19. Guo Zhi untuk Shi Xi

Guo Zhi memilih fakultas ekonomi, mengikuti perintah ayahnya. Sedangkan Shi Xi memilih psikologi.

Tidak berada dikelas, gedung maupun asrama yang sama. Tidak membuat Guo Zhi putus asa. Selama bisa menemui Shi Xi, Guo Zhi tak peduli.

Banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Shi Xi selama dua bulan liburan musim panasnya. Tentang kamera yang baru dibelinya, tentang dia yang bekerja paruh waktu saat itu dan banyak hal lainnya. Tentu saja dia tidak akan mengatakan kalau selama itu juga ia selalu memikirkan Shi Xi.
.
.

Setelah mengecek nama dan kelasnya, Hua Guyu berbalik dan menyadari Shi Xi berdiri disebelahnya. Melihat perubahan penampilan Shi Xi, dia pun sadar mereka juga berada disatu fakultas. "Aku membencimu. Aku benci dengan seluruh ketampanan yang kumiliki."

"Benar-benar idiot." Shi Xi membalas acuh. Hua Guyu menampakkan ekspresi sakit mengetahui Shi Xi bahkan lebih tinggi darinya.

"Bisakah kau biarkan aku saja yang menjadi tampan?"

"Enyahlah!"

"Sikap macam apa itu? Sudah kuputuskan, aku akan terus berada disekitarmu dan menghujatmu sampai kau menjadi jelek dan tak bisa melihatku lagi."

"Apa kau baru saja menyatakan perasaanmu?"

"Heh, aku tak suka padamu. Cukup si aneh Guo Zhi."

"Hua er." Guo Zhi muncul dan masuk ruang registrasi. Melihat kedatangan Guo Zhi, Hua Guyu membeku dan dengan cepat menampakkan senyum, "Guo Zhi."

"Hua er, kau mengobrol dengan Shi Xi? Aku tak tahu kau juga memilih psikologi."

"Omong kosong. Aku ingin tahu kenapa para gadis sangat menyukaiku." Jelasnya tanpa ragu.

"Benarkah? Tentu saja, karena kau tampan!" Sanjung Guo Zhi jujur.

"Alasan yang dangkal." Hua Guyu berbicara seperti itu namun raut wajahnya begitu sombong. Sebelum pergi, dia menoleh pada Shi Xi. "Jangan lupakan pandangan kebencianku!"

Setelah kepergian Hua Guyu, Guo Zhi beralih menatap Shi Xi. "Kau benar-benar, ah bahkan Hua er menyukaimu."

Shi Xi sudah mulai terbiasanya dengan pujian Guo Zhi. "Kenapa kau kesini?"

"Tentu saja untuk membantu menata kamarmu."

"Aku tidak tinggal di asrama."

"Menakjubkan!"

"Aku tinggal di asrama."

"Benar-benar menakjubkan."

"Aku ingin memukulmu sekarang."    
    
"Bualan macam apa itu? Pria jahat." Guo Zhi meratakan bibirnya.

Setelah menunggu Shi Xi menyelesaikan urusannya. Mereka berjalan keluar namun Guo Zhi tiba-tiba menahan Shi Xi. "Tunggu sebentar, aku akan membantumu menemukan bahan yang bagus."

Guo Zhi mengeluarkan ponselnya, menghubungi Guo Ruojie. "Sepupu, keluarlah bermain."

"Malas." Sahut Guo Ruojie sambil menguap.

"Orangtuaku memberikan banyak cemilan enak untukmu."

"Dimana kau?"

"Aku tunggu digerbang kampus."

Keduanya berdiri digerbang beberapa saat sebelum akhirnya yang ditunggu pun datang mendekat. Guo Zhi dengan antusias menoleh pada Shi Xi. "Itu dia orangnya. Apa yang akan kau tulis? Pelacur?"

"Tidak ada yang spesial dari orang biasa seperti itu untuk ditulis."

"Kenapa tidak? Dia sangat malas. Kau lihat saja rambutnya sangat berantakan, pakaiannya jarang dicuci, terlalu malas untuk melakukan apapun, lebih sering berbaring dikasur, menguap lebar dan menggaruk bokongnya. Bahkan jika resleting celananya terbuka, dia terlalu malas untuk menariknya tak peduli orang lain melihat celana dalamnya." Jelas Guo Zhi dengan detil.

Percakapan tidak sopan ini berlangsung didepan Guo Ruojie.

Guo Ruojie baru saja bangun tidur dan terlalu malas untuk menanggapi. "Mana makanannya?"

Guo Zhi mengeluarkan kantong kresek berisi cemilan dari tas ranselnya. Ia kembali menatap Shi Xi. "Kau lihat, hanya makanan yang bisa menariknya. Bukankah seperti anjing?"

Guo Ruojie mendelik pada Guo Zhi, "Kalau saja kau bukan sepupuku, matilah kau!"

"Sepupu, apa yang kau katakan? Kau terlihat sangat marah."

Guo Ruojie merebut kantong berisi cemilan dari tangan Guo Zhi lalu berbalik dan pergi. Terlalu malas untuk berurusan dengan keduanya.

Guo Zhi membuka galeri foto diponselnya lalu menunjukkan pada Shi Xi sebentar sebelum kembali menyimpan ponselnya.

"Bagaimana? Bagaimana sepupuku akan melakukan prostitusi?" Guo Zhi bertanya penuh gelisah. Orang lain yang kebetulan lewat tak sengaja mendengar dan menatap horor Guo Zhi.

"Dia hanya akan menjadi pelacur tanpa pelanggan."

"Itu...." Guo Zhi ingin berbicara lagi namun melihat perubahan ekspresi Shi Xi walau hanya sedikit, ia bisa menyadarinya. Ia tidak melanjutkan kata-katanya. Tak ingin menganggu Shi Xi yang sedang berpikir.
.
.
.

Tempat tinggal yang dipilih oleh Shixi masih sama seperti sebelumnya. Dulunya itu adalah sebuah hotel lalu diubah menjadi apartemen.

Didepan kamar ada teras lalu didalam terdapat lemari pakaian, kamar mandi yang besar. Hampir mirip kamar single dihotel. Hanya ada satu tempat tidur, sofa dan meja komputer, wallpaper kuning, TV yang tergantung di dinding, kampus dapat dilihat dari jendela. Guo Zhi berdiri disana. Dia menyukai ruangan ini, tidak bisa dijelaskan. Dia merasa nyaman entah karena dekorasi ruangan, atau karena Shi Xi ada disini.
.
.

Setelah selesai membantu Shi Xi menyusun barang-barangnya, mereka kembali ke kampus. Diluar apartemen banyak orang berlalu lalang dengan ponsel ditangan, mendengarkan musik. Sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Guo Zhi berhenti didepan sebuah toko, mengintip kedalam namun ragu untuk masuk. Begitu berbalik, Shi Xi sudah tak berada didekatnya. Guo Zhi belum familiar dengan rute jalan disini. Walaupun ia bisa lihat penampakan bagian atas gedung universitas, Guo Zhi tidak tahu jalan menuju kesana.

"Shi Xi." Teriak Guo Zhi melihat kerumunan.

Seorang wanita melihat Guo Zhi yang kebingungan datang mendekat. "Adik tampan, kami baru saja membuka toko pangkas rambut dengan promo gratis creambath juga potong rambut. Hanya berlaku hari ini. Kau mau ikut denganku? Gaya rambutmu juga butuh diperbaiki."

"Tapi,"

"Gratis. Tukang pangkas kami sangat berpengalaman. Mari ikut denganku."

Guo Zhi mengamati wanita didepannya. Dicuaca sepanas ini, dia bekerja keras mencari pelanggan dan gratis, lalu apa yang akan mereka dapat?!

"Dimana?"  

"Diseberang jalan sana. Aku tidak berbohong padamu. Kau bisa lihat papan nama toko kami." Dengan strategi seperti ini sebenarnya gratis yang ditawarkan tidak sepenuhnya gratis. Mereka bisa mendapat lebih banyak uang hanya dengan rayuan kata-kata.

Belum sempat Guo Zhi mengikuti wanita itu, Shi Xi mencegatnya. "Idiot. Jangan mengikuti orang asing semudah itu." Nada suaranya terdengar marah.

Wanita itu berbalik dan melihat Shi Xi. "Temanmu juga datang. Mari pergi bersama."

"Tidak!" Tolak Shi Xi dingin.

Wanita itu masih mencoba menampakkan wajah ramahnya.

"Apa kau tak pernah membaca sampai tak mengerti ucapanku?"

Wanita itu mendengus sebal lalu pergi mencari pelanggan lain.

"Wanita itu sangat ramah, kau menakutinya."

"Ramah my ass!"

Guo Zhi menunduk dengan bibir merengut. Kening Shi Xi berkerut melihatnya. "Ekspresi apa itu? Bagaimana bisa orang sebesarmu hilang arah?"

"Aku..."

"Gunakan pujian berlebihanmu itu untuk otakmu." Timpal Shi Xi kemudian pergi meninggalkan Guo Zhi yang kini mendongak dengan bibir masih merengut. Ia melihat Shi Xi masuk ke toko ponsel.

Setelah beberapa saat, Shi Xi keluar sambil memegang ponsel baru. "Apa yang kau lakukan disana? Kemari!" Guo Zhi mendekat, "Berikan ponselmu!" Lanjut Shi Xi.

"Kau punya nomor ponsel?" Guo Zhi tak lagi merengut, bibirnya kini melengkung tersenyum.

"Dengan ini aku bisa menemukanmu." balas Shi Xi reflek.

Guo Zhi kembali menerima ponselnya, menggenggamnya hangat. "Sebenarnya tanpa ponselpun kau bisa menemukanku."

"Cepat hapus nomorku."

"Tidak mau." Guo Zhi menyimpan ponselnya dibalik punggung.  
.
.

Mereka tidak sadar dan tidak mungkin untuk merubahnya. Selama waktu terus berputar, perubahan itu akan terjadi. Tak akan ada yang seperti sebelumnya, dan tidak akan ada yang mengulang masa lalu.

Guo Zhi ingin menunjukkan sisi indah dari dunia. Ia tidak berbohong tentang membantu Shi Xi mencarikan bahan fiksinya, mendatangkan teman untuknya dan kemudian membawa perasaannya untuk Shi Xi.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments