18. Kampus dimulai

Setelah liburan singkat, Guo Zhi akhirnya kembali ke rumah. "Aku pulang. Aku bawakan oleh-oleh untuk ayah dan ibu."

"Apa yang kau bawa?" Tanya Zhou Hui sembari menyambut kedatangan anaknya. Guo Zhi masih memakai topi aneh dikepalanya membuat Zhou Hui tak tahan untuk tersenyum. "Kau membeli topi ini?"

Guo Zhi membeku. "Ya."

Dia sudah bertambah besar. Ia mengerti ada hal yang harus disembunyikan demi kebaikan.

"Kau sudah bersenang-senang jadi setelah ini kau harus giat belajar." kata Guo Yunyong.

"Baik."

.
.

Hari ini Guo Zhi duduk didepan komputer dengan harap-harap cemas. Ia menutup matanya, sedikit mengintip hasil ujian masuk universitas dilayar setelahnya ia melompat dan bergegas keruang keluarga. "Aku diterima di kampus Z!"

Rasa lega seketika meringankan gundah Guo Yunyong. Zhuo Hui merasa sangat bahagia. "Guo Zhi kita sangat cerdas. Aku akan memanggil kerabat untuk makan bersama merayakannya."

"Pergilah." Guo Yunyong juga merasa senang dan bangga. Dia bisa pamer didepan kerabatnya nanti.
.
.

"Selamat! Selamat! Guo Zhi benar-benar memiliki masa depan yang cerah!" Pujian demi pujian dihaturkan para kerabat ketika datang berkunjung.

Guo Zhi sibuk menyambut tamu yang datang namun ia juga cemas memikirkan bagaimana hasil ujian Shi Xi. Walaupun cerdas, Shi Xi jarang membaca buku. Apa dia bisa lolos? Atau akankah Shi Xi memilih universitas lain?

"Guo Zhi, cepat kesini, sepupumu datang. Dia juga kuliah dikampus Z. Ajak dia mengobrol, itu bagus untukmu."

Mendengar itu Guo Zhi tak tahan untuk tertawa. "Sepupu!"

"Halo, halo." balas sepupunya dengan malas. Dia masuk ke kamar Guo Zhi, menjatuhkan tubuhnya kekasur dengan malas, satu tangannya menopang kepalanya, rambutnya berantakan. Tangan satunya menggaruk bokong. "Pergilah, ambilkan aku makanan." Perintahnya seperti permaisuri kaisar.

"Ok, kau ingin makan apa? Aku akan bawakan yang banyak untukmu."

"Apapun."

Guo Zhi pergi ke ruang keluarga, mengambil banyak cemilan lalu kembali kekamar dan menaruhnya keatas kasur didepan Guo Ruojie, sepupunya. Dia adalah mahasiswa tingkat dua dari Universitas Z. Namanya adalah penipuan terbesar. Gadis ini hanya bisa digambarkan dalam satu kata: malas! Terlalu malas untuk menyisir rambut, terlalu malas untuk berdandan, terlalu malas untuk bergerak.

Guo Ruojie berbaring diatas kasur sambil makan, sedangkan Guo Zhi memperhatikannya yang terlihat nyaman dengan posisi itu. "Kenapa melihatku begitu? Kau tahu kan kita masih berhubungan darah?"

Guo Zhi menggeleng kuat, "Aku tidak ingin menikahimu." Percakapan antar kerabat macam apa ini. Guo Zhi hanya berpikir jika Shi Xi akan menyukai jenis manusia langka seperti ini sebagai bahan fiksi yang bagus. "Setelah masuk kampus nanti aku ingin mengenalkanmu pada seseorang."

"Aku terlalu malas untuk punya pacar."

"Bukan seperti itu. Tunggu sebentar, tetap pada posisimu dan jangan bergerak." Guo Zhi segera mengeluarkan ponselnya lalu mengambil gambar Guo Ruojie dari berbagai sudut.

"Guo Zhi."

"Apa?"

"Sejak kapan kau menjadi abnormal?"

"Aku tidak."

Pada akhirnya, Guo Zhi tidak mendapat info dan pengalaman apapun tentang universitas Z karena Guo Ruojie terlalu malas untuk mengatakannya.

Mereka makan daging, para pria dewasa minum anggur putih. Tak terasa malam pun tiba. Guo Zhi mengantar para tamu kedepan pintu. Sebelum mereka pergi, Guo Zhi mengajukan pertanyaan naif pada Guo Ruojie. "Sepupu, ada satu hal yang selalu ingin kutanyakan padamu!"

"Katakan!"

"Kenapa kau tidak malas ketika makan?"

Guo Ruojie mendelik, "Bukan urusanmu!"
.
.

Keesokan harinya, Guo Zhi pergi untuk bercerita pada Shi Xi. Dia duduk dibus dengan perasaan senang. Shi Xi sangat baik. Dia sudah menghibur Guo Zhi selama beberapa hari liburan mereka. Guo Zhi tidak akan salah paham pada sikap Shi Xi dan juga pada hubungan keduanya. Tidak ada banyak perubahan dari sebelumnya. Shi Xi tidak memiliki emosi, dia tahu itu.

Walaupun begitu, Guo Zhi tak dapat menahan senyumnya didepan Shi Xi. Memikirkannya saja sudah membuatnya tersenyum. Dia sempat bingung namun sekarang dia mengerti dia menyukai Shi Xi.

Kesukaannya sangat aneh. Menyukai tetapi tidak mengharap perasaannya dibalas.
.
.

Guo Zhi berlari ke apartemen Shi Xi dan mengetuknya. Tidak ada respon dari dalam. Guo Zhi sudah mengetuk kuat namun pintu itu belum juga dibuka.

Pemilik kamar sewa datang menghampiri karena suara berisik. "Kau mencari seseorang?"

"Bibi, aku mencari penyewa kamar ini. Apa bibi tahu dia kemana?"

"Aku tidak tahu. Dia baru saja pindah beberapa saat lalu."

Guo Zhi pikir Shi Xi masih berada dikamarnya jadi dia terus mengetuk berharap pintu itu akan terbuka.

Shi Xi pindah? Kemana? Apa dia akan ke universitas Z?

Seketika Guo Zhi sadar jika Shi Xi tidak masuk ke kampus yang sama dengannya, Shi Xi akan menghilang dari kehidupannya, membawa pergi perasaannya, kegemarannya.
.
.

Dimusim panas, orang lain biasanya berharap hari libur semakin lama berbeda dengan Guo Zhi yang menghabiskan waktu dua bulannya dengan membaca buku, mengobrol dengan teman-temannya, pergi keluar bersama orangtuanya, dan bekerja paruh waktu di toko teman ayahnya. Juga memikirkan Shi Xi.

Guo Zhi membeli kamera baru dengan uang yang didapatnya dari bekerja. Dia selalu mengamatinya sebelum tidur. Dia ingin menggunakan kamera ini untuk memotret bahan yang diinginkan Shi Xi.

Guo Zhi merasa waktu berjalan begitu lambat, sangat lambat.
.
.
.

Hari pertama di universitas, Guo Zhi bangun lebih awal. Dia melihat kopernya lalu mengintip kamar orangtuanya. Guo Zhi kembali membuka koper, mengeluarkan beberapa helai pakaian kemudian menyisipkan topi aneh yang dibelikan Shi Xi dibagian bawah.

Sebelum kepergian Guo Zhi, Guo Yunyong selalu memberi nasehat setiap hari, Guo Zhi tak pernah bosan untuk mendengarkan. Dia merasa ayahnya melakukan hal baik untuknya.
.
.

Guo Zhi berdiri didepan stasiun melihat seseorang berpakaian modis yang menyita perhatian setiap gadis yang dilewatinya. Sangat mudah bagi Guo Zhi untuk mengenal orang itu. "Hua er yang tampan, lama tak ketemu."

Cara menyapa ini membuat Hua Guyu bahagia. "Ternyata kau, Guo Zhi. Cepatlah. Kita akan ketinggalan kereta."

"Ok." Respon Guo Zhi. Dia memperhatikan sekitar. Walau masih pagi, stasiun ini sudah dipenuhi banyak orang. Tetap saja ia tak melihat Shi Xi.

Selama tiga jam perjalanan, Guo Zhi menghabiskan waktu mengobrol dengan Hua Guyu. Setelah sampai ditujuan, mereka pun tiba digerbang kampus. Dibandingkan dengan gerbang sekolahnya yang jelek, gerbang ini sangat indah.

Hua Guyu disebelah mendengus, "Disini sama saja. Kau tetap tak akan bisa menyaingi nilaiku." Dia mulai berjalan namun Guo Zhi masih tak bergerak. "Apa yang kau lakukan? Kau tidak perlu terkejut begitu lama hanya karena melihat gerbangnya."

"A-aku ingin disini dulu." Respon Guo Zhi gugup.

Hua Guyu sudah bisa menebak sesuatu jadi hanya mengibas rambut lembutnya, "Kalau begitu aku duluan."

"Hua er."

"Kenapa?"

"Cepat, gunakan ketampananmu untuk menarik hati seisi kampus."

"Hal kecil seperti ini masih perlu kau beritahukan?" Hua Guyu pergi dengan tenang. Untungnya, Hua Guyu memang pria yang tampan. Jika dia hanya manusia biasa, dengan karakter ini, kemungkinan besar akan dipukuli.

Guo Zhi masih berdiri didepan gerbang. Sepuluh menit, setengah jam, satu jam kemudian berlalu namun ia masih tak melihat Shi Xi diantara mahasiswa baru yang melewatinya.

Guo Zhi menunduk melihat jam lalu akhirnya mulai menyeret kopernya. Baru dua langkah, dia berhenti. Guo Zhi masih ingin menunggu sedikit lebih lama lagi, mungkin Shi Xi akan muncul beberapa detik kemudian. Guo Zhi kembali mengambil dua langkah.

"Mencariku?" Sebuah suara datang dari belakangnya.

Ternyata Shi Xi tidak muncul didetik pertama, dia muncul didetik kedua.

Guo Zhi menoleh dengan cepat. Ia benar-benar konyol karena berpikir Shi Xi tidak akan lolos ujian masuk. Ini pertama kalinya mereka bertemu lagi setelah diterima di universitas Z. Shi Xi bertambah tinggi dan masih mengenakan topi. Kulitnya sedikit kecoklatan. Dia memakai kaos biasa dan celana jeans. Sungguh terlalu banyak perubahan dimatanya. Padahal ia hanya tak melihat Shi Xi selama dua bulan. Dia benar-benar terlihat semakin tampan.

Bibir Guo Zhi melengkung tersenyum lebar hingga menampakkan lesung pipinya. "Ya, aku mencarimu."

Bagaimanapun, Shi Xi akhirnya datang.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments