat antensi setinggi 90%.

Di sisi Shangyuan, Duan Lun melihat pemandangan di depannya, sudut mulutnya tersungging dan bercanda, "Ini SMA, dan pesona Shangyuan kami yang tampan masih belum berkurang ah?!"

Ini adalah kasus di sekolah menengah. Begitu muncul, gadis-gadis di sekitar akan memperhatikan Shangyuan.

Duan Lun menyentuh wajahnya dengan sedikit sendu.

Hei, dia jelas-jelas lumayan.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments